Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Lukisan Gadis...


__ADS_3

"Halo"


"Halo. Maaf Aku mengganggumu Baruna. Apa Kau ada waktu hari ini?"


"Ada masalah apa Et? Apa ada hal buruk yang terjadi pada orang tua Ku?"


"Tidak. Kedua orang tua mu dan Kakak - kakak mu baik - baik saja"


"Jadi? Lantas ada hal apa?"


"Ada hal lain yang membuat Aku penasaran. Bisa kita bertemu?"


"Baiklah. Aku ada di apartemen"


"Baik. Aku segera ke sana"


Telepon itu pun di akhiri. Baruna masih heran dengan perkataan Ethan yang mendadak ingin menemuinya.


Sebelumnya tidak ada rencana apa pun di antara keduanya karena lokasi kantor palsu untuk menjebak Zaky sudah selesai.


Selain itu juga menurut Ethan tidak ada yang terjadi pada orang tua Baruna. Keduanya baik - baik saja.


Awalnya Baruna sudah sempat berpikir sesuatu terjadi lagi pada kedua orang tuanya. Namun ternyata tidak ada hal buruk yang terjadi.


Tentu itu membuat Baruna menghela nafas lega.


30 menit kemudian Ethan tiba di apartemen Baruna. Terdengar suara bell berbunyi.


Baruna segera membukakan pintu dan mempersilahkan Ethan masuk ke dalam apartemen.


"Mau minum apa?"


Tanya Baruna saat Ethan sudah duduk di atas sofa ruang tamu apartemen.


"Apa saja. Jangan repot - repot"


Ucap Ethan pada Baruna. Dia memang bukan datang untuk meminta segelas minuman. Namun ada hal penting yang ingin dia pastikan dengan Baruna.


Baruna langsung menyajikan segelas teh hangat yang beraroma teratai.


Aroma teh itu langsung membuat Ethan teringat dengan wanita bernama Kaimana di dalam mimpinya.


Darah yang mengalir pada tubuh perempuan bernama Kaimana itu beraroma teratai. Bukan aroma darah yang anyir.


"Ada apa?"


Tanya Baruna yang duduk di sofa seberang Ethan. Melihat Ethan yang terdiam dan merenungi sesuatu membuat Baruna semakin penasaran.


"Ah maaf mengganggu. Apa Kau bisa ikut dengan Ku ke sebuah tempat?"


Tanya Ethan yang terdengar sangat serius.

__ADS_1


"Ada apa memangnya?"


Tanya Baruna heran dengan sikap Ethan saat itu.


Ethan tampak mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Baruna.


Sebuah lembah dengan air terjun persis di mimpinya.


"Ini maksudnya apa?"


Tanya Baruna bingung. Ethan menghela nafas kasar sebelum berbicara lagi.


"Coba slide layar ke kanan"


Ucap Ethan lagi.


Baruna kemudian menggeser layar ponsel Ethan ke kanan. Foto berikutnya membuat Baruna membolakan matanya karena terkejut.


Dia tidak tau harus berkata apa. Di dalam foto itu ada sebuah lukisan kuno seorang wanita yang sangat mirip dengan Baruna.


"I-Ini??"


Baruna benar - benar kebingungan dan tidak ingin mempercayai. Apa hanya dia yang merasa jika lukisan itu mirip dengannya.


"Itu lukisan yang di bawah Papa Ku semalam ke rumah.. Papa bilang itu salah satu lukisan yang di simpan di rumah besar Almarhum buyutku dan di jaga dengan baik. Kabarnya itu peninggalan leluhur dan selalu harus di jaga. Bahkan masih banyak lukisan sejenis itu. Jujur Aku bingung apa hubungan antara buyutku dengan gadis di lukisan itu. Karena aku merasa itu mirip sekali dengan mu"


Penjelasan Ethan membuat Baruna semakin terkejut. Sepengetahuannya dia dan Ethan bukan saudara dan keluarga mereka juga tidak mengenal satu sama lain.


