Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Frans - Rico 3


__ADS_3

"Loh Avisa?"


"Frans?"


Baruna kini masuk ke dalam rumah milik Frans. Rumah yang tidak asing sebenarnya bagi dia. Dulu dia cukup sering menemui Frans di sana.


Bahkan rekaman adegan ranjang mereka juga terjadi di rumah itu. Baruna berusaha menahan sakit di hatinya saat memasuki rumah Frans.


Ingatan buruk tentang apa yang Frans lakukan padanya masih begitu jelas. Bagaimana Frans yang dengan tega membiarkan banyak pria menjamahi tubuh Baruna dulu dan merekam semua itu.


Ingin sekali Baruna membunuh pria di hadapannya itu saat ini. Namun dia masih menahan diri dan mencoba bersabar. Ada hal penting yang harus dia lakukan di sana.


Di dalam rumah yang tergolong mewah itu Baruna duduk di sofa ruang tamu milik Frans.


"Kau tinggal sendiri?" Tanya Baruna tentu berpura - pura. Dia tau seperti apa kehidupan Frans selama ini.


"Iya Aku tinggal sendiri. Ya kalau sudah menikah mungkin akan tinggal bersama istriku" Ucap Frans sambil tersenyum menggoda pada perempuan cantik di hadapannya itu.


"Kau belum menikah?" Tanya Baruna.


"Belum. Aku belum menemukan gadis yang cocok dengan ku" Jawab Frans dengan santai tanpa menyadari sosok Avisa yang di hadapannya itu adalah Baruna. Yang sebentar lagi akan membawa malapetaka dalam hidup Frans.


"Memangnya seperti apa gadis yang bisa membuat mu merasa cocok?" Tanya Baruna lagi.


"Seperti dirimu" Ucap Frans yang mulai melancarkan gombalannya.


"Aku sudah ada kekasih" Jawab Baruna dengan santai.


Jika itu adalah Baruna yang dulu mungkin sudah terbawa suasana dan bisa di bujuk rayu oleh Frans.


Tapi Baruna yang sekarang adalah Baruna yang berbeda. Dia tidak akan semudah itu lagi di bujuk rayu oleh pria seperti Frans.


"Ya benar sayang sekali Aku terlambat mengenal mu. Tapi sebelum kalian sah menikah tentu aku masih boleh berjuang bukan?" Ucap Frans lagi.


Frans tampak berusaha sekuat mungkin untuk bisa mendekati sosok Avisa. Namun sayangnya ucapan Frans itu tidak di gubris dan Baruna hanya tersenyum padanya.


"Ah ya. Kau pasti haus bukan? Aku akan buatkan minuman untuk mu terlebih dahulu. Tunggu sebentar ya" Ucap Frans pada Baruna.


Dia bergerak menuju ke arah dapur. Baruna tau pria itu pasti akan membuatkan minuman yang sudah dia campur dengan obat perangsang. Sama seperti saat Baruna pertama kali terjebak dalam hubungan yang menjijikan dengan Frans.


Kesucian Baruna dulu di rengut dengan cara yang begitu keji. Frans mencampurkan obat perangsang dalam dosis tinggi yang membuat Baruna tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Namun Baruna sudah mengantisipasinya dia akan membuat Frans kena batunya sendiri.


Baruna mengirim sinyal pada Snowy agar segera menaburkan garam di sekeliling rumah itu. Snowy pun mengerjakan tugasnya. Dalam wujud tak terlihat Snowy pun mengitari rumah Frans dan menaburkan garam itu.

__ADS_1


Frans yang sedang membuatkan minuman untuk Avisa tampak tersenyum menyeringai. Dia menaburkan obat perangsang dalam dosis tinggi ke dalam kopi yang di buatnya itu.


"Kau akan menjadi milikku. Kau terlalu cantik dan kaya untuk dimiliki Ethan" Gumam Frans sambil tersenyum jahat.


Dia memang sangat iri dan ingin merebut Avisa dari sisi Ethan. Maka dengan cara apa pun pasti akan dia tempuh.


Frans meletakkan kopi untuk Avisa di hadapan Baruna. Dan menaruh kopi untuknya sendiri di hadapannya.


"Silahkan di minum" Ucap Frans mempersilahkan gadis cantik incarannya itu untuk masuk ke perangkapnya.


'Setelah ini kau akan menjadi milikku. Dengan foto dan video ranjang kita maka Ethan tidak akan bisa meraih mu lagi. Kau akan bertekuk lutut pada ku' Batin Frans.


Baruna dengan santai meraih cangkir kopi di hadapannya. Belum sempat dia menyeruput kopi itu. Terdengar bunyi ponsel Frans berdering keras.


"Ah maaf sebentar ya" Ucap Frans yang bangkit dan berjalan ke dekat jendela untuk menjawab teleponnya.


Baruna hanya tersenyum. Matanya menatap ke arah cangkir kopi milik Frans. Dengan santai dia menegak kopinya hingga habis.


