
Snowy tampak tidak peduli malah tersenyum mengejek pada Baruna.
"Avisa. Aku merindukanmu" Ucap Ethan yang membuat Baruna tersedak saat minum.
"Uhukk... Uhukkk...."
Wajah Baruna memerah. Bukan merah karena malu dan bahagia, tapi karena kesal dengan perkataan Ethan.
"Kau gila" Ucap Baruna kesal.
"Ah boleh aku ikut makan?" Tanya Ethan tanpa memperdulikan ucapan Baruna.
"Silahkan" Ucap Snowy sambil tersenyum.
'Haha. Dia benar-benar gila padamu. Sepertinya dia sudah tahu siapa kau' Ucap Snowy melalui batin pada Baruna.
'Sial. Kenapa harus bertemu dengan dia di sini' Jawab Baruna kesal.
'Mungkin sudah takdir kalian' Jelas Snowy.
Baruna mencoba mengabaikan keberadaan Ethan. Dia sibuk menikmati makanannya sendiri.
Namun tentu Ethan tidak akan menyerah begitu saja. Dia dengan santai memanggang dan menaruh daging di atas piring Baruna.
Snowy terus tertawa dalam hati melihat wajah kesal Baruna.
Ponsel Baruna bergetar. Terlihat nama Hilman Paris memanggil. Baruna segera menghentikan aktivitas makan nya lalu mengangkat telepon itu.
"Ya Om"
"... "
"Astaga. Syukur lah. Jadi bagaimana Om?"
"... "
"Tidak masalah. Bawa saja mereka ke rumah kosong yang aku punya. Tolong panggilkan dokter dokter terbaik untuk anak-anak itu"
"... "
"Makasih Om. Sore nanti aku akan ke sana"
"..."
Baruna menutup ponselnya setelah selesai berbicara dengan Hilman Paris.
Snowy menatap Baruna dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Setelah ini kita harus ke rumah tua" Ucap Baruna menyebut nama salah satu rumah peninggalan Papa Avisa.
"Okey" Jawab Snowy singkat.
Tak lama televisi yang terpasang di restoran itu menayangkan headline news yang mengejutkan semua pihak.
......Pria berinisial R yang selama ini di kenal sebagai pria dermawan dan kepala keluarga yang menjadi panutan ternyata seorang pedofil yang mengelola sebuah panti asuhan dan memperjual belikan anak anak di bawah umur bersama dengan kelompoknya. R diduga juga terkait dalam penggunaan obat obatan terlarang. Selain itu di ketahui R juga memiliki hubungan terlarang dengan beberapa laki-laki muda juga keluarga pihak istrinya. Saat ini kasus sedang didalami oleh pihak berwajib. ......
Baruna tersenyum smirk, dia merasa cukup puas melihat wajah Ronaldi yang disorot dengan headline news sebesar itu. Meskipun Ronaldi ingin dan akan menyuap berbagai pihak namun tentu akan sulit apalagi saat ini kasus ditangani Hilman Paris yang sangat terkenal seantero bangsa. Hilman Paris tentu tidak akan melepaskan kasus itu tenggelam begitu saja.
Baruna tidak sadar bahwa Ethan sejak tadi memperhatikan wajah dan ekspresi Baruna yang tampak puas melihat berita itu. Ethan berpikir Baruna pasti dalang di balik terkuaknya kasus itu. Apalagi Ethan cukup paham, pengusaha dengan background keluarga berada istri dari Ronaldi tentu tidak mudah tersentuh publik. Hanya orang gila saja yang berani mengungkap dan melawan keluarga itu.
Snowy turut tertawa puas. Tanpa sadar karena terlalu bahagia, mata Snowy menunjukkan mata seekor anjing yang puas dan bahagia.
Ethan terkejut melihat perubahan bola mata Snowy yang hitam semua, bukan mata seorang manusia pada umumnya. Ethan teringat mata anjing huskynya dirumah. Persis dengan mata Snowy saat ini. Tak lama mata Snowy kembali seperti mata manusia biasa.
