
"Ada apa?"
"Ada suara"
Ucap Zaky menjawab pertanyaan Snowy lalu mendekati pintu ruangan kecil dan mulai membuka pintu itu.
Baru saja pintu terbuka sedikit, seekor tikus melompat keluar ruangan itu melewati kaki Zaky.
"Astaga! Sial! Ternyata tikus"
Umpat Zaky yang memang terkejut. Dia membatalkan diri untuk membuka ruangan itu. Hanya seekor tikus pikirnya.
Snowy tampak diam tidak berekspresi. Tentu saja dia sebenarnya juga takut wajah Avisa di lihat oleh Zaky. Namun jika itu terjadi maka dia sudah menyiapkan skenario lain agar tidak menyeret wajah Avisa yang di kenal baik itu.
Tubuh Avisa hanya di pinjam Baruna, jadi dia tidak boleh membuat nama baik Avisa di rugikan. Selain itu juga akan membuat pergerakan Baruna terhambat membalaskan dendamnya nanti.
Baruna dan Ethan membeku dan masih harap-harap cemas semoga Zaky tidak membuka pintu ruangan itu begitu saja.
"Zak. Ayo biar aku suguhkan kopi untukmu"
Ucap Snowy terdengar datar di luar sana.
"Okey. Ayo"
Sambut Zaky terdengar antusias. Pria muda yang sangat tamak itu sepertinya sangat tertarik dan percaya pada Snowy.
Suara langkah kaki mereka terdengar menjauh. Baruna dan Ethan pun mulai mengintip sedikit keluar pintu. Memastikan Zaky sudah pergi bersama Snowy.
Setelah memastikan semua aman, Keduanya bergegas keluar dari gedung kantor itu dengan tergesa-gesa.
"Untung saja"
Ucap Baruna seketika masuk ke dalam mobil Ethan.
Baik Baruna maupun Ethan tampak terengah-engah dan berusaha mengatur nafas masing-masing agar lebih tenang.
Setelahnya Ethan tampak menatap heran pada Baruna.
"Apa? " Tanya Baruna yang merasa heran dengan tatapan Ethan.
"Kau bukannya bisa berubah wujud kapan saja? "
__ADS_1
Tanya Ethan heran. Dia baru ingat Baruna yang kini berwujud Avisa bukan manysia biasa.
Tidak sulit bagi Baruna berubah wujud menjadi apapun. Tapi kenapa tari dia tidak merubah wujudnya.
"Aku tidak bisa berubah sesuka hati apalagi menggunakan wujud orang lain. Untuk mengurus masalah pribadi ku. Jika sampai wujud orang yang ku pakai mendapat masalah maka aku juga akan mendapat hukuman. Tindakan kita ini termasuk melanggar hukum. Makanya aku tidak bisa membiarkan Zaky tau aku terlibat dalam kejadian ini"
Jelas Baruna dengan panjang.
Ethan tampak mengangguk. Lalu dia kemudian heran. Bagaimana dengan Snowy nantinya.
"Terus Snowy? Dan wajah orang yang ada di kantor itu? "
Tanya Ethan kebingungan.
"Snowy dan yang lainnya di mata Zaky itu berwajah orang lain. Dan itu wajah orang-orang yang sudah lama meninggal. Tentu jika pun di laporkan ke polisi tidak akan ada yang percaya pada Zaky. Orang meninggal bertahun-tahun tiba-tiba bangkit? hal yang mustahil"
Ucap Baruna dengan tenang. Jika untuk masalah kantor sudah dia rencanakan sematang mungkin.
Hanya kejadian hari ini benar-benar di luar dugaan mereka.
"Kita makan dulu sebelum aku antar kau pulang"
Ucap Ethan yang melirik jam di tangannya. Waktu sudah hampir memasuki jam makan siang.
Tanya Ethan pada Baruna.
"Apa saja aku bisa"
Jawab Baruna singkat. Hal itu tentu membuat Ethan tersenyum.
Baruna selalu mengikuti apapun yang Ethan katakan secara tak langsung.
Tidak seperti di awal, Baruna sangat menjaga jarak.
Mungkin karena sudah terlalu lama bersama dan Ethan juga memenuhi janjinya pada Baruna, hal itu membuat Baruna sedikit luluh dan nyaman.
Apalagi Ethan sudah melindungi dan menyelamatkan Baruna selama beberapa waktu ini.
Keduanya melangkah masuk ke dalam restoran sushi. Restoran itu tamoak belum ramai karena baru akan memasuki jam makan siang.
Kehadian sosok Avisa di sana tentu menjadi perhatian para pelayan restoran yang memang sangat mengagumi wanita cantik itu.
__ADS_1
Baruna dan Ethan segera duduk di meja sushi bar. Baruna lebih suka duduk di sana agar bisa meraih jenis sushi apa yang sedang lewat untuk di nikmati.
"Sepertinya aku akan makan banyak".
Ucap Baruna sambil tersenyum tipis.
" Tentu saja. Kau terlalu kurus".
Ucap Ethan sambil meraih satu piring sushi yang lewat dari conveyor belt alias meja berjalan untuk menyajikan sushi.
Seseorang mendekati keduanya.
"Wah. Sedang makan siang juga di sini. Boleh aku bergabung? "
Tanya pria yang ternyata ada Frans itu.
Baruna dan Ethan refleks menoleh ke arah Frans yang datang bersama seorang gadis muda. Gadis itu tampak sangat polos dan penakut.
"Silahkan saja. Ini tempat umum bukan rumahku"
Jawab Ethan terdengar ketus pada Frans.
Frans malah tersenyum dan membawa gadis itu duduk bersama mereka. Frans duduk di sebelah Baruna.
Kini Baruna di apit oleh dua pria yang pernah menyakitinya.
Frans yang sangat ingin dia bunuh. Dan Ethan yang pernah melukai harga dirinya namun kini berubah bak pangeran berkuda hitam yang mulai memasuki dunia baru milik Baruna.
Frans tampak meraih satu piring sushi dan mencoba memberikannya pada Baruna.
Namun respons tangan Ethan lebih cepat dari Frans.
Ethan mendorong pelan piring sushi yang hendak di berikan Frans pada Baruna.
"Dia hanya makan apa yang dia ambil dan aku ambil. Jangan memberikan apapun padanya dengan tangan beracun mu Tuan Frans"
Ucap Ethan terdengar tegas dan serius. Mata Frans dan Ethan saling menatap tajam seolah ada sinar panas yang keluar dari mata masing-masing.
.
.
__ADS_1
.