Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Makan Siang Mengharukan...


__ADS_3

Sore menjelang malam Baruna menyempatkan diri berlari kecil di sekitaran perumahan mewah yang memiliki taman untuk orang-orang berolahraga.


Selesai itu dia melaju menuju salah satu stand pinggir jalan yang menjual mie ayam yang sudah terkenal enak dan tidak terlalu mahal.


Selain itu penyajian mie ayam itu tampak bersih dan bahannya juga terlihat selalu fresh.


Bagaimana Baruna bisa tau? Tentu saja tau, apakah para netizen budiman sudah lupa siapa Baruna. Matanya tentu tidak bisa di tipu. Bahkan Baruna menghindari tenpat makan yang menggunakan penglaris.


Kenawhy? Tentu karena dia jijik melihat air liur dari penglaris itu yang menetes di atas makanan yang di hidangkan untuk para tamu di sana.


"Mas. Satu mangkok ya" Ucap Baruna yang berwujud Avisa itu memesan pada penjual mie ayam itu.


"Baik Non" Ucap penjual itu dengan ramah.


Baruna duduk dengan santai menunggu mie ayam itu.


Sambil duduk menunggu mie ayamnya dihidangkan, Baruna bersantai membalas group chat nya bersama para artis dan selebgram itu.


"Ini Non Mienya. Mau tambah cabe potong Non? " Tanya Penjual itu meletakkan mie ayam pesanan Baruna.


"Enggak usah Mas. Makasih" Ucap Baruna tersenyum.


Pelayan itu kemudian kembali ke gerobaknya untuk membuatkan pesanan untuk pembeli yang lainnya.


Semakin larut tentu semakin ramai pembeli yang makan di tempat ataupun memilih take away.


Salah satunya sepasang suami istri yang tampak berumur sekitar 30-an. Sepasang suami istri itu tampak duduk tak jauh dari Baruna.


Hal yang menjadi perhatian Baruna adalah si istri itu di ikuti sesosok mahluk berbadan besar yang tampak seperti jin peliharaan.


Mata Baruna dan makhluk itu tak sengaja bertatapan.


Makhluk itu tampak menghormati Baruna. Bagaimana tidak. Aura Naga dan tanda dari Ratu Pantai Selatan di tangan Baruna jelas terlihat oleh makhluk tak kasat mata itu.


"Mas. Badan ku makin lemas. Boleh ke dokter habis ini? " Terdengar si Istri mengeluh tubuhnya tidak enak pada sang suami.


"Kan sudah dua hari lalu. Sudahlah. Cepat makan dan kita pulang istirahat. Kau hanya kelelahan saja itu" Ucap si Suami tampak acuh tak acuh.


Tak ingin bertengkar si Istri hanya manut saja dengan perkataan si suami.


Melihat itu Baruna kembali menatap makhluk itu.


' Ikut aku ' Ucap Baruna dalam batin untuk mengajak makhluk itu untuk berbicara dengan nya.


Baruna yang sudah selesai makan langsung bergerak membayar makanannya lalu masuk kedalam mobilnya.


Makhluk itu turut masuk ke dalam mobil dan melaju ke sebuah taman yang tak jauh dari tempat makan itu.


Baruna turun dan berjalan ke tempat yang agak sepi

__ADS_1


di sudut taman terbuka itu.


"Apa yang kau lakukan di sana? " Tanya Baruna menatap mahkluk yang mengikuti Baruna.


"Maaf Nona Pewaris. Hamba hanya menjalankan tugas" Ucap makhluk itu.


"Dari mana asal mu? " Tanya Baruna menatap makhluk mengerikan itu.


"Dari laut dekat perbatasan. Masih daerah Kanjeng Ratu" Ucap Makhluk itu dengan posisi masih menghormat pada Baruna.


"Apa yang kau lakukan? Wanita tadi di tumbalkan? " Tanya Baruna langsung.


"Benar Nona. Wanita itu di tumbalkan suaminya" Ucap Mahluk itu.


Baruna cukup terkejut, wanita itu di tumbalkan oleh suaminya sendiri. Padahal keduanya masih tampak muda dan memiliki kehidupan yang lumayan.


"Kenapa bisa? " Tanya Baruna heran.


"Iya. Suaminya meminta imbalan kekuasaan untuk kenaikan jabatan di kantornya juga harta yang melimpah" Ucap Mahluk itu.


"Wah. Gila. Tampaknya mereka tidak semiskin itu kan? " Tanya Baruna heran.


