Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Terbuka Ingatan


__ADS_3

Baruna terbawa ke masa lalu Pangeran Arvie dan Kaimana. Terlihat sang Pangeran dan Kekasihnya bertengkar di Lembah Pelangi itu.


"Apa yang kau lakukan! Kau membunuh Raja dan Ratu, juga membunuh adik ku!"


Suara Pangeran Arvie begitu penuh amarah. Matanya memerah menahan sedih, sakit dan amarah.


"Aku memang menghukum Adikmu. Tapi tidak dengan kedua orang tua mu. Justru Adik mu sudah melakukan dosa besar dengan membunuh orang tua kalian!"


Ucap Kaimana berusaha meyakinkan Pangeran Arvie.


"Bohong! Untuk apa adikku membunuh kedua orang tua kami! Dia sangat di sayang oleh orang tua ku! Tidak mungkin dia punya niat membunuh orang tuanya sendiri!"


Bentak Pangeran Arvie tidak mempercayai ucapan dari Kaimana.


"Kau mau aku bagaimana agar kau percaya?! Adik mu sudah di hasut oleh iblis untuk mencuri Cakra Elang dari mu! Mereka mau menguasai semuanya karena Adik mu cemburu jika kau yang akan naik takhta!"


Kaimana tak kalah kesal saat melihat Pangeran Arvie tidak mempercayainya. Dia sudah jujur sejujur-jujurnya. Tapi Pangeran Arvie malah meragukannya. Bagaimana dengan cinta dan kepercayaan yang selama ini mereka tanamkan. Seolah semua tidak berguna.


"Heh! Kau ternyata mengincar Cakra Elang ku juga? Apa tidak cukup Kau memiliki Mutiara Naga? Aku bahkan tidak pernah mau membahas benda - benda itu. Kini kau membahasnya!" Ucap Pangeran Arvie yang terpengaruh ucapan Ryu - Adik dari paman jauh Pangeran Arvie. Ryu juga merupakan keturunan pangeran namun tidak pada garis kekuasaan takhta.


Kaimana mengernyitkan dahinya. Dia tidak percaya Pangeran Arvie tega menuduhnya begitu.


"Setelah Kaum Naga mu membunuh Ratu Angsa kekasih dari Raja Elang untuk mencuri Mutiara Bulan, Kini kau juga mau membunuhku untuk mencuri Cakra Elang? Tamak sekali kalian" Ucap Pangeran Arvie dengan nada yang begitu lirih.


"Arvie- Aku"


"Cukup! Diam!" Bentak Pangeran Arvie yang membuah batu di sekitaran bergetar dan pecah menjadi debu.

__ADS_1


Kaimana tidak menyangka kekasihnya itu sangat marah dan mengeluarkan tenaga dalam yang selama ini tidak pernah dia gunakan.


Pangeran Arvie berusaha menyerang Kaimana. Namun Lembah Pelangi adalah daerah kekuasaan Kaimana. Dengan mudah Kaimana menghindari serangan Pangeran Arvie hingga tidak sengaja serangan Pangeran Arvie berbalik pada dirinya sendiri.


"Arvie!!!"


Teriak Kaimana terkejut melihat Pangeran Arvie terpental akibat pukulannya yang berbalik. Dengan cepat Kaimana menghampiri Pangeran Arvie.


"Aku mohon berhenti. Aku tidak mau kau terluka lebih jauh lagi. Ku mohon dengarkan Aku Arvie. Kaum ku tidak pernah membunuh Ratu Angsa. Aku juga tidak pernah membunuh orang tua mu. Kematian Adikmu adalah takdir dan dia harus di hentikan sebelum dia menumbalkan lebih banyak lagi nyawa tidak berdosa"


Ucap Kaimana berusaha menenangkan Pangeran Arvie. Sayangnya sekuat apa pun Kaimana berusaha menjelaskan. Semua sia - sia. Pangeran Arvie sudah di bakar oleh amarah yang tinggi.


Begitu tubuhnya mulai pulih, Pangeran Arvie mencengkeram kuat leher Kaimana hingga kekasihnya itu kesusahan bernafas.


"Ar-Arvie. Ku- Kumohon. Te-Tenanglah" Ucap Kaimana terbata - bata dan berusaha melepas cengkeraman tangan Pangeran Arvie.


Dia bukannya tidak mampu melawan Pangeran Arvie tapi Kaimana menahan dirinya agar tidak melukai kekasih yang sangat dia cintai itu, Kaimana tau jika dia menggunakan kekuatannya maka Pangeran Arvie akan meninggal di tempat dan pertempuran antara Negeri Naga dan Negeri Elang tidak akan terelakkan lagi setelah kematian Ratu Angsa.


