Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Bertemu...


__ADS_3

Baruna tersenyum melihat para mahluk anggota Eyang Putri menyiksa manusia bejad yang kini terbaring tak berdaya.


Nafsu dan otak busuk dukun itu kini mendapat ganjarannya. dia berpikir dirinya lah yang paling hebat dengan kekuatannya yang tak seujung kuku Baruna.


Terbukti mahluk yang dipelihara dan dipuja sang dukun tak mampu membantunya kini.


"Akhh.. Ampun tolong ampun... " Lirih kesakitan si dukun saat perutnya di injak oleh salah satu mahluk dengan wajah yang menyeramkan.


Setiap tetes darah yang keluar akibat siksaan kasar langsung menjadi rebutan jilatan mahluk mahluk rendahan disana.


"Minggir" Suara Baruna memecah dan menghentikan mahluk mahluk disana.


Baruna berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah pedang yang berukiran Naga yang indah.


Dengan sekali lompatan Baruna berdiri di atas dukun itu lalu memenggal kepalanya.


Dukun itu mati seketika. Hal itu sejujurnya jauh lebih baik daripada dirinya di siksa oleh mahluk mahluk disana lebih lama lagi.


Roh dukun itu keluar dari tubuhnya dan langsung di bawa oleh Naga menuju siksaan neraka. Malang nian nasib dukun itu. Setelah tubuhnya disiksa di istana kegelapan, kini jiwanya akan disiksa di akhirat akibat perbuatannya..


Baruna lalu berjalan menjauh dari tempat itu.


"Nona mau kembali?" Tanya ular berkepala manusia yang sejak tadi menemani Baruna.


"Iya. Masih ada yang harus aku selesaikan di dunia sana" Ucap Baruna yang memang jujur jika dia harus menjaga eksistensi dari Avisa didunia manusia.


"Baiklah. Hati hati karena jalanan akan licin karena akan ada hujan satu jam lagi di daerah ini" Jelas mahluk itu.


Baruna hanya tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Tentunya Baruna lwbih tau kondisi alam karena didalam tubuhnya ada Naga penjaga awan juga hujan.


Baruna melangkah keluar dari aliran air di curug itu. Tanpa setetes air pun mampu membasahi tubuh Baruna. Baruna kembali dalam wujud Avisa.


Baruna berjalan jalan sendirian di hutan sekitar curug itu. ..


"Eh. Sory" Suara seorang pria meminta maaf pada Baruna..


"Tidak masalah" Ucap Baruna santai.


Namun netra keduanya saling menatap. Baruna terkejut, pria dihadapannya itu adalah Ethan. Orang yang pernah menghabiskan malam dengannya dan satu satunya pria yang mau mendengarkan serta peduli dengannya. Walaupun janji Ethan belum bisa dia penuhi.


Ethan juga terkejut melihat Baruna dalam sosok Avisa. Hatinya merasa sangat merindukan orang yang dia lihat saat ini. Padahal Ethan juga tidak mengenal Avisa. Ah ralat, Ethan mengenal Avisa yang saat ini sangat viral menjadi pembicaraan netizen +26 , tapi Ethan hanya sekedar tahu tentang Avisa, tidak berteman dengan Avisa.


"Maaf. Kau tidak apa apa?" Tanya Ethan dengan lembut. Ethan yang biasanya dingin dan kasar dengan wanita kini melembut melihat Avisa. Ah tidak juga, pertama kalinya Ethan melembut dengan wanita hanya pada Baruna, meskipun sebelumnya dia sudah bersikap kasar pada Baruna.


"Tidak masalah" Jawab Baruna sambil tersenyum.


Deg!


Jantung Ethan berdetak. Senyuman sosok Avisa dihadapannya itu mengingatkannya pada Baruna.

__ADS_1


"Ah. Kenalkan aku Ethan. Kau Avisa bukan?" Ucap Ethan memperkenalkan dirinya.


"Iya. Kau tau namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Baruna kalau-kalau ternyata Avisa asli memang pernah bertemu dengan Ethan. Baruna tidak tau seluruh kehidupan Avisa, dia hanya tau sedikit tentang kehidupan Avisa yang dulunya bergelimang harta namun dibatasi pergaulannya oleh orang tuanya.


"Tidak. Aku tahu tentang mu karena saat ini banyak media sedang menyoroti mu. Kau sangat hebat dan dermawan untuk gadis seusia mu" Jawab Ethan sambil tersenyum. Hal teraneh yang dilakukan Ethan. Baru kali ini dia seramah itu pada lawan jenis yang baru dikenalinya. Meskipun secantik atau sesexy apapun tidak akan mempengaruhi Ethan untuk ramah dan lembut pada wanita.


"Terima kasih atas pujiannya" Jawab Baruna singkat.


Baruna merasa Ethan sedang tersihir kecantikan Avisa, Avisa memang gadis yang cantik dan menarik dengan wajah blasterannya. Apalagi Avisa juga dari keluarga konglomerat sehingga wajar banyak pria mengagumi sosok Avisa.


"Sedang apa kau disini? Sendirian?" Tanya Ethan penasaran.


"Bersama anjing husky ku. Hanya mau berjalan jalan saja di sini. Aku dengar tempat ini paling segar udara juga airnya paling jernih" Jelas Baruna sambil tersenyum.


"Kau suka hiking?" Tanya Ethan menelisik.


"Lumayan" Baruna hanya menjawab singkat. Dirinya sibuk memperhatikan sekeliling. Beberapa mahluk halus tampak penasaran dengam sosok Baruna yang bercahaya jika dilihat oleh mahluk mahluk itu. Tapi tak satupun diantara mahluk halus itu yang herani mendekat. Mereka tahu jika sosok yang mereka lihat bukan perwujudan sembarang mahluk.