Begitu Frans berbalik dia melihat Avisa sudah menghabiskan kopinya. Tentu dia sangat senang.


Lalu Frans menegak sendiri kopi miliknya tanpa dia sadari jika setelah itu semua kehancuran akan datang padanya.


"Enak bukan kopi buatan ku?" Ucap Frans setelah selesai menegak kopi miliknya.


"Eh? Avisa. Hey Avisa. Avi-"


Bruk!


Tubuh Frans terjatuh di lantai bersama dengan tubuh kasar Avisa.


Sedangkan Baruna mengeluarkan jiwanya dari tubuh kasar itu. Dia mematikan semua CCTV terlebih dahulu sebelum memulai aksinya.


Baruna meraih ponsel Frans dan mengirimkan sesuatu pada seseorang. Setelahnya dia membuka semua isi chat rahasia gelap Frans dan menyebarkannya ke seluruh media sosial milik Frans termasuk membuat sebuah second account dengan data Frans sendiri.


Agar semua orang yang terlibat dalam perbuatan Frans marah dan menuduh Frans sengaja melakukannya.


Baruna memasuki kamar Frans. Semua file video dan foto vulgar dan tak senonoh dia ambil dan dia sebarkan setelah me blur wajah para gadis korban Frans.


Termasuk rekaman CCTV dan kamera tentang penganiayaan dan ancaman dari Frans pada semua korbannya. Bukti penggelapan pajak dan pencucian uang di mana Frans dan salah satu pejabat pemerintahan ikut terlibat juga dia beberkan.


Dan dengan tenang Baruna mengirim semua bukti itu ke beberapa pengacara besar dan jaksa yang dia ketahui bersih dan sangat ingin menghancurkan pokok permasalahan penggelapan pajak dan penjualan manusia.


Setelah itu Baruna menghipnotis tubuh Frans memasuki kamarnya sendiri dan melepas semua pakaian hingga tidak tersisa satu helai benang pun.


Lalu Baruna membawa hilang tubuh kasar Avisa sebelum seorang wanita jadi - jadian tiba di rumah Frans.

__ADS_1


Wanita jadi - jadian alias transgender yang belum sempurna itu memasuki rumah Frans dan bingung kenapa rumahnya sepi dan dalam keadaan terbuka.


Sebelumnya dia memang sangat menyukai sosok Frans tapi Frans selalu menolaknya. Tentu karena dia bukan wanita tulen. Tapi perasaannya pada Frans sangat tulus.


"Frans~" Panggil wanita itu yang berusaha mencari Frans.


Melihat kamar Frans yang terbuka, dia segera masuk dan mendapati Frans yang tanpa sehelai benang pun sedang memainkan miliknya sendiri. Frans dalam pengaruh obat perangsang yang kuat.


"Hei Frans. Are you okay?" Tany wanita itu sambil menepuk pelan pipi Frans.


"Tolong Aku. Ah~" Ucap Frans tertahan. Sudah berkali - kali miliknya berkedut kencang dan mengeluarkan cairan tapi dia masih merasa panas dan tidak puas.


Hal itu membuat si wanita langsung membantu Frans karena kasihan. Sekaligus dia ikut teransang dengan tubuh Frans.


Hal menjijikkan itu ternyata di rekam secara live oleh Baruna dengan account Frans sendiri. Wajah Frans tersorot dengan jelas di sana. Banyak komentar menjijikkan mencemooh terlihat. Dan semuanya bahkan sengaja men screen shoot adegan demi adegan Frans dengan wanita transgender itu. Yang tentunya masih memiliki batangan yang sama dengan Frans.


Setiap adegan pergumulan itu menjadi tontonan semua warga yang memiliki akses internet juga smart phone. Percayalah saat Frans sadar dia pasti akan histeris. Bukan hanya karena dia tidur dengan lubang belakang tapi juga karena semua kejadian itu di rekam jelas oleh ponselnya.


.


.


Di dekat laut terlihat Rico dan Ethan baru selesai menghabiskan makanan mereka. Keduanya tampak bersantai sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Mau rokok?" Tanya Rico pada Ethan sambil menyodorkan bungkusan rokok pada Ethan.


"Tidak. Terima kasih" Ucap Ethan menolak halus. Dia bukan pecandu rokok.


"Okey" Ucap Rico sambil melanjutkan merokok sendirian.


Suara deburan ombak dan angin laut yang kencang begitu terasa.


"Kau bermimpi setan?" Tanya Rico tiba - tiba.


"Ya sejenisnya" Ucap Ethan yang memikirkan jenis mimpi buruk apa yang bisa membuat Rico percaya jika itu sangat buruk bagi Ethan.


"Ceritakan yang lengkap. Biar aku coba artikan maksud dari mimpi mu itu. Apa berbahaya atau tidak" Ucap Rico lagi terdengar serius.


Ethan terlihat menghela nafas berat seolah apa yang di alaminya sangat buruk. Hal itu membuat Rico semakin percaya jika Ethan sedang sangat kesusahan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2