Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Avisa-Baruna


__ADS_3

"Baruna" Ucap Ethan tanpa sadar karena merasa ciuman itu seperti bibir Baruna yang dia cium. Terasa manis strawberry.


Baruna terdiam. Dia bingung saat mendengar Ethan menyebut nama 'Baruna'.


Mata keduanya saling menatap dalam saat musik semakin kencang dan tinggi seolah menyuarakan isi hati keduanya yang sama-sama berdegup kencang.


"Ethan??" Baruna mencoba berbicara. Sesaat Ethan tersadar sosok dihadapannya ini adalah Avisa, bukan Baruna.


"Ah maaf. Aku tidak sengaja" Ucap Ethan lalu menjaga jarak dengan Baruna.


Mereka kemudian kembali menikmati lagu yang melantun kencang di telinga.


Baruna kembali duduk disofa meninggalkan Ethan bersama beberapa teman laki-laki dan perempuan mereka.


Sayup-sayup telinga tajam Baruna mendengar perkataan para gadis disana mengenai Ethan.


'Sumpah makin ganteng si Ethan!'


'Iya cakep pake banget malahan'


'Tapi aku dengar dia udah berbeda'


'Beda apanya?'


'Beda udah enggak main perempuan lagi'


'Tobat? Udah ada pawangnya?'


'Enggak tuh. Dia belum ada pacar. Apa jangan jangan dia sakit? Impoten kali keseringan main sama cewek bayaran'


'Hush! Enggak mungkin deh. Lihat aja dia seger bugar'


'Ada gossip dia dijodohin'


'Tapi dia sendiri bilang enggak ada pasangan kan?'


'Entahlah. Sudah setengah tahunan dia jadi begini. Seperti biasa aja susah di deketin hatinya. Apalagi kalau lagi mode begini. Makin susah deh'


'Tapi kenapa dia bisa undang cewek blasteran itu? Siapanya sih? Penasaran aku. Biasa dia enggak pernah undang cewek langsung'


'Paling mainannya atau calon mainannya. Tandanya dia masih seperti dulu tapi nyari yang baru doang'


'Ya kali pecinta wanita bisa tobat'


Baruna hanya diam mendengar suara suara itu di telinganya. Ada apa dengan Ethan yang masih menyebut ingat namanya itu.


Ethan yang menyadari Baruna kembali duduk di sofa langsung mendekatinya.


"Kau lelah?" Tanya Ethan dengan lembut.

__ADS_1


Mata para gadis menatap Baruna dengan cemburu. Baru pertama kali mereka melihat Ethan selembut itu dengan perempuan.


"Aku baik baik saja. Enjoy saja di acara mu. Jangan memikirkan ku" Jawab Baruna dengan senyuman.


"Ah. Itu Aku--"


Belum sempat Ethan menyelesaikan perkataannya, seorang teman memanggil Ethan. Terpaksa Ethan meninggalkan Baruna duduk sendirian.


Tampak mata Frans terus menatap kearah Baruna. Frans tampak penasaran dengan gadis blasteran itu. Cantik sekali hingga dirinya begitu terpikat. Cantik yang natural berbeda dengan semua mantan mantannya yang tentu saja menjadi alat pemuasnya dan pelancar bisnisnya.


Frans mendekati Baruna. Baruna berpura-pura tidak tahu dan tidak mengenali bajingan itu.


"Hai. Nama ku Frans. Tadi kita belum sempat berkenalan dengan baik Nona cantik" Ucap Frans dengan senyuman terbaiknya. Senyuman yang dulu membuat Baruna jatuh hati hingga sangat mempercayai Frans. Namun ternyata itu hanya kedok manusia bajingan itu.


"Aku Avisa" Jawab Baruna singkat.


"Boleh aku duduk disebelahmu?" Tanya Frans tanpa aba aba dia langsung duduk disebelah Baruna.


"Itu kau sudah langsung duduk. Untuk apa bertanya lagi?" Ucap Baruna terdengar dingin.


Frans semakin menyukai sosok Avisa yang menurutnya cantik juga misterius. Sikap cuek dan cendrung dingin itu membuat Frans ingin sekali mendapatkan sosok Avisa.


"Boleh aku minta nomor ponsel mu?" Tanya Frans tanpa basa basi.


Baruna hanya diam dan menuliskan nomor ponselnya.


Baruna hanya tersenyum tipis tidak memperdulikan Frans. Baruna menikmati minuman dan musik yang ada.


Ethan yang melihat Frans duduk disebelah Baruna merasa marah. Dia langsung mendekati tempat Baruna duduk.


