
Mobil Ethan memasuki pelantaran parkiran Rumah Sakit tempat Pak Mustofa -Papa Baruna dirawat.
"Kau tidak mau ikut turun?" Tanya Ethan yang melihat Baruna tetap diam di mobil.
"Tidak. Aku disini saja. Kabari aku jika perlu sesuatu" Ucap Baruna.
"Baiklah. Diam saja disini biar aku yang urus" Ucap Ethan.
Baruna hanya mengangguk dan menatap lurus ke arah bangunan Rumah Sakit itu.
Ethan segera menuju bagian informasi untuk bertanya ruangan perawatan Pak Mustofa.
"Maaf, dimana tempat perawatan Pak Mustofa ya?" Tanya Ethan pada petugas yang berjaga di bagian informasi.
"Boleh disebutkan nama lengkap pasien?" Tanya petugas itu dengan sopan.
"Mustofa Chang" Ucap Ethan menyebut nama lengkap Papa Baruna.
"Oh, Pak Mustofa Chang yang baru masuk hari ini ya?" Tanya petugas itu.
"Ah iya benar" Ucap Ethan .
"Ada di lantai 2 ruangan 102. Silahkan naik lift kelantai 2 lalu ambil sebelah kanan ya Pak" Jelas petugas itu.
"Baik. Terima kasih" Ucap Ethan lalu segera menaiki lift ke ruangan perawatan Pak Mustofa.
Tiba di depan ruangan 102, Ethan segera melepaskan jasnya sebelum masuk keruangan itu.
Terlihat Pak Mustofa sedang berbaring di ranjang pasien di temani oleh Ibu Duma.
"Ah, Nak Ethan" Sapa Pak Mustofa hendak bangun dari posisi tidurnya.
Ethan langsung mendekati Pak Mustofa mencegahnya bangun dari posisinya.
"Enggak usah bangun Om. Om istirahat saja" Ucap Ethan dengan sopan.
"Maaf merepotkan mu Nak Ethan" Ucap Bu Duma.
"Tidak masalah Tante" Ucap Ethan dengan sopan.
"Panggil saja kami Papa dan Mama. Kami sudah menganggap Nak Ethan sebagai anak sendiri. Nak Ethan juga seumuran dengan anak-anak kami" Ucap Pak Mustofa dibarengi anggukan kepala setuju dari Bu Duma.
"Ah iya. Pa, Ma" Ucap Ethan antara malu dan senang.
__ADS_1
Tentu Ethan senang melihat keramahan dari keluarga Baruna. Sesuai perkiraannya disaat pertama kali mengenali Baruna. Keluarga Baruna begitu hangat dan baik menyambut siapapun.
"Ah. Papa kenapa?" Tanya Ethan.
"Tadi Papa terjatuh saat berangkat ke pasar. Ada mobil yang menyerempet dan kabur begitu saja" Jelas Bu Duma.
"Apa sudah ditangkap pengemudinya?" Tanya Ethan menahan geram nya.
"Belum. Tadi cukup sepi. Hanya beberapa orang dan mereka sibuk menolong Papa terlebih dahulu" Jelas Bu Duma.
Ethan menghela nafas, dia menahan emosinya yang membuncah.
"Ya sudah. Papa dan Mama disini istirahat saja. Biar Ethan yang akan urus administrasi dan hal lainnya. Jangan dipikirkan. Rumah akan ada yang menjaga" Jelas Ethan sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih ya Nak" Ucap Pak Mustofa.
"Jangan terlalu terbebani. Kami masih ada dua orang putra. Mungkin sebentar lagi mereka tiba. Soalnya baru mulai usaha" Jelas Bu Duma.
"Ethan tidak terbebani. Ya sudah Ethan tinggal dulu ya Pa Ma. Ada urusan di kantor" Ucap Ethan berpamitan.
"Iya. Hati-hati di jalan" Ucap Pak Mustofa.
"Terima kasih ya Nak Ethan" Sambung Bu Duma.
Selesai itu Ethan menuju parkiran. Terlihat beberapa orang suruhannya untuk menjaga keluarga Baruna menunggu di situ. Ethan merasa marah dan membentak mereka.
