
Hari semakin larut. Ethan dan Baruna memutuskan untuk pulang. Mereka tidak bisa mendapat informasi lain tentang Frans lagi. Terkecuali fakta jika Frans menggunakan Rico sebagai tameng dalam membutakan pikiran semua gadis yang di inginkan oleh Frans.
Imbalannya tentu bayaran tinggi di terima oleh Rico. Dan Rico juga bisa memiliki gadis mana pun yang di koleksi oleh Frans secara cuma - cuma dan kapan saja.
Begitu tiba di lobby apartemen, Ethan menghentikan mobil dan menghela nafas berat.
"Maaf. Hari ini belum sesuai dengan apa yang kau harapkan"
Ucap Ethan sambil menatap Baruna dengan tulus.
"Setidaknya kita tau dia di lindungi cenayang itu. Kita bisa membuat perencanaan. Jika mau mendekatinya maka harus menyingkirkan cenayang itu"
Ucap Baruna pada Ethan.
Tidak mungkin menyalahkan Ethan yang sudah mengambil risiko membantunya. Karena jika ketahuan pasti Ethan juga dalam bahaya.
"Akan aku cari caranya"
Ucap Ethan pada Baruna.
Baruna hanya tersenyum dan refleks tangan Baruna membelai kepala Ethan dengan lembut.
Keduanya terdiam terpaku hingga Baruna menyadari tindakannya sangat konyol. Dia langsung turun dari mobil Ethan.
"Terima kasih untuk tumpangannya. Aku masuk dulu"
Ucap Baruna yang langsung berjalan menjauh. Dia benar - benar bingung dengan tindakannya sendiri. Bagaimana bisa refleksnya begitu aneh.
Ethan hanya menatap punggung Baruna yang berjalan semakin menjauh dan masuk ke dalam lift. Dia juga cukup terkejut dengan tindakan Baruna tadi.
Mobil Ethan pun berlalu dari lobby apartemen Baruna, kembali menuju rumahnya.
.
.
Baruna yang baru masuk ke dalam unit apartemen di sambut oleh Snowy yang asyik memakan popcorn sambil menonton bersama kucing kesayangannya. Kita sebut saja namanya Kitty.
"Ah cepat juga urusan mu selesai"
Ucap Snowy saat melihat Baruna masuk ke dalam apartemen.
"Iya"
Jawab Baruna singkat.
Snowy menatap heran dengan ekspresi Baruna yang bingung itu. Namun dia punya hal penting untuk di beritahu pada Baruna.
__ADS_1
"Oh ya uang Zaky sudah semua di setor ke kantor. Kau bisa ambil semuanya besok dan kantor palsu itu bisa di bubarkan. Ah ya sekalian ijin aku berencana membawanya camping"
Ucap Snowy pada Baruna. Baruna menatap heran pada Snowy. Entah apa yang di rencanakan anj1ng istimewa itu pada Zaky.
"Tenang dia tidak akan mati. Paling hanya cacat dan memilih untuk mati saja"
Ucap Snowy dengan santainya.
Baruna hanya menghela nafas kecil dan membiarkan Snowy menghukum Zaky.
Baruna akan menghukum Dea Sari - tante Baruna setelah Snowy menghukum Zaky. Dan semua uang yang sudah dia ambil kembali dari tangan Zaky akan di berikan kepada orang tuanya.
Karena memang uang itu adalah hak kedua orang tua Baruna. Bukan keluarga Tantenya itu.
"Baiklah. Besok aku akan ambil sisanya. Kau urus Zaky. Aku akan urus kepemilikan kembali uang itu untuk orang tua ku"
Ucap Baruna pada Snowy.
"Okay"
Snowy kembali fokus menonton sedangkan Baruna langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat,.
.
.
.
Ethan tampak sudah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Dia merebahkan diri di ranjangnya sambil menatap langit - langit kamar.
