Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Hukuman Karma...


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyinari sela sela sudut dunia. Kicauan nyanyian burung terdengar merdu mengantikan alarm.


Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. semua orang masih tertidur lelap terkecuali Dedy Costa. Dedy Costa terbiasa hidup sehat sudah bangun sejak pagi dan berolahraga.


"Hei Avisa. Good Morning. " Sapa Dedy Costa saat melihat Baruna.


"Morning Om Ded. Pagi bener bangunnya? " Tanya Baruna sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Sudah biasa melakukan hal itu. Kau sendiri bangun sepagi ini? " Tanya Dedy Costa.


"Iya biasa olahraga atau renang bareng snowy" Ucap Baruna.


"Snowy mau di ajak olahraga? " Tanya Dedy Costa terkejut.


"Dia senang banget diajak lari pagi sama renang" Jawab Baruna sambil tersenyum.


"Oh. Keren banget husky satu itu" Ucap Dedy Costa yang memang merasa kedekatan sosok Avisa dengan Snowy -anjing Husky sangat dekat seolah mereka bisa bicara dari hati ke hati.


"Aku berenang dulu ya Om" Ucap Baruna.


"Okey. Silahkan" Ucap Dedy Costa dengan ramah.


Baruna melihat kesekeliling. Snowy tidak tampak padahal di kamar tadi tidak terlihat Snowy.


"Snowy...... Snowwwyyyyy" Panggil Baruna dengan cukup keras.


Tidak lama terdengar suara anjing menyalak mendekati Baruna.


"Come on. Kita berenang" Ucap Baruna lalu membuka kaos oversizenya menyisakan pakaian renang yang menutupi tubuhnya.


"Cantik tatto mu Avisa" Ucap Dedy Costa yang melihat tatto Naga di punggung Baruna.


"Beneran Om? " Tanya Baruna sambil tersenyum. Padahal Tatto itu merupakan pertanda para Naga ada di dalam tubuh Baruna.


"Iya. Berasa tuh tatto hidup gambarnya. Bagus banget. Tatto dimana emangnya Avisa? " Tanya Dedy Costa yang merasa kagum dengan keindahan tatto itu.


"Dulu saat masih di Thailand Om Ded. Ah, Avisa renang dulu ya" Ucap Baruna lalu masuk kedalam kolam renang bersama Snowy.


Baruna berenang dengan luwes hingga tak terasa sudah setengah jam dirinya bermain-main didalam kolam itu.


"Avisa. Mau sarapan apa?" Tanya Oliv Margo melihat Baruna yang sedang berenang.


"Aku yang masak aja Kak Oliv. Bentar ya aku mandi dulu" Ucap Baruna lalu mengajak Snowy. Baruna mengendong Snowy dengan membalutkan tubuhnya dengan handuk besar.


Tiba di kamar dirinya meletakkan Snowy di lantai kamar.


" Aku duluan mandi ya" Ucap Baruna.


Snowy berubah wujud menjadi manusia.


"Okey. Jangan lama" Ucap Snowy.


Baruna menyelesaikan mandinya lalu berganti dengan Snowy. Setelahnya Snowy kembali dalam wujud anjing Husky. Bulu di tubuhnya tampak kering tak seperti baru saja dari kolam renang. Jangan ditanya 'kok bisa kak?' Ya bisa lah itu anjing langit bukan anjing sembarang wahai pembaca mulia. Ente kadang-kadang ente.


Baruna turun ke dapur. Tampak Oliv Margo dan Rina Runissa sudah ada di dapur. Dengan sigap mereka membuat sarapan untuk semua orang.


Satu persatu bangun dari tidurnya dan langsung masuk ke ruang makan untuk menikmati sarapan. Selesai itu asisten asisten mereka yang ikut berganti tugas mencuci piring setelah ketiga wanita cantik yang memasak sarapan untuk semua orang.


"Bosen. Jalan yuk. Mumpung udara segar" Ajak Rose.


"Boleh juga" Sahut Iyan Gunawan.


Mereka pun berjalan jalan di kebun teh.

__ADS_1


"Akhhhhhh......... !!!! "


Semua orang terkejut mendengar suara jeritan. Salah satu asisten mereka berteriak ketakutan.


Baruna yang paham apa yang dilihatnya bersikap santai mendekati asisten itu bersama yang lain.


"Astafirullah!!!" Ucap Destan terkejut melihat mayat seseorang yang penuh darah. Terlebih tubuhnya hanya sisa tulang berbalut kulit seolah dirinya sudah tersedot seluruh dagingnya.


Para perempuan menutup mata mereka merasa takut melihat mayat di gazebo itu.


