
Paginya kicauan burung terdengar. Baruna bangun di kamarnya. Seingatnya semalam dia tertidur di ruang tamu. Mungkin Snowy yang memindahkannya.
Baruna meregangkan otot - otot tubuhnya yang terasa kaku itu.
Baruna membuka jendela di kamarnya seluas mungkin. Pagi yang cerah dan angin yang terasa bersih belum tercemar polusi kendaraan.
Baruna merindukan laut. Ingin sekali dia kembali ke Gua miliknya di pantai timur.
Namun mengingat masih banyak hal yang harus di urus di dunia manusia membuatnya mengurungkan niat.
Selain itu dia ingin ada di sana dan melihat kehancuran Zaky dan keluarga Tantenya itu. Dia ingin melihat kehidupan mereka yang hancur berantakan setelah mencoba membunuh Baruna dan merampas semua milik keluarga Baruna.
Baruna keluar dari kamarnya dan mendapati Snowy baru selesai membuat sarapan untuk mereka.
"Kau yang memindahkan ku semalam?"
Tanya Baruna pada Snowy.
"Iya. Kau lelap sekali. Jadi tidak ku bangunkan lagi. Duduklah. Makanan sudah siap"
Ucap Snowy sambil menyiapkan piring makan untuk mereka. Tidak lupa juga bagian untuk Kitty sarapan juga ada.
"Kalian ke mana semalam?"
Tanya Baruna sambil menikmati sepotong roti bakar.
"Biasa. Dia mengajak ke Bar dan luar biasanya nih aku dapat video dan foto ini"
Ucap Snowy menunjukkan bukti Zaky sebagai pemakai barang terlarang.
Baruna tertawa mengejek. Dia sudah menduga hal itu.
"Kirimkan pada ku. Akan aku urus nanti"
Ucap Baruna dengan santai.
"Jangan di laporkan dulu. Aku masih mau bermain dengannya. Tunggu dulu"
Ucap Snowy pada Baruna yang di sambut anggukan setuju dari Baruna.
Keduanya menghabiskan sarapan bersama setelahnya Baruna keluar menemui Oliv Margo untuk membahas kegiatan mereka untuk membagikan sembako di beberapa desa yang cukup terpencil.
Baruna dan Oliv Margo membuat janji untuk bertemu di sebuah cafe.
Begitu tiba di cafe itu tampak Oliv ada di sana bersama Rina Runissa.
Baruna berjalan mendekati keduanya dan ketiga perempuan cantik itu saling cipika cipiki.
"Sorry Kak, Aku terlambat"
Ucap Baruna yang memang sadar dia sudah terlambat hadir di sana 15 menit karena jalanan yang ternyata sangat macet dan di luar perkiraan Baruna.
"Tidak masalah. Kami juga baru sampai kok"
Jawab Oliv Margo dengan ramah.
"Ayo pesan dulu. Mau makan apa Avisa?"
Tanya Rina Runissa pada Baruna.
"Sudah makan di rumah. Aku pesan minum dan snack aja Kak"
Ucap Baruna pada Rina Runissa.
Mereka kemudian memanggil pelayan cafe dan memesan minuman juga beberapa snack untuk di nikmati bersama.
Ketiga perempuan cantik itu tampak serius membahas perencanaan mereka hingga tidak menyadari sejak tadi Ethan ada di cafe itu juga, serta Ethan terus memandangi mereka.
Ethan yang kebetulan ada di cafe itu untuk bertemu salah satu investor terlihat sudah selesai dengan urusannya dan mendekati meja Baruna dengan dua istri artis itu.
"Hai"
Sapa Ethan yang membuat ketiga perempuan itu menoleh menatap Ethan yang tengah berdiri di dekat meja mereka.
"Eh hallo. Temannya Avisa ya?"
__ADS_1
Tanya Oliv Margo memastikan. Karena sebelumnya mereka pernah bertemu juga tidak sengaja di restoran lain.
"Iya Kak. Dia Ethan yang kemarin ketemu gak sengaja"
Jawab Baruna mewakili Ethan.
Ethan tersenyum ramah pada Oliv Margo dan Rina Runissa. Hal itu tentu membuat asisten yang selalu menemani Ethan terkejut melihat perubahan pada Tuan Mudanya itu.
Tuan Muda yang sangat dingin dan cuek dengan sekitar kini tersenyum hangat. Keajaiban sekali.
"Maaf ganggu. Sepertinya seru banget yang kalian bahas?"
Tanya Ethan sembari melihat Baruna, Oliv Margo dan Rina Runissa bergantian.
"Bahas kegiatan sosial untuk weekend ini di desa Wanjiru. Kamu mau ikut?"
Ajak Oliv Margo sambil menatap Ethan. Dia merasa Ethan sedang mendekati Avisa jadi Oliv Margo tentu mendukung. Melihat Ethan yang begitu baik dan dia tau Ethan salah satu pewaris perusahaan besar. Pasti cocok dengan Avisa yang merupakan keturunan konglomerat tentunya.
"Desa Wanjiru? Kalau boleh Aku akan ikut menyumbang juga"
Ucap Ethan menerima ajakan Oliv Margo.
"Gimana nih Avisa. Boleh si Ethan ikut?"
Tanya Rina Runissa dengan sengaja menggoda Avisa.
"Terserah saja. Kegiatan ini bebas di ikuti siapa saja"
Ucap Baruna dengan santai sambil menikmati jus pesanannya.
