Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Hadiah Untuk Baruna...


__ADS_3

Baruna kembali ke apartemennya bersama Snowy.


Dirinya langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Pikirannya masih belum tenang.


Selesai membersihkan diri, Baruna berjalan keluar dari kamar menuju meja makan.


Snowy tampak sibuk memasak makan malam untuk mereka.


"Sebentar lagi siap. Duduk lah" Ucap Snowy yang sibuk memasak.


Snowy memang suka memasak karena itu dia lah yang lebih sering memasak di apartemen di bandingkan Baruna.


"Siapa yang berani mencelakakan Papa ya?" Tanya Baruna menatap Snowy.


"Entahlah. Apa mungkin mereka lagi?" Terka Snowy, dia juga tidak mengetahui siapa pelakunya.


"Aku ingin sekali menemui Papa dan memastikan dia tidak terluka berat" Ucap Baruna merasa sedih.


"Tenang lah. Ada Ethan" Ucap Snowy menenangkan Baruna.


Snowy yakin Ethan bersungguh-sungguh menjaga kedua orang tua Ethan.


Terbukti dari kemarahan Ethan pada pengawalnya saat mengetahui Pak Mustofa mengalami kecelakaan.


Ethan tampak memperlakukan orang tua Baruna seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Kau yakin?" Tanya Baruna menatap Snowy.


"Tentang?" Tanya Snowy kembali.


"Ethan" Jawab Baruna singkat.


"Naluri anjing ku berkata dia manusia yang bisa menjaga janjinya. Abaikan hal lain, setidaknya dia bisa membantu mu menjaga keluarga mu disaat dirimu sendiri tidak bisa berdekatan dengan keluarga mu. Kau tidak punya pilihan lain Baruna" Jelas Snowy serius.


"Mungkin kau benar. Atau aku yang terlalu pesimis dan mencurigai setiap manusia" Ujar Baruna lirih.


"Kau juga dulunya manusia, dan sekarang juga kau masih setengah manusia" Ucap Snowy mengingatkan.


"Benar. Tapi sepertinya aku sudah kehilangan sifat manusia ku semakin ke sini. Entahlah, jujur aku bingung" Jelas Baruna merasa kebingungan sendiri dengan perasaannya.


"Sudah, lupakan hal itu dulu. Sekarang makan ini. Sebentar lagi purnama akan datang. Jangan sampai kau kehabisan tenaga menghadapi hukuman mu" Ucap Snowy mengingatkan Baruna.


Baruna tertegun sejenak. Dirinya melupakan malam purnama hari itu. Malam dia akan mendapatkan hukumannya.


Snowy dan Baruna duduk makan bersama sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan lagi esok harinya.


.


.


Ethan baru selesai meeting dengan kolega dari Papa-nya, kini dia kembali ke kantor dan melihat kotak perhiasan di laci meja kantornya saat hendak merapikan barang sebelum pulang.


"Astaga. Aku lupa memberikan ini pada Baruna" Ucap Ethan.


Dirinya memang menyiapkan sebuah kalung emas yang indah berukiran Naga dan Merak. Kalung yang berwarna rosegold itu tampak sangat mewah dan cocok untuk Baruna.


Segera dirinya menuju parkiran mobil untuk menemui Baruna di apartemen nya.


Dia yakin Baruna ada di apartemen saat ini. Entah apa yang membuatnya begitu yakin dengan feelingnya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mobil Ethan tiba di parkiran apartemen Baruna.


"Apa aku langsung menemuinya saja ya? Jika aku menelepon apa alasanku" Pikir Ethan.


Dirinya sangat yakin Baruna akan menolak jika dia meminta untuk bertemu malam-malam. Apalagi dengan alasan ingin memberikan Baruna kalung sebagai hadiah pertemanan mereka.


"Aku langsung ke tempatnya saja" Ucap Ethan meyakinkan diri.


Ethan berjalan masuk ke dalam loby apartemen dan menanyakan pihak penjaga tentang unit dan lantai tempat tinggal Baruna.


Ethan beralasan dia merupakan teman bisnis dari sosok Avisa dan ingin mengembalikan barang yang tertinggal.


Melihat penampilan Ethan membuat penjaga di sana percaya percaya saja pada Ethan bahkan memberi akses untuk Ethan menaiki Lift.


Lift tiba di lantai tempat tinggal Baruna.


Ethan segera mencari nomor unit milik Baruna lalu menekan bell unit itu.


Ting... Tong....


Ethan menunggu beberapa waktu dan tak lama pintu unit di buka.


Terlihat Snowy yang membuka pintu unit itu.


"Snowy.. " Ucap Ethan perlahan.


Baru saja Ethan ingin bertanya dimana Baruna, Snowy langsung menarik Ethan masuk ke dalam apartemen.


"Ada ap-"


Snowy menutup mulut Ethan agar tidak bersuara.


Mata Snowy memberi kode untuk melihat ke arah ruang tamu.


Ethan melihat tubuh Baruna yang bercahaya. Baruna tampak bersemedi dengan kusyuk.


Baruna hanya berpakaian sport bra dan celana olahraga panjang. Menunjukkan tubuh atletis Baruna. Namun anehnya tato yang pernah Ethan lihat tidak tampak di tubuh Baruna saat itu.


Ethan tercengang saat melihat 7 warna cahaya berputar-putar mengelilingi Baruna, dan sesekali tampak Baruna sepernti menahan sesuatu dan berusaha bernafas dengan normal.


Terlihat kilatan cahaya mengelilingi Baruna dan tak lama cahaya itu satu persatu menabrak Baruna dan masuk kedalam tubuh Baruna.