"Hiks... Hiks... Hiks"


Sayup-sayup terdengar suara tangisan dekat batu besar tak jauh dari gazebo.


"Eh! Apa tuh???" Seru Vincent terkejut.


"Jangan jangan setan!" Imbuh Destan yang masih syok melihat mayat dihadapannya.


"Telepon polisi cepat Ded!" Ucap Deni Margo menyuruh Dedy Costa yang masih menenangkan istrinya yang ketakutan melihat mayat itu.


Dedy Costa langsung menghubungi kenalan polisinya agar menyuruh anggota terdekat lokasi villa mereka untuk menuju kebun teh itu.


Masih terdengar suara tangisan. Baruna melangkah mendekati batu besar itu


"Eh. Avisa jangan! Entah hantu apa penjahat tuh" Ucap Iyan Gunawan reflek.


Ariel melangkah mengikuti Baruna di ikuti beberapa yang lainnya.


"Hiks.. Hiksss" Seorang gadis terduduk memeluk kakinya dalam kondisi telanjang. Itu Ayu gadis yang diselamatkan Baruna.


"Astagfirullah!!! " Ariel menyebut asma Allah terkejut melihat seorang gadis tanpa busana di tempat itu. Semuanya pria membalikkan badannya merasa tak pantas dan tak nyaman melihat pemandangan itu.


Baruna langsung melepas jaketnya dan membuka kaos oversize yang di pakainya. Baruna memakaikan kaus itu pada tubuh si gadis lalu melingkarkan jaketnya menutupi bagian bawah pahanya yang belum tertutup sempurna oleh kaos yang di pakai.


Gadis itu tampak ketakutan dan bergetar. Matanya terus mengalirkan air mata tanpa henti.


"Ba-Bapak.... " Gadis itu terbata bata melihat jasad di gazebo itu. Kembali gadis itu menangis.


"Itu bapak kau? " Tanya Deni Margo terkejut.


"Ah.... Shhh" Gadis itu meringis sakit. Darah segar masih mengalir dari bagian bawah tubuhnya sesekali sejak kejadian biadab semalam.


"Sepertinya dia korban pelecehan. Mungkin mayat itu pelakunya dan terkena karmanya sendiri" Ucap Baruna dengan santai dan datar.


Ayu menatap Baruna. Dia seperti mengenali suara Baruna. Tapi wajah Baruna saat ini berbeda dengan Wanita muda yang menyelamatkan nya semalam.


"Astaga. Jadi Bapak kau memper--- Hmmmmm" Deni Margo tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia masih tak habis pikir dengan adanya orang bejat yang tega pada anak sendiri.


Tak lama polisi mendatangi kebun teh itu. Mereka menjelaskan kronologi menemukan jasad dan gadis yang tampak trauma itu.


Dari pernyataan singkat Ayu -korban kekejian itu. Dia memang di lecehkan sang Ayah dan seorang dukun. Namun dia tidak tau dukun itu kemana. Dia hanya melihat sang Ayah menjerit lalu meninggal di hadapannya. Setelah itu dia terlepas dan bersembunyi di belakang batu karena ketakutan.


Ayu juga menceritakan seorang gadis yang tiba-tiba muncul dan melepaskan tali di tangan dan kakinya. Tapi dia tidak mengenali orang itu yang menghilang kedalam hutan.


Para polisi mencari dimana sang dukun dan gadis yang di maksud hingga kedalam hutan. Untuk sementara mereka menduga dukun itu atau gadis yang menolong Ayu ada kaitan dengan kejadian kematian Bapak Ayu. Tapi diperiksa bagaimana pun tidak di temukan kekerasan atau pun DNA dari pembunuh seolah kematian Bapak Ayu murni tanpa campur tangan manusia.


Pemeriksaan menunjukkan Ayu memang dilecehkan sesuai apa kesaksiannya. Kasus menjadi buntu membuat spekulasi bermunculan. Tidak ada yang mau mempercayai bahwa itu perbuatan mahluk halus namun tidak ada juga jawaban atas kejadian itu...


Setelahnya mereka kembali ke villa dengan pemikiran yang masih aneh akan kejadian itu.


Tidak ada yang mau mempercayai itu perbuatan mahluk gaib. Tapi kenyataan dihadapan mereka sungguh membingungkan. Mayat yang hanya tersisa tulang dan kulit. Mengerikan sekali.


"Astaga. Serius itu mayat baru meninggal semalam? Kondisinya begitu. Aduh serem deh" Ucap Iyan Gunawan merasa geli teringat kondisi jasad itu.

