
"Kau--"
"Hei ngapain kalian di sana?"
Tampak Snowy menghampiri Baruna dan Ethan yang saling bertatapan di pinggir pantai.
"Lagi syuting film india?" Ejek Snowy.
Baruna mengabaikan perkataan Snowy dan berjalan menuju gua (baca : goa-red) meninggalkan Ethan yang masih terpaku.
"Dia mau bilang apa tadi?" Gumam Ethan yang bingung dengan tatapan aneh Baruna dan perkataan Baruna yang terpotong karena kehadiran Snowy.
"Hoi. Ayo balik!" Ucap Snowy pada Ethan yang masih tampak berpikir.
Ethan langsung berjalan mengikuti langkah Snowy kembali kedalam gua (baca : goa-red).
.
.
Ke esokkan paginya tampak Ethan sudah memakai kembali kemeja dan jasnya dengan rapi. Beberapa hari di sana tentu dia harus berterima kasih pada Snowy yang membawakannya pakaian ganti yang bersih karena kemeja dan jasnya harus di bersihkan setelah terkena debu dan sedikit darahnya.
"Ayo. Baruna sudah menunggu di rumah pinggir pantai" Ucap Snowy lalu berubah wujud menjadi seekor anjing husky.
Ethan terpukau melihat perubahan wujud Snowy di hadapannya.
"Lihat apa?" Tanya Snowy.
"Loh? Kau bisa bicara walau dalam wujud anjing husky?" Tanya Ethan heran.
"Bisa jika aku mengijinkan orang itu untuk mendengarkan ku" Ucap Snowy.
Ethan hanya mengangguk pelan kemudian mengikuti Snowy menuju rumah pinggir pantai milik Baruna.
Terlihat Baruna sudah menunggu di dalam mobilnya.
Ethan langsung membuka kan pintu untuk Snowy dan dirinya sendiri.
Di dalam mobil mereka tampak berdiam diri.
Baruna tenggelam dalam pikirannya tentang kejadian mata Ethan yang bersinar tiba-tiba. Ethan yang tenggelam dalam pikirannya tentang bagaimana bisa selalu bertemu Baruna. Dan Snowy yang menatap kedua anak manusia berlainan jenis itu dengan senyum mencurigakan.
Baruna mengantarkan Ethan hingga ke depan rumahnya.
"Masuk lah dulu. Aku butuh setidaknya alasan untuk berbicara dengan orang tua ku" Ucap Ethan pada Baruna.
Terlihat Baruna dan Ssnowy saling memandang lalu ikut turun masuk kedalam rumah Ethan. Saat turun sosok Baruna telah berubah menjadi sosok Avisa.
Ethan cukup terkejut melihat perubahan instan itu.
"Ada apa?" Tanya Baruna saat Ethan menatapnya tanpa kedip setelah menjadi sosok Avisa.
'Syok dia melihat mahluk jadi jadian seperti kita!' Jawab Snowy pada Baruna melalui batin.
'Diam Kau!" Balas Baruna.
"Tidak. Jangan pedulikan aku. Aku masih menyesuaikan diri" Jawab Ethan sambil tersenyum tipis.
Ketiganya memasuki rumah Ethan. Baruna terdiam sejenak sebelum melangkah masuk kedalam rumah.
'Wah gila. Banyak mahluk yang sudah menunggu. Tapi adanjuga penjaga. Kurang kuat penjaganya nih!' Komentar Snowy melalui batin.
'Ini rumah yang membuatku kemarin terluka' Ucap Baruna.
'Hah?' Snowy terkejut ternyata sekuat itu kaitan masa lalu Baruna dengan Ethan hingga keduanya masih terus saling berkaitan tanpa disadari.
Melihat Baruna dan Snowy yang berdiam diri membuat Ethan menoleh.
__ADS_1
"Ayo masuk. Ada apa?" Tanya Ethan heran.
Baruna berjalan mendekat dan berbisik pada Ethan.
"Sepertinya banyak yang membenci kalian. Berhati-hati lah. Penjaga milik keluarga mu tak cukup kuat!" Bisik Baruna tepat di telinga Ethan.
Ethan terkejut mendengar perkataan Baruna.
