
"Anak-anak disini hanya akan menjadi pemuas nafsu para orang dewasa itu. Kami juga dicekoki pil haram yang baru aku ketahui kalau itu bisa menyebabkan ketergantungan. Jika kami tidak menurut maka kami tidak akan diberikan jatah pil itu dan membuat tubuh kami kesakitan" Ucap Bima jujur.
Snowy tercengang mendengar perkataan Bima. Benar-benar sudah gila para manusia ini.
"Makanya aku bilang kalau kamu bisa keluar dari sini sebelum mereka melakukan sesuatu, itu jauh lebih baik. Karena setiap anak yang sudah mereka gunakan pasti akan mereka paksa menelan pil itu" Ucap Bima melanjutkan perkataan nya.
"Wah luar biasa sekali manusia manusia itu. Lantas berapa anak yang sudah meninggal? Mayat mereka dimana?" Tanya Snowy penasaran.
"Dari sejak aku bergabung sudah 8 anak meninggal. Sebelum itu aku tidak tahu. Mereka dikubur di tanah lapang belakang bangunan ini. Itu tanah milik Ronaldi juga" Jelas Bima.
'Pantas aku merasakan beberapa arwah anak kecil disini tapi mereka bersembunyi ketakutan. Bahkan sampai mati pun mereka masih ketakutan. Kasihan sekali' Batin Snowy.
"Apa kau juga sudah disentuh mereka?" Tanya Snowy.
"Aku setiap hari harus melayani pria muda yang kamu lihat di kantor itu. Setiap malam dia akan meminta ku ke kamarnya di lantai paling atas bangunan ini. Tapi aku masih bisa menahannya karena aku selalu mengobati lubang belakang ku jika perih. Dan mungkin karena obat yang dia suntikan padaku membuat aku lebih tidak kesakitan setiap dia memintaku melayaninya" Ucap Bima sambil menunjuk bekas suntikan pada lengannya.
'Sial. Dia di suntik obat terlarang. Gila' Batin Snowy yang masih heran dnegan tingkah manusia sekejam Ronaldi dan teman temannya. Apakah sudah habis populasi wanita dewasa yang memang mau melayani mereka dengan di bayar sesuai tarif?
"Kau dengar perkataan ku. Jika kau ingin selamat, saat dia meminta kau masuk ke kamarnya. Cari cara menaruh kamera kecil ini merekam kalian. Ingat! Jangan ketahuan! " Ucap Snowy menyerahkan sebuah kamera pengintai yang sangat kecil itu.
"Benarkah ini bisa menolong kami? Apa kami bisa secepatnya keluar dari tempat ini? Kasihan Yosua. Dia sudah hampir satu minggu kesakitan dan tidak bisa makan" Ucap Bima yang khawatir dengan anak bernama Yosua.
"Dia kenapa?" Tanya Snowy.
"Dia sangat tampan sepertimu. Dia menjadi kesukaan disini. Setiap pagi siang malam akan ada saja tamu yang meminta dilayaninya. Dia masih kecil. Masih 12 tahun. Tentu dia tidak sanggup menahan sakitnya. Dia tidak bisa buang air besar karena merasa kesakitan. Jadinya dia tidak mau makan apapun dan terus lemas" Ucap Bima.
"Apa semua anak anak seperti itu?" Tanya Snowy menyelidiki.
"Iya. Tapi dia paling parah karena terus dipaksa melayani tamu. Anak anak lain paling seminggu sekali sehingga masih bisa diobati dan tidak menderrita seperti Yosua. Tapi ada juga yang tidak tahan, anak anak yang meninggal juga karena tidak tahan" Ucap Bima sambil menitikkan air mata.
"Baiklah. Jika bisa lakukan segera perintahku. Kau mengerti?" Tanya Snowy sambil menatap tajam Bima.
"Iya aku mengerti" Ucap Bima.
"Pergi lah . Katakan aku sudah tidur dan kau lelah ingin berjalan sebentar di luar. Aku yakin dia akan mencarimu untuk melayaninya sebentar. Tahan dulu rasa sakitmu untuk hari ini. Setelah ini kalian akan bebas" Ucap Snowy meyakinkan Bima.
Bima mengerti. Dia akan menahan sakit itu asalkan bisa menyelamatkan yang lainnya. Dia tidak ingin mereka semua satu persatu meninggal karena tidak tahan tersiksa.
Benar saja saat Bima keluar dari kamar Snowy. Dia sengaja berjalan jalan di dekat kantor pengurus panti. Tak lama pria muda pengurus panti itu menghampiri nya.
"Kau sedang apa disini? Kenapa tidak menjaga Made?" Tanya pria muda itu heran.