"Apa kerjaan kalian! Sudah ku katakan jaga dengan baik! Kenapa sampai bisa Pak Mustofa kecelakaan???" Tanya Ethan dengan emosi.
"Maafkan kami Tuan" Ucap para pengawal itu.
"Jaga dengan baik. Jangan sampai ada kejadian lagi. Paham???" Perintah Ethan.
"Paham Tuan" Ucap para pengawal itu.
Baruna merasa terkejut melihat Ethan sangat marah pada pengawalnya. Dia mendengarkan semua perkataan Ethan yang benar-benar menjaga keluarganya dari dekat.
Setelah itu Ethan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku akan mengurus semuanya. Papa baik-baik saja. Aku pastikan tidak akan terjadi hal berbahaya apapun lagi. Nyawaku taruhannya" Ucap Ethan yang berusaha menetralkan amarahnya.
"Papa?" Baruna tampak heran mendengar panggilan yang disebutkan Ethan.
"Ah maaf. Om dan Tante meminta ku memanggil mereka Papa dan Mama" Jelas Ethan singkat.
__ADS_1
Baruna hanya cuek mendengar jawaban Ethan meskipun dia cukup heran melihat kedekatan Ethan dengan keluarganya.
'Wah sudah disetujui aja nih calon mantu' Ucap Snowy dalam batin meledek Baruna.
Baruna menatap tajam Snowy tanda dia tidak suka perkataan Snowy.
Pikiran Baruna berkecamuk. Entah bagaimana kondisi sebenarnya dari sang Papa. Dia ingin sekali menemui Papa-nya. Namun Baruna sadar, dia akan kelepasan jika memaksakan diri bertemu kedua orang tuanya.
Larangan dari para Naga tentu tidak bisa dia abaikan. Jika sampai itu terjadi maka Baruna tidak akan bisa menginjakan kaki nya lagi di dunia manusia.
"Kita kembali ke kantor ku. Maaf setelah ini ada yang harus aku urus" Ucap Ethan yang masih memikirkan siapa pengendara yang sudah mencelakakan Pak Mustofa.
Sengaja ataupun tidak kejadian kecelakaan itu tetap saja Ethan akan mengusutnya.
.
.
.
Baruna merenung di dalam apartemennya. Dia mendengar beberapa kalimat yang menjadi penghiburan baginya.
"Ketika dunia mengabaikan mu. Ingatlah Tuhan selalu ada untukmu. Jangan pernah menyerah meskipun ini hari terakhir mu bernafas"
"Jika kau lelah, jika kau tidak punya tujuan kembalilah ke laut saat senja. Nikmati angin yang menerpa, hirup cahaya nya, rasakan hangatnya angin. Kau tak akan sendiri lagi"
"Darah yang sama tak berarti orang akan benar-benar peduli dengan mu"
"Tuhan, jika ku dan dia dalam garis takdirmu, biarkan ku dengannya bersama. Tuhan jika ku hanya menyakitinya maka lepaskanlah dia dari hidupku"
"Tingkat kesabaran tertinggi adalah diam. Tingkat kekesalan tertinggi adalah ingin kematian datang lebih cepat"
"Kehidupan masa lalu yang terlupakan. Dapatkah kau mencari kebenarannya? Ataukan hanya celotehan tidak berfakta yang kau temukan? Mungkin aku-kau-dan dia paham. Mungkin kita pernah menyatu. Mungkin kita pernah terbuai. Akan janji palsu semesta yang malah memisahkan kita"
"Pernahkah kau merasa? Saat kau kesepian, saat kau menoleh ke masa yang tak bisa lagi kau singgahi. Saat itulah kau akan berkata 'Andaiku bisa kembali ke masa itu' dan atau 'Aku merindukan masa sekolahku', Itu berarti kau masih memiliki kekuatan dan cukup berkata 'aku sedang menuju masa depanku' "
"Jalur yang lurus, kiri kanan penuh pinus. Aku melangkah perlahan. Langkah kecil menari. Aku bebas!!"
"Dunia ini. Dunia Aku. Dunia Kamu. Dunia Dia. Dunia Kita. Dimana???"
Meskipun lelah tersenyumlah. ingat jika selalu ada pelangi dan matahari setelah hujan dan malam berlalu, jangan terpuruk dalam kenestapaan.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
__ADS_1
-linalim-