"Kau melihat sesuatu?" Tanya Ethan penasaran.
"Lukisan itu memiliki kekuatan. Tapi dia melemah. Kalian harus sering membersihkannya dengan layak" Ucap Baruna sambil menatap sebuah lukisan di ruang tamu.
Lukisan pemandangan persawahan biasa namun jika di telusuri terlihat beberapa gambar burung elang disana juga tulisan bertinta merah yang tersembunyi.
Ethan yang sudah melihat keberadaan entitas lain pun mau tak mau kini mempercayai semua hal tak masuk di akal itu. Meskipun masih terasa aneh dan meragukan, tapi jika melihat Baruna maka semua hal menjadi nyata bagi Ethan.
Terlihat seorang wanita seumuran Mama Baruna turun dari tangga dan setengah berlari menghampiri Ethan. Wanita itu memeluk erat Ethan dan menitikkan air mata.
Melihat hal itu membuat Baruna teringat sang Mama. Tentu Mamanya akan mengkhawatirkan Baruna yang sudah menghilang setengah tahun lebih tanpa kabar.
"Astaga. Ya Tuhan. Terima kasih sudah mengembalikan putraku!!" Ucap Nyonya Christian bersyukur Ethan sudah pulang kembali ke rumah.
"Maaf membuat Mama khawatir" Ucap Ethan sambil tersenyum.
"Tidak. Jangan meminta maaf sayang. Apa kau terluka?" Tanya Nyonya Christian sambil mengecek wajah dan tangan Ethan.
"Enggak. Aku baik baik saja. Ah kenalkan ini Avisa" Ucap Ethan mengenalkan Baruna pada sang Mama.
"Pagi Tante. Maaf menganggu" Sapa Baruna dengan sopan.
"Ah tidak masalah. Kau yang menolong Ethan?" Tanya Nyonya Christian dengan ramah.
Baruna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Nyonya Christian.
Bulu -Anjing husky milik Ethan turun dari lantai atas kamar Ethan. Bulu langsung berhambur ke arah Ethan. Tampak Bulu juga khawatir dan langsung menciumi Ethan tanpa henti.
Snowy mendekati Ethan dan berbisik dengan suara yang hanya bisa Ethan dengarkan.
'Dia mengkhawatirkan mu. Dia takut kau tidak pernah kembali lagi melihat Mama mu yang menangis terus beberapa hari mencarimu' Ucap Snowy pada Ethan.
Etahn menatap Snowy lalu menatap lirih pada Bulu. Anjing kesayangannya itu memang sangat peka terhadap tuannya.
"Maaf ya Bulu. Aku baik baik saja. Ayo kita sarapan bersama" Ucap Ethan pada Bulu.
Nyonya Christian dan Baruna tersenyum melihat interaksi Ethan dengan Bulu kesayangannya.
"Ah. Kau juga pasti belum sarapan. Mari makan bersama" Ajak Nyonya Christian.
Baruna tak kuasa menolak ajakan Mama nya Ethan yang sangat baik dan ramah padanya.
Ethan mengambilkan daging kukus sarapan bulu. Dia juga tak lupa menyediakannya untuk Snowy. Tampak Bulu dan Snowy langsung akrab bahkan Bulu sangsung menciumi Snowy seolah berterima kasih sudah menyelamatkan Tuannya.
"Jangan sungkan. Ayo makanlah" Ucap Nyonya Christian pada Baruna.
"Terima kasih Tante" Jawab Baruna.
Ketiganya makan sambil bercerita tentang Ethan yang menghilang. Tentu Ethan berbohong jika dia di serang begal dan tersesat karena bersembunyi, hingga di temukan Baruna yang mengantarkannya kembali ke rumah.
Setelah setelah selesai sarapan, Baruna pamit bersama Snowy.
"Terima kasih atas sarapannya Tante. Maaf merepotkan" Ucap Baruna berterima kasih.
"Tidak jangan berkata begitu. Justru Tante mau berterima kasih sudah mengantarkan Ethan kembali ke rumah dengan selamat" Ucap Nyonya Christian.
"Sama-sama Tante. Aku pamit dulu" Ucap Baruna berpamitan.
