
Baruna melihat seseuatu duduk di atas singasana itu.
"Pak Tua? " Ucap Baruna terkejut melihat penyu yang menjadi tetua di sana terduduk lemah di atas singasana.
Baruna setengah berlari menaiki singasana itu. Terlihat penyu tua itu juga terluka.
Tanya banyak berbicara, Baruna langsung mengobati penyu tua itu.
"Pak Tua" Panggil Baruna berusaha menyadarkan penyu itu.
Penyu Tua itu tampak berusaha membuka matanya perlahan.
"Apa aku sudah mati dan hancur? " Tanya penyu tua itu.
Baruna malah tertawa mendengar perkataan penyu tua itu.
"Iya dan kau sedang melihat malaikat kematian ini" Ucap Baruna yang lega.
Jika penyu tua itu bisa berbicara begitu berarti penyu tua itu sudah selamat.
"Ah Nona Pewaris. Kau sudah datang? Terima kasih Nona sudah menyelamatkan ku" Ucap Penyu tua itu menitikkan air mata.
"Tenang lah. Akan aku perbaiki kerajaan kecil ini. Sebanrnya apa yang terjadi?" Tanya Baruna penasaran.
Penyu Tua itu tampak menghela nafas berat sebelum berbicara.
"Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu beberapa penyu kecil di lukai seekor monyet kecil. dan monyet itu menerobos masuk ke kerajaan. Kami hanya mau mengurungnya dan meminta pertanggung jawaban dari para tetua monyet yang membiarkan monyet kecil ini membuat onar. Tapi monyet itu malah meloncat ke atas api abadi itu" Ucap Penyu tua menunjuk ke arah api berwarna biru yang selalu menyala membara meskipun di terpa angin ataupun air ombak.
"Lalu? " Tanya Baruna meminta penyu tua melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu tiba-tiba pasukan monyet menyerang kami membabi buta tanpa bertanya apapun" Ucap Penyu tua itu sedih mengingat banyaknya mahluk laut di kerajaan kecil yang terluka bahkan hancur.
Baruna meluruhkan bahunya dan mencoba menghibur penyu tua.
"Ya sudah. Aku akan mengurusnya" Ucap Baruna.
Mata Baruna berubah menjadi hijau dan kuning. Seekor Ular dan Naga keluar dari tubuhnya dan menyembuhkan para mahluk laut yang masih bisa di selamatkan.
Baruna melangkah menuju api abadi dan meneteskan darahnya di atas api yang membara itu.
"Mulai saat ini kerajaan kecil ini milik ku. Siapapun yang berani mengacau di sini akan mati di tangan ku" Ucap Baruna dengan tegas.
Penyu Tua dan mahluk laut lainnya yang sudah disembuhkan langsung berlutut menghormati Baruna.
"Salam Nona Pewaris" Ucap Semua mahluk yang ada.
__ADS_1
Baruna berjalan menatap satu persatu mahluk di sana.
"Aku akan membangun kembali tempat ini" Ucap Baruna.
"Baik Nona" Jawab Penyu Tua itu.
"Tunggu di sini. Akan aku bunuh perusak itu" Ucap Baruna lalu berjalan meninggalkan kerajaan kecil.
Tampak Snowy baru tiba dari tugasnya mencari tau kejadian.
"Aku sudah tau" Ucap Snowy.
"Tidak usah. Nanti saja baru kau cerita. Sekarang kita ke kerajaan lembab" Ucap Baruna.
"Hah? Untuk apa kesana? " Tanya Snowy heran.
Kerajaan lembab di huni makhluk-makhluk yang menyerupai kelabang dan Laba-laba.
"Mereka bekerja sama dengan manusia kelabang bukan? " Tanya Baruna pada Snowy.
"Kau tau? Tapi pasti mereka sudah kabur atau menyerang yang lain" Ucap Snowy heran.
"Tidak. Mereka hanya menggunakan ilmu bersembunyi. Mereka bisa bersembunyi dari yang lain tapi tidak dariku" Ucap Baruna sambil tersenyum Smirk.
Baruna dan Snowy langsung menuju kerajaan lembab. Tanpa basa basi Baruna menghancurkan pintu batu yang tertutup.
Suara Baruna mengeram kesal. Mata Baruna berwarna hijau dan kuning langsung tampak membara. Seluruh gua kerajaan lembab bergetar keras seolah akan runtuh.
Suara monyet yang berteriak ketakutan terdengar.
