Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 95


__ADS_3


...***...


Mendengar ucapan Widya yang mengatakan bahwa ia ikut berlibur bersama sahabatnya, seakan menjadi angin segar untuk semua orang yang sedang menantikan kembalinya seorang Widya. Mereka begitu bahagia melihat Widya yang kembali bersemangat.


Dunia Widya sedang ramai saat ini. Banyak sahabat dan orang-orang terdekat yang begitu setia mendampingi, menghibur, dan mengajaknya tertawa. Semua yang disayanginya kini selalu di sampingnya, membuat Widya sedikit terhibur.


Widya pun belakangan ini sering melakukan check up, untuk mengetahui perkembangan kondisinya. Ia selalu berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya, melakukan apa pun yang mereka inginkan, agar mereka tidak mengkhawatirkan kondisinya.


Sayangnya, di saat mereka berpikir tentang kondisi Widya yang membaik, nyatanya berbeda dengan yang dirasakan gadis itu. Setiap malam, setelah mereka meninggalkan Widya sendirian di dalam kamar, di sanalah Widya kembali merasa sendiri. Rasa sepi seakan menghampiri, memeluk dan mendekap erat tubuhnya.


Seperti saat ini, tepat tengah malam ia kembali terbangun dari mimpi buruk. Mimpi yang selalu membuatnya terbangun dan kembali merenung. Ia memilih bersandar di heabord dan menekuk lututnya, agar mudah untuk ia menyembunyikan wajah. Dengan begini, ia merasakan kehadiran Nathan yang begitu ia rindukan.


“Wid.” Widya mendengar suara yang ia rindukan menggema di telinganya. Suara khas lelaki yang begitu dicintainya. Ia segera mengangkat wajah, dan mendapati seorang lelaki yang tengah berdiri di balkon kamarnya, tepat di depan jendela. Lelaki itu terlihat sedang mendekap tubuhnya erat. Wajahnya pun sangat pucat dan bibirnya bergetar menahan hawa dingin yang mungkin menusuk.


Widya pun bangkit dari tempat tidur dan berlari menghampirinya. Membuka jendela yang dipenuhi teralis besi. Membuat serbuan angin seketika menyeruak memenuhi seluruh kamarnya.


“Nathan, kenapa kamu nggak masuk?”


“Aku nggak bisa masuk, Sayang,” jawabnya masih dengan suara bergetar.


Semenjak Widya mencoba mengakhiri hidupnya, sesegera mungkin kedua orang tuanya memberikan pengamanan ekstra di rumahnya. Mereka mulai mempekerjakan satpam. Bahkan, pintu antara balkon dan kamarnya pun ditutupi teralis untuk menghindari kejadian yang tidak mereka inginkan.


Widya dengan paksa pun mencoba membuka teralis yang menghalanginya. “Nathan, ini nggak bisa dibuka,” ucapnya gelisah.


Melihat Nathan semakin menggigil, ia berusaha untuk kembali menarik dan mendorong teralis itu dan masih tetap gagal. “Kenapa susah, sih?!” teriak Widya yang sudah diliputi rasa emosi.


Wajah Nathan semakin pucat dengan suhu yang semakin menurun. Hal itu membuat Widya frustrasi. Sekarang Nathan butuh kehangatan, tetapi ia tidak bisa memberikan. Sedangkan saat ia sedang dalam keadaan susah, Nathan selalu ada di sampingnya untuk membantunya.


Namun, sekarang ia terlihat begitu lemah. Ia tidak bisa membantu kekasihnya, membuat Widya merasa tidak berguna bagi Nathan. Widya berjalan ke sana kemari untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan, tetapi nihil. Ia mengerjap menahan air mata agar tidak jatuh. Widya kembali dibuat kebingungan saat melihat tubuh Nathan yang kini sudah meringkuk kedinginan.


“Sayang, bertahanlah!” Widya mulai mencari benda keras. Ia ambil kursi di sebelah mejanya, lalu memukulkannya ke arah teralis. Niat hati ingin membuat teralis itu rusak, justru yang di dapat adalah kaca jendela yang pecah karena pukulannya.


