Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Jebakan kah?


__ADS_3

..."Kaimana!!!"...


Baruna terbangun dari tidurnya saat mendengar suara seorang pria meneriakkan namanya.


Mata Baruna menyusuri sekeliling ruangan kamarnya, tak ada seorang makhluk pun yang masuk ke apartemennya. Dan dia tau tak ada makhluk yang begitu gila dan berani mengantarkan nyawa mereka untuk masuk ke daerah Baruna.


Baruna berjalan menuju ke arah balkon kamarnya. Matanya terus menelisik ke segala arah. Terlihat secercah cahaya merah tanda ada makhluk astral yang terbang di sana.


Tanpa menunggu Baruna langsung berubah wujud aslinya dengan pakaian dan selendang kuning hijau itu.


Tubuh Baruna melesat dalam kegelapan malam mengikuti cahaya merah yang dia lihat. Matanya memaku tajam pada cahaya itu.


Seperti paham jika Baruna mengikutinya membuat cahaya itu terbang semakin cepat menembus gelapnya malam menuju daerah hutan belantara.


Baruna semakin dekat dan hampir saja bisa menangkap cahaya itu untuk melihat makhluk apa yang menjelma menjadi cahaya merah dan berani berada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.


Namun Baruna terhenti saat mendengar suara perempuan yang merintih di sana.


"To- Tolong" Terdengar suara perempuan itu meminta tolong dengan lirih dan penuh pengharapan.


Baruna yang tidak bisa mengabaikan suara itu langsung melesat menuju arah suara rintihan itu. Dia mengurungkan niat mengejar cahaya merah, pikirnya besok akan dia cari tahu benda apa itu.


Di dalam gelapnya hutan Baruna masih bisa melihat dengan jelas. Beberapa makhluk tampak menyingkir menghindari dari Baruna. Ya tentu saja siapa yang berani bermain-main dengan Pewaris Lautan yang terkenal kuat.


Sejenak Baruna berpikir apa dia di jebak oleh kekuatan lain dengan mengumpannya melihat cahaya merah tadi?


Baruna memiliki mutiara naga di tubuhnya, hal yang sebenarnya tidak Baruna ketahui selama ini. Dia terlahir dengan membawa mutiara naga di tubuhnya. Mutiara yang sebenarnya bisa menolongnya setiap waktu. Namun mutiara itu terikat dengan mantra dan baru terbuka saat dia bertemu dengan Naga Qiulong.


Seorang wanita hamil dengan perut yang sudah besar tampak terikat di atas sebuah batu.


"Persembahan" Gumam Baruna.


Dia tidak ingin ikut campur namun tubuhnya bereaksi mencium aroma anyir. Ada makhluk kejam yang bertaring dan bertubuh besar dengan bulu di sekujur tubuhnya.


"Selamatkan dia Baruna"


Suara Kanjeng Ratu Kidul terdengar di telinga Baruna. Baruna melihat sekelilingnya, tempat itu gelap tak ada tanda-tanda kemunculan Kanjeng Ratu Kidul di sana.

__ADS_1


"Selamatkan perempuan itu. Dia dan anaknya milikku sejak masih dalam kandungan, mereka sudah di tandai sebagai orangku. Ada orang yang curang sudah menjadikannya tumbal untuk siluman musang selatan"


Suara Kanjeng Ratu Kidul kembali terdengar. Baruna menghela nafas berat dan matanya langsung berubah hijau kuning.


"Baruna akan patuh Eyang Putri"  Gumam Baruna yang langsung berjalan mendekati batu besar.


Mahluk lain yang melihat Baruna mendekat merasa ketakutan dan menyingkir. Kecuali Siluman bertaring dan berbulu itu yang berani menatap dan menantang Baruna.


"Kau makhluk laut jangan ikut campur di darat!"  Bentak makhluk mengerikan itu.


"Lepaskan perempuan itu"  Ucap Baruna dengan tegas tanpa basa-basi.


"Tidak akan! Dia sudah di tumbalkan untuk menjadi istriku dan anaknya akan menjadi santapan ku!"  Suara makhluk terdengar menggelegar hingga pohon-pohon di sekitar ikut bergetar.


"Dia milik Kanjeng Ratu Kidul. Jika kau tidak mau melepaskannya maka aku akan menghancurkan mu sekarang juga!"  Ucap Baruna tanpa getar juga.


"HAHAHAHAHAHAHAHA"


Suara tawa makhluk itu terdengar begitu keras dan memekik. Dia tertawa mendengar ancaman Baruna.


"Kau hanya manusia tak berguna. Kau pikir dengan menjadi pewaris Naga maka aku akan mundur. Ini wilayahku. Semua makhluk di sini hanya menurut padaku. Dan Kau akan aku habisi. Atau kau tertarik menjadi permaisuriku? Biar perempuan ini menjadi selir mu"  Ucap makhluk itu menyeringai dengan mengerikan jika diliat dengan mata manusia biasa.