__ADS_1
'Astaga. Apa itu. Apa pria muda itu bukan manusia?' Batin Ethan sambil menelan salivanya dengan kasar.
Snowy tetap asyik menikmati daging panggang itu. Sedangkan Ethan sudah berhenti makan. Dia masih bertanya-tanya akan rahasia alam apa yang tersembunyi.
Selesai makan. Ethan membayarkan makanan mereka.
"Untuk apa kau bayar makanan ini. Kau sendiri hanya makan sedikit" Ucap Baruna merasa tidak enak. Lebih tepatnua jika dia terlalu sering menerima kebaikan dari manusia. Maka dia harus membayar kembali kebaikan itu. Tentu Baruna tidak ingin. Dia sangat malas berurusan terus dengan Ethan yang sudah mencurigai kebenaran tentangnya.
"Tidak masalah. Bukan kah kau ada urusan? Apa perlu aku antar?" Tanya Ethan menawarkan.
"Tidak. Terima kasih" Ucap Baruna lalu mengajak Snowy segera pergi dari tempat itu.
Ethan hanya menatap lirih kepergian Baruna. Dia sadar Baruna berusaha menghindarinya.
"Aku tidak akan melakukan apapun yang merugikan mu Baruna. Tolong jangan menjauhi ku. Aku akan menjagamu" Gumam Ethan dengan pandangan sedih.
.
Di dalam mobil Snowy terus menertawakan Baruna yang kesal.
"Diamlah! Kau membuatku semakin sakit kepala" Ucap Baruna kesal setengah mati.
"Haha. Astaga kau ini. Sensi sekali. PMS? Eh lupa. Kau tak bisa PMS lagi. Tubuhmu sudah setengah mahluk dunia lain! Haha" Ucap Snowy yang masih tertawa bahagia melihat wajah kesal Baruna.
"Sial. Aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku padanya. Manusia itu tidak bisa aku kendalikan seperti yang lainnya" Ucap Baruna kesal.
"Siapa bilang tidak bisa? Dia menyukaimu Baruna. Aku bisa merasakannya. Dia mencintai Baruna, bukan Avisa. Tapi jika dia mencintai keduanya itu juga keuntungan untuk mu memanfaatkannya" Ucap Snowy yang berusaha menahan tawanya.
"Aku tidak butuh dia ikut campur. Tanpa dia juga aku tak akan terkalahkah. Justru berbahaya jika dia dekat dengan ku. Aku akan sulit bergerak nantinya" Ucap Baruna.
"Terserah lah. Kita mau ke rumah tua? Ada apa?" Tanya Snowy heran.
"Anak anak itu sudah di bebaskan. Sementara mereka akan tinggal di rumah tua. Hilman yang akan mengurus keperluan mereka" Ucap Baruna menjelaskan.
Snowy hanya mengangguk tanda paham.
Hilman Paris melihat Baruna yang baru tiba langsung menyambutnya.
"Avisa.. Kemari sayang" Ucap Hilman Paris sambil mengenalkan Baruna kepada polisi dan dokter yang ada disana.
"Selamat siang. Anda Nona Avisa Belenda?" Tanya salah satu polisi itu.
"Iya saya sendiri Pak" Ucap Baruna sambil tersenyum.
"Sebelumnya kami berterima kasih atas laporan Nona Avisa sehingga bisa menyelamatkan anak anak ini. Tapi boleh saya tahu dari mana Nona tahu hal ini?" Tanya Polisi itu.
"Ah saya mencurigai hal itu, juga ada orang yang kebetulan saya kenal ternyata tahu tentang orang bernama Ronaldi. Dia yang membantu saya mengumpulkan bukti dan melacak lokasi panti Ronaldi" Jelas Baruna. Dia tidak perlu takut jika polisi bertanya pada pria muda itu. Karena oria muda itu setuju bekerja sama dengan Baruna mengaku dia yang sudah memasang penyadap dan yang lainnya untuk membuktikan perbuatan bejad dari Ronaldi.