Widya melihat beberapa pecahan kaca mengenai tubuh Nathan hingga mengeluarkan darah di beberapa bagian tubuhnya.


“Nathan!” teriak Widya histeris. Seketika tubuhnya terduduk lemas melihat tubuh Nathan yang mulai tidak bergerak. Ia tidak menyangka jika perbuatannya justru melukai Nathannya.


Widya sudah tidak bisa berpikir lagi, ia menutup telinganya dan semakin kencang meneriaki nama lelaki yang tubuhnya terkapar di balkon kamarnya.


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar Widya terbuka. Menampilkan Arini dan Bowo yang termangu menatap Widya. “Bunda! Ayah!” Widya memanggil kedua orang tuanya dengan suara bergetar karena tangisnya.


Arini segera berlari menghampiri Widya saat melihat kekacauan yang terjadi. Pecahan kaca bertebaran di mana-mana, dan darah segar mengalir dari tangan Widya. Sedangkan Bowo kembali berlari ke bawah, mencari pertolongan.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Arini yang sedang memeluk putrinya. Ia melilitkan kain yang diambilkan suaminya sebelum meninggalkan mereka.


“Nathan, Bun. Dia berdarah. Aku yang membuatnya berdarah, Bun.”


“Tidak ada Nathan, Sayang,” tegas Arini menangkup wajah Widya.


“Di sana.” Widya menunjuk tepat di luar jendela. “Dia ... dia tadi kedinginan. Widya coba buka jendela nggak bisa. Akhirnya Widya pecahin kaca. Tapi ... tapi pecahan kacanya justru mengenai tubuh Nathan, Bun.” Widya terisak sambil mengeratkan pelukan.


“Sudah, Sayang! Sudah!” Arini terus menenangkan putrinya yang histeris.


“Tapi Widya ingin menemani Nathan, Bun. Kasian ... dia sendirian.” Widya mencoba meminta persetujuan Arini. Namun, Arini menggeleng pelan.


Widya mendorong tubuh Arini dengan kasar dan langsung berdiri. “Bunda! Nathan sendirian, Bunda! Bunda kenapa sekarang jadi jahat?” Tanpa Widya sadari, ia pun berteriak di depan Arini.


Hal itu membuat Arini ikut berdiri dan kembali membawa Widya ke dalam dekapan. “Tenang, Sayang! Habis ini Nathan kita obati, ya. Tapi tangan Widya harus diobati dulu. Nanti biar Widya bisa mengobati Nathan, ya?” Arini tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya. Ia keluarkan semua air mata yang sejak tadi ditahannya.


Tak lama kemudian, Bowo kembali ke kamar, disusul oleh Pak Agus-satpam rumah. “Pak, tolong bersihkan kaca-kaca yang berserakan, ya,” pinta Bowo.


“Sayang, kita istirahat dulu, yuk!” ajak Bowo pada Widya. Arini membantu Widya berjalan. Namun, seketika tubuh gadis itu merosot dan tidak sadarkan diri.


“Pak Agus, tolong siapkan mobil, ya. Saya sama Arini mau bawa Widya ke rumah sakit.”


...*** ...


Arini masih setia duduk di samping brankar putrinya. Sejak sampai di rumah sakit, Arini tidak pernah sedetik pun meninggalkan Widya. Ia selalu menemani putrinya, mulai dari masuk ruang UGD hingga berakhir di kamar inap. Sedangkan Bowo masih harus mengurus keperluan administrasi dan berbincang dengan dokter mengenai keadaan putri kesayangannya.


Dengan keadaan Widya seperti ini, cukup membuat hati Arini terpukul. Ia tidak menyangka, jika putrinya belum sepenuhnya sembuh. Ia merasa bersalah tidak bisa mengerti keadaan putrinya.


“Sayang, bangunlah! Bunda di sini,” lirih Arini sambil mengusap wajah polos Widya. Tangan yang sebelumnya terlilit kain sudah diganti dengan perban.


