
Snowy tersenyum tipis. Buruannya masuk kedalam perangkapnya.
Zaky terlihat mendekat ke arah Snowy yang duduk sendirian di meja bar.
Tanpa berkata apa pun, Zaky langsung duduk di sebelah Snowy.
"Cocktail nya satu" Ucap Zaky pada bartender di sana dengan sombongnya.
"Baik Tuan" Jawab Bartender itu dengan senyuman.
Zaky tampak melirik memperhatikan Snowy hingga Snowy berpura-pura menatapmya dengan heran dan senyum tipis.
"Udah sering ke sini? " Tanya Zaky membuka pembicaraan.
"Lumayan. Kau sendiri? " Tanya Snowy sambil tersenyum.
"Sering. Hampir tiap hari. Siapa namamu? " Tanya Zaky langsung sok akrab.
"Hans. Kau? " Tanya Snowy menatap Zaky dengan senyuman misteriusnya.
"Zaky. Senang berkenalan dengan mu" Ucap Zaky mengajak Snowy bersalaman.
"Senang berkenalan dengan mu juga" Ucap Snowy tersenyum.
"Sepertinya kau masih muda" Ucap Zaky.
"Usia ku 23 tahun" Jawab Snowy.
"Wow. Kau masih muda tapi sepertinya kau sangat sukses. Apa pekerjaan mu? " Tanya Zaky penasaran.
"Aku hanya menginvestasikan modal di beberapa proyek dan investasi saham" Jawab Snowy.
"Oh ya? Besar keuntungannya? " Tanya Zaky semakin penasaran.
"Not Bad. Kau sendiri apa pekerjaan mu? " Tanya Snowy berpura-pura tidak tahu.
Padahal Snowy tahu jika Zaky hanyalah anak Mami yang bergantung hidup kepada ibunya -Dea Sari.
"Aku membantu orang tua ku berbisnis. Kau luar biasa sekali masih muda sudah bisa menghasilkan dengan baik" Ucap Zaky kagum.
Zaky sejak dulu ingin sekali bisa hidup mewah tanpa harus susah bekerja atau berbisnis.
Sifatnya yang selalu ingin hidup bebas dan mewah membuat dirinya semakin penasaran cara pria bernama Hans di hadapannya itu berinvestasi dan bermain saham.
Sejak dulu sang ibu tidak mengijinkannya melakukan investasi atau apapun. Karena takut di tipu. Ya karena De Sari juga penipu ulung dan suka mencari keuntungan terutama dari saudaranya sendiri.
Terbukti sang Kakak kandungnya alias Ayah dari Baruna juga tega dia jatuhkan dan celakai kehidupannya demi merebut semua harta peninggalan orang tua kandung mereka alias Kakek Baruna.
"Bisa kau ajarkan aku caranya? Aku sangat tertarik dengan dunia investasi seperti itu" Ucap Zaky jujur.
Zaky merasa pria bernama Hans ini bukan orang sembarang. Dari caranya berbicara, duduk, menikmati minumam dan juga penampilan nya. Terlihat jika Pria bernama Hans itu memang pintar dan tidak akan sembarang berinvestasi.
"Kenapa? Semua investasi itu ada resikonya. Tidak selalu mulus" Ucap Snowy berpura-pura agar Zaky semakin yakin jika dia orang yang bisa di percayai kata-katanya oleh Zaky.
__ADS_1
"Justru orang seperti mu yang ingin aku temukan. Di luar sana banyak yang suka mengajak ku dengan imbalan yang besar tapi hasilnya nol" Ucap Zaky menceritakan apa yang pernah di kenalinya.
"Kau harus paham dulu resiko investasi. Jangan hanya keuntungannya saja Zaky. Karena jika nanti ada sedikit masalah malah kau merasa tidak terima dan stress" Ucap Snowy seolah sangat baik dan peduli pada Zaky.
"Maka dari itu ajarkan aku. Atau ajak aku saja. Aku yakin kau orang yang teliti dan tidak sembarang berinvestasi. Kalau aku rugi tentu kau juga rugi bukan? " Ucap Zaky mendesak agar Snowy mau memberi tahu di investasi apa saja Snowy menaruh modalnya.
"Hmmm. Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika dua hari lagi kita bertemu. Di sini tidak memungkinkan untuk membahas hal itu" Ucap Snowy seolah terpaksa.
"Boleh. Terima kasih kawan! Ah ini kartu nama ku. " Ucap Zaky merasa senang karena akhirnya Snowy mau mengajarkan nya cara berinvestasi.
"Oh ya ini kartu nama ku. Akan aku hubungi kau dua hari lagi. " Ucap Snowy tersenyum.
"Terima kasih. Ah ayo minum. Biar aku traktir" Ucap Zaky berusaha royal kepada calon guru investasi nya itu.
"Tidak usah. Aku sudah baysr termasuk minuman mu" Ucap Snowy dengan santai.
Zaky terkejut mendengar perkataan Snowy. Tak lama waiters mengantarkan black card Snowy dan meminta tanda tangam Snowy untuk bill nya.
Mata Zaky semakin berbinar. Dia belum pernah memiliki black card yang di kenal unlimited itu.
"Aku duluan ya. Ada yang harus aku lakukan. Sampai jumpa dua hari lagi" Ucap Snowy sambil meletakkan dua lembar uang seratus ribuan di baeah gelas minumnya sebagai tips untuk pelayan di sana.
