Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Lembah Pelangi (Kematian?) 1


__ADS_3

Lembah Pelangi~


Kitty membawa mereka menuju ke sebuah turunan yang tak jauh dari kediaman pangeran Arvie.


Perlahan mereka turun ke lembah yang ada di sana. Lembah pelangi. Tertulis di batu besar menuju turunan lembah itu.


Lembah ini lah yang di namakan lembah pelangi. Lembah di mana dulunya Kaimana tinggal. Namun kini menjadi lembah penuh semak belukar yang tidak terawat.


Bahkan air terjun dan kolam teratai yang indah sudah tak lagi terlihat. Di sana juga terdapat sebuah bangunan rumah tua yang sudah tidak terawat tapi jelas masih terlihat ukiran naga di dinding rumah itu.


Sayang sekali setelah Kaimana pergi, tempat itu menjadi hancur tak terurus. Baruna, Ethan dan Snowy menyusuri tempat itu dan memperhatikan sekeliling. Rerumputan yang cukup tinggi tidak menghalangi mereka untuk mencari pedang itu.


"Ayo kita cari mungkin ada di sekitar sini. Mungkin tertutup rerumputan" Ucap Baruna pada Ethan dan Snowy.


Ethan dan Snowy tampak mengangguk berbarengan. Kitty pun di masukkan Snowy ke dalam kantung bajunya agar tidak hilang dari pandangan.


Mereka mencari namun benar sulit karena terhalang oleh ilalang itu. Hingga Ethan berpikir mereka harus membersihkan ilalang di sana terlebih dahulu agar lebih mudah mencari pedang milik Kaimana.


"Sepertinya lebih baik kita bersihkan dulu tempat ini. Sulit mencari jika rumput dan ilalang setinggi ini" Ucap Ethan pada Baruna dan Snowy.


Keduanya tampak mengangguk setuju. Mereka memutuskan untuk membersihkan semua tempat itu. Ethan kembali ke kediaman pangeran Arvie bersama Snowy untuk mencari alat yang bisa di gunakan membersihkan rerumputan di sana.


Tinggal Baruna sendirian yang menatap ke sekeliling tempat itu. Dia yakin tempat itu akan jauh lebih indah bila di urus dengan baik.


Baruna memperhatikan rumah yang dia yakini jika itu tempat Kaimana tinggal selama masih hidup. Walau sudah tua dan tidak terurus tapi tempat itu benar persis selera Baruna juga.


Dia berjalan mendekati rumah yang sejak tadi mencuri perhatiannya.

__ADS_1


Dinding luar yang terukir naga bermata kuning dan hijau. Atap rumah yang memiliki bentuk elang. Warna sage green yang menenangkan. Persis semua kesukaan Baruna sejak dulu.


Perlahan Baruna memasuki rumah itu. Tidak ada kunci yang menutup rumah itu sehingga Baruna bisa masuk dengan mudah.


Meskipun di luar penuh debu dan beberapa bagian sudah rusak, namun bagian dalam rumah tampak masih rapi terawat dan tidak rusak. Ornamen - ornamen lama di sana juga masih terlihat bagus tanpa goresan sedikit pun.


Sepertinya tidak ada yang berani masuk ke dalam sini. Lagi pula warga di tempat itu menganggap suci lembah ini. Tidak ada yang berani merusak jadi wajar saja jika rumput dan ilalang tumbuh tinggi.


"Tempat ini sangat sesuai dengan selera ku" Ucap Baruna sambil menyentuh salah satu guci juga sebuah kipas tangan yang indah sekali.


Ukiran naga dan elang jelas di guci dan kipas itu. Baruna juga melihat lukisan Pangeran Arvie dan Kaimana terpampang di dinding.


Baruna menyentuh lukisan itu, dan langsung mendapat penglihatan jika lukisan itu di lukis langsung Pangeran Arvie bersama Kaimana dengan latar air terjun di lembah itu.


