Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Suami Durhaka?


__ADS_3

Pagi ini Baruna bangun lebih cepat. Burung pipit yang dia tugaskan kemarin sudah menunggu di depan jendela apartemen.


Dia mengetuk kaca apartemen perlahan menggunakan paruhnya.


Baruna berjalan membukakan pintu kaca itu. Burung pipit itu dengan cepat terbang mengelilingi ruang tamu apartemen lalu hinggap di bahu Baruna.


"Ada apa?"


Baruna mengelus perlahan kepala burung pipit itu.


"Sudah menemukan orang itu?"


Tanya Baruna yang masih mengelus perlahan bulu burung pipit itu.


Burung itu menganggukkan kepalanya sambil terbang berputar di hadapan Baruna.


"Ayo ke sana"


Ucap Baruna yang langsung mengubah dirinya ke wujud asli.


Baruna terbang mengikuti burung pipit itu menuju ke sebuah rumah mewah di tengah kota.


Rumah yang cukup mewah dan indah jika di lihat oleh manusia biasa. Namun di mata Baruna rumah itu oenuh darah dan kotoran yang mengelilinginya.


Itu adalah darah dari para korban pesugihan yang di lakukan si pemilik rumah.


Baruna menatap sekeliling dan mencari titik tanam benda mistis yang di simpan oleh pemilik rumah itu.


Dia harus menghancurkan benda yang di tanam lalu memberi pelajaran pada suami durhaka itu.


Baruna mengubah dirinya menjadi seekor kucing kecil. Dia berjalan di sekeliling taman rumah itu dengan santainya.


Terlihat beberapa makhluk mengerikan mencoba mendekatinya namun Baruna menatap mereka dengan tatapan tajam hingga makhluk - makhluk itu mundur ketakutan.


Mereka bisa merasakan aura kucing jelmaan Baruna sangat berbeda. Dia bukan kucing sembarangan.


Baruna mendekati sebuah pohon besar yang terletak di belakang rumah. Perlahan di mengaruk tanah tepat di bawah pohon itu.


Baruna bisa merasakan aura gelap dari tanah di bawahnya, dan tepat saat dia mengaruk tanah itu, terlihat bungkusan putih yang terlihat seperti kain kafan.


"Api"


Ucap Baruna lalu bungkusan itu terbakar begitu saja.


Kucing Baruna kembali berjalan melompat ke atas atap rumah mewah itu dan perlahan memasuki balkon di lantai 2.


Pintu balkon rumah itu tidak terkunci rapat. Dengan cepat Baruna masuk dan berjalan dengan santai di dalam rumah itu. Mengelilingi rumah yang tampak mewah namun Baruna mampu melihat setiap sudutnya banyak makhluk mengerikan yang tak jelas wujudnya.


Dan dengan jelas Baruna bisa melihat beberapa anak kecil yang sepertinya korban dari pesugihan si pemilik rumah.


Tak lama terlihat seorang pria berjalan ke arah ruang tamu tempat kucing Baruna sedang duduk santainya.


Pria itu adalah Utomo, suami dari Sukiyem yang di tumbalkan oleh suami durhakanya itu.

__ADS_1


Kucing Baruna yang berbulu indah duduk dengan santai di sofa di rumah itu. Tentu itu menarik perhatian Utomo namun dia tidak curiga.


Terlihat seorang wanita cantik dan masih muda datang mendekati Utomo. Keduanya berciuman bahkan bercinta di ruang tamu itu.


Tentu hal itu sangat memuakkan bagi kucing Baruna.


Dia langsung melompat dan mencakar keduanya.


"Hei!! Kucing sialan!!"


Umpat Utomo sambil menahan sakit akibat cakaran kucing Baruna di lengan dan pipinya.


Meski tidak dalam namun cakaran itu cukup membuat perih untuk Utomo.


Wanita itu juga mengalami cakaran di bagian tangannya yang tadi memegang milik Utomo yang tengah menengang.


Kejadian itu tentu membuat keduanya berhenti melanjutkan aksi menjijikan di ruang tamu itu.


Baru saja Utomo hendak mengusir kucing Baruna namun kucing itu tidak lagi tampak. Menghilang begitu saja setelah mencakarnya.


Utomo mengumpat kesal. Dia mengingat betul bentuk kucing itu dan akan membunuhnya jika melihat kucing itu lagi.


Tanpa Utomo tau, kucing Baruna kini sudah berpindah ke rumah dukun yang di mintai tolong oleh Utomo saat melakukan pesugihan.