"Ah maaf Pak. Madenya sudah tidur pulas. Saya bosan didalam sana jadi keluar sebentar" Ucap Bima berusaha berpura-pura.
"Ya sudah ikut aku sebentar. Aku sudah tidak tahan lagi" Ucap Pria muda itu menatap penuh nafsu pada Bima. Hanya Bima yang mampu menandinginya di ranjang, karena itu lah dia selalu memanggil Bima setiap malamnya. Meskipun seminggu sekali dia akan menggunakan anak lainnya untuk melayaninya di kamar.
"Ah tapi teman Bapak? Nanti siapa yang tutup gerbang Pak? " Tanya Bima.
"Mereka sudah pulang semua. Gerbang sudah saya kunci. Sudah jangan banyak omong. Ayo ikut!" Ucap pria muda itu tak sabaran.
Bima memantapkan hatinya dan keberaniannya mengikuti pria muda itu ke kamarnya.
Didalam kamar pria muda itu melepas semua pakaiannya.
"Tunggu sebentar. Aku mandi dulu" Ucap pria itu yang memang kebiasaannya akan mandi sebelum melakukan hubungan dengan siapapun.
Bima hanya mengangguk pelan tanpa paham. Saat pria itu masuk kedalam kamar mandi. Bima segera mencari tempat yang pas untuk meletakkan benda yang Snowy suruh. Setelah meletakkannya dengan baik dan mengarah pada ranjang. Bima langsung duduk menunggu.
.
Di dalam kamar Snowy. Dia keluar dari kamar dengan santai. Seluruh CCTV di tempat itu padam bersamaan sesaat sebelum dia keluar dari kamar.
Tak ada satu jejak rekaman pun yang bisa melihatnya. Semua anak anak juga sudha masuk ke kamar mereka masing-masing sesuai perintah pengurus disana. Tidak ada pelayan atau pengurus lain di sana. Semua di urus sendiri oleh pria muda itu dengan bantuan CCTv untuk memantau dimana anak anak itu semuanya.
Itu agar tidak ada orang luar yang tahu apa yang sudah kelompok mereka lakukan pada anak-anak kecil yang sudah tidak memiliki keluarga itu.
Maka dari itu yang membantu mengurus keperluan anak anak disana adalah anak anak berusia 15tahun ke atas seperti Bima. Mereka juga hanya bisa menurut dan tidak bisa pergi kemanapun dengan ancaman dan mereka sudah di cekoki obat obatan yang membuat mereka tidak akan bisa ataupun sanggup meninggalkan tempat itu. Mereka membutuhkan obat obatan itu setiap hari agar tidak merasakan gejala aneh pada tubuh kecil mereka.
Snowy masuk ke kantor pengurus dengan mudah dan meletakkan alat penyadap juga kamera tersembunyi sesuai keinginan Baruna. Dia yakin besok ketiga manusia laknat itu akan kembali berkumpul.
__ADS_1
Selesai itu Snowy menuju kamar anak bernama Yosua. Tampak anak itu merintih kesakitan.
Merasa kasihan, Snowy menyentuh dahi anak itu dan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan bagian tubuhnya yang kesakitan. Perlahan Yosua terdiam dan tertidur. Rasa sakit pada lubang belakangnya berkurang banyak.
"Kasihan" Gumam Snowy merasa iba melihat anak anak itu.
.
Di tempat lain. Baruna sudah menghipnotis adik ipar Ronaldi. Terlihat Ronaldi masuk ke rumah iparnya. Bahkan Ronaldi masuk ke kamar iparnya itu. Mereka melakukan aktivitas dewasa yang direkam sendiri oleh ipar Ronaldi. Tentu karena bisikan gaib Baruna yang mempengaruhi nya.
Baruna tersenyum. Satu persatu kegiatan gila Ronaldi sudah terekam tanpa mereka sadari. Ditambah Baruna mendapatkan fakta Ronaldi dan adik iparnya memiliki hubungan dalam kasus kematian suami pertama adik iparnya itu. Mereka sudah memiliki hubungan terlarang jauh sebelum adik iparnya menikah. Sungguh fakta yang membangongkan. Akan sangat menarik melihat kehancuran keluarga besar mereka. Baruna menantikan hal itu.
Bahkan Baruna sudha tahu. Salah satu Pria muda simpanan Ronaldi ternyata positif HIV. Ronaldi belum tahu hal itu. Dia masih sering bercinta dengan pria itu tanpa pengaman. Pria muda itu memang sengaja tidak memberitahu Ronaldi karena dia dendam pada Ronaldi yang sudah menjebaknya menjadi pemuas nafsu kaum melenceng seperti Ronaldi.