"Boleh kami bertemu dengan orang itu?" Tanya polisi itu.
"Boleh. Akan saya sampaikan kepada dia. Dia juga korban dari Ronaldi dan kekasihnya sampai harus mengakhiri hidup karena perlakuan Ronaldi yang juga menjual gadis tidak bersalah itu sebelumnya" Ucap Baruna..
Tampak Hilman Paris dan polisi disana menggelengkan kepalanya heran dengan manusia bernama Ronaldi itu. Tidak ada yang menyangka pria itu sungguh buruk berbeda dengan topeng yang selama ini dia tunjukkan.
"Bagaimana dengan kondisi kesahatan anak anak ini Om?" Tanya Baruna pada Hilman Paris.
"Ada yang harus dilarikan ke rumah sakit. Kabar baiknya mereka sehat. Kabar buruknya mereka akan menjalani terapi dan rehabilitasi karena dari keterangan anak anak ini mereka di cekoki obat obatan terlarang" Ucap Hilman Paris dengan suara lirih. Dia ikut merasa miris melihat anak-anak kecil tak berdosa itu.
"Astaga. Baiklah. Lakukan saja apa yang diperlukan. Jangan takut soal biaya yang diperlukan untuk mereka tidak akan masalah. Aku akan mengurusnya" Ucap Baruna meminta tolong pada Hilman Paris.
"Iya Avisa. Om akan pastikan semua yang terlibat akan mendapatkan ganjaran terburuk" Ucap Hilman Paris berapi-api.
"Terima kasih Om. Avisa serahkan semuanya pada Om ya. Kalau begitu Avisa pamit dulu" Ucap Baruna berpamitan.
__ADS_1
Snowy yang hanya duduk menunggu didalam mobil tampak tersenyum bahagia melihat anak bernama Bima itu sudah dapat tertawa lega sambil memeluk anak anak lainnya. Semua anak anak itu tampak bahagia terlepas dari cengkraman Ronaldi dan kelompoknya.
"Kau senang?" Tanya Baruna melihat ekspresi bahagia Snowy.
"Tentu saja. Anak anak itu akhirnya selamat" Ucap Snowy tersenyum.
"Iya. Setelah memastikan bajingan itu masuk penjara. Aku akan membawakan kabar baik untuknya. Pasti dia akan tercengang setengah mati" ucap Baruna tertawa tak sabar melihat ekspresi Ronaldi jika tahu dirinya terinfeksi virus HIV.
"Ingat bawa aku ikut dengan mu. Aku ingin menertawakan manusia itu juga" Ucap Snowy tersenyum senang.
Mobil Baruna melesat menuju arah pulang ke apartementnya. Akibat peralihan arus, Baruna terpaksa memutar mobil melewati jalan alternatif.
Mata Baruna tidak sengaja melihat dua sosok kuli panggul yang dia kenali sedang di maki oleh seorang ibu ibu.
"Kalau enggak bisa kerja enggak usah kerja! Gini aja enggak becus!!! Sudah mulai besok saya pecat kalian!" Bentak ibu-ibu berdaster dengan rambut di sanggul itu.
Baruna menatap sedih pada dua sosok pria yang mendapat cacian itu, mereka adalah kedua kakak kandung Baruna. Robert dan Dickson.
"Kakak... " Ucap Baruna lirih. Baruna segera menepikan mobilnya.
Snowy menatap Baruna yang menitikkan air matanya. Siapapun pasti tidak tega melihat keluarganya sendiri menderita dan dihina begitu.
"Kau tidak bisa menemui mereka Baruna. Lagi pula jika menemui mereka, apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak mungkin mengatakan dirimu adalah Baruna mereka. Kau akan melanggar aturan!" Ucap Snowy mengingatkan.