"Okey boleh. Sabtu ini berangkat ya. Untuk ikut sumbang terserah boleh kamu sumbang bentuk barang atau dana maksimal besok ya. Soalnya sudah harus kita siapkan per-paket-an gitu"
Jelas Oliv Margo pada Ethan.
"Boleh minta nomor rekening. Aku transfer langsung"
Tanya Ethan pada Oliv Margo.
Setelah mendapat nomor rekening itu, Ethan langsung mengirimkan sejumlah uang.
Ledek Oliv Margo pada Ethan.
"Atur saja mungkin bisa di sumbang untuk yang lain"
Jelas Ethan singkat.
"Okey. Perlu kita taruh nama kamu atau perusahaan kami gak?"
Tanya Oliv Margo pada Ethan.
"Tidak usah Kak. Ah kalau gitu Aku permisi balik dulu ya ke kantor. Sabtu nanti kabari untuk jumpa di mana ya Avisa"
Ucap Ethan lalu menatap Baruna.
"Okey"
Jawab Baruna singkat.
Ethan kemudian pamit pada semua orang yang ada di sana karena memang masih banyak pekerjaan lain yang harus dia urus.
Tinggal Baruna bersama Oliv Margo dan Rina Runissa yang masih sibuk membahas apa saja yang akan mereka beli dan di masukkan ke dalam paket sembako itu.
Setelahnya ketiga wanita cantik itu bersama pergi ke toko grosir yang menjual bahan pangan.
Hingga sore hari barulah mereka berpisah sehabis menyelesaikan pembelian barang untuk bakti sosial itu.
Baruna tiba di apartemen saat waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Baru saja Baruna masuk ke dalam apartemen terlihat Snowy sudah menunggunya dengan pakaian berbeda. Pakaian perang yang biasa di pakai Snowy saat ikut menjalankan tugas bersama Baruna.
"Ada masalah?"
Tanya Baruna pada Snowy.
"Kita di tunggu di kerajaan barat. Ada hal urgent"
__ADS_1
Ucap Snowy.
"Tunggu sebentar"
Baruna langsung meletakkan tasnya dan membuat status sedang tidak bisa di ganggu hingga besok siang. Agar tidak ada yang bingung mencari keberadaan sosok Avisa nantinya.
Lalu Baruna langsung mengubah wujudnya dengan gaun putihnya berserta selendang kuning hijau.
"Kita ke Goa sebentar. Aku harus membersihkan diri sebelum menginjak istana barat"
Ucap Baruna.
Snowy mengangguk paham. Keduanya melesat menuju Goa milik Baruna. Dan tentunya Snowy membawa Kitty ikut dengannya.
Kucing itu di simpannya dalam baju kantungnya itu. Hal aneh tapi sepertinya Snowy sudah sangat menyatu dengan Kitty.
Baruna memasuki kolam teratainya untuk membersihkan diri terlebih dulu. Setelahnya dia kembali berpakaian dan mengajak Snowy segera terbang ke Kerajaan Barat.
Begitu tiba di sana mereka sudah di sambut. Beberapa ular dan binatang laut lainnya menatap Kitty dengan pandangan heran.
"Jangan menyentuhnya. Dia milikku"
Tegas Baruna yang sudah memberi gelembung pelindung pada Kitty agar bisa bertahan mengikuti Baruna dan Snowy terbang di langit maupun masuk ke dalam laut.
"Maafkan kami Nona Pewaris"
Ucap makhluk - makhluk itu yang memang sangat segan pada Baruna.
"Laporkan kehadiranku!"
Ucap Baruna lagi. Dia masih menunggu di depan gerbang kerajaan. Tidak ada yang bisa masuk tanpa ijin dari raja di istana barat itu. Jika memaksa masuk sama saja mengajak perang.
Tak lama penjaga gerbang kembali dan membuka gerbang itu untuk Baruna dan Snowy. Keduanya di persilahkan masuk tentunya bersama Kitty yang tampak anteng saja di dalam kantung baju Snowy.
"Selamat datang di istana ku"
Sambut raja ubur - ubur pada Baruna dan Snowy.
"Hormat Baruna dan Snowy pada Raja Ubur - Ubur. Maaf Raja. Ada masalah apa?"
Tanya Baruna dengan hormat pada Raja Ubur- ubur.
"Tunggu sebentar. Yang lain sedang menuju kemari termasuk Raja naga Qiulong"
Jelas Raja ubur - ubur itu.
Baruna dan Snowy hanya mengangguk mengerti dan mereka duduk di tempat yang di sediakan. Para pelayan raja menyiapkan hidangan laut untuk Baruna dan Snowy.
Snowy memberikan beberapa potong ikan yang lezat untuk Kitty. Dia takut peliharaan kesayangannya itu akan kelaparan nanti.
"Kalian memiliki teman baru?"
Tanya Raja ubur-ubur melihat interaksi Snowy dengan Kitty.
"Snowy menyelamatkannya, Raja"
Jawab Baruna singkat.
"Dia bukan kucing sembarangan. dia bisa menghalau bencana di sekeliling kalian"
Ucap Raja Ubur - ubur yang membuat Baruna dan Snowy saling memandang heran. Di mata keduanya kucing itu hanya kucing biasa yang sangat penurut.
"Percayalah. Dia berbeda. Energi yang dia bawa sangat bagus dan bersih"
Jelas Raja ubur - ubur meyakinkan Baruna dan Snowy.
Keduanya mengangguk tanda paham dan setuju dengan perkataan Raja Ubur - ubur.
Mereka kembali terdiam hingga satu persatu penghuni laut dan darat tampak mulai berdatangan
.
.
.
__ADS_1