Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Penuh Topeng...


__ADS_3

Siang itu Baruna bersantai di rumah. Dia teringat keinginan Frans menemuinya. Tapi Baruna tidak ingin bertemu dengan Frans. Dia ingin membuat pria bajingan itu semakin penasaran dengan sosok Avisa.


"Kau akan pergi?" Tanya Snowy.


"Tidak. Aku tidak akan menemuinya" Ucap Baruna dengan santai.


"Apa kau tidak ingin lebih cepat menghancurkan nya?" Tanya Snowy heran.


"Tidak secepat itu. Aku akan menyiksa nya perlahan. Percayalah, saat ini dia akan sangat tersiksa karena kesulitan mendekati sosok Avisa yang membayang bayangi hidupnya. Dia pasti sudah bermimpi yang bukan bukan dengan meng imajinasi kan sosok Avisa" Ucap Baruna yang paham betul karakter Frans.


"Ya terserah lah. Apa perlu aku berikan kejutan kecil dalam hidupnya?" Tanya Snowy menawarkan. Menyenangkan baginya melihat para pendosa menderita.


"Jangan sekarang. Akan ada waktunya. Ah lebih baik aku pergi berolahraga" Ucap Baruna lalu berganti pakaian olahraga. Dia memasang airpod di telinga nya dan mulai mengelilingi sekitaran tempat tinggalnya.


Seseorang langsung mencekal tangan Baruna secara tiba-tiba. Baruna hampir reflek memukuli orang itu.


"Kau?? Ethan?? Ngapain disini?" Tanya Baruna heran melihat Ethan yang muncul disekitar apartementnya.


"Aku ingin mengajakmu makan siang. Sebagai ganti acara kemarin" Jelas Ethan sambil tersenyum.


"Tidak bisa. Snowy tidak bisa aku tinggalkan. Dia juga belum makan" Jelas Baruna menolak ajakan Ethan. Dia tidak ingin bertemu siapapun hari ini.


"Tidak bisa kah kau meluangkan waktu untukku sebentar?" Tanya Ethan dengan wajah memelas.


"Maaf. Tidak untuk hari ini. Aku permisi" Ucap Baruna dengan tegas menolak. Dia tidan jngin berlama-lama bersama Ethan. Bayangan luka lamanya semakin besar saat melihat wajah Ethan.


Etahn yang di tinggalkan oleh sosok Avisa hanya mampu nenghela nafas panjang.


"Baruna... Aku yakin itu kau.. Apa kau kecewa karena aku belum menepati janjiku?" Gumam Ethan perlahan.


.


Baruna merasa kesal. Waktu olahraganya terpaksa berhenti saat itu juga.


"Sial!! Apa tidak bisa aku tenang sehari saja. Astaga. Ingin sekali aku berganti wajah agar tidak diganggu" Keluh Baruna.


"Bertemu siapa?" Tanya Snowy mengejek.


"Ethan" Jawab Baruna singkat.


"Kau dan dia sepertinya punya takdir yang unik" Ucap Snowy sambil tertawa mengejek.


"Entahlah aku tak ingin memikirkannya. Aku akan bertemu kenalan Papa Avisa. Kau mau ikut?" Tanya Baruna.


"Boleh. Aku juga bosan di dalam apartement seharian" Ucap Snowy.


Baruna segera berganti pakaian casual yang sopan. Dia akan menemui teman dari Papanya Avisa di sebuah restoran. Terkait kerja sama bisnis yang sudah lama terjalin antara orang itu dengan keluarga Avisa.


Mobil Baruna melaju menuju sebuah restoran mewah. Baruna memarkirkan mobilnya dengan baik dan membawa snowy ikut masuk.


Belum sempat melangkah masuk seorang pelayan mencegat Baruna.

__ADS_1


"Maaf mbak hewan peliharaan tidak di ijinkan masuk" Ucap pelayan itu sesopan mungkin.


"Oh. Okey" Baruna tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan ponselnya.


Dia menelepon teman Papa Avisa.


"Halo Om. Avisa sudah sampai tapi tidak bisa masuk"


"... "


"Iya katanya hewan peliharaan tidaknbisa di bawa masuk. Om tau kan Avisa dan Snowy sudah sepaket tidak mungkin Avisa meninggalkannya di mobil atau diluar sini"


"... "


"Oke"


Baruna menutup telepon itu. Dan tak lama seseorang berpakaian rapi dengan jas muncul di luar restoran.


"Maaf dengan Nona Avisa?" Tanya orang itu.


"Iya" Jawab Baruna sambil tersenyum.


"Silahkan ikut saya" Pria itu langsung membawa Baruna dan Snowy menuju sebuah ruangan khusus yang lebih mirip paviliun kecil di dekat restoran utama.


Baruna dan Snowy masuk ke dalamnya. Terlihat beberapa orang tampak duduk bersama di sofa ruangan itu.


"Halo Avisa. Kau semakin cantik saja dari terakhir Om jumpa" Ucap Mino -teman Papa Avisa.


"Ah tidak masalah. It's okay. Lagi pula Snowy anjing yang sangat pintar. Ya kan Snowy?" Ucap Mino sambil mengelus kepala Snowy.


Baruna dan Snowy pun ikut duduk di sofa itu. Baruna melihat seseorang yang dia kenali.


'Ronaldi si tua bangka mesum. Sepertinya langit memihak ku tak perlu mencari kau dengan susah payah' batin Baruna.