__ADS_1


"Itu tandanya Tuhan enggak tutup matanya. Bener kata Avisa, mungkin Tuhan marah melihat perbuatan Bapak tuh gadis jadi langsung deh Tuhan turun tangan menghukum agar manusianya jangan sesat. Wong edan! Tanaman rusak kok salahin setan. Pake acara tidurin anak sendiri lagi! Gila!" Ucap Deni Margo yang masih heran dengan kejadian itu.


"Iya. Meskipun aku bukan manusia yang taat taat banget sama kewajiban Agama ya. Minimal enggak gitu juga lah. Jaman secanggih ini malah gunakan hal mistis saat tanaman rusak. Apa kata dunia?" Ucap Rey Oktavianus yang juga tak kalah syok.


Semuanya tampak berdebat membicarakan bagaimana cara pria tua itu bisa meregang nyawa dengan kondisi jasad seperti itu. Masih belum masuk dalam logika mereka.


Tanpa mereka sadari Baruna menjauh dari tempat mereka berkumpul dan dengan santai menikmati jus yang masih ada. Snowy mendekati Baruna.


'Keren kerjaan kau. Rapi tapi pada jadi syok tuh. Kenapa kau buat jadi mumi sih tuh manusia?' Ucap Snowy melalui batin berbicara dengan Baruna.


Baruna dan Snowy saling bertatapan sejenak.


'Biar enggak ada darah yang kena ditubuhku. Juga peringatan bagi semua manusia di tempat ini. Berbuat keji dengan darah daging sendiri maka akibatnya darah dan daging mereka akan hilang dari tubuh mereka' Balas Baruna melalui batin.


'Dukunnya emang kemana kau bawa?' Tanya Snowy lagi penasaran.


'Istana kegelapan. Sepertinya anggota-anggota Eyang Putri sedang bersenang-senang dengan manusia itu. Nanti aku akan mengunjungnya' Jawab Baruna.


Siang tiba. Semuanya tampak bersiap meninggalkan Villa. Niat awal mereka ingin memperpanjang liburan harus dibatalkan akibat melihat kejadian tidak meng-enak-kan itu. Mereka takut akan melihat kejadian kejadian lain lagi.


Semuanya saling berpamitan dan kembali ke tempat masing-masing. Terkecuali Baruna dan Snowy yang menuju salah satu curug di puncak itu.


"Aku lagi ingin main air. Besok saja kita pulang" Ucap Baruna pada Snowy.


"Boleh aku wujud manusia? Pengen berenang juga di curug!" Ucap Snowy .


"Ya udah. Lagian tempat yang kita tuju jauh dari pemukiman dan jarang ada yang kesana" Ucap Baruna.


"Yes!! " Snowy langsung berubah menjadi pria tampan yang duduk di sebelah Baruna.


Benar sekali mereka menuju curug yang sangat sepi. Tapi tujuan utama Baruna bukan ingin mandi disana. Dirinya ingin menembus istana kegelapan melalui curug itu.


Baruna tiba di Istana Kegelapan


"Siapa itu?!!" Terdengar suara mengema. Seekor ular berkepala manusia tampak keluar dari sela sela dinding.


Baruna hanya tersenyum melihat kehadiran mahluk itu.


"Ah Nona Pewaris. Maaf atas kelancangan saya" Ucap mahluk itu sambil membungkukkan tubuhnya menghormat.


"Dimana tahan yang ku bawa semalam?" Tanya Baruna tanpa basa basi.


"Silahkan Nona Pewaris. Orangnya ada di istana utama. Dia sedang disiksa dan menjadi tontonan mahluk disini" Ucap mahluk itu dengan sopan.


"Oh ya? Seru sepertinya. Belum kalian bunuh bukan?" Tanya Baruna.


"Belum Nona Pewaris. Apa harus kami akhiri sekarang? " Tanya mahluk itu.


"Tidak perlu. Aku masih mau melihat penderitaan si cabul itu" Ucap Baruna langsung melangkah ke istana utama dan menemukan tubuh dukun itu dakan kondisi tidak berbusana dan tampak kesakitan.


Bagian inti tubuh dukun itu tampak dililit oleh seekor ular yang seolah hendak mematahkan kejantanan si dukun.


"Ampunnnn" pria itu tampak mengerang kesakitan.


Baruna tersenyum melihat siksaan dukun itu yang tubuh bagian belakangan dimasuki besi panas hingga dia menjerit kesakitan.


"Hukuman yang indah. Biar dia tersiksa lebih lama dan bunuh. Rohnya akan aku lempar ke neraka" Ucap Baruna sambil tersenyum puas.


Baginya, manusia seperti itu tak pantas hidup dan dikasihani.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2