"Iya aku paham itu. Tapi aku tidak tega melihat mereka menderita. Kau lihat pakaian mereka itu. Baru kali ini kakak kakak ku menderita begitu" Ucap Baruna.
Benar adanya keluarga Baruna merupakan keluarga sederhana namun hidup mereka bercukupan. Tidak kekurangan juga tidak berlebih. Kedua Kakaknya juga bekerja di tempat yang layak dan tidak pernah bekerja kasar sebagai kuli panggul.
Akibat masalah Baruna, seluruh keluarganya ikut terseret. Kegilaan Ronaldi juga Frans membuat kedua Kakak Baruna dipecat dari pekerjaannya dan juga kesulitan mendapat pekerjaan dimanapun.
Tidak salah bukan jika Baruna sangat dendam pada orang-orang yang menghancurkan kehidupannya? Padahal Baruna tidak pernah menyakiti siapapun, begitu juga keluarganya yang malah cendrung selalu membantu orang yang kesusahan meskipun mereka sendiri hidup dalam pas-pasan.
"Akan aku hancurkan mereka. Akan aku hancurkan para bajingan itu. Akan aku injak mereka hingga mereka merangkak meminta pengampunan pada keluargaku" Ucap Baruna penuh amarah. Baruna melihat kedua kakaknya bahkan disiram air oleh boss mereka. Rasi sakit hati Baruna kian meningkat.
Snowy yang paham hal itu langsung turun dari mobil mendekati kedua kakak Baruna. Hanya dia yang bisa mewakili Baruna untuk menyelamatkan Kakak Kakak Baruna dari hinaan orang.
Snowy mendekati Dickson dan memberikan sebuah handuk kecil agar bisa menyeka air kotor yang disiram oleh ibu ibu arogant itu..
"Makasih Mas" Ucap Dickson dengan sopan pada Snowy.
"Sepertinya Mas-Mas ini bukan orang biasa. Maksud saya tampak terpelajar. Kenapa jadi kuli panggul Mas?" Tanya Snowy berpura-pura.
"Iya Mas. Kami kesulitan mendapat pekerjaan Mas. Jadi hanya kerjaan serabutan begini yang bisa kami kerjakan" Jawab Robert sambil menghela nafas.
"Bagaimana kalau Mas-mas ini mengelola toko fashion saya. Saya akan pindah keluar negeri tidak lama lagi. Tentu tidak ada yang bisa mengurus toko saya. Sayang jika harus di tutup bisnisnya" Ucap Snowy. Memang benar adanya Snowy memiliki bisnis itu. Tapi tentu dia tidak membutuhkan uang dari hasil bisnis itu.
Uang itu dia kumpulkan untuk dikirimkan ke orang-orang yang membutuhkan tanpa orang mengenali siapa dermawan berbaik hati yang selalu membantu. Snowy melakukan itu untuk menebus tindakan buruknya dan kenakalan nya dimasa lalu yang sudah menghabisi banyak nyawa tidak bersalah.
"Boleh Mas.. Terima kasih Mas." Ucap Dickson dan Robert yang merasa senang mendapat kesempatan itu.
"Besok temu saya di cafe arjuna jam 1 siang. Saya akan mengantar Mas-Mas kalian ke tempat penyimpanan stok barang itu. Ini nomor ponsel saya" Ucap Snowy menjelaskan dan memberikan secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya.
Dickson dan Robert tampak bersyukur dan menerima kertas itu.
Snowy kembali ke mobil, Baruna masih diam hanya menatap spion yang memperlihatkan kedua Kakaknya yang berpelukan dan menangis.
"Maafkan Aku Kak. Aku tidak bisa kembali dan bersama kalian lagi. Bersabarlah setelah ini aku akan mengembalikan nama baik dan kehormatan keluarga kita" Gumam Baruna sambil menitikkan air mata.
.
.
.
__ADS_1
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-