Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Ethan Manja..


__ADS_3

"Temani aku di sini"


Ucap Ethan mengenggam erat tangan Baruna.


Keduanya bertatapan dalam diam.


Entah apa yang membuat Ethan seberani itu memegang erat tangan Baruna seolah tidak ingin terpisahkan.


.


.


.


Baruna keluar dari kamar menuju arah dapur untuk mengambil air minum.


Terlihat Snowy sedang duduk bermain dengan kucing peliharaannya.


Sudah lebih dari sebulan kucing itu tinggal bersama Baruna dan Snowy.


Snowy mengatakan dia menemukan kucing itu saat hendak di lukai manusia. Karena shelter penampungan anjing dan kucing terlantar sedang penuh. Snowy memutuskan merawat kucing itu.


Baruna sendiri tidak merasa terganggu. Snowy sangat pintar mengajari kucing kecilnya untuk membuang air pada tempatnya sehingga kebersihan apartemen tetap terjaga.


"Sudah selesai mandi bersamanya? "


Tanya Snowy sengaja meledek Baruna.


"Tidak ada adegan pikiran kotor mu itu"


Ucap Baruna sambil meraih gelas dan menuang air minum ke dalamnya.


Snowy memicing memperhatikan pakaian Baruna yang tampak sedikit basah di depannya.


"Tuh Basah begitu. Habis ngapain? "


Tanya Snowy yang membuat Baruna refleks melihat ke bajunya.


Bagian baju di perutnya itu memang sedikit basah. Sial! Hal itu membuat Baruna malu karena merasa tertangkap basah.


"Ya mukanya merah"


Ledek Snowy lagi sambil menertawakan Baruna.


Namun sedetik kemudian Snowy tampak menatap Baruna dengan serius.

__ADS_1


"Apa pun itu ingat tujuan utama mu. Jangan sampai kehadiran dia menganggu konsentrasi mu. Sudag sedikit demi sedikit lawan mu tumbang. Uang Zaky sudah dia masukkan perlahan. Kau sudah bisa memindahkannya besok"


Ucap Snowy sambil mengelus kepala kucing kecilnya itu.


Baruna tampak menghela nafas berat. Tentu dia tak akan lupa dan tak akan mundur dengan apa yang sudah dia mulai.


Dia sudah mengorbankan dirinya tidak bisa bereinkarnasi dan tidak bisa kembali ke keluarganya. Tidak mungkin dia akan melupakan dendamnya itu.


"Aku tau. Jangan khawatir. Dendam ku terlalu besar untuk di lupakan begitu saja"


Ucap Baruna dengan serius.


Snowy mengangguk paham. Dia juga yakin Baruna tidak akan melupakan tujuan utamanya.


Bukannya Snowy tidak menyukai Ethan. Dia sangat menyukai manusia itu. Ethan berbeda dari manusia yang Snowy lihat selama ini.


Namun Snowy juga tidak mau Ethan menjadi penghalang Baruna menghancurkan orang-orang yang sudah menyakitinya.


"Kau tidur di kamar ku saja. Aku bisa tidur di sofa"


Ucap Snowy sebelum Baruna melangkah kembali ke kamarnya.


"Tidak perlu. Aku bukan mau tidur. Aku mau berjaga. Dia masih mengalami demam"


Ucap Baruna pada Snowy.


"Besok Kau bisa mengambil uang tunai Zaky secara bertahap. Dia sudah mulai memasukkan uangnya bertahap"


"Aku paham. Besok aku akan ke sana"


"Baiklah. Selamat tidur"


"Hmm"


Baruna segera masuk ke dalam kamar. Terlihat Ethan masih tertidur lelap.


.


Kembali ke 30 menit sebelumnya ~


Ethan tampak mengenggam tangan Baruna. Entah apa yang mendorongnya nekat menahan Baruna di dalam kamar mandi.


Dia sudah bersiap jika Baruna akan memukulnya. Tatapan Baruna begitu tajam saat Ethan mengenggam erat tangannya.


Tapi hal yang di luar pemikiran Ethan. Baruna menundukkan tubuhnya dan memeluk Ethan sambil menepuk perlahan punggung pria tampan itu.

__ADS_1


"Apa yang kau takutkan? Ada aku. Tidak akan ada yang berani masuk ke sini dan melukai mu. Mereka akan mati begitu menginjak teritorial ku"


Ucap Baruna menenangkan Ethan. Mungkin oria itu sedikit trauma karena darahnya pernah mengundang mahluk tak kasat mata mendekat.


Ethan kian sensitif dan bisa melihat sesuatu tak kasat mata sejak dekat dengan Baruna.


Wajar pria itu takut jika nanti bertemu mahluk aneh dan mengerikan seperti sebelumnya.


Dia hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan lebih untuk melawan mahluk gaib tentunya.


"Maaf"


Ucap Ethan merasa malu. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Walau dia sangat menyukai bahkan mencintai Baruna. Dia biasanya selalu menghormati dan menghargai Baruna. Tak sedikitpun dia mencoba menyentuh gadis itu.


Cukup sekali kesalahannya dulu pernah meniduri dan menghina Baruna dengan kasar. Dia tidak ingin lagi menjadi manusia seburuk itu.


"Apa tubuh mu sudah segar? Jika sudah Kau boleh keluar dari sini".


Tanya Baruna tanpa melepas pelukannya pada Ethan.


Ethan menganggukkan kepalanya perlahan.


Kemudian Baruna melepaskan pelukannya dan menuntun Ethan keluar dari bath up untuk mengeringkan dirinya.


Baruna memilih menunggu di luar kamar mandi selama Ethan mengeringkan badan dan berganti pakaian.


Ethan memakai pakaian milik Snowy yang di rasa cocok dengan tubuhnya.


Setelahnya Baruna memintanya kembali tidur di ranjang. Baruna menyentuh kening Ethan perlahan hingga pria tampan itu tertidur. Baruna hanya memberi sedikit tenaga dari cahaya naganya agar Ethan bisa tidur nyenyak dan besoknya bisa bangun dengan tubuh yang segar.


.


Kembali ke waktu sekarang. Baruna menatap Ethan. Pikirannya kembali tertuju pada masalah lukisan di rumah leluhur Ethan.


"Lebih baik aku fokus pada Zaky terlebih dahulu. Akan aku cari tau tentang kisah lukisan itu nanti"


Ucap Baruna yang kemudian duduk di sofa dekat jendela sambil mengawasi Ethan.


Dia benar-benar tidak tidur. Baruna menjaga Ethan sepanjang malamnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2