Mahluk itu merasa di tantang pun langsung meminta makhluk lainnya untuk menyerang Baruna terlebih dahulu.


Di antara semua makhluk hanya seperempat makhluk di hutan itu yang berani maju untuk menerjang Baruna. Namun tanpa harus bergerak Baruna dengan mudah menghempaskan makhluk-makhluk lemah itu hingga menjadi abu.


Geram melihat Baruna yang tampak tenang itu membuat si Siluman langsung maju dan menghantamkan tubuh Baruna ke arah pohon.


"HAHAHAHAHA. KAU LEMAH!!! HAHHAHAHAHA"


Suara tertawa siluman itu yang berpikir Baruna sudah terluka karena hantamannya. Namun dia salah. Baruna malah tampak berdiri dengan tenang dan pohon-pohon itu yang tumbang tanpa melukainya.


"Hah. Aku sudah beri kesempatan. Jadi jangan meminta pengampunan padaku!"  Tegas Baruna yang langsung mengeluarkan pedangnya dan membelah tubuh siluman itu menjadi dua.


Siluman itu kembali tertawa tanpa rasa takut. Dia menyatukan kembali tubuhnya yang di belah oleh Baruna.


"HAHAHAH. Hanya pedang bodoh tak akan menghancurkan ku"  Ucap Siluman itu sambil tertawa.

__ADS_1


"Oh ya?"  Tanya Baruna dengan tersenyum tipis.


Tak lama siluman itu merasakan tubuhnya terbakar.


"ARGH!!!! HAH!!! ARGH!!! PANAS!!!"  Suara jeritan sakit siluman itu menggelegar seisi hutan.


Siluman itu tampak kesakitan dan menatap tajam pada Baruna. Merasa tidak terima dan mencoba untuk bertahan, Siluman itu menerjang perut perempuan yang terikat itu.


"AHHHHH!!! SAKIT!!!!!"


Suara rintihan kesakitan perempuan itu terdengar nyaring. Darah mulai mengucur deras dari sela-sela kakinya.


"Sial!"  Baruna kecolongan, siluman itu ingin menghisap janin dari si perempuan untuk menyelamatkannya dari kepunahan.


Dengan cepat Baruna menerjang dan menarik siluman itu dan membantingnya hingga merusak banyak pohon sejauh 100 meter.


"Sepertinya aku tak bisa menyiksamu perlahan lagi"


Baruna tampak sangat marah. Niatnya memang ingin memusnahkan siluman itu secara perlahan dengan memberikan efek sakit untuknya. Namun siluman itu cukup cerdik untuk mengambil janin sebagai tambahan tenaganya agar bisa kabur.


Naga besar muncul dari punggung Baruna dan langsung menghancurkan siluman itu hingga tak bersisa. Semua makhluk yang melihat itu langsung kabur takut jika mereka juga di telan oleh Naga milik Baruna.


Baruna melihat si perempuan yang masih kesakitan dan langsung menghancurkan rantai ghoib yang mengikatnya. Dengan mudah Baruna membawa perempuan itu melesat menuju pantai timur.


Namun tak di sangka, Bayi perempuan itu lahir dalam keadaan tak lagi bernyawa. Baruna merasa gagal menjalankan tugas.


Sebuah kereta kencana datang menjemput perempuan itu. Terlihat Kanjeng Ratu Kidul berada di atas kereta indah itu.


"Salam Eyang Putri"  Sapa Baruna dengan wajahnya yang merasa bersalah.


"Bangun anakku. Sudah jangan merasa bersalah. Itu bukan kesalahan mu. Itu sudah takdir dia. Akan aku bawa dia bersama ku sekarang"  Ucap Kanjeng Ratu Kidul yang memerintahkan ajudannya membawa wanita itu beserta janinnya yang sudah terlahir.


"Kalau begitu Baruna pamit. Maaf Baruna gagal menjalankan tugas dari Eyang Putri"  Ucap Baruna.


Kanjeng Ratu Kidul menatap Baruna dengan lembut dan berjalan mendekati Baruna. Tangannya terulur membelai wajah Baruna dengan penuh kasih.


"Tidak apa-apa cah ayu. Jangan merasa bersalah. Ingat kamu harus selalu kuat dan tegas. Jangan pernah mundur atau mengalah lagi. Paham anakku?"  Ucap Kanjeng Ratu Kidul menasihati.

__ADS_1


Baruna hanya mengangguk patuh. Meskipun dia tidak tahu apa maksud dari perkataan Kanjeng Ratu Kidul. Namun Baruna yang memang sejak awal selalu patuh para Kanjeng Ratu Kidul dan Naga Qiulong tidak berani membantah ataupun banyak bertanya pada Mahluk yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.


Kanjeng Ratu Kidul beserta rombongannya kemudian kembali menuju laut istananya. Dan Baruna pun melesat kembali ke apartemen-nya. Ingatkan dia untuk mencari tau cahaya merah itu.


__ADS_2