Baruna tersenyum smirk dan membunuh satu persatu monyet-monyet itu tanpa ampun.
Hingga seekor monyet terbesar beraama seekor kelabang muncul dan mencoba melawan Baruna.
Baruna tak perlu tenaga yang besar untuk menjatuhkan dua mahluk itu.
"Sialan! Kau hanya pewaris yang tidak sempurna! Apa hak mu membunuh kaum kami! " Umpat siluman monyet itu.
"Ah kau si monyet merah yang sudah tidak berguna itu" Ucap Baruna menggejek.
Monyet merah itu memang di usir dari kerajaan minyet karena terus menerus membuat masalah dan mengacau. Belum lagi monyet merah itu suka menggoda manusia dan membuat manusia gelap mata. Hal itu merusak citra kerajaan monyet yang meskipun banyak juga manusia meminta bantuan atau pesugihan dari mereka, namun tidak pernah para monyet itu yang menggoda iman manusia. Manusia-manusia lah yang sendiri ingin mencari jalan pintas.
"Kau!!! "
Belum sempat monyet merah itu berbicara. Baruna langsung menebas kepala monyet merah itu dan menhancurkan jasadnya hingga tanpa tersisa abu secuil pun.
__ADS_1
"Berani mengacau perbatasan dan memasuki lautan sama saja meminta mati di tangan ku! " Tegas Baruna dengan menggema.
Monyet-monyet lainnya merasa ketakutan karena ketua mereka sudah musnah di tangan Baruna.
Siluman kelabang pun berusaha kabur dari amukan Baruna.
Baruna melemparkan pisau kecil yang ada di pinggangnya yang langsung menusuk tepat di tengah tubuh kelabang itu hingga kelabang itu menggelepar kesakitan.
"Kau tidak akan aku bunuh. Tapi kau akan menjadi contoh orang yang berani mencoba mengacau! " Tega Baruna.
Terdengar suara menggema di luar kerajaan lembab. Itu raja monyet putih yang datang.
"Salam Nona Pewaris" Sapa Raja monyet.
"Mau apa kemari? Ingin meminta kematian juga seperti monyet merah saudara mu? " Tanya Baruna meledek.
"Maafkan aku Nona Pewaris. Ini kesalahan ku yang tidak bisa mengatur saudara ku sendiri. Aku mohon jangan bunuh rakyat rakyat kami yang tidak bersalah ini. Mereka hanya di bawa monyet merah" Ucap Raja monyet memohon kepada Baruna.
Baruna tampak berpikir sebentar sebelum memutuskan.
"Baik. Sekali lagi kalau kalian mahluk darat berani mengacau di perbatasan dan dunia laut. Aku akan menghancurkan kalian semua sampai kerajaan mu rata dengan tanah" Ucap Baruna dengan tegas.
"Tentu aku memgerti aturan itu. Maaf Nona Pewaris. Aku benar-benar meminta maaf. Nona sudah membunuh monyet merah sebagai gantinya. Itu sudah menjadi peringatan keras dan pelajaran bagi rakyat kami" Ucap Raja Monyet tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
"Pergilah sebelum kalian ikut tertanam disini" Ucap Baruna.
Mendengar itu Raja monyet langsung membawa sisa rakyatnya untuk kembali ke kerajaan. Tanpa banyak berbicara Baruna meratakan kerajaan itu hingga hancur dan melempar siluman kelabang dan membakarnya dengan api hingga siluman itu menggelaoar kesakitan.
"Kau akan terbakar api ini hingga 100 hari sebelum kau hancur! " Ucap Baruna meninggalkan tempat itu bersama Snowy.
Mereka kembali ke kerajaan kecil. Dan dengan sedikit tenaga saja Baruna memperbaiki kerusakan di kerajaan kecil agar para mahluk laut yang tinggal di sana bisa hidup dengan tenang dan nyaman.
"Ada apa? " Tanya Snowy yang melihat Baruna menatap kosong ke arah laut luas.
"Tidak. Kita kembali. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Monyet itu memiliki aroma manusia" Ucap Baruna.
Snowy cukup terkejut mendengar perkataan Baruna.
"Pasti ada manusia yang bekerja sama dengannya untuk menguasai dunia lain" Ucap Baruna kesal.
"Siapa? " Tanya Snowy penasaran.
"Entahlah. Kita harus mencari tau lebih jauh. Jangan sampai ada manusia yang masuk dan menguasai dunia kita" Ucap Baruna tegas.
.
__ADS_1
.
.