Pikiran Ethan kembali teringat elusan lembut tangan Baruna di kepalanya.
Ethan memegang bagian yang tadi Baruna sentuh. Dia tersenyum sendiri. Rasanya seperti orang gila.
"Kau memang begitu lembut ternyata di balik keinginanmu membalas dendam yang membara itu"
Gumam Ethan sambil tersenyum kecil mengingat Baruna.
Ethan kemudian membawa dirinya masuk ke dalam dunia mimpi. Dia kembali bermimpi suasana yang asing.
ah tidak juga. Itu tidak asing. dia melihat rumah yang dia datangi kemarin. Rumah milik pangeran Arvie.
Terlihat banyak pelayan yang mondar - mandir di sana, namun tidak ada yang menyadari keberadaan Ethan.
Lebih tepatnya tubuh Ethan seperti tembus pandang saat di lalui oleh orang - orang di sana.
Ethan berjalan masuk ke dalam rumah itu. Semua tampak sibuk dengan urusan masing - masing namun tidak bertemu dengan Pangeran Arvie.
__ADS_1
Ethan teringat ruangan khusus itu. Dengan perlahan dia bergerak memasuki ruangan yang tidak tertutup rapat.
Dan bingo! Benar sekali Pangeran Arvie ada di sana.
Dia tampak sibuk melukis sesuatu. Semua kertas berserakan di mana-mana.
Ethan memperhatikan dinding di dalam ruangan itu. Namun belum ada lukisan seperti yang Ethan dan Baruna lihat tempo hari.
Terlihat Pangeran Arvie begitu kacau. Penampilannya benar - benar berantakan. Dia baru menyelesaikan satu lukisan wajah Kaimana.
"Kaimana. Tunggu Aku"
Ucap Pangeran Arvie sambil memeluk hasil lukisannya. Dia menangis dengan begitu keras dan menyayat hati.
Ethan yang melihat adegan itu ikut meneteskan air matanya. Hatinya ikut sakit saat mendengar Pangeran Arvie menyebut nama Kaimana.
"Cakra sialan ini! Kenapa harus memilih tubuh ku! Semua gara - gara cakra sialan ini!"
Umpat Pangeran Arvie yang tampak memukuli badannya sendiri.
Ethan yang melihat itu kebingungan. Tangannya berusaha meraih Pangeran Arvie untuk menghentikannya melukai diri sendiri namun tidak bisa.
Dia tidak bisa menyentuh tubuh Pangeran Arvie. Hingga tidak lama seseorang masuk. Sepertinya itu teman atau saudara Pangeran Arvie yang berusaha menenangkan Pangeran Arvie.
Lalu Ethan merasa telinganya berdengung dan sangat sakit. Dia merasa dirinya tertarik jauh dan jatuh dari ketinggian.
"Hosh... Hoshh.... Hooosshhh"
Suara helaan nafas Ethan begitu terdengar. Dia terbangun dengan terengah - engah.
"Cakra???"
Gumam Ethan yang penasaran dengan perkataan Pangeran Arvie dalam mimpinya.
Dia semakin penasaran dengan hubungannya dengan Pangeran Arvie. Apakah mereka memang memiliki hubungan. Karena bagaimana bisa Pangeran Arvie begitu mirip dengannya dan juga Kaimana begitu mirip dengan Baruna.
Ingatkan Ethan untuk mencari tahu lebih lagi tentang kisah Pangeran Arvie. Dia sangat penasaran dan terganggu akan hal itu.
Tanpa Ethan sadari tubuhnya memancarkan sinar kemerahan yang sangat kuat. Bukan sinar tipis yang sekilas seperti apa yang di lihat Baruna tadi.
Ethan kembali merebahkan diri di atas ranjang karena waktu masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Dia kembali mencoba untuk tidur lagi dan berharap tidak bermimpi hal menyakitkan lagi. Dia membutuhkan istirahat yang cukup.
.
.
.
__ADS_1