"Aku sudah minta ijin pada Papa untuk ke rumah besar milik buyutku. Tapi tempatnya jauh. Apa kau mau ikut? Jujur aku penasaran dan ingin memastikan sesuatu"


Ucap Ethan yang mengajak Baruna turut serta melihat peninggalan apa lagi yang ada di rumah itu.


"Baiklah. Aku ikut. Aku ganti pakaian dulu"


Ucap Baruna lalu segera menuju kamar untuk berganti pakaian.


"Ayo"


Baruna tampak sudah berganti pakaian. Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift untuk turun ke loby dan menuju parkiran mobil tempat Ethan memarkirkan mobilnya.


Ethan dengan sigap membukakan pintu untuk Baruna, dia memang pria sebaik itu.


Perlakuan yang sudah sering dia tunjukkan pada Baruna tentu tidak membuat Baruna kesal.


"Ah tumben kau tidak berubah menjadi Avisa?"


Tanya Ethan heran. Dan Baruna memang lupa. Setiap bersama Ethan entah mengapa dia sangat nyaman dan bisa menjadi dirinya sendiri.


"Astaga aku hampir lupa"


Ucap Baruna yang langsung berubah wujud menjadi Avisa.

__ADS_1


Kemampuan Baruna kini semakin kuat. Dia bisa mempertahankan wujud aslinya tanpa harus berubah terus menjadi Avisa. Berbeda dengan sebelumnya, seolah kemampuannya mengubah wujud menjadi diri sendiri di alam manusia itu terkunci dan dia hanya bisa mengubah wujudnya sebagai dirinya sendiri saat menjalankan tugas atau sedang berada di gua maupun apartemen.


"Tapi Aku lebih suka wujud Baruna. Bukan Avisa"


Ucap Ethan berkomentar. Dia memang jujur jika dia menyukai Baruna bukan Avisa.


"Jangan menggoda ku. Tidak mempan"


Ucap Baruna dengan santainya. Setelahnya mereka terdiam.


Masing - masing tenggelam dalam pikiran mereka, sepanjang perjalanan menuju ke rumah peninggalan leluhur Ethan itu ternyata cukup jauh.


Mereka harus menempuh perjalanan lebih dari 3 jam untuk tiba di tempat itu. Bahkan untuk masuk ke dalam desanya perjalanan sungguh berbahaya.


Jalanan berkelak - kelok juga penuh bebatuan tentu membuat orang pada umumnya akan malas mendatangi tempat itu.


Hingga mereka masuk ke dalam sebuah  perkampungan yang sudah di tinggal oleh warganya.


Tampak hanya tersisa beberapa rumah warga yang masih ada di sana. Salah satunya rumah pegawai yang  bertugas membersihkan rumah leluhur Ethan.


Rumahnya leluhur Ethan merupakan rumah terbesar dan termegah di tempat itu. Begitu tiba Baruna bisa melihat bangunan tua yang masih terawat dan berdiri kokoh itu berbeda dari yang lainnya.


Malah terkesan seperti salah satu bangunan untuk rumah keluarga kerajaan jaman dulu.


Begitu tiba di sana sudah ada pegawai pembersih berjumlah dua orang yang menunggu di sana. Setiap harinya mereka memang akan membersihkan rumah itu meski sudah tidak berpenghuni.


Sudah bertahun - tahun dan pekerjaan itu seolah turun temurun bagi mereka. tidak ada keluhan bagi pegawai - pegawai itu. Mereka dengan senang hati terperangkap di desa yang jauh dari kota dan sangat terpencil itu.


Malah mereka sangat senang menyambut kehadiran Ethan. Namun raut wajah mereka juga terkejut melihat Ethan. Seolah melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.


"Ada apa?"


Tanya Ethan heran melihat tingkah kedua pegawainya itu.


"Ah. Ti-tidak Tuan Muda. Ma-Maaf"


Ucap salah satu pegawai itu tergagap.


Sedangkan yang lainnya berbisik pada temannya itu yang masih bisa terdengar oleh Ethan. Pegawai lain berbisik , "Mirip sekali dengan gambar Pangeran".


Ethan menoleh heran mendengar ucapan yang berbisik itu.


'Pangeran? Siapa?'


Batin Ethan penasaran dengan perkataan dari pegawai itu. Namun dia tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2