Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Merencanakan


__ADS_3

Baruna yang tinggal sendiri di dalam ruangan tampak mengamati sekeliling. Dia cukup terpukau dengan design ruangan itu.


Tanpa sadar dia melihat sisi dekat meja kerja Ethan. Sebuah lukisan teratai yang indah.


Baruna kembali teringat hubungan antara dia, Ethan, Kaimana dan Pangeran Arvie


Baruna menghela nafas perlahan. Begitu rumit kisah hidup mereka. Entah di masa kini ataupun masa lalu. Baruna tidak paham apa sebenarnya yang terjadi kini. Semua begitu aneh dan mendadak.


Dia hanya menghela nafas perlahan dan kembali duduk di sofa sembari menunggu si pemilik perusahaan itu selesai rapat.


Setengah jam kemudian terlihat Ethan berlari kecil memasuki ruangan kantornya. Dia tampak begitu panik dan terburu - buru saat mendengar Baruna menunggunya.


Tentu saja dia berpikir pasti ada hal penting atau Baruna sedang dalam masalah sehingga dia berusaha untuk secepatnya bisa menemui Baruna.


Melihat Ethan yang masuk dengan panik membuat Baruna tersenyum kecil. Dia cukup kagum dengan kesigapan pria itu setiap Baruna mencarinya.


"Maaf aku sangat lama"  Ucap Ethan terdengar panik.


Baruna hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ethan selalu seperti itu, takut Baruna menunggunya lama padahal Baruna juga datang tanpa membuat janji temu dengan Ethan.


"Tidak masalah"  Ucap Baruna dengan santai.


Ethan mencoba menerka ada kepentingan apa Baruna menemuinya tanpa kabar. Pasti ada sesuatu yang dia butuhkan.


"Ada masalah?"  Tanya Ethan memastikan.


"Semacam itu. Bisa kita bicara berdua? Itu jika kau tidak sedang sibuk" Jawab  Baruna terdengar sibuk.


"Bisa. Mau bicara di sini atau tempat lain?"  Tanya Ethan lagi.


"Terserah saja" Jawab Baruna lagi.


Ethan mengangguk tanda paham. Dia segera menelepon asistennya untuk memastikan jadwal kegiatannya.


Beruntung selain rapat dadakan tidak ada pertemuan lain yang urgent untuk Ethan. Selebihnya pekerjaan Ethan bisa di handle sementara oleh asistennya itu.


"Ayo"  Ucap Ethan meraih tangan Baruna untuk jalan bersamanya.


Baruna hanya mengikuti langkah Ethan menuju ke parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil Ethan.


Tentu pemandangan itu membuat banyak karyawan yang terkagum melihat visual keduanya yang tampak cocok. Sangat serasi tentunya.


Mobil Ethan melaju menuju ke arah pantai timur. Dia mengajak Baruna berbicara di sana karena tempat itu merupakan kekuasaan Baruna sekaligus untuk healing singkat bersama dari keramaian kota yang menyebalkan tentunya.

__ADS_1


Begitu tiba di pantai timur, Ethan memesan buah kelapa segar juga camilan ringan untuk mereka nikmati di pinggir pantai.


"Ada masalah? Tentang Frans?"  Tanya Ethan memulai pembicaraan.


Baruna yang tadi masih diam tampak menatap Ethan dan mengangguk. Membenarkan pertanyaan Ethan.


"Bukan masalah. Tapi ada hubungannya dengan Frans. Kita sudah harus menyiapkan rencana" Jelas Baruna.


Ethan memandang heran pada Baruna yang berbicara seserius itu.


"Rumah Frans di jaga 4 makhluk kuat. Tapi tetap saja aku lebih kuat hanya jika aku menyerang maka akan ketahuan Rico tentang keberadaan ku. Dan pasti Frans akan meminta perlindungan lebih" Ucap Baruna mulai menjelaskan maksudnya.


"Iya tentu saja. Dia memang orang seperti itu. Terus bagaimana agar makhluk itu tidak bisa melaporkan serangan mu pada Rico?" Tanya Ethan yang terdengar serius.


"Beberapa burung yang aku tugaskan mencari tau tentang musuh ku memberi laporan. Jika makhluk peliharaan di rumah Ethan akan pergi ke goa asal mereka setiap Rabu Legi untuk ritual. Jadi tentu rumah Frans tidak akan di jaga. Saat itu Aku bisa masuk dan melakukan apa pun yang aku inginkan. Namun Aku ragu jika Rico tidak berjaga di rumah Frans saat itu. Pasti dia tidak akan membiarkan tambang emas dan kekuasaannya itu terluka begitu saja"


Jelas Baruna tampak menghela nafas. Hal utama yang harus di jauhkan dari Frans tentunya adalah Rico. Dia termasuk cenayang yang sangat peka dengan sekitar.


"Dan tugas ku adalah membawa Rico jauh dan tidak memikirkan kondisi Frans? Benar bukan?"  Tanya Ethan pada Baruna.


"Tepat sekali. Apa kau bisa melakukan itu? Tanpa dia sadari dan curiga?" Tanya Baruna pada Ethan.


Lebih tepatnya Baruna meminta tolong pada Ethan agar rencananya bisa berjalan dengan baik.


"Cara? Kau yakin?" Tanya Baruna sedikit cemas.


Cemas jika rencana mereka gagal dan ketahuan. Juga cemas  jika Ethan di lukai Rico bila apa yang mereka rencanakan ketahuan.


