
...***...
...Happy Reading...
...***...
Baby By terlihat begitu menggemaskan bagi mereka yang memandang. Semua orang mengatakan jika baby By fotokopi Harsa. Tidak tampak satu bagian pun dari baby By yang mirip dengan Widya, hal itu tentu membuat Widya merajuk.
“Udah, nggak papa, ntar bikin lagi yang mirip kamu, ya,” rayu Harsa saat melihat wajah Widya yang tertekuk.
“Nggak adil banget, sih. Aku yang ngandung dia selama sembilan bulan, nggak kebagian dikit aja. Takut banget nggak diakui anak sama kamu.” Semua orang terkekeh mendengar omelan Widya.
“Ya udah lah, Sayang. Toh selama kamu hamil yang rewel juga Harsa.” Arini mencoba menenangkan putrinya yang sedang mode ngambek.
“Baby By ganteng banget, sih. Pingin nguyel-nguyel pipinya,” celetuk Karin saat mengambil baby By dari box.
“Lo pingin nguyel-nguyel baby By apa bapaknya baby By?” celetuk Zakir sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Kartika.
“Ih, apaan, sih, lo? Tentu aja baby By.” Karin menatap horor Zakir.
“Ya siapa tahu aja, secara itu baby By kopiannya si Harsa. Lo beneran udah move on dari Harsa, 'kan?”
“Mulut lo, Zak! Minta disumpel pakek sepatu?” Karin semakin meradang.
Semua orang hanya tersenyum menanggapi pertengkaran Zakir dan Karin, kecuali seorang laki-laki tampan yang sejak tadi menatap Karin dengan intens.
“Makanya buruan cari pacar, biar semua orang percaya kalo lo udah move on dari Harsa,” timpal Kartika.
Karin langsung menjitak kepala Kartika. Calon pasutri itu kian hari kian kompak tingkat keresekannya. “Sakit, Rin,” keluh Kartika sambil mengelus kepalanya.
“Makanya jangan asal jeplak aja, tuh, mulut!” Perhatian Karin kembali beralih pada baby By yang ada dalam gendongannya.
“Persiapan pernikahan kalian sudah berapa persen, Zak?” tanya Evi.
“Alhamdulillah, sudah hampir rampung, Tan. Tinggal bagi undangan aja.”
“Nggak kerasa, ya, dua minggu lagi Lo bakal sold out.” Harsa menepuk pundak Zakir.
“Ck! Lo kira gue barang, pakek sold out segala,” sungut Zakir.
“Calon manten sensi amat,” ejek Widya.
“Awas aja kalian nggak datang karena alasan kelahiran baby By.” Zakir menatap tajam ke arah Widya dan Harsa, membuat Widya dan Harsa tertawa lepas.
“Edo kapan nyusul?” tanya Arini membuat Edo yang sedari tadi asyik memperhatikan pertengkaran teman-temannya mengalihkan atensi.
__ADS_1
“Ehm ... kalau waktunya sudah tepat, Tan,” jawabnya kikuk.
“Semoga disegerakan, ya,” timpal Bowo yang diamini oleh semua orang.
...***...
Dua minggu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Kartika dan Zakir. Kartika terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna putih tulang. Kartika memilih adat Sunda karena ayahnya memiliki darah Sunda. Siger di kepalanya membuat Kartika tampil begitu memesona.
Diapit oleh Karin dan Widya, Kartika berjalan pelan menuju tempat ijab kabul. Melihat sang Pujaan hati tiba, Zakir tidak mampu mengedipkan mata, seakan tersihir oleh pesona Kartika.
“Jangan lupa kedip,” ejek Harsa yang berdiri di samping Zakir. Edo pun tak kalah terpesona, tapi bukan pada Kartika, melainkan pada sosok Karin yang terlihat begitu ayu.
Harsa dan Edo mendampingi Zakir sekaligus sebagai saksi nikah. Baby By yang turut hadir terlihat anteng dalam gendongan oma Evi.
Kini, Kartika dan Zakir sudah duduk menghadap penghulu.
“Sudah siap mas Zakir?” tanya Pak Penghulu.
“Siap 86, Pak.” Zakir tersenyum penuh percaya diri.
“Baik, kalau begitu. Mari kita mulai.” Penghulu mulai membaca doa sebelum ijab kabul dimulai. Bagus Hendrawan –ayah kandung Kartika pun mulai menjabat tangan Zakir.
