
Ethan tiba di rumah orang tua Baruna. Kedua orang tua yang sudah sangat hafal mobil Ethan langsung menyambut Ethan dengan hangat.
Mereka sudah sangat menyayangi Ethan seperti bagian keluar sendiri. Tanpa membedakan kasih sayang mereka pada Ethan maupun anak kandung mereka.
Ethan yang muncul seolah menggantikan rasa rindu mereka pada Baruna. Bahkan mereka merasa Baruna masih hidup. Karena setiap perlakuan Ethan mampu membuat mereka merasakan seolah itu dari Baruna.
Sedekat itu Baruna dengan orang tuanya. Dan hal yang wajar di rasakan orang tua Baruna karena setiap hal ataupun barang yang Ethan bawakan semua atas pilihan Baruna yang sudah sangat hafal dengan kesukaan keluarganya.
Begitu Ethan turun dari mobil dia langsung di sambut oleh Pak Mustafa dan Bu Duma dengan hangat.
"Ayo masuk, Nak. Kamu pasti lelah seharian bekerja"
Sambut Pak Mustofa sambil menepuk pelan pundak Ethan.
Rasanya begitu hangat seperti sedang di jamu orang tua kandungnya sendiri. Namun ini adalah orang tua Baruna ya bisa di bilang Mertua Ethan. Eh? Mertua? Yakin Et kalau Baruna mau sama kamu?
Ya, semoga saja setelah semua masalah Baruna selesai dia mau menerima Ethan meskipun dunia mereka sudah berbeda. Itu yang ada di pikiran Ethan.
"Ah ya Ma, Pa. Ini ada kue. Kebetulan tadi Et lihat ada yang jual"
Ucap Ethan sambil menyodorkan sekotak besar kue yang di belinya. Itu merupakan kue kesukaan Pak Mustofa dan Bu Duma.
"Astaga ini kesukaan kami. wah kebetulan sekali Mama sejak kemarin ingin makan ini. Iya kan Ma?"
Ucap Pak Mustofa sambil memandang istri tercintanya itu.
"Iya. Astaga. Terima kasih Nak Et. Kamu memang sangat mengerti kami. Rasanya seperti Baruna ada di sini"
__ADS_1
Ucap Bu Duma yang memendam kerinduan pada putri satu - satunya itu.
"Anggap saja Ethan sebagai Baruna. Biar Ethan yang menggantikan tugas Baruna"
Ucap Ethan sambil tersenyum pada kedua orang tua Baruna.
"Tentu saja. bagi kami, kehadiran mu sudah seperti kehadiran Baruna. Sepertinya Nak Ethan sangat dekat dengan putri kami. Apa kalian dulu pacaran?"
Tanya Pak Mustofa mendadak.
Di tanya begitu membuat Ethan merasa malu dan sungkan. Dia serba salah untuk menjawab pertanyaan itu.
"Sudah Mama duga bukan Pa. Dia pasti pacaran sama Baruna. Lihat wajahnya saja memerah di tanya begitu. Kalau Baruna tidak mengalami masalah mungkin kita sudah memiliki Ethan sebagai menantu saat ini"
Ucap Bu Duma yang di sambut senyuman serta anggukan kepala dari Pak Mustofa.
"Ah mulai sekarang anggap saja Ethan suaminya Baruna. Menantu Papa dan Mama. Ethan tidak masalah kok, malah senang dengan hal itu"
Ucap Ethan dengan antusias.
Mendengar hal itu tentu kedua orang tua Baruna mengangguk setuju dan tertawa. Jelas sekali Ethan menyukai Baruna - putri kesayangan mereka.
"Bagaimana pekerjaan mu? Apakah bos mempersulit mu? Ah dulu Robert dan Dickson juga sering ya lembur dan di persulit boss mereka"
Ucap Pak Mustofa sambil menatap Ethan dan Bu Duma bergantian.
Kedua orang tua Baruna memang belum tau jika Ethan seorang CEO. Bahkan pewaris perusahaan Christian.
__ADS_1
Orang Tua Baruna berpikir Ethan hanya bekerja di perusahaan besar dan memiliki bisnis bersama Baruna seperti yang pernah Ethan katakan sebelumnya. Jadi wajar pria itu sangat sibuk dan bisa membeli banyak barang untuk orang tua Baruna meskipun sudah sering mereka menolak dan sungkan dengan bantuan Ethan.
"Baik kok Pa. Semua lancar"
Jawab Ethan dengan senyuman ramahnya.
"Ayo mandi dulu. Itu Mama sudah masak. Kita tunggu Dikson dan Robert ya. Mereka sudah mau sampai"
Ucap Bu Duma pada Ethan.
"Iya Ma"
Ethan sangat patuh dengan perkataan orang tua Baruna.
"Nanti pakai saja pakaian Dickson. Tubuh kalian sama besarnya"
Tambah Pak Mustofa yang di jawab dengan anggukan kepala dari Ethan.
Ethan pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum makan bersama keluarga Baruna.
Tak lupa dia juga memotret kedua orang tua Baruna secara diam - diam tadi dan mengirimkannya pada Baruna. Dia yakin Baruna sangat merindukan kedua orang tuanya. Namun dia tidak bisa mendekat karena itu larangan dari Naga Qiulong.
.
.
.
__ADS_1