"Tentu. Tenang saja. Dia sangat ingin mendekatiku sejak lama. Jadi Aku akan memanfaatkan itu. Kau tenang saja. Fokus saja dengan tujuan mu membalas si cecunguk itu. Rico urusanku, Aku tidak akan biarkan dia tau tentang mu apalagi menggagalkan dan melukai mu"  Ucap Ethan terdengar sangat serius dan tulus membantu Baruna.


Baruna hanya mengangguk percaya pada Ethan. Saat pesanan mereka tiba keduanya menikmati terlebih dahulu air kelapa dan camilan yang ada.


"Kapan harus kita mulai?"  Tanya Ethan memastikan waktu agar dia bisa membuat skenario sebaik mungkin untuk membuat Rico tidak curiga dan percaya padanya.


"Rabu depan adalah Rabu Legi. Kita bisa melakukannya Rabu depan"  Ucap Baruna yang sudah memastikan kapan Rabu Legi itu tiba.


"Baiklah. Aku akan urus Rico. Kau urus saja dan fokus pada Frans. Berhati - hatilah. Aku tidak mau sampai dia menyentuh atau melukai mu"  Ucap Ethan yang sangat serius kali ini.


Dia tidak akan rela jika Baruna di sentuh oleh tangan kotor Frans lagi. Sudah sedalam itu juga kebencian Ethan pada Frans. Terlebih setelah tau sebejat apa pria itu pada banyak gadis yang tidak bersalah demi mencapai ambisi dan tujuannya.


"Aku tidak akan biarkan dia menyentuhku lagi. Kau tenang saja. Sampai detik ini juga hanya kau yang bisa sesuka hati merangkul dan memelukku"  Ucap Baruna yang membuat wajah Ethan memerah karena malu.


Dia merasa tidak enak, karena seperti sangat mesum di hadapan Baruna.

__ADS_1


"Aku tidak masalah. Aku tau itu tindakan mu agar tidak  ada pria lain sembarang menyentuhku. Terlebih aku juga trauma di sakiti pria sebelum aku menjadi makhluk seperti sekarang" tambah Baruna.


Dia memang tidak masalah dengan itu. Apalagi yang dilakukan Ethan ternyata ampuh membuat pria lain tidak sembarangan mendekatinya. Karena akan merepotkan Baruna jika sosok Avisa di kejar pria yang penasaran padanya. Pergerakan Baruna akan terbatas jika itu terjadi.


"Maaf jika kau merasa aku keterlaluan"  Ucap Ethan merasa tidak enak pada Baruna.


"Tidak. Aku tidak masalah"  Ucap Baruna.


Keduanya terdiam sejenak dalam pikiran masing - masing. Mereka memutuskan seharian ada di pantai timur karena Baruna ingin mengunjungi Goa miliknya. Tentu Ethan mengikutinya.


Keduanya menyempatkan membersihkan diri di kolam teratai milik Baruna tentu bergantian. Jika berbarengan bisa - bisa Baruna di hukum Naga Qiulong.


Baruna yang sudah terlebih dahulu membersihkan diri tampak menunggu Ethan. Setelah Ethan juga sudah selesai membersihkan diri, mereka kembali ke pantai dan berjalan di bawah sinar rembulan menyusuri pantai bersama.


"Berikan tangan mu"  Ucap Baruna.


Dengan patuh Ethan mengulurkan tangannya. Baruna menyentuh tangan itu dan membuat Ethan merasa sedikit hangat dan sengatan kecil.


"Kau sudah membersihkan diri di kolam tadi itu akan membuat mu lebih terlindungi. Dan ini untuk perlindungan jika Rico mau melakukan sesuatu yang buruk pada mu. Kau sentuh saja telapak tangan mu ke bahunya. Dia tidak akan mampu melakukan hal buruk terhadap tubuh mu"  Jelas Baruna.


Ethan tersenyum bahagia melihat Baruna begitu melindunginya.


"Baruna. Boleh aku memeluk mu sekali saja?"  Tanya Ethan.


Entah mengapa jiwanya begitu merindukan sosok Baruna dan ingin sekali memeluknya. Namun sosok di hadapan nya kini berwujud Avisa. Hanya di dalam Goa tadi wujud Baruna yang asli muncul.


Baruna hanya diam tidak menjawab. Perlahan Ethan mendekatinya dan memeluknya dengan lembut. Rasanya hangat. Begitu pula dengan Baruna. Dia merasa sangat nyaman.


Tanpa sadar Ethan melepas pelukannya pada Baruna dan menangkupkan kedua wajah Baruna dengan tangannya. Ethan mencium bibir Baruna dengan selembut. Seketika suasana menjadi sangat damai dan hening. hanya deburan ombak terdengar di sana.


Bulan pun bersinar dengan terang dan cahaya itu lurus menyinari tubuh Ethan dan Baruna. Keduanya berciuman di bawah sinar rembulan yang indah malam itu.


Wujud Ethan dan Baruna tiba - tiba berubah, Ethan menjadi sosok Pangeran Arvie lengkap dengan pakaian pangeran perangnya. Dan Baruna berwujud Kaimana lengkap dengan pakaian putrinya yang indah.


"Aku menemukan mu Kaimana. Maaf Aku terlalu lama" Ucap Ethan tiba - tiba.


Baruna yang seolah tersihir tampak meneteskan air matanya dan menyentuh wajah Ethan di hadapannya itu.


"Arvie~"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2