"Mau ke atas bukit disana? Pemandangan dari sana sangat indah" Ajak Ethan sambil menunjuk arah sebuah bukit.


"Oh ya? Boleh. Tapi aku panggil Snowy dulu" Ucap Baruna yang tidak mungkin meninggalkan Snowy sendirian.


'Snowy. Kemari. Ubah wujudmu kembali' Batin Baruna memberi telepati pada Snowy.


Reflek Snowy yang sedang bersantai di atas bebatuan dekat air di curug itu langsung berubah menjadi anjing husky.


"Eh. Cantik sekali Husky ini" Ucap Ethan reflek. Dirinya belum pernah melihat anjing husky berbulu putih bersih seperti salju.


"Namanya Snowy" Ucap Baruna sambil tersenyum.


"Apa dia bisa berjalan jauh? Tidak masalah membawanya?" Tanya Ethan yang mengira Snowy sama seperti anjing biasa yang akan mudah lelah dan sulit di atur saat melihat tempat baru.


"Snowy senang berjalan jalan" Ucap Baruna singkat.


Ethan hanya mengangguk lalu menunjukkan jalan setapak yang lebih mudah untuk mereka naiki menuju bukit.


Sepanjang perjalanan Baruna hanya lebih banyak terdiam. Sedangkan Ethan sesekali mencuri pandang kearah Baruna.


'Kau mengenalnya atau Avisa yang mengenalnya?' Tanya Snowy melalui batin pada Baruna.


'Aku mengenalinya dulu saat Baruna belum mati' Jawab Baruna sambil memandang punggung Ethan.


'Kau mencintainya?' Tanya Snowy yang melihat tatapan Baruna berbeda dari biasanya.


'Tidak. Aku hanya berterima kasih pada kebaikannya dulu. Setidaknya dia masih menghargaiku' Jawab Baruna.


'Maksud mu?' Snowy semakin penasaran.


'Dia salah satu pria yang menghabiskan malam dengan ku sebagai imbalan dari bajingan itu. Tapi saat dia tahu kalau aku korban perdagangan dan di bawah ancaman, dia merasa iba dan mau menolongku. Sayangnya aku malah bertemu pembunuh dan belum lagi bertemu dengannya setelah sekian lama' Jelas Baruna yang memang merasakan Ethan berbeda dengan pria lain yang tidak akan peduli setelah bersenang-senang dengannya. Bahkan Ethan khawatir saat Baruna akan pulang sendiri malam malam.

__ADS_1


'Aku kira kau akan membunuhnya. Bukan kah kau membenci dan ingin membalas siapapun yang sudah melukai juga menyentuh mu?' Tanya Snowy lagi penasaran.


'Iya. Terkecuali dia' Jawab Baruna singkat.


Tak terasa mereka tiba di atas puncak bukit itu. Benar sekali perkataan Ethan. Tempat itu sangat indah di pandang mata. Snowy juga tampak menyukai pemandangan dan udara di tempat itu.


"Bagus bukan?" Tanya Ethan sambil menatap Baruna.


"Iya bagus" Jawab Baruna sambil tersenyum menatap Ethan.


Sekelebat bayangan wajah Baruna yang dirindukan Ethan muncul di wajah sosok Avisa dihadapannya itu.


'Baruna... ' Batin Ethan yang merasa dirinya sudah gila karena terlalu merindukan gadis itu.


"Ada apa?" Tanya Baruna heran saat melihat Ethan memalingkan wajahnya tiba-tiba.


"Ah tidak. Ayo turun. Sebelum hujan. Cuaca disini tidak menentu dan tidak bisa ditebak" Ucap Ethan.


Ethan tidak tahu bahwa gadis yang bersamanya saat ini mampu mengendalikan awan dan hujan. Jadi apa yang harus di takutkan. Bahkan angin juga akan berhembus mengikuti keinginan Baruna.


Mereka turun kembali ke curug untuk mengambil tas yang Baruna tinggalkan di sana. Tidak akan ada yang berani menyentuh milik Baruna, para Naga selalu menjaga apapun milik Baruna.


Keduanya berpisah di depan mobil Baruna. Snowy terlebih dahulu masuk kedalam mobil.


"Dimana mobil mu?" Tanya Baruna berbasa basi.


"Ada tak jauh juga dari sini. Ah boleh aku meminta nomor mu?" Tanya Ethan.


"Baiklah. Kemarikan ponsel mu" Ucap Baruna dengan santai. Tak ada salahnya dia berteman dengan Ethan pikirnya.


Ethan menyerahkan ponsel miliknya pada Baruna. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Sentuhan itu membuat hati Ethan kembali berdesir. Hal yang pernah dia rasakan saat menyentuh Baruna dulu. Satu satunya wanita yang membuat hatinya bisa berdegub kencang hanya dengan sentuhan tangan.


Baruna mengetikan nomor ponselnya lalu menyerahkan kembali ponsel itu pada Ethan.


"Baiklah. Aku duluan ya. Sampai jumpa" Ucap Baruna berpamitan.


Ethan hanya tersenyum dan mengangguk. Dirinya masih bingung. Hatinya seolah sangat mengenali sosok Avisa, padahal baru pertama kali itu mereka bertemu secara langsung bahkan berbicara.


"Kenapa senyuman dan cara bicaranya sangat mirip Baruna. Ah Baruna, kau dimana? Kenapa kau menghilang begitu saja" Ucap Ethan saat menatap mobil Baruna bergerak meninggalkan tempat itu.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-

__ADS_1


__ADS_2