Baruna memang menemui pria muda itu. Dengan penuh amarah pria muda itu menceritakan bagaimana dia di jebak bahkan kekasihnya juga bunuh diri dan diperkaos oleh Ronaldi. Pria muda itu tidak memiliki sanak saudara. Dia sudah tidak peduli jika harus mati selama dia bisa menghancurkan Ronaldi. Beruntung dia bisa menularkan penyakitnya pada Ronaldi karena Ronaldi memang tidak pernah memeriksakan kesehatannya maupun para simpanannya.
"Baru saja aku mau menghukumnya kehilangan alat vitalnya. Ternyata Langit sudah membantu ku. Bagus lah" Ucap Baruna merasa puas.
Pria muda itu bahkan dengan rela membantu Baruna. Dia memberikan rekaman perbuatan mereka diranjang pada Baruna. Hal itu memang sudah di siapkannya jika nanti dirinya sudah mulai menderita parah karena penyakitnya itu. Dia ingin menghancurkan nama Ronaldi.
Kini Baruna tinggal menunggu hasil kerja Snowy. Tidak akan sulit bagi Snowy pastinya.
.
Bima saat ini sudah terlentang ditindih tubuh pria muda itu. Dia menahan rasa sakitnya dan membiarkan pria itu melakukan hal seperti biasanya.
"Kau suka ini sayang?" Tanya Pria muda itu sambil menyerungai.
Bima hanya diam saja. Terlintas di kepalanya untuk bertanya pada pria muda itu.
"Pak. Maaf. Boleh saya tanya?" Tanya Bima ragu ragu.
"Katakan ada apa?" Tanya pria muda itu sambil terus memasuki tubuh belakang Bima.
Sambil menahan sakit akan perlakuan pria muda itu. Bima mencoba terus berbicara.
"Haha. Pertanyaan bodoh. Tentu untuk bersenang-senang seperti ini. Kau tahu kami tidak perlu susah membayar dan membiayai kalian berlebih. Malah kami akan mendapatkan uang dari menjual kalian pada pedofil pedofil itu. Kau kira hanya kami saja yang seperti ini? Tidak sayang. Banyak orang diluar sana yang munafik. Mereka sama seperti kami" Ucap Pria muda itu sambil tertawa.
Hati Bima terasa panas. Ucapan manis pertama kali yang dia dengar saat akan dibawa ketempat ini hanya tipuan agar terjebak dalam sarang pedofil. Bahkan mereka menjadi penghasil uang bagi manusia gila itu.
.
.
.
Pagi nya, sesuai perkiraan Snowy. Ronaldi dan pria berbaju dinas itu kembali ke panti. Mereka membicarakan siapa anak anak yang akan digunakan untuk melayani beberapa kolega mereka untuk melancarkan bisnis. Semua itu tentu terekam di kamera dan penyadab yang di pasang oleh Snowy. Lokasi tempat anak anak itu akan di antar sebagai pemuas nafsu gila terdengar jelas.
Baruna memberitahu Hilman Paris dan memperdengarkan rekaman itu.
Mata Hilman Paris membola terkejut. Dia segera menelepon pihak berwajib kenalannya dan menyusun rencana untuk menyergap orang-orang itu. Tindakan itu tentu melanggar hukum perlindungan anak dan asusila.
"Bagaimana kau bisa tahu ini Avisa?" Tanya Hilman Paris tidak percaya. Rekaman itu sungguh mengejutkan. Juga rekaman Ronaldi yang sedang bercinta dengan pria muda terpampang jelas. Belum lagi rekaman Ronaldi dengan adik iparnya sendiri.
"Aku curiga saat beberapa kali bertemu dengannya dia terus menggodaku secara sembunyi sembunyi. Bahkan lihat chatnya ini. Dia menggunakan nomor ponsel lain. Dan kebetulan aku bertemu seseorang yang membocorkan sifat aslinya" Ucap Baruna menjelaskan.
"Astaga. Manusia ini mengerikan. Ternyata disekitaran kita ada pedofil yang menyamar menjadi malaikat anak anak" Ucap Hilman Paris tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Om bantu urus ya. Aku kasihan dengan anak anak yang sudah mereka rusak. Aku dapat informasi kalau anak anak itu dicekoki obat obatan terlarang" Ucap Baruna.
Hilman Paris semakin terkejut dan menggelengkan kepalanya merasa sangat gila manusia manusia itu. Tidak ada lagi akal sehat pria dewasa seperti itu yang tega merusak generasi muda.
"Baiklah. Kau tenang saja. Om akan urus ini semua dan memastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal" Ucap Hilman Paris penuh emosi. Tidak bisa dia bayangkan jika keluarganya yang mengalami hal mengerikan itu.
