Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Titik Terang...


__ADS_3

Baruna sudah membaik dan memutuskan kembali ke apartement.


"Yakin sudah mau balik?" Tanya Snowy.


"Udah. Avisa enggak ada kabar seharian bakal jadi tanda tanya nanti" Ucap Baruna menjelaskan.


Baruna tidak bisa menghilang tanpa sebab dan alasan jelas, tentu akan menjadi tanda tanya dan di cari orang-orang.


"Ya sudah. Ayo kita kembali" Ucap Snowy lalu merubah dirinya kembali menjadi anjing Husky.


Keduanya berjalan menuju rumah di dekat pantai itu dan mengambil mobil Baruna.


Baruna melajukan mobil kembali ke apartement. Ponselnya tampak masuk banyak pesan hingga dia bingung mau menjawab panggilan siapa terlebih dahulu


Tentunya semua heboh karena Baruna tidak bisa dihubungi seharian kemarin.


Terpaksa jalan termudah Baruna mengupload foto dirinya sedang bersantai di sofa apartement karena baru sembuh dari demam semalam. Hal itu paling cepat dibanding dirinya harus mengabari satu persatu orang yang mencarinya.


"Aku akan memasak. Kau istirahat saja" Ucap Snowy lalu memasak daging juga salad untuk Baruna. Tak lupa Snowy membuatkan jus untuk dirinya dan Baruna.


.


Di rumah keluarga Christian. Tampak Papa Ethan, Tuan Christian sudah tiba di rumahnya menemani sang istri yang tampak masih merasa pegal di seluruh tubuhnya.


"Apa kalian sudah memanggil cenayang Jill untuk kesini?" Tanya Nyonya Christian.


"Sudah Ma. tapi untuk apa? Dokter sudah bilang Mama kelelahan saja" Jelas Ethan yang masih tidak mempercayai perkataan sang Mama. Meskipun dia sudah melihat isi CCTV yang ada di dalam rumahnya itu.


"Sudah lah sayang. Istirahatlah. Jangan banyak pikiran ya" Ucap Tuan Christian dengan lembut pada sang istri. Tampak dirinya sangat mencintai istrinya itu.


Ethan terkadang cemburu melihat kemesraan orang tuanya. Karena dirinya belum bisa menemukan orang yang tulus mencintainya, bukan karena mencintai kekayaan orang tuanya apalagi dia yang dikatakan akan menjadi pewaris perusahan Papa maupun perusahaan keluarga Mamanya yang sudah tidak memiliki keturunan laki-laki selain dirinya.


Ethan tidak mengharapkan itu. Dia sudah menjalankan beberapa bisnisnya sejak masih sekolah. Dia sudah membuka tiga bengkel besar merangkap showroom. Dia juga memiliki beberapa cafe dan restoran juga bar. Selain itu masih ada investasinya di beberapa bisnis lain dan semuanya berjalan dengan mulus.


Penghasilannya sudah melampaui kebutuhan dia sehari-hari dan dia tidak butuh lagi uang dari orang tuanya. Dia masih membantu perusahaan Papanya di negara ini karena sang Papa masih sibuk mengurusi kantor di luar negri.


Siang itu cenayang Jill datang mengunjungi rumah keluarga Christian kembali.


"Ah kau sudah datang. Silahkan duduk" Ucap Nyonya Christian yang dipapah oleh Ethan karena tubuhnya masih merasa agak sakit.


"Kau ssangat beruntung Nyonya. Jika bukan karena gadis itu maka kau sudah tidak bisa melihat matahari lagi hari ini" Ucap cenayang Jill langsung.

__ADS_1


Nyonya Christian terkejut. Dia dan Ethan belum menceritakan apapun pada cenayang Jill.


"Jangan terkejut. Aku bisa melihat apa yang terjadi semalam. Kau pingsan karena energi besar yang mencoba melindungi mu" Lanjut cenayang Jill.


"Benarkah? Jadi bayangan gadis yang aku lihat itu mau melindungi ku? Bukan mau mencelakakan ku??" Tanya Nyonya Christian penasaran.


"Benar sekali. Dia juga terluka karena menahan pukulan yang hampir mengenaimu. Dia tidak lemah hanya benda di rumah mu ini membuatnya tidak bisa mengerahkan semua kemampuannya" Ucap cenayang Jill.


"Benda?? Benda apa??" Tanya Nyonya Christian bingung.


"Kau benar-benar tidak tahu nyonya? Rumah ini dilindungi oleh benda milik leluhur kalian. Tapi karena kalian tidak pernah membersihkannya dengan layak maka kekuatannya menurun. Dia tidak bisa menahan mahluk jahat yang menerobos masuk" Ucap cenayang Jill.