Baruna masih ingat jelas perlakuan Ronaldi yang mencoba menidurinya dan saat ketahuan malah mengkambing hitamkan Baruna telah menggodanua agar mau ikut investasi di proyek.


Baruna dicecar oleh istri Ronaldi bahkan di paksa membuat video pernyataan maaf karena sudah mencoba merayu suaminya. Baruna di permalukan.


Tak ada saksi mata yang bisa membantu Baruna. Di tambah Baruna yang diancam akan di laporkan ke polisi karena tindak perselingkuhan, Baruna yang sudah kalut dengan semua masalahnya tidak mampu melawan dan hanya menerima di permalukan oleh keluarga Istri Ronaldi.


"Kenalkan ini Avisa. Dia yang akan menjadi pengganti semua bisnis keluarganya. Bukan begitu Avisa?" Tanya Mino dengan ramah pada Baruna.


"Benar Om. Tapi apapun keputusan ku tentu harus aku bicarakan dengan kuasa hukum ku. Dia lebih tahu betul tentang bisnis Papa" Ucap Baruna dengan santai.


"Baik. Aku mengerti. Tidak masalah" Ucap Mino yang paham sejak kecil Avisa tidak pernah ikut campur dalam bisnis keluarganya. Bahkan hingga kuliah dirinya tidak diperbolehkan ikut mengurus bisnis itu.


Tidak ada yang tahu pasti kenapa. Mereka menganggap kedua orang tua Avisa ingin memanjakan Avisa anak satu satunya tanpa harus bekerja.


Padahal sebenarnya mereka tidak ingin bisnis yang mereka bangun dengan bantuan mahluk dunia lain itu berimbas pada Avisa dan keturunannya. Awalnya mereka ingin Avisa terbebas dari perjanjian mereka. Tapi saat terdesak malah Avisa juga yang menjadi umpan agar mereka sendiri selamat. Luar biasa sekali bukan? Saat uang dan kekuasaan bisa membeli ikatan darah??


"Nama yang cantik. Avisa" Ucap Ronaldi menatap lekat pada Baruna. Tatapan yang penuh nafsu itu membuat Baruna seketika merasa jijik dengan manusia itu.

__ADS_1


"Ah kenalkan ini Ronaldi. Beliau salah satu distributor pengadaan barang" Ucap Mino mengenalkan Ronaldi pada Baruna.


Baruna hanya menyalami sekedar sopan santun pada Ronaldi. Wajah Ronaldi memang tampan dan tubuhnya masih atletis. Berbeda dengan om om yang hampir berusia 50 tahun pada umumnya. Terlebih sifat ramah dan sopan santunnya saat bertemu orang-orang tentu menjadi daya tarik dan nilai olus bagi Ronaldi. Tidak ada yang akan menyangka Ronaldi merupakan pria hidung belang yang sering mencari gadis muda untuk di bawa kekamar bersamanya. Begitu juga dengan Baruna yang dulu tidak menyangka keramahan dan kesopanan Ronaldi hanya sebuah topeng belaka.


"Avisa saat ini juga sedang membangun rumah singgah yang baru bukan? Berarti proyek rumah singgah yang oertana sudah selesai ya" Tanya Mino yang tahu Baruna sedang membangun banyak rumah singgah bagi orang tidak mampu juga anak anak yatim piatu.


"Iya Om. Bangunan proyek pertama lebih kecil jadi lebih cepat selesai. Sedangkan yang sekarang berjalan lebih luas jadi memakan waktu yang mungkin akan agak lama" Jelas Baruna dengan senyuman manisnya.


"Ah. Boleh tuh coba diskusi dengan Pak Ronaldi. Dia banyak membantu membangun bangunan dengan cepat tapi hasil dan kualitas tetap oke" Ucap Mino menawarkan.


Ronaldi tampak tersenyum pada sosok Avisa yang dangat cantik dan menarik di hadapannya itu.


Baruna hanya tersenyum tipis tidak ingin menanggapinya.


Selesai berbincang mereka menikmati makan siang bersama. Baruna mengeluarkan piring makan untuk Snowy dan meletakkan dua potong ayam goreng yang sangat enak dan harum untuknya.


"Kau pecinta binatang?" Tanya Ronaldi.


"Iya" Jawab Baruna singkat.


Ronaldi semakin penasaran dan ingin coba mendekati Baruna. Namun ponselnya berbunyi. Tampak Ronaldi menjauh menerima telepon itu. Dirinya mengangkat telepon itu dengan berbisik takut ada yang mendengarnya.


"Iya sayang"


"... "


"Aku akan kesana setelah mengantarkan wanita lampir itu"


"... "


"Iya aku akan menemani mu hingga kau tidur nanti. Sudah dulu ya sayang. I love you"


Ronaldi menutup teleponnya lalu berpamitan pada yang lain.


"Maaf ya semuanya. Aku duluan mau jemput istri ku" Ucap Ronaldi berpamitan.


"Wah memang suami idaman. Ya sudah hati hati ya" Ucap Mino memuji Ronaldi yang dikenal sangat sayang keluarga dan cinta mati dengan istrinya itu.


Baruna merasa muak dengan sikap Ronaldi yang penuh topeng palsu itu. Dia ingin memberinya pelajaran agar topeng nya itu terbuka.


Baruna menandai Ronaldi agar dia mudah mendapatkan dimana Ronaldi berada agar bisa dia berikan pelajaran..


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-

__ADS_1


__ADS_2