"Avisa. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Ethan yang sengaja agar bisa menjauhkannya dari Frans.


Sejak mendengar Baruna yang menjadi korban Frans. Dirinya menjadi tidak respect pada Frans, dan kini dia berusaha menjaga Avisa yang dia ketahui adalah gadis baik baik agar tidak menjadi korban Frans juga.


"Okey. Sebentar" Ucap Baruna lalu menggambil tas kecilnya dan mengikuti Ethan yang berjalan keluar dari club.


Ethan berjalan menuju tempat parkiran mobil club itu.


"Maaf. Aku rasa lain kali aku akan menjamu mu lebih baik lagi. Aku tidak ingin kau mendapat masalah dengan orang yang salah nanti" Ucap Ethan mengantarkan Baruna kedepan mobilnya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Baruna berpura-pura tidak paham.


"Ada seseorang yang akan berbahaya jika dia mendekatimu. Aku tidak ingin kau terkena masalah nantinya. Lain kali aku akan menjamu mu lagi. Terima kasih untuk hari ini" Ucap Ethan sambil tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu aku balik duluan" Ucap Baruna lalu masuk kedalam mobilnya.


Didalam mobil Baruna merenung. Sikap Ethan cendrung berbeda dengan kekasarnya dulu saat dia belum tahu Baruna adalah korban Frans.


Ethan menatap mobil Baruna bergerak menjauh. Entah mengapa hati kecil Ethan terus berkata Avisa adalah Baruna. Ethan bingung dengan isi pikirannya yang aneh itu. Bagaimana bisa mungkin. Baruna dan Avisa adalah dua orang yang berbeda.

__ADS_1


"Kau sudah gila Ethan. Kau gila" Gumam Ethan pada dirinya sendiri.


Ethan kembali masuk kedalam club melanjutkan acaranya.


.


Baruna yang tiba di apartement tersenyum puas. Dia berhasil memancing Frans mendekatinya. Dia akan perlahan menghancurkan laki-laki itu.


"Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah. Aku akan membuatmu hancur secara perlahan sampai kau sendiri memilih untuk mati Frans! " Ucap Baruna menatap tajam ke arah kerlap kerlip lampu jalanan.


.


Sedangkan dirumah Ethan. Tampak Nyonya Christian-Mama Ethan kedatangan tamu.


Adik perempuannya Nyonya Christian mengunjungi nya. Mereka bercanda gurau di ruang tamu.


Adiknya datang bersama seorang teman yang berprofesi sebagai cenayang. Tampak cenayang itu terus melihat sekeliling rumah mewah itu.


"Ada apa?" Tanya Nyonya Christian heran dengan sikap cenayang itu.


"Ah Kak. Dia Jilly. Dia seorang cenayang hebat" Ucap Adiknya.


"Benarkah? Ah. Bisa kau lihat kenapa putra ku tidak juga memiliki pasangan?" Tanya Nyonya Christian antusias.


Meskipun dari keluarga kaya dan terpandang, pihak keluarga Nyonya Christian sangat percaya dengan hal hal berbau mistis dan gaib.


"Hmmm. Dia memiliki orang yang dia sukai. Tapi sayangnya orang itu ada dan tiada di dunia ini" Ucap cenayang itu.


"Hah? Apa maksudnya?" Tanya Nyonya Christian bingung.


"Gadis itu memiliki ikatan jodoh dengan anak mu. Mereka memiliki ikatan kehidupan masa sebelumnya yang belum selesai. Tapi di kehidupan ini pun mereka terpisahkan. Jika Anakmu tidak bisa menyelesaikan ikatan itu maka dia tidak akan pernah bisa menikah" Ucap Cenayang itu sambil menyesap teh yang disuguhkan untuknya.


"Apa tidak ada cara? Ritual atau sebagainya?" Tanya Nyonya Christian yang sangat khawatir.


"Tidak bisa Nyonya. Ikatan langit tidak bisa diputus manusia dengan secara sembarangan. Putra Anda memiliki ikatan yang kuat dengan gadis itu. Namun sayangnya gadis itu antara ada dan tiada saat ini" Ucap Cenayang itu.


Nyonya Christian merasa bingung dengan perkataan cenayang itu. Entahlah dia harus pasrah atau berusaha mencari cara agar putranya bisa terlepas dari ikatan yang dikatakan cenayang itu. Tidak mungkin dirinya membiarkan garis keturunan putus karena hal itu.


"Aku harus mencari cara. Apapun itu" Ucap Nyonya Christian gelisah.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-

__ADS_1


__ADS_2