
...***Happy Reading***...
...***...
Pagi-pagi sekali Harsa sudah memberikan pesan pada Widya bahwa ia tidak bisa menjemputnya seperti biasa. Ia katakan bahwa, harus berangkat sebelum subuh untuk melakukan peninjauan proyek di Bandung. Perjalanan Jakarta–Bandung memakan waktu hampir tiga jam. Oleh karena itu, Harsa harus pintar bersaing dengan waktu agar sampai di tujuan tepat waktu. Ia terpaksa berangkat sendirian karena Zakir beralasan tidak enak badan.
Harsa memutar musik untuk menemani perjalanannya agar tidak terasa sepi. Lagu 'with you' yang sedang berputar seakan mengerti suasana hatinya yang terdalam. Ia ingin tetap pada pendiriannya menunggu Widya menyambut uluran tangannya. Sekalipun ia sudah mendapat penolakan dari Widya, tidak ada rasa gentar untuk mundur atau menyerah. Cintanya tidak semudah itu terpatahkan hanya karena satu kali penolakan.
Malu? Ia tidak ada waktu memikirkan rasa malu atas rasanya yang belum tersambut. Belum. Ya, belum. Dia masih mempunyai keyakinan jika perasaannya pasti akan terbalas, meskipun ia belum tahu kapan Dewi Fortuna berpihak kepadanya.
'I wanna be with you. And I wanna stay with you. Just like the stars shining bright...'
Sesekali Harsa mengumamkan lirik lagu itu, seolah ia sedang mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Memikirkan Widya seolah tidak ada habisnya. Sampai di persimpangan, melalui petunjuk maps ia harusnya berbelok ke kiri. Namun, di sana masih ada perbaikan jalan. Sehingga Harsa kini harus mencari jalan alternatif lain agar sampai tujuan sebelum pukul tujuh.
Tidaklah sulit bagi Harsa menemukan jalan lain, karena sewaktu ia dan Zakir dulu tanda tangan kontrak dan sekaligus menyurvei lokasi. Zakir pernah memilih melewati jalan tersebut.
"Akhirnya datang juga, Pak Harsa. Bagaimana perjalanan Anda?" sambut ketua pelaksana proyek begitu Harsa turun dari mobilnya.
"Alhamdulillah, lancar. Meskipun tadi terhalang perbaikan jalan, dapat saya atasi, Pak."
"Luar biasa. Saya bayangkan, pasti Anda berangkat dari Jakarta jam tiga," tebak ketua pelaksana.
Harsa hanya menggeleng menyangkalnya. Selanjutnya setelah berbasa-basi sebentar Harsa pamit untuk masuk ke dalam kantor dan bertemu langsung dengan kliennya. Ia kembali melakukan meeting yang cukup lama. Karena Harsa adalah orang yang menjunjung tinggi profesionalitas, pekerjaan harus detail sesuai permintaan. Hingga memasuki waktu coffe break, Harsa sudah selesai. Dan melanjutkan untuk turun ke lapangan untuk peninjauan kembali.
Sementara di tempat yang berbeda, Widya juga tengah terfokus pada laptop dan sajian bagan-bagan yang tersaji di sana. "Mau kopi, Wid?" tawar Ayu melongok dari balik cubicle-nya.
"Mmm ... boleh," jawab Widya.
"Oke, biar aku pesankan, ya," ucap Ayu sembari mengetikkan pesan pada ponselnya untuk memesan pada petugas pantry. Tidak ada jawaban. "Enggak dibuka WhatsApp aku, Wid," gumam Ayu. Membuat Ayu memutuskan untuk menghampiri sendiri ke pantry.
"Gue ambilin aja, deh ,Wid,"
"Makasih, ya, Ayu." Dengan senyum manis terulas di bibir ranum berbalut lip tint berwarna peach, Widya berucap tulus pada Ayu.
Melihat Ayu, Widya kembali teringat akan Harsa. Perasaannya menjadi sedikit terusik. Bagaimana perasaan Ayu saat tahu bila Harsa menyimpan cinta yang cukup lama padanya. Ia takut membuat temannya itu terluka. "Ah, semoga saja, Ayu sudah melupakan rasa tertariknya pada Harsa."
Memang hanya sesekali saja Ayu membahas tentang Harsa dan sudah cukup lama, Ayu tidak membahasnya lagi. Widya takut hal yang dulu terulang lagi. Saat dia dan temannya menyukai orang yang sama.