Rumah Dukun itu porak - poranda di buat oleh Baruna.


Dukun itu juga tersungkur di antara benda - benda kleniknya yang sudah berhamburan di buat Baruna.


Ucap Dukun itu merasa kesal Baruna datang dan menyerangnya tiba - tiba.


Yang membuat Dukun itu tidak habis pikir, Baruna bisa masuk dengan mudah tanpa ada yang ketahui dan menghancurkan seisi rumah praktiknya itu.


Baruna hanya tersenyum dan mengambil seutas kais panjang. Dengan sekali lemparan kain itu melilit kuat leher dukun itu.


Baruna mengantung dukun itu di atas langit - langit rumahnya dan meninggalkan tubuh yang sudah mulai kaku itu.


Baruna bisa melihat arwah si dukun di seret oleh makhluk bertanduk yang dia puja. Tentu saja karena Baruna sudah membuat kemarahan dan kekacauan dan si makhluk sangat marah pada dukun itu.


Baruna yang berkuasa dan kuat tidak ada makhluk yang berani menyinggungnya. Dukun itu telah menyesatkan seorang suami membunuh anak dan istrinya yang ternyata milik Ratu pantai selatan. Jadi Baruna bertugas melenyapkan siapa pun yang terlibat.


Dan bagaimana dengan si suami. Tentu saja dia mengalami masalah. Kulitnya mengalami masalah berbintik merah dan bernanah sejak di cakar kucing Baruna.


Sudah banyak dokter yang dia temui tapi tak ada yang mampu menyembuhkannya.


Termasuk juga wanita yang bersamanya kemarin itu.


Hingga dia hampir putus asa dan mencoba mencari dukun yang dia percaya itu. Namun begitu terkejut dia saat melihat si dukun sudah mati tergantung di langit - langit rumahnya.


Pria itu menjerit histeris. Tubuhnya terus merasa gatal dan panas yang amat.


Dia menggaruk tubuhnya sampai berdarah - darah. Hingga beberapa hari kemudian dia meregang nyawa dengan kondisi berbau busuk dan tubuh penuh nanah.


Di saat terakhirnya dia melihat wajah sang istri juga orang - orang yang sudah dia korbankan. Mereka menatap marah dan benci padanya. Hanya air mata yang dapat menetes dan kata 'maaf' yang terucap sebelum hembusan nafas terakhirnya.

__ADS_1


.


.


.


Kejadian itu menjadi sorotan publik dan masuk di berita karena ada kejadian mengerikan. Seorang laki - laki dan perempuan muda mati di dalam rumah mewahnya dengan kondisi mengenaskan. Di tambah ada berita seorang pria tua yang di kenal sebagai dukun di temukan tergantung di langit - langit rumahnya.


Snowy tau itu perbuatan Baruna.


"Kau pelakunya kan?"


Ucap Snowy yang sedang menikmati yougurt-nya sambil berbagi dengan kucing kecil yang dia selamatkan kemarin itu.


"Itu balasan untuk pria yang berani mengorbankan istri dan anaknya demi harta"


Ucap Baruna sambil menatap jauh ke jendela. Dia sangat benci orang - orang pengkhianat apalagi tega mengorbankan keluarga mereka sendiri untuk mendapatkan harta benda.


Sama seperti apa yang sudah dia alami hingga dia menjadi seorang Baruna saat ini.


"Bagaimana dengan Zaky?"


Tanya Baruna kemudian.


Snowy tersenyum pada Baruna. Dia merapikan sisa makanan yougurtnya terlebih dulu.


"Sudah masuk jebakan. Apa sudah harus di hancurkan langsung?"


Tanya Snowy menunggu perintah Baruna.


"Mulai. Dan buat dia di ketahui pemakai. Aku ingin mereka merasakan penderitaan dan kehancuran yang sama"


Ucap Baruna.


"Baiklah Nona pewaris. Hamba siap beraksi"


Ucap Snowy tersenyum menyeringai. Dia sangat suka jika sudah harus mulai menghancurkan kehidupan musuh Baruna dan membuat melihat mereka menderita.


"Aku pergi dulu untuk mengurusnya. Duduk tenang dan nikmati pertunjukkan indah"


Ucap Snowy yang langsung menggendong kucing kecilnya ikut bersama.


Baruna hanya menghela nafas dan menyesap tehnya. Ponselnya berbunyi tampak panggilan masuk dari Ethan.


"Et??"


Gumam Baruna heran Ethan meneleponnya tiba-tiba


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2