Tampak Bulu enggan berpisah dari Snowy. Sejak tadi keduanya asyik dalam kehidupan anjing dan tampak akrab.
__ADS_1
"Hei Bulu. Lain kali Snowy akan mengunjungi mu. Jaga dengan baik Tuan mu ya" Ucap Baruna penuh penekanan.
Tentu maksudnya menjaga dari mahluk lain yang menganggu. Karena Baruna melihat Snowy menandai Bulu dan memberikannya cahaya yang di takuti oleh mahluk jahat yang tidak begitu kuat.
Setidaknya yang dilakukan Snowy bisa menjaga rumah itu dari serangan mahluk biasa. Jika mahluk itu terlalu kuat tentu cahaya yang dimiliki Bulu tidak bisa menghadangnya.
"Hati hati. Terima kasih Una" Ucap Ethan memanggil Baruna.
Baruna mengernyit heran. Benar-benar aneh dan menyebalkan cara Ethan memanggilnya.
Baruna berlalu dari tempat itu. Ethan masih tersenyum menatap mobil Baruna yang kian menjauh.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Nyonya Christian tiba-tiba.
"Kami berteman Ma. Sudah jangan berpikrian aneh aneh. Ayo masuk" Ucap Ethan mengajak Mamanya itu untuk masuk karena sejak bersama Baruna, Ethan semakin sensitif dengan mahluk tak kasat mata.
Meskipun tidak bisanmelihat mahluk mahluk itu, dirinya bisa merasakan ada mahluk yang memperhatikan mereka. Ethan takut terjadi sesuatu apalagi jika sampai melukai Mamanya.
.
.
.
Beberapa waktu berlalu. Baruna sibuk dengan urusan dunianya, membantu sosok Avisa mengurus beberapa peninggalan dari orang tuanya sambil menunggu sidang kasus Ronaldi dan kelompoknya.
Sedangkan Ethan, tanpa Baruna ketahui. Ethan mencari tahu dimana keluarga Baruna saat ini berada. Ethan meminta bantuan dari orang-orang kepercayaan keluarganya.
"Mereka tinggal di pinggir kota. Tempat terpencil dan lebih mirip perkampungan" Jelas asisten sang Papa yang di tugaskan membantu Ethan sementara ini.
"Berikan aku alamatnya" Ucap Ethan.
"Jika Tuan muda mau ke sana biar saya dan bodyguard yang antarkan" Ucap asisten itu. Dia sudah di pesan untuk menjaga Ethan dengan baik sejak kejadian Ethan yang menghilang tiba-tiba.
Tak hanya sang Mama, ternyata Tuan Christian -Papa Ethan juga cukup trauma hampir kehilangan Ethan.
"Tidak usah. Tolong carikan baju yang casual tanpa merk untukku" Perintah Ethan.
"Untuk apa Tuan?" Tanya Asistennya bingung.
"Lakukan saja" Ucap Ethan tak ingin di bantah.
Ethan berganti pakaian biasa dan meminjam mobil sejuta umat milik salah satu karyawan di perusahaan sang Papa.
45 menit kemudian Ethan tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana di pinggir kota. Terlihat seoasang suami istri seusia orang tuanya sedang duduk di pekarangan rumah sambil memilah sayur dan buah yang disusun di atas meja kecil.
Tampak pasangan itu berjualan buah dan sayuran.
Mereka adalah orang tua Baruna. Pak Mustofa Chang dan Ibu Duma Ida Malungun. Meski di usia yang tak lagi muda, keduanya tampak bersemangat mencari desikit rezeki.
"Permisi... Pak Bu. Boleh saya numpang tanya?" Tanya Ethan sesopan mungkin.
"Ya... Silahkan Nak" Sapa Pak Mustofa dengan ramah.
"Apa Bapak dan Ibu tau dimana rumah Baruna Beryl Chang?" Tanya Ethan berpura-pura tidak mengenali orang tua Baruna itu.
Kedua orang tua itu tampak saling berpandangan heran. Mereka menatap Ethan dengan penuh tanya.
"Maaf. Anda siapa ya?" Tanya Bu Duma heran.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
__ADS_1
-linalim-