Suka? Memang Widya suka dengan Harsa?
__ADS_1
Tidak dipungkiri rasa itu memang ada. Namun, hanya sebatas suka karena Harsa sahabatnya dan juga seorang bos yang baik baginya.
Wid, jangan minum kopi jika belum makan apa pun. Aku nggak mau kamu sakit perut karena belum terisi apapun__Harsa
Satu pesan dari Harsa membuat senyum terbit di bibir Widya. Seakan tersadar, pandangan Widya menyapu sekelilingnya mencari sosok Harsa. Bagaimana bisa, tadi pagi ia mendapat pesan jika Harsa di Bandung, sedangkan ia bisa tahu jika Widya akan meminum kopi sekarang.
Zakir. Dia ada di bibir pintu ruang divisi Widya. Terlihat sedang bermain pada ponselnya. Bisa dipastikan, dari Zakir-lah Harsa tahu akan hal ini.
"Cari siapa, Wid?" goda Zakir saat mendekat pada meja Widya.
"Ng-nggak cari siapa-siapa," tepis Widya.
Dan kembali Zakir berulah sedikit menggoda Widya.
"Si Bos nyuruh gue lihatin lo, nih. Katanya, pagi ini nggak lihat lo semangatnya mendadak menguap entah kemana."
Tentu saja itu sebuah pesan yang sudah dilebih-lebihkan oleh Zakir. Bukan Zakir namanya jika mulutnya tidak berulah sehari saja.
Widya hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya. Menganggap biasa dengan ucapan Zakir.
Tidak lama kemudian, Zakir pamit karena Ayu telah kembali dari pantry. "Yang tadi gue omongin, itu beneran, loh, Wid,” kata Zakir sedikit berbisik sebelum meninggalkan kubikel Widya.
Tidak terasa waktu sudah memasuki waktu pulang. Widya kembali memeriksa ponselnya. Sudah menjadi kebiasaan, di jam pulang kantor Harsa selalu menghubunginya atau memberinya pesan untuk menunggunya agar dapat pulang bersama. Namun, kali ini sepi. Tidak ada tanda-tanda untuk hal itu lagi.
"Hai. Nungguin, ya!"
Zakir kembali berulah. Ia sudah berdiri bersandar di balik kubikelnya.
"Gue tau lo pasti nungguin si Bos. Iya, kan? Iyain dong, Wid. Biar gue seneng tebakan gue bener."
"Anda tidak ada kerjaan lain, ya, Pak? Selain ngagetin plus jahil pada karyawan sendiri." Sengaja Widya berbicara formal karena memang sedikit kesal pada Zakir. Namun, senyum itu tidak juga luntur dari bibirnya kala mendapat sindiran dari Zakir.
Dalam hati Widya membenarkan, seolah kehadiran Harsa yang selalu berada di sekitarnya sudah menjadi kebiasaan. Hingga tanpa sadar, Widya memang menantikan kedatangan Harsa.
Zakir mengajak Widya untuk pulang bersama sesuai titah dari bosnya untuk memastikan Widya sampai rumah dengan selamat.
Dalam perjalanan, bukan Zakir namanya kalau tidak bisa diam. Masih saja terus menggoda Widya. Seolah mengingatkan akan kebiasaan- kebiasaan Harsa padanya. Sampai-sampai saat Zakir mengingatkan betapa marah dan menyesalnya Harsa pada Nathan, sewaktu mendapati Widya yang terluka dengan perlakuan Nathan yang memilih percaya pada Vina kala itu. Sampai Harsa berani menghajar Nathan. Cerita itu membuat pikiran Widya sedikit terbuka. Dalam hati, ia ingin segera bertemu dengan Harsa untuk memastikan semuanya.
...***...
__ADS_1
Esoknya, Widya yang sudah selesai jalan sehat bersama bunda, duduk santai di teras sembari memainkan ponselnya. Sedikit berbalas pesan dengan Harsa dan memutuskan untuk menemui Harsa yang mengeluh tidak enak badan karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan luar kota. Mama Evi dan Papa Rendra sedang perjalanan bisnis ke Bali. Jadilah Harsa menggunakan hal ini untuk sedikit mencari perhatian Widya. Tidak juga. Karena Widya sendiri sudah berniat untuk menemui Harsa sebelum ia menyetujui permintaan Harsa yang memintanya datang.
