Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Rumah dan Lukisan


__ADS_3

"Kita ke rumah ku setelah pekerjaan ini selesai"


Ucap Ethan sambil tersenyum pada Baruna.


Ethan terlihat memasukkan dulu uang - uang yang di bawa Baruna ke dalam Brankas khusus yang ada di balik dinding ruangan Ethan.


Dia akan menyerahkannya bertahap pada orang tua Baruna. Dan tentu dengan segala skenario agar orang tua Baruna tidak bisa menolak pemberiannya itu.


Setelah memastikan semua uang itu masuk ke dalam brankas, Ethan menutup rapat brankas itu lalu kembali duduk di kursi kebesarannya untuk segera menyelesaikan tugasnya sebagai pemilik perusahaan.


Sedangkan Baruna tampak duduk dengan tenang sambil membaca majalah yang ada di atas meja. Sesekali dia melirik Ethan dan melihat berkas cahaya merah itu masih ada. Namun semakin samar.


'Apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana manusia biasa seperti Et bisa memiliki cahaya itu?' Batin Baruna yang terus menerus mencari kemungkinan yang bisa di terima pikirannya.


Dia masih bingung dengan fenomena aneh pada diri Et.


Sejujurnya Baruna juga merasa Et semakin berbeda dan semakin mirip dengan pangeran Arvie. Meski di awal Baruna menolak fakta itu, namun kini dia malah semakin yakin karena dalam mimpi Baruna, dia melihat tangan pangeran Arvie memiliki cahaya jingga yang indah.


Dan kini Baruna melihat samar - samar cahaya kemerahan yang indah mengelilingi Ethan.


'Siapa sebenarnya kau Ethan Ezra Christian. Apa Kau reinkarnasi dari Pangeran Arvie?'  Batin Baruna lagi.


Merasa ada yang menatapnya membuat Ethan menoleh ke arah Baruna. Mata keduanya bertatapan dengan dalam.


Keduanya saling bertatapan hingga terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Ethan.


"Masuk"


Ethan mempersilahkan orang di luar untuk masuk.


Seorang staf administrasi di perusahaan itu masuk dan mengantarkan berkas untuk Ethan.


"Maaf Tuan. Ini berkas yang Anda minta"


Ucap staff itu dengan sopan meletakkan berkas di atas meja kerja Ethan.


"Oke. Thanks"


Ucap Ethan singkat dan datar. Dia memang begitu dingin dengan orang lain namun sangat lembut dan hangat pada Baruna seorang.


Melihat itu membuat Baruna menaikkan satu alisnya heran.


"Kau masih sedingin itu? Aku kira kau sudah berubah lebih ramah"


Ucap Baruna mengomentari sikap Ethan.


"Hanya untukmu saja Aku akan ramah. Khusus untuk dirimu, Snowy dan keluargamu"


Jelas Ethan sambil tersenyum pada Baruna.


Baruna hanya menghela nafas dan tidak mau menanggapi penjelasan Ethan.


"Tunggu sebentar lagi. Aku sudah mau selesai"


Ucap Ethan yang takut Baruna bosan menunggunya.


"Tidak masalah. Waktu ku banyak hari ini"


Jelas Baruna yang kembali menikmati kopinya.


Ethan kembali fokus dengan pekerjaannya hingga sejam mungkin dia sudah selesai dengan pekerjaannya dan mengajak Baruna untuk makan siang sebelum menuju ke rumah Ethan bersama - sama.


"Naik mobil ku saja. Nanti akan Aku antar Kau kembali mengambil mobil mu ini"


Ucap Ethan pada Baruna. Dan Baruna mengikuti saja perkataan Ethan. Memang jauh lebih baik mereka 1 mobil karena jalanan cukup macet di jam siang hari itu.


Ethan membawa mobil menuju ke salah satu restoran di dekat kantornya.


"Kau sudah masakan seafood bukan? Di sini specialty masakan seafood"


Ucap Ethan sebelum mengajak Baruna turun untuk masuk ke dalam restoran.


Keduanya berjalan beriringan memasuki restoran. Mereka duduk di bagian yang dekat dengan taman dalam restoran.


"Duduklah"

__ADS_1


Ucap Ethan sambil menggeserkan kursi untuk duduk Baruna.


Begitu romantis perlakuan Ethan untuk Baruna selama ini.


"Terima kasih"


Ucap Baruna pada Ethan.


Ethan memesan cukup banyak menu untuk mereka nikmati. Ada udang, kepiting, cumi dan sayur hijau.


Setengah jam kemudian makanan yang mereka pesan sudah terhidang.


Ethan mengupaskan udang dari kulitnya untuk Baruna. Begitu pula dengan kepiting.


Ethan dengan sabar membukakan cangkang kepiting dan mengeluarkan dagingnya agar mempermudah Baruna bisa menikmati makannya.


"Makanlah"


Ucap Ethan sambil tersenyum lembut. Baruna hanya bisa dengan lahap menikmati makanan di sana untuk menghargai Ethan.


Pria itu sangat me-ratukan-nya dan dia hanya menikmati apa yang di berikan.


Selesai makan mereka kembali menaiki mobil menuju rumah Ethan.


Rumah tampak sepi. Tentunya Tuan Christian masih ada di perusahaan dan sedang bekerja.


Sedangkan Nyonya Christian sedang ada acara dengan teman - teman sosialitanya.


"Mama mu tidak ada?"


Tanya Baruna saat memasuki ruang tamu Ethan.