Ethan yang mendengar itu merasa malas. Dia sangat tidak percaya dan tidak akan percaya dengan hal itu.


"Mungkin putra mu tidak percaya. Tapi lihat lukisan itu. Ada sesuatu tulisan disana. Lukisan itu yang menjaga rumah ini karena leluhur kalian. Setiap bulan purnama bawa turun dan bersihkan dengan air kembang tujuh warna" Jelas cenayang Jill.


Ethan semakin merasa risih dan jengah mendengarkan cerita mistis dan tidak masuk di akal itu. Baginya semua itu hanya mengada ada. Namun apa daya dia tidak bisa protes. Dia tidak ingin sang Mama kembali drop jika dirinya bersikeras menolak perkataan cenayang Jill.


Cenayang Jill menatap Ethan dengan lekat lalu tersenyum kemudian.


Ethan heran melihat tingkah cenayang Jill.


"Kau masih mencarinya? Padahal dia sudah kembali disekitarmu. Hanya kau tidak bisa mengenalinya lagi" Ucap cenayang Jill tiba-tiba.


"Maaf aku tidak mengerti maksud mu" Ucap Ethan berpura-pura.


"Jangan berpura-pura bodoh. Aku yakin kau paham betul maksud ku. Gadis itu ada dan tiada di dunia ini. Kau bisa melihatnya tapi kau tidak bisa mengenalinya. Sungguh tragis nasib kalian. Di masa lalu kalian terpisah karena kematian dan kini kalian juga terpisah. Takdir memang kejam" Ucap cenayang Jill.


Ethan akhirnya duduk dan mau mendengar perkataan cenayang Jill. Dia yang memang sudah kesulitan menemukan Baruna berharap jika dia bisa mendapat petunjuk tentang Baruna melalui cenayang Jill.


"Apa kau bisa menemukan gadis itu?" Tanya Ethan serius dan berharap.


"Kau sudah menemukannya. Sudah aku katakan, kau bisa melihatnya namun kau tidak bisa mengenalinya" Ucap cenayang Jill dengan santai.


"Jadi maksud mu dia didekat ku?" Tanya Ethan memastikan.


"Apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dari orang yang baru kau kenali belakangan ini?" Tanya cenayang Jill.


Ethan langsung teringat Avisa. Dia memang sering melihat wajah Baruna sekilas saat menatap wajah Avisa.


"Kau dan dia masih ada ikatan masa lalu yang belum selesai. Dimasa kini kau juga melukainya. Di masa dulu kau juga yang sudah mengambil nyawanya" Ucap cenayang Jill.

__ADS_1


Ethan tampak merenung.


"Dekati dia perlahan. Tapi satu hal yang pasti. Dia bukan manusia lagi seutuhnya. Dia bisa sangat mengerikan dan membunuhmu juga" Jelas cenayang Jill.


.


.


Baruna baru selesai menyantap makan malam bersama Snowy. Ponsel Baruna tampak berbunyi.


Panggilan masuk dari nomor tak dikenali.


"Hallo" Sapa Baruna dengan sopan.


"Hallo Avisa. Apa kau mengenali suara ku?" Ucap seorang pria di sebrang sana. Suara yang tentu sangat Baruna kenali.


"Maaf siapa ya?" Tanya Baruna berpura-pura.


"Astaga. Kau melupakan suaraku. Padahal banyak yang langsung mengingat suara ku" Ucap pria itu lagi.


"Maaf. Aku benar tidak mengenali suara mu" Ucap Baruna lagi.


'Mana mungkin aku lupa suara mu bajingan. Kau yang sudah menghancurkan hidupku' batin Baruna menahan amarahnya mendengar suara pria itu.


"Aku Frans. Simpan nomorku ya. Ah besok bisa makan siang bersama? Aku akan menjemputmu" Ucap Frans yang menelepon.


"Aku tidak janji. Ada yang harus aku urus besok siang" Jawab Baruna dengan datar.


"Aku akan menungumu. Katakan saja besok kau ada dimana. Aku akan menjemputmu. Aku tidak menerima penolakan. Okey? Bye" Ucap Frans lalu memutus panggilan telepon itu.


Baruna sangat paham sifat Frans. Semakin sulit gadis itu di dapatkan, dia akan semakin tertarik untuk meraihnya. Jika sudah dia dapatkan maka gadis itu hanya akan menjadi alat pemuas dan pemutar roda keuangan bisnisnya.


"Kau akan langsung membunuhnya?" Tanya Snowy penasaran.


"Tidak. Aku akan menghancurkannya perlahan hingga dia meminta untuk mati" Ucap Baruna dengan tatapan penuh emosi.


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2