"Assalamualaikum," sapa Widya saat mengetuk pintu rumah Harsa. Ada seorang ART yang membukakan pintu.
Setelah dipersilakan masuk dan menunggu, Harsa turun dari lantai dua. Widya mengedarkan pandangannya melihat ornamen rumah Harsa. Ia seperti mengenali desain ini. Ya, saat kuliah dulu. Harsa pernah meminta Widya untuk mencarikan desain interior rumah yang menurut Widya cocok. Dan yang lebih penting, Widya menyukainya.
Kini Widya semakin menyadari bahwa sedalam apa rasa yang Harsa punya untuknya.
Saking kagumnya pada tampilan nyata desain yang dulu pernah ia buat. Sampai tidak sadar Harsa sudah berdiri di belakangnya. Saat akan memindai ke sisi lain, Widya menabrak dada Harsa dan membuatnya terhuyung nyaris terjatuh. Tidak akan, Harsa tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengan sigap ia menangkap tubuh Widya.
"Kamu nggak apa-apa, kan, Wid?" tanya Harsa sambil melepaskan tangan dari Widya.
"Iya, nggak apa-apa, kok," jawab Widya sembari mengontrol degub jantungnya yang berdetak tidak beraturan.
Walaupun ia sedang tidak enak badan, Harsa tetap menunjukkan senyum terbaiknya pada Widya.
"Mau bicara di samping rumah aja?" tawar Harsa.
Widya mengiyakan saja tawaran dari Harsa. Lahan yang tidak begitu luas di samping rumah itu terdapat kolam ikan kecil dilengkapi gemericik air dari pancuran buatan yang menghadirkan efek tenang. Di sisi kolam ada dua ayunan yang terbuat dari besi dan rotan yang sudah di bentuk demikian rupa. Widya tidak hentinya memuji tata ruang rumah Harsa. Hingga mereka duduk di ayunan. Beruntung ada pohon mahoni yang cukup rindang hingga menyejukkan suasana menjelang siang yang tidak begitu terasa teriknya.
Setelah Harsa menceritakan pekerjaan kemarin. Dan lelahnya menyetir sendiri dengan perjalanan yang cukup jauh. Perbincangan kembali serius saat Widya menyinggung soal desain interior rumah Harsa.
"Iya, Wid. Desain itu adalah desain yang kamu buat dulu." Harsa menautkan kesepuluh jari tangan untuk mengurai rasa gemuruh cinta yang semakin kuat ada padanya.
"Aku sengaja meminta itu dari kamu. Aku berpikir dengan menerapkan konsep desain yang kamu suka. Aku akan semakin nyaman tinggal di rumah ini. Mengingat kamu yang sudah berbahagia dengan Nathan. Aku pun juga ingin sekali berbahagia karenamu. Di sini salah satu tempat aku bisa bersembunyi saat mencoba mengikhlaskan kamu bersama Nathan. Di rumah ini,
"Ya, ada saatnya aku juga tidak kuat melihat kamu dapat tertawa lepas. Tapi bukan karenaku. Aku sadar dengan yang aku perbuat dulu tidak mudah untuk dimaafkan. Maka, seperti seorang pengecut saja aku sesekali bersembunyi di sini menghindari kalian semua saat mengajak berkumpul seperti biasa." Harsa tertawa kecil. Tawa getir yang menertawakan dirinya.
"Maafin aku, Sa. Kalau selama ini tanpa sengaja aku telah membuat kamu terluka di balik tawaku."
Widya diam sejenak lalu memantapkan diri melihat manik mata Harsa yang memancarkan kejujuran. Widya pun membuka suara menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya akhir-akhir ini. "Sejak kapan kamu menyukaiku, Sa?" tanya Widya.
Pertanyaan Widya membuat Harsa sedikit menarik sudut bibirnya. "Sejak kamu mutusin aku, Wid," lirih Harsa jujur. Pandangan mata Harsa tak lepas dari gadis pujaannya.
Jawaban Harsa membuat Widya membulatkan matanya. Terkejut? Tentu saja. Saat itu adalah saat di mana ia mencoba melepaskan rasa pada Harsa. Namun, ternyata berbeda dengan Harsa yang justru baru menyadari perasaannya. Hingga sekarang.
Widya menggeleng samar mencoba tidak memercayainya. Namun, mata tegas Harsa yang memandang sayu pada Widya seolah sedang meyakinkannya.
...***...
__ADS_1
...***To be continued***...