Setiap cahaya itu merasuki tubuh Baruna, saat itu juga Baruna turut mengeram kesakitan.


Tak sadar Ethan menitik kan air mata saat melihat Baruna kesakitan. Bahkan saat cahaya ke-7 memasuki jantung Baruna, Baruna langsung memuntahkan darah segar.


Reflek Ethan berlari menuju Baruna dan langsung memeluknya.


Snowy membawakan sebotol air mineral untuk Baruna. Perlahan Ethan menyuapi air itu untuk Baruna.


Setelahnya tubuh Baruna berangsur-angsur membaik. Dan seluruh tato di tubuh Baruna kembali muncul.


Ethan masih bingung melihat fenomena itu dan hanya mampu diam dan tetap memeluk Baruna agar bersandar di dadanya dan beristirahat sejenak.


Setelah kesadaran Baruna pulih, dia terkejut dengan posisi kepalanya bersandar di dada Ethan yang bidang itu.


Baruna langsung menjauhkan tubuhnya dari Ethan.


"Kenapa?" Tanya Ethan saat melihat Baruna yang menjauh.


"Tidak apa-apa. Kau untuk apa kemari?" Tanya Baruna datar.

__ADS_1


"Ah iya. Maaf. Ini" Ucap Ethan menyodorkan kotak perhiasan kalung itu untuk Baruna.


Baruna menatap Ethan dengan pandangan bingung.


"Untuk mu. Hadiah pertemanan" Ucap Ethan sambil tersenyum tulus.


Baruna menerima kotak perhiasan kalung itu dan membukanya.


Kalung berwarna rosegold dengan ukiran Naga dan Merak itu tampak sangat indah dan memukau. Bahkan di bagian mata Naga itu tampak berwarna hijau dan kuning.


"Aku tidak bisa menerima barang mewah seperti ini" Ucap Baruna menyodorkan kembali kotak perhiasan itu kepada Ethan.


"Kau harus menerimanya" Ucap Ethan bersikeras.


"Kenapa harus?" Tanya Baruna kesal. Dia tidak ingin menerima apa pun dari Ethan.


"Sebagai bukti bahwa kita memang akrab dan benar kita saling mengenal dan bekerja sama. Hal yang wajar jika aku memberi hadiah kepada investor besar ku" Ujar Ethan beralasan. Meskipun itu hanya alasan klasik. Namun setidaknya itu adalah alasan paling logis dan tepat agar Baruna mau menerima kalung pemberiannya.


"Maksud mu?" Tanya Baruna memastikan perkataan Ethan.


"Kita akan bersama ke acara Frans. Di sana banyak orang luar bahkan saudara sepupu mu yang sudah mengambil alih semua hak Papa dan Mama mu. Jika ingin orang percaya kita memang dekat dan berhubungan bisnis. Ini salah satunya. Kau harus memakai kalung itu dan mencuri perhatian mereka. Mereka pasti akan mendekati mu dan bertanya-tanya"


" Jadikan aku alasan untuk mu bertindak apapun. Dan jangan segan-segan bersandar pada bantuan ku. Aku akan melindungi mu Baruna. Kau tidak bisa selamanya menggunakan kekuatan alam lain. Apalagi jika bertemu dengan orang yang juga mendapatkan perlindungan dari mahluk tak kasat mata" Jelas Ethan panjang lebar.


Perkataan Ethan memang benar dan logis. Baruna harus berhati-hati dalam bertindak jika berada di antara banyak orang.


Baruna memutuskan mengikuti saran dari Ethan.


"Baiklah. Aku ikuti perkataan mu kali ini. Tapi jangan menjadikan ini sebagai alasan lagi untuk memberiku hadiah. Ini adalah yang pertama dan terakhir. Mengerti?" Tanya Baruna tegas.


"Aku mengerti" Jawab Ethan tersenyum lega.


"Dan besok datanglah ke kantor Om Hilman. Aku akan menyerahkan salah satu tanah Avisa untuk kau olah tanpa benefit" Ucap Baruna.


Ethan tertegun mendengar perkataan Baruna.


"Pahami lah jika di dunia ku tidak bisa menerima kebaikan manusia tanpa balas. Jadi itu balasan ku" Ucap Baruna lalu beranjak meninggalkan Ethan bersama Snowy di ruang tamu.


Baruna masuk ke kamar sambil membawa kotak perhiasan dari Ethan.


Tubuh Baruna terasa lelah. Dirinya langsung merebahkan diri di atas ranjang yang empuk dan tertidur.


Di ruang tamu Ethan hanya diam, dia tidak mungkin melawan perkataan Baruna yang terdengar tajam tadi.


"Ikuti saja mau nya. Dia sangat keras. Beruntuk kau tidak dibunuhnya dan dia masih mau memanfaatkan dirimu untuk tujua balas dendamnya" Jelas Snowy yang paham kesedihan Ethan.


Ethan tidak membutuhkan balas budi dari Baruna. Dia tulus memberikan hadiah itu dan apapun untuk Baruna.


"Dan perkataan Baruna benar. Di dunia kami sangat perlu membalas budi kebaikan orang sekecil apapun. Kami tidak seperti manusia yang tidak tahu balas budi" Ucap Snowy sambil tersenyum lalu beranjak membereskan kembali kursi sofa dan meja yang disingkirkan tadi.


Ethan masih diam dan menatap ke arah kamar Baruna.


"Aku tidak akan menyerah untuk mu Baruna. Aku mencintai mu" Gumam Ethan.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.

__ADS_1


-linalim-


__ADS_2