"Benar Nona. Mereka cukup mapan untuk saat ini dan sudah punya satu anak laki-laki" Jawab mahluk itu menjelaskan.


"Ck! Manusia memang tamak" Ucap Baruna merasa heran.


"Ya sudah pergilah jalankan tugas mu. Itu memang pilihan mereka sendiri. Tidak perlu aku menghentikan mu" Ucap Baruna yang tidak mau terlibat.


"Baik Nona, terima kasih. Hamba pamit menjalankan tugas" Ucap mahluk itu lalu menghilang begitu saja dari pandangan.


Baruna pun segera kembali ke apartemen nya untuk membersihkan badan dan bersiap beristirahat.


Berhubung tidak ada h yang perlu dia lakukan karena menjebak Zaky sedang dalam proses yang lebih matang.


"Akan aku pastikan semua uang itu akan kembali. Kalian berani mengambil yang bukan hal kalian pasti akan aku hancurkan" Ucap Baruna penuh amarah setiap mengingat perbuatan Dea Sari dan putranya itu.


Malam penuh bintang itu menemani Baruna terlelap dalam mimpinya. Dia kembali bermimpi samar-samar melihat dirinya sendiri berpakaian putri sedang berjalan-jalan bersama pria yang bersajah Ethan itu.


Keduanya tampak sangat saling mencintai. Melihat itu dada Baruna terasa nyeri. Entah apa yang membuatnya merasa tidak nyaman bermimpi hal itu.


.


.


.


Siang itu sesuai janji dengan Ethan. Keduanya bertemu di kantor Ethan.


Baruna mengajak Snowy ikut dengannya karena setelah itu mereka akan ke tempat lain bersama.

__ADS_1


"Kau sudah datang" Sambut Ethan melihat Baruna datang dengan Snowy.


Baru saja masuk ke dalam ruangan Ethan, Baruna mencium aroma yang enak dan lezat menyeruak seisi ruangan kantor Ethan.


"Kau sudah memesan makanan? Banyak sekali" Ucap Baruna heran.


Baruna berpikir Ethan akan mengajaknya makan di restoran atau tempat lain yang mengijinkan binatang peliharaan bisa ikut.


"Duduk lah. Kita makan. Mumpung masih hangat makanannya" Ucap Ethan mempersilakan Baruna dan Snowy untuk duduk.


Ethan mengunci pintu ruangannya terlebih dahulu agar Snowy bisa merubah wujud menjadi manusia untuk menikmati makanan yang ada.


"Ayo makan" Ucap Ethan lagi.


"Banyak sekali. Beli dimana? " Tanya Snowy yang tergoda dengan aroma lezat makanan yang terhidang di atas meja.


Baruna hanya diam tidak menanggapi. Dia kemudian menyendokkan sambal juga sepotong ayam goreng untuk di nikmati.


Baru gigitan pertama Baruna merasa tidak asing dengan masakan yang dia makan itu.


Baruna terdiam dan menatap ayam goreng yang baru dia gigit. Pikirannya teringat dengan sang Mama yang sering membuatkannya bekal ayam goreng kesukaan nya itu.


Rasanya begitu persis hingga membuat Baruna meneteskan air mata.


"Loh. Kau kenapa Baruna? " Tanya Snowy terkejut melihat Baruna yang meneteskan air matanya.


"Ah. Maaf. Aku teringat Mama ku. Makanan ini persis masakan Mama" Ucap Baruna sambil menyeka pipinya.


Ethan tersenyum kecil melihat Baruna.


"Ini memang masakan Mama mu, Una. Mama Duma yang memasak ini semua" Ucap Ethan.


Baruna dan Snowy sama-sama terkejut mendengar perkataan Ethan.


"Bu Duma selalu memasak untukku sejak aku menggenal dan membantu mereka. Hari ini khusus aku minta agar bisa di bawa ke sini. Aku yakin kau sangat merindukan masakan rumahmu" Ucap Ethan sambil tersenyum lembut.


Baruna menatap Ethan. Tak ada sepatah kata pun yang bisa di ucapkan Baruna. Dia merasa senang - sedih - bingung bercampur jadi satu.


"Jika kau merindukan masakan Mama mu, katakan saja. Aku akan memastikan kau bisa menikmati nya walaupun kau tidak bisa menemui mereka" Ucap Ethan dengan tulus.


Snowy yang melihat dan mendengar perkataan Ethan merasa semakin hari Ethan semakin mendekatka diri pada Baruna juga keluarganya.


'Alamat bahaya. Semoga tidak terjadi hal buruk' Batin Snowy dalam diam.


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2