"Tidak. Dia pasti ada acara jika jam segini"


Ucap Ethan yang melangkah menuju ke arah ruang kerja di rumah itu.


Baruna tampak berhenti dan hanya berdiri diruang tamu.


Dia melihat ke arah lukisan burung elang dan bisa merasakan sesuatu yang besar sedang menatapnya.


"Abaikan lukisan itu. Tidak ada yang bisa menghadang mu jika bersamaku di sini"


Ucap Ethan pada Baruna dengan serius. Seketika suasana pengap dan sesak yang sebelumnya Baruna rasakan karena lukisan itu berubah menjadi sejuk.


'Et, sepertinya Kau juga bukan manusia biasa'  Batin Baruna.


Keduanya masuk ke dalam ruang kerja Ethan. Baruna di persilahkan duduk di sofa dalam ruangan itu sembari Ethan mencari lukisan yang sudah di simpan Tuan Christian dengan baik dalam sebuah kotak kayu.


Kotak itu berada di bagian lemari paling atas. Ethan segera mengambil tangga kecil yang memang tersedia di ruangan itu dan menurunkan kotak kayu yang di maksud.


Ethan membawa kotak itu ke hadapan Baruna dan membukanya.


Keduanya menatap lukisan wanita berwajah Baruna sama seperti yang ada di rumah leluhur Ethan. Di sana juga tertulis tahun dan nama Kaimana. Di dalamnya gadis cantik itu berdiri dan ada naga bermata hijau kuning yang tampak samar di sisinya.


"Apa yang beda? Bukannya ini sama dengan yang di rumah itu?"


Tanya Baruna pada Ethan.


Ethan membuka galeri ponselnya untuk melihat foto lukisan yang dia potret sebelumnya.


"Lihat. Naga ini muncul mendadak"


Ucap Ethan menunjukkannya pada Baruna.


Baruna meneliti perbedaan foto di ponsel dengan lukisan yang mereka pegang saat ini.


"Kau benar"


Ucap Baruna yang juga ikut bingung melihat keganjilan itu.


"Kenapa bisa begini"


Gumam Ethan yang bingung.


Namun berbeda dengan Baruna. Dia diam dan bisa merasakan naga itu adalah naga yang mendiami dirinya. Mata hijau dan kuning itu persis mata naganya.

__ADS_1


Dan setiap dia menyentuh lukisan itu dia seolah merasakan kerinduan, bahagia dan sedih bersamaan. Seolah dia yang melukis lukisan itu atau dia lah yang di lukis di sana.


"Et. Kau sudah pulang sayang"


Suara Nyonya Christian terdengar dari luar ruangan kerja.


Tak lama pintu terbuka dan Nyonya Christian masuk ke dalamnya. Dia cukup terkejut melihat sosok Avisa ada di sana bersama Ethan.


"Ah ternyata ada Avisa. Hai sayang"


Sapa Nyonya Christian yang langsung cipika cipiki dengan Baruna.


"Hai tante. Maaf aku datang dan menganggu"


Ucap Baruna yang merasa segan.


"Tidak ah. Tante senang kau datang kemari. seringlah main ke sini ya. Setidaknya dengan begini tante yakin putra tante yang paling susah di atur ini bukan g4y seperti tuduhan saudara tante"


Ucap Nyonya Christian dengan geram memukul pelan lengan Ethan.


"Aduh. Ma. Kenapa bicara aneh begitu sih. Malah mukul lagi"


Ucap Ethan yang komplain pada Ibunya itu.


"Tentu saja. Karena kau tidak pernah pacaran setelah patah hati di masa dulu. Kau ini"


Ucap Nyonya Christian yang tampak sangat kesal.


"Oh ya tetap di sini. Kita makan malam bersama ya nanti dengan Papa Ethan"


Ucap Nyonya Christian pada Baruna.


"Ah aku~"


"Tidak ada penolakan sayang. Okey. Kalau begitu Mama keluar dulu. Kalian silakan berbincang. Mama tidak akan mengganggu"


Ucap Nyonya Christian yang berlalu dari ruangan itu meninggalkan Ethan dan Baruna yang sangat bingung dengan sikap Nyonya Christian yang begitu antusias dengan kehadiran sosok Avisa di sana.


"Maaf"


"Tidak masalah"


Baruna tidak masalah dengan keributan hari itu. Dia malah cukup bersyukur keluarga Ethan tidak mencurigai dirinya yang mendadak dekat dengan Ethan. Biasanya keluarga besar dan kaya seperti Tuan dan Nyonya Christian pasti tentu akan lebih kritis dan gampang curiga dengan segala yang terjadi di keluarganya.


Ponsel Baruna berbunyi. Panggilan masuk dari Snowy yang langsung di angkat oleh Baruna.


"Ada apa?"


"..."


"Tidak masalah. Kau urus saja"


"..."


"Oke"


Baruna menutup panggilan itu setelah berbicara singkat dengan Snowy. Si anj1ng ajaib itu. Luar biasa bukan dia mampu bermain smartphone.


"Ada masalah?"


Tanya Ethan pada Baruna.


"Tidak, dia hanya ijin melakukan apa yang harus di lakukan"


Ucap Baruna.


Ethan menatap dengan heran pada Baruna, namun Baruna hanya tersenyum tanpa mau menjelaskan.


Tiba - tiba lukisan Kaimana tampak bercahaya jingga keemasan yang indah.


Ethan dan Baruna terkejut melihat hal aneh itu. Keduanya saling bertatapan bingung.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2