
Matahari pagi terlihat mulai menunjukkan dirinya, Baruna dan Snowy terlihat berada di halaman luar bersama Kitty.
Sedangkan Ethan masih terdiam di dalam ruangan khusus itu. Dia tertidur sebentar lalu kembali bangun.
Ethan keluar dari kamar khusus itu dan mencari Baruna serta Snowy di halaman luar.
Pelayan yang biasanya membersihkan rumah sudah datang dan mulai membuatkan sarapan untuk Tuan Muda dan tamu - tamu tuannya itu.
"Selamat Pagi"
Sapa Ethan pada Baruna dan Snowy.
Baruna tampak berbalik menatap Ethan sambil tersenyum.
Ethan berusaha bersikap biasa dan tidak mau menceritakan apa yang sudah dia lihat semalam.
"Pagi Tuan Muda" Ucap Snowy meledek Ethan.
Ketiganya tampak tertawa bersama pagi itu. Udara di tempat itu sangat segar dan menenangkan.
"Kita sarapan dulu. Setelah itu kita lanjutkan mencari pedang itu" Ucap Ethan pada Baruna dan Snowy.
Ethan sudah memutuskan tetap akan membantu Baruna meskipun akhirnya Baruna akan tau tentang masa lalu dan membenci Ethan sekali pun. Ethan sudah siap walau nanti dia akan mati di tangan Baruna.
"Oke" Jawab Baruna dan Snowy berbarengan. Mereka tampak lebih santai pagi itu karena tinggal sedikit lagi rumput yang harus mereka babat.
Ketiganya sarapan bersama setelah itu mereka kembali ke Lembah Pelangi untuk membersihkan sisa bagian rumput yang masih belum di bersihkan semalam.
Rumput - rumput itu di kumpul dan di bakar, akhirnya seluruh sudut lembah itu tampak lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih gersang dan saat mereka mencari di sekeliling belum juga menemukan Pedang itu.
__ADS_1
Namun Baruna tidak putus asa. Dia terus mencari bahkan ke setiap sudut di rumah itu. Tapi tidak ada tanda di temukannya pedang milik Kaimana.
Hari semakin sore. Ketiganya mulai lelah menyusuri seluruh lembah bahkan hampir mendekati jurang di ujung barat.
Ketiganya kemudian memutuskan untuk duduk di pinggir bebatuan yang membentuk kolam di air terjun yang sudah mengering itu.
"Kenapa tidak bisa di temukan ya?" Ucap Baruna heran.
"Mungkin tersembunyi di sebuah tempat. Apa di dinding batu itu?" Tanya Snowy menunjuk bebatuan di sepanjang kolam.
"Mungkin saja. Kita istirahat dulu lalu coba kita lihat lebih teliti bebatuan di sana" Ucap Ethan memberi saran.
Baruna dan Snowy setuju dengan ucapan Ethan. Mereka memilih untuk beristirahat sejenak sebelum mulai mencari lagi.
Tanpa sengaja Baruna hampir terjengkang ke belakang. Tangannya dengan cepat menyentuh sebuah daun di pinggir kolam dan membuat tangannya tergores mengeluarkan darah.
"Tidak" Ucap Baruna yang memang baik - baik saja itu.
Tanpa mereka ketahui, darah Baruna membuat perubahan di kolam itu. Suara gemeresik mulai terdengar, air terjun itu tiba - tiba kembali mengalir entah dari mana mata air yang sudah mengering bisa kembali berfungsi.
"Hei lihat itu!" Seru Snowy yang terkejut.
Kolam itu kembali terisi air, bahkan bunga - bunga bermunculan seperti musim semi. Seluruh lembah kembali tumbuh bunga - bunga yang indah terutama bunga teratai. Bahkan kupu - kupu dan burung - burung berterbangan ke arah lembah.
Mereka berdecak kagum. Tempat itu memang indah sekali. Air terjun dan kolam yang terpantul oleh sinar matahari memang membuat tempat itu seperti memiliki pelangi yang indah. Di tambah bunga - bunga berwarna - warni tumbuh di sekeliling tempat itu.
"Ini sangat ini. Terlalu indah di banding Goa milik mu" Ucap Snowy yang sangat menyukai tempat itu.
Baru saja mereka merasa bahagia dan kagum, terdengar suara gemuruh. Sesuatu keluar dari kolam dan hampir melukai mereka.
__ADS_1
Itu pedang milik Kaimana. Pedang itu terlempar keluar dari kolam dan membentur tubuh Baruna. Meski Baruna merasa kesakitan di serang mendadak, dia tetap berusaha mengambil pedang itu.
Baruna seolah di tolak oleh Pedangnya sendiri, dia kewalahan hingga tanpa sadar Ethan maju dan langsung menarik Pedang itu.
Aneh Pedang itu diam dan menurut. Seolah menemukan Tuannya kembali yang sudah memasukkannya ke dalam sana.
Bahkan cahaya merah keoranyean yang pernah Baruna lihat di sekeliling Ethan kini lebih jelas bersinar.
"Wah. Dia sangat menurut pada mu" Ucap Snowy terkejut.
Baruna dan Ethan saling memandang bingung.
"Kau kembali pada pemilik mu ya. Jika memang Aku yang dulu sudah menyimpan mu maka ini saatnya kau kembali pada dia" Ucap Ethan sambil mengelus pelan pedang itu.
"Akh" Tangan Ethan tergores pedang itu dan meneteskan setitik darah pada pegangan pedang.
"Hati - hati. Kau ceroboh sekali" Ucap Baruna yang langsung menyembuhkan luka di tangan Ethan dengan tiupannya.
"Ini, milik mu" Ucap Ethan sambil tersenyum menyerahkan pedang itu pada Baruna.
Baruna menerimanya dengan perlahan serta hati - hati. Takut jika pedang itu mengamuk kembali padanya. Tapi kali ini ternyata tidak. Pedang itu menurut sekali dan mau di sentuh oleh Baruna.
Begitu Baruna menyentuh pedang itu. Dia merasa jiwanya tertarik ke masa lalu. Baruna melihat seluruh kematian yang dia alami. Dia pingsan.
.
.
.
__ADS_1