Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Malam di Desa Wanjiru


__ADS_3

Setelah 5 jam berlalu mereka akhirnya tiba. Sesuai perkiraan Ethan jika jalanan masih banyak yang rusak dan akan sulit di lewati mobil kecil.


Beruntung Ethan memilih mobil yang tepat sehingga mereka di dalamnya tidak terlalu merasakan goncangan di jalan yang masih tidak bagus itu.


Sedangkan mobil yang lainnya tampak mengeluh karena memang seburuk itu jalan memasuki desa. Belum ada pihak yang mau memperbaiki jalanan.


"Gila banget jalanannya. Sumpah bisa mabuk kalau lebih lama lagi"


Komen Deni Margo saat turun dari mobil Ethan.


Memang sangat melelahkan perjalanan menuju ke desa itu.


Mereka semua di arahkan ke balai desa yang sudah di bersihkan dan di buat sedemikian mungkin sebagai tempat beristirahat.


Ya mereka akan memberikan bantuan sosial sekaligus berlibur di sana. Karena jalan yang jauh dan pasti lelah jika harus pulang hari.


Terlebih desa itu sebenarnya memiliki pemandangan yang sangat indah. Di sebelah kanan desa ada hutan yang masih sangat hijau dan rindang. Di sebelah kiri ada persawahan masyarakat juga sungai yang jernih.


Tentu itu menjadi sebuah hal yang menarik perhatian mereka. Terlepas dari lelahnya perjalanan menuju tempat itu. Pemandangan yang ada mampu membuat mereka merasa perjuangan perjalanan itu terbayarkan seketika juga.


"Ayo kita atur dulu barang - barangnya agar bisa segera di bagikan"

__ADS_1


Ucap Deni Margo yang menjadi ketua di acara bansos kali ini.


Semuanya tampak bersemangat dan segera merapikan barang - barang yang akan di bagikan. Sangat banyak paket yang akan di bagi.


Semua warga juga antusias dan mulai berkumpul berbaris dengan rapi.


Beruntung warga di sana sangat patuh dan tidak saling berebut. Mereka tau jika bantuan sosial yang di bawa itu cukup untuk mereka semua jadi tidak perlu saling berebutan dan membahayakan keselamatan sendiri.


Satu persatu warga mulai mendekat dan mengambil bantuan serta di data oleh Oliv Margo. Hal itu bertujuan memastikan setiap rumah sudah mendapat bantuan yang semestinya. Acara berjalan dengan baik hingga langit mulai menunjukkan sore.


Selesai itu terlihat banyak warga berbodong - bondong membawakan makanan untuk mereka.


"iya ini ikan hasil tangkapan tadi pagi di sungai. Juga itu ayam peliharaan sendiri sama sayur juga tanaman kami sendiri. Maaf hanya seadanya"


Ucap beberapa warga yang mengantarkan makanan itu untuk mereka. Baruna dan yang lainnya tersenyum senang. Mereka padahal ada menyiapkan makanan instan yang bisa menjadi makan malam. Namun ternyata warga di sana sangat baik.


"Terima kasih pak. Ini juga sudah sangat berlebihan. Terima kasih"


Ucap Deni Margo mewakili semuanya.


"Ah ya ini ada ubi bakar. Dan ini ubi goreng. yang ubi bakar masih setengah matang nanti kami bantu buatkan api unggun ya biar bisa di matangkan. Mas dan mbaknya makan saja dulu biar kami bantu sekalian kalau ada api unggun nyamuk lebih berkurang"

__ADS_1


Jelas salah satu warga dengan sopan.


Tentu Kelompok Baruna tidak menolak bantuan itu. mereka menikmati makanan yang ada juga mengeluarkan makanan yang mereka bawa. Malam itu begitu ceria.


Beberapa warga menemani mereka terutama yang sedang ronda di sana.


"Kami di sini gantian rondanya pak. Soalnya di sini masih banyak hal aneh"


Jelas salah satu warga.


"Hal aneh apa?"


Tanya Deni penasaran. Ethan Baruna dan yang lainnya juga diam mendengarkan pembicaraan Deni dengan warga di sana.


"Di sini ada Palasik dan makhluk sejenisnya. Tau kan palasik apa?"


Ucap warga itu yang membuat yang lainnya mengerjap heran.


.


.

__ADS_1


__ADS_2