Keduanya tampak saling mencintai satu sama lain. Mereka mampu melukis dengan indah bersama. Bahkan keduanya tampak sesekali bercanda. Indah sekali pemandangan itu.


"Aku kini kembali Kaimana. Aku adalah Kau. Kau adalah Aku. Dan kita mencintai orang yang sama dari keturunan yang sama. Ethan adalah Pangeran Arvie. Tapi dia bukan pangeran yang dulu memiliki Cakra Elang. Kini dia hanya manusia biasa yang terjebak dalam kehidupan makhluk gaib. Dan aku akan selalu melindunginya"


Ucap Baruna yang tak lama kemudian mendengar suara Ethan dan Snowy memanggilnya.


Baruna segera keluar dari rumah itu menemui Ethan dan Snowy yang sudah kembali dengan alat untuk membabat rumput di sana.


"Kau sejak tadi di dalam sana?" Tanya Snowy pada Baruna.


"Iya baru tidak lama. Ayo kita bersihkan tempat ini sebelum malam" Ucap Baruna.


Mereka bertiga langsung membersihkan tempat ini sesegera mungkin sedangkan Kitty di biarkan duduk di teras rumah menunggu mereka.

__ADS_1


Hari semakin gelap. Baru setengah lebih rerumputan selesai mereka babat habis. Karena sudah malam dan Ethan terlihat lelah, Baruna mengajak mereka berhenti dan mencari makan malam terlebih dahulu.


"Kita istirahat saja dulu. Ethan manusia biasa, dia tidak memiliki tenaga seperti kita, Snowy" Ucap Baruna pada Snowy.


"Baiklah. Kitty juga tampak lapar. Ayo kembali ke mobil" Ucap Snowy.


Mereka memang membawa bahan makanan dari kota. Ethan mengajak mereka untuk memasak di kediaman pangeran Arvie.


Namun para pelayan tampak menunggu tidak membiarkan Tuan Muda mereka yang memasak. Para pelayan yang menjaga kediaman itu langsung membuatkan makanan untuk Ethan, Baruna dan Snowy dengan bahan makanan yang mereka bawa dari kota.


Sedangkan Kitty memakan makanan kucing yang di sediakan Snowy. Tentu Kitty yang paling beruntung karena bisa makan terlebih dulu tanpa menunggu makanan di masak pelayan.


Setelah makanan selesai di masak dan di hidangkan oleh pelayan. Mereka bertiga menyantapnya bersama.


"Sepertinya kita baru bisa lanjut membersihkan tempat itu besok" Ucap Ethan pada Baruna dan Snowy.


"Tidak masalah. Tinggal sedikit lagi besok kita bisa mencari pedang itu" Ucap Baruna pada Ethan.


Mereka sepakat untuk berhenti dan beristirahat di kediaman pangeran Arvie malam itu. Banyak ruangan kosong yang bisa mereka gunakan. Namun Snowy memilih tidur di ruang tamu bersama Kitty. Sedangkan Baruna dan Ethan belum berniat untuk tidur.


Malam itu bulan tampak bersinar indah padahal belum waktunya bulan penuh untuk muncul. Ethan yang tidak bisa tidur memutuskan masuk ke dalam kamar khusus milik Pangeran Arvie.


Dia mencari sesuatu di dalamnya, Dia hanya penasaran apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu. Kenapa Pangeran Arvie yang begitu mencintai Kaimana bisa membunuh gadis yang dia cintai dengan tangannya sendiri.


Bagi Ethan itu sangat tidak mungkin terjadi karena lihat saja Ethan yang sekarang saja tidak tega melihat Baruna terluka sedikit pun. Jadi tidak mungkin Pangeran Arvie akan membunuh Kaimana saat dia begitu mencintai gadis itu.


"Aku harus mencari tau" Gumam Ethan.

__ADS_1


__ADS_2