"Baiklah Om. Aku pamit ya" Ucap Baruna lalu pergi menuju dekat panti asuhan milik Ronaldi dan teman temannya.
'Snowy keluarlah. Aku di luar. Ambil semua bukti' Baruna memanggil Snowy melalui batinnya.
Snowy segera membuat kekacauan agar semua orang termasuk pengurus itu sibuk dan meninggalkan ruangan kantor.
__ADS_1
Diambilnya kamera dan penyadap itu, lalu dengan mudah Snowy melompati pagar dan keluar dari panti tanpa ada yang menyadari.
Snowy segera masuk kedalam mobil Baruna. Tiba didalam mobil, Snowy merubah wujud anak anaknya kembali menjadi pria muda.
"Nih lengkap terekam seluruh wajah dan perkataan mereka" Ucap snowy menyerahkan tiga buah memory card yang dia cabut dari alat yang dia pasang.
"Kok tiga? Bukannya cuman dua?" Tanya Baruna heran.
"Satu lagi bukti kalau memang didalam sana dijadikan tempat mesum para pedofil" Jelas Snowy.
"Wah kau hebat. Memang anjing pintar" Ucap Baruna sambil mengelus kepala Snowy.
"Kau harus membelikannku makanan enak setelah ini. Aku mau makan di restoran korean barbeque dengan wujud manusia!" Ucap Snowy.
"Baiklah. Sekarang juga kita kesana" Ucap Baruna sambil tersenyum.
Snowy tiba-tiba teringat Bima dan anak bernama Yosua itu. Semoga Baruna bisa tepat waktu menyelamatkan mereka.
"Kau kapan akan membantu anak anak itu?" Tanya Snowy yang tampak cemas.
"Tenang. Hari ini polisi akan menangkap mereka yang menjual jasa anak anak itu di villa tempat mereka janjian. Setelah itu maka anak anak di panti ini akan ditolong oleh pihak berwajib. Tugas kita sampai disini saja. Hilman Paris yang akan mengurusnya" Ucap Baruna.
"Kau tidak jadi menghukum berat Ronaldi?" Tanya Snowy heran.
"Tidak perlu. Dia sudah terkena HIV tanpa dia sadari. Jika masalah ini muncul ke public dan dia berurusan dengan polisi. Aku jamin dia tidak akan lama lagi hidup karena penyakitnya dan stres berlebih. Lagi pula Hilman tidak akan melepas kasus ini, ini sangat penting bisa mendongkrak nama besar Hilman nantinya" Ucap Baruna sambil tertawa puas.
Snowy ikut tersenyum puas. Memang lebih baik manusia manusia menjijikan itu terkena penyakit mematikan itu dan tidak ada yang memberikan mereka pengobatan.
"Tapi jika dia di obati bagaimana?" Tanya Snowy.
"Aku akan menukar obatnya. Kau tenang saja. Aku akan membuat ya menderita sampai maut menjemputnya" Ucap Baruna dengan santai.
"Okey. Aku menunggu waktu melihat dia kesakitan. Setelah itu aku akan mengirimkan wujud wujud mengerikan yang akan terus menganggu dan menakut-nakuti nya sepanjang malam" Tambah Snowy.
"Silahkan. Itu terserah kau" Baruna tersenyum.
Mereka memasuki sebuah restoran korea. Snowy berwujud pria muda yang tampan tentu menarik perhatian orang-orang di restoran.
Namun Snowy tidak peduli. Dia tidak tertarik dengan manusia. Jika yang melihatnya aniing betina mungkin dia masih tertarik untuk mendekati mereka.
Keduanya duduk memesan makanan sambil membahas lelucon aneh.
"Barun... Ah maksudku Avisa.... " Panggil Ethan melihat Baruna yang sedang duduk makan berduaan dengan seorang pria muda. Ethan merasa cemburu melihat Baruna bersama pria lain.
Sedangkan Baruna merasa lelah dan risih. Dia harus bertemu lagi dengan Ethan, pria yang tidak ingin dia temui lagi saat ini.
"Boleh aku duduk?" Tanya Ethan yang tampak sendirian datang ke restoran itu.
"Silahkan" Ucap Snowy mempersilahkan Ethan duduk.
Baruna menatap tajam pada Snowy yang dengan sesukanya membiarkan Ethan ikut duduk di meja mereka.
Snowy tampak tidak peduli malah tersenyum mengejek pada Baruna.
"Avisa. Aku merindukanmu" Ucap Ethan yang membuat Baruna tersedak saat minum.
"Uhukk... Uhukkk...."
.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-
__ADS_1