Ucap Pangeran Arvie dengan penuh emosi. Pedang Kaimana kini beralih pada tangannya.


Kaimana sudah pasrah jika harus musnah di tangan orang yang dia cintai itu. Kaimana kembali teringat ramalan dan nasehat dari tetua yang sudah mengingatkannya agar tidak melanjutkan kisah cintanya dengan Pangeran Arvie namun dia malah membangkang.


Kaimana hanya mampu menghela nafas dan menatap dalam mata Pangeran Arvie.


"Jika darah ku bisa membuat mu lebih tenang, maka Aku rela mati di tangan mu. Aku akan melindungi mu dan kerajaanmu. Kematianku dan darah ku akan menjadi senjata mu untuk melawan Ryu saat waktunya tiba. Aku mencintaimu Pangeran Arvie. Maafkan Aku"


Ucap Kaimana yang tampak pasrah namun Pangeran Arvie yang telah buta di penuhi amarah tidak memedulikan ucapan Kaimana.

__ADS_1


Dia menghunjamkan pedang itu tepat di perut Kaimana hingga darahnya membasahi pedang Kaimana juga tanah di Lembah Pelangi. Seketika guntur bergemuruh, hujan rintik mulai turun. Air terjun dan kolam mulai mengering dengan sendirinya hingga bunga - bunga berguguran.


"Maafkan Aku. Arvie"


Ucap Kaimana sebelum meninggal. Kaimana meninggal di tangan pangeran Arvie. Rohnya tidak hancur namun karena perbuatan dan kelalaiannya dia di hukum langit. Apalagi di dalam tubuhnya ternyata sudah bersemayam janin darah Elang dan Naga.


Baruna yang melihat kilasan kematian Kaimana merasa pedih di dadanya. Rasanya begitu sesak. Rasa cintanya pada pangeran Arvie telah mengantarkannya pada kematian.


Padahal apa yang Kaimana lakukan adalah demi melindungi Pangeran Arvie dan membalas kematian orang tua Pangeran Arvie. Tapi malah dia yang di tuduh membunuh seluruh keluarga sang Pangeran.


"Arvie... Ethan..." Baruna menyebut nama dua orang yang memiliki satu jiwa itu. Dia menangis dalam mimpinya.


Tak lama kemudian Baruna tersadar. Snowy terlihat cemas sedangkan Ethan memegang tangan Baruna ikut meneteskan air matanya.


Ya Ethan bisa melihat apa yang Baruna mimpikan karena darah mereka sudah sama - sama mengenai pedang Kaimana. Ethan hanya bisa diam dan terus menangis. Dia sama sakitnya bahkan rasa sakit yang di rasakan Ethan berkali lipat dari pada Baruna.


Ethan membenci dirinya sendiri yang membuat Kaimana harus meninggal dan Kaimana memang menyelamatkannya karena pedang Kaimana yang telah melindungi Pangeran Arvie dari serangan Ryu. Semua adalah ulah Ryu yang kini bereinkarnasi menjadi Rico.


Baruna berusaha bangun dari tidurnya dengan pipi yang penuh air mata. Baruna menatap tajam pada Ethan. Dia merasa sakit hati saat melihat bagaimana Pangeran Arvie tidak mempercayainya dan membunuhnya dulu. Meskipun dia tau Pangeran Arvie tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi tetap saja Baruna merasa sangat kesal dan sakit hati.


Apalagi di tambah di kehidupan kini, dia juga bertemu dengan Ethan yang awalnya begitu kasar dan merendahkannya. Hal itu membuat rasa sakit d hatinya begitu dalam. Dia mencintai Ethan tapi juga membencinya karena sudah meragukan cinta dari Kaimana.


Entah apa yang akan terjadi pada keduanya kini. Baruna tiba - tiba melesat menghilang.


Melihat itu Snowy cukup terkejut. Dia memutuskan menemani Ethan saja sementara itu. Karena Dia yakin Baruna bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi tidak dengan Ethan yang hanya manusia biasa.


Pedang Kaimana yang berhasil mereka dapatkan di tinggal begitu saja oleh Baruna. Entah kemana gadis itu pergi.

__ADS_1


"Maafkan Aku Baruna. Maafkan Aku Kaimana. Ini salahku. salahku" Ucap Ethan sambil memeluk pedang Kaimana.


Air matanya menetes membasahi pedang itu. Secercah sinar terlihat namun Snowy dan Ethan tidak menyadarinya, Mereka terlalu sibuk tenggelam dalam pikiran masing - masing.


__ADS_2