“Bun ...,” panggil Bowo yang sudah berada di samping Arini. “Bunda makan dulu! Ayah sudah belikan roti.” Bowo menyodorkan kantong kresek yang berisi roti dan air mineral kepada Arini.


“Bunda nggak nafsu makan, Yah. Nanti saja.”


“Ya sudah, ayah taruh di meja, ya,” ucap Bowo, dan Arini mengangguk.


“Apa yang dokter bilang, Yah?” tanya Arini menatap Bowo di sampingnya.

__ADS_1


“Kita bicara di luar, yuk!”


Mereka kini sudah duduk di depan ruang inap Widya. “Bun ...,” panggil Bowo.


“Dokter bilang, jika Widya dalam masa setengah sadar.”


“Maksud Ayah?”


“Mungkin Widya mampu mendengar suara kita. Widya mampu merasakan kehadiran kita. Namun, Widya memilih untuk tetap berada di alam bawah sadarnya. Kesedihan yang ia alami, membuatnya tidak ingin bangun dari kesadarannya. Karena dengan tidak sadarnya Widya, itu membuatnya jauh lebih tenang daripada harus terbangun dan kembali menghadapi kenyataan.”


“Lalu, apa kita akan membiarkan Widya terus menerus seperti ini?”


“Pelan-pelan kita ajak Widya bicara. Bicara sesuatu yang mungkin bisa meresponnya untuk kembali sadar. Itu memang tidak mudah, tetapi kita harus tetap berusaha dan berdoa. Tuhan sayang sama Widya, Bun.” Arini memeluk tubuh suaminya, mencari ketenangan.


...*** ...


Seperti biasa, Kartika dan Karin akan mengunjungi rumah Widya selepas bekerja. “Assalamualaikum, Pak Agus,” sapa Karin pada Pak Agus.


“Waalaikumsalam. Maaf, Neng, di rumah sedang tidak ada orang. Semuanya pergi ke rumah sakit, se-”


“Siapa yang sakit, Pak? Widya?” tanya Kartika cepat.


“Benar, Neng. Semalam Neng Widya histeris sampai pecahin kaca jende-”


“Terima kasih infonya, Pak! Assalamualaikum!” Karin dan Kartika langsung panik. Mereka bergegas masuk ke mobil untuk menuju rumah sakit tanpa mendengarkan penjelasan Pak Agus selanjutnya.


Saat Karin sibuk memilah jalan untuk menghindari kemacetan, Kartika justru sibuk menelepon Arini untuk menanyakan di mana Widya di rawat. Lalu tidak lupa mengetik di roomchat ‘Sahabat Selamanya’, mengabarkan jika Widya kembali masuk rumah sakit dan mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sana.


Sesampainya di rumah sakit, mereka pun berlari menuju ruangan Widya sesuai kata Arini. “Ayah, Bunda,” pekik Karin dan Kartika bersamaan saat melihat dua orang paruh baya sedang duduk menemani Widya.


Bowo dan Arini seketika menoleh ke arah sumber suara. Mendapati Karin dan Kartika yang berdiri di pintu masuk, membuat Arini turut berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Tangis Arini pun kembali pecah saat memeluk kedua gadis itu.


Konsidi Widya yang terbaring lemah dengan lengan yang diperban, ditambah isak tangis Arini membuat Karin dan Kartika ikut menangis di pelukan Arini. “Sabar, Bun. Kita harus sabar mengahadapi ini,” ucap Karin.


Mereka berdua memang belum mengetahui pasti bagaimana kondisi Widya saat ini. Mereka bisa menanyakan keadaan pastinya saat semua sedikit lebih baik. Yang pasti, keadaan Widya sekarang sudah membuat semua orang menjadi panik.


“Kita berdoa selalu untuk Widya, Bun.” Kali ini giliran Kartika menenangkan wanita paruh baya yang masih setia memeluknya.


...***...


__ADS_1


Sebenarnya udah nggak tega lihat Widya kayak gitu, tapi gimana? Kalian jangan bosen semangatin aku, ya. Eh, Widya maksudnya 🤧


__ADS_2