Zaky melihat hal itu dan semakin kagum dan penasaran dengan Snowy.
"Baiklah. Akan aku tunggu" Ucap Zaky.
Snowy tersenyum meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke apartemen.
.
.
"Cari tau apa yang di lakukan Frans belakangan ini" Ucap Ethan kepada asistennya di kantor.
"Untuk apa Tuan? " Tanya asistennya itu terheran. Tidak biasanya Ethan mau tau tentang aktivitas orang lain.
"Lakukan saja. Ada yang harus aku urus. Berhati-hati jangan sampai ketahuan. Paham? " Titah Ethan mengingatkan Asistennya.
"Paham Tuan. Akan segera saya laksanakan" Ucap Asisten itu lalu pamit dari ruangan Ethan.
Ethan berdiri dan berjalan menuju kaca besar di ruangan nya.
Ethan menatap jauh ke gemerlapnya lampu jalanan.
"Ada sesuatu yang aneh. Jika benar sepertinya Frans di lindungi cenayang aneh itu" Ucap Ethan yang kini semakin waspada.
Deg!
Jantung Ethan tiba-tiba berdegub kencang. Ethan kembali teringat mimpinya.
"Itu hanya mimpi. Pasti itu hanya mimpi. Itu pasti pertanda agar aku menjaga Baruna dengan baik" Ucap Ethan pada diri nya sendiri.
Cklek...
__ADS_1
Pintu ruangannya terbuka dari luar. Ethan mengira itu salah satu karyawannya atau asistennya yang masuk.
Tanpa menoleh Ethan hanya berbicara datar.
"Keluar. Aku sedang tidak ingin di ganggu" Ucap Ethan dengan dingin.
"Okey"
Suara Baruna terdengar. Ya Ethan sangat menghafal suara dari orang yang selalu ada di hati dan pikiran nya itu.
"Ah Una. Maaf. Aku pikir karyawanku" Ucap Ethan yang langsung menghampiri Baruna.
Ethan langsung menarik Baruna untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Apa ada masalah? Kau perlu bantuan ku? " Tanya Ethan langsung.
Ethan yakin Baruna datang karena membutuhkan bantuan Ethan untuk melakukan sesuatu pada musuh-musuhnya.
"Ya. Aku butuh beberapa bangunan dan gedung kosong yang bisa di sewa sementara sebagai kantor palsu" Ucap Baruna tanpa basa basi.
"Untuk? " Tanya Ethan heran dengan permintaan Baruna yang menitutnya sosom Avisa memiliki hal itu tanpa harus meminta bantuan dari Ethan.
"Mengambil kembali semua yang mereka rampas dari orang tua ku" Ucap Baruna dengan tatapan penuh amarah terpendam.
Ethan akhirnya paham maksud Baruna. Hal yang di lakukan Baruna tentu akan berbahaya untuk nama Avisa yang di kenal baik dan dermawan. Tentu Baruna harus menyamarkan semua agar tidak terlacak jika perbuatan perusahaan palsu itu di lacak polisi.
"Kau mau menjebak Zaky? Tapi kau juga butuh karyaean" Ucap Ethan mengingatkan Baruna.
Dimana mereka bisa mencari orang yang bisa tutup mulut bekerja sama dan tidak bisa tertangkap jika Zaky melaporkan hal itu ke pihak berwajib suatu saat nanti.
"Tidak perlu. Kau lupa siapa aku. Aku bisa menggunakan orang-orang dari Ratu Pantai Selatan untuk menyamar" Jawab Baruna dengan santai.
Ya selama ini Baruna banyak menempatkan orang-orang jelmaan itu untuk mencari petunjuk atau mengawasi musuhnya sebelum dia mulai menyerang.
"Baiklah kalau begitu. Beri waktu aku sampai besok. Akan aku urus sendiri" Ucap Ethan sambil tersenyum.
"Kau akan turun tangan sendiri? " Tanya Baruna penasaran.
"Tentu. Aku tidak bisa melibatkan karyawan perusahaan Papa ku ini. Aku akan turun tangan sendiri" Ucap Ethan dengan yakin.
"Kau harus berbuat sejauh itu kah? " Tanya Baruna lagi.
"Aku sudah berjanji akan membantu mu dan menjaga mu. Aku juga sudah meminta mu memanfaatkan ku sebaik mungkin. Jadi percayalah. Aku akan membuatnya serapi mungkin" Ucap Ethan meyakinkan Baruna.
"Ah iya aku hampir lupa kau juga punya hubungan bisnis berbahaya sama seperti Frans. Tentu tidak masalah untuk mu" Ucap Baruna.
"Kau benar. Jadi lakukan saja apa yang kau inginkan. Beritahu aku apapun itu dan akan aku lakukan untuk mu" Ucap Ethan bersungguh-sungguh dan menatap dalam mata Baruna.
"Maaf Arvie. Aku gagal"
"Kaimana "
Deg!
__ADS_1
Baik Baruna mau pun Ethan sama-sama teringat mimpi mereka. Namun tak satu kata pun yang membuat mereka mau menceritakan mimpi masing-masing.
Hanya keduanya tampak saling menahan sakit perasaan mereka akibat mimpi itu.