“Saudara Zakir Maulana bin Malik Maulana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Kartika Sari binti Bagus Hendrawan dengan mas kawin seratus gram logam mulia, serta uang tunai senilai sepuluh juta enam ratus dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Kartika Sari binti Bagus Hendrawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Sah ....”
Zakir menarik napasnya lega. Kartika pun menangis haru, tidak menyangka jika sekarang ia sudah resmi menikah dengan Zakir, cinta pertamanya.
Semua orang merasakan kebahagiaan atas bersatunya dua insan yang dimabuk asmara. Widya dan Karin pun menitihkan air mata bahagia.
“Tinggal lo, ya, sekarang yang jomlo,” ejek Widya pada Karin.
“Iya. Nggak nyangka gue. Gue kira, dulu gue bakal nikah duluan di antara kita bertiga, nyatanya gue paling buncit.”
“Lo nunggu apa, sih? Lo beneran belum bisa move on dari Harsa?”
“Ish! Nggak usah resek, deh, Wid. Siapa juga yang masih naksir Harsa. Gue udah move on, ya. Tolong digaris bawahi!”
Widya menatap Karin dengan penuh tanda tanya. “Muka lo jelek kalo kepo kayak gitu,” ejek Karin sambil tersenyum meremehkan Widya. “Gue lagi nunggu seseorang buat ungkapin perasaannya sama gue,” terang Karin.
“Edo?” tanya Widya.
Karin segera menutup mulut Widya dengan telapak tangannya. Pasalnya Edo duduk di belakang mereka. “Jangan berisik. Udah, cukup lo aja yang tahu.”
__ADS_1
Suara Evi menginterupsi kegiatan Widya dan Karin.
“Kenapa, Ma?” tanya Harsa yang tengah asyik bergurau dengan Edo.
“Baby By kayaknya mau susu.” Widya pun segera bangkit untuk mengambil baby By dari Evi.
“Gue tinggal dulu, ya,” pamit Widya pada Karin dan diangguki oleh Karin. Harsa pun mengekori Widya, meninggalkan Karin dan Edo.
“Kenapa?” tanya Karin saat Edo beralih duduk di sampingnya. Edo tak menanggapi pertanyaan Karin. Kedua matanya menatap lurus ke arah pengantin baru yang tengah melakukan sesi foto bersama keluarganya.
“Gue seneng akhirnya mereka bersatu,” ucap Edo tiba-tiba.
“Eh?” Karin yang tidak siap diajak bicara pun tergagap. “Oh, iya. Gue juga seneng. Cinta mereka begitu kuatnya sampai mereka bisa ditahap sekarang.”
“Kalau cinta kita?”
Karin mengerjap. Bulu mata lentik itu mengedip beberapa kali dengan memandang wajah Edo yang masih fokus pada pasangan pengantin.
“Ma-maksudnya?” tanya Karin setelah bisa menguasai keadaan.
Edo mengalihkan pandangannya pada manik indah milik Karin. Sepasang netra kecoklatan itu beradu, saling mengunci.
“Gue mau, cinta kita juga begitu kuatnya sampai bisa meraih bahagia seperti teman-teman kita,” tutur Edo.
Sesaat Karin terpaku mendengar penuturan Edo. Hingga akhirnya ia mengibaskan tangan di depan muka Edo. “Nggak lucu! Kalo becanda nggak usah bawa-bawa perasaan.” Karin mengalihkan pandangan.
Hening, sesaat mereka dikuasai keheningan. Tatapan Edo masih tidak beralih dari wajah cantik Karin, membuat Karin salah tingkah. Tidak kuat ditatap Edo, Karin memutuskan untuk pergi. Baru ia beranjak, Edo meraih tangannya, menggenggamnya erat. Seakan mengerti kemauan Edo, Karin pun kembali duduk di kursinya.
“Jangan pura-pura lagi. Jangan lari lagi dari kenyataan. Ayo, kita jujur pada hati kita! Aku tahu kita masih saling mencintai, Rin. Widya dan Harsa sudah bahagia, jadi tak perlu lagi kita merasa bersalah atas kejadian di masa dulu. Mencintai dalam diam itu menyesakkan, Rin. Lo sendiri juga merasakannya, kan? Mau sampai kapan kita nyiksa diri kita dengan pura-pura bodoh akan cinta yang begitu besar di hati kita?”
Karin tidak lagi mampu berkata-kata. Apa yang dikatakan Edo terlalu benar untuk ia sangkal.
“Gue sayang sama lo sejak dulu dan tak pernah berubah sedikit pun. Kali ini, izinkan cinta kita meraih bahagia, Karin. Will you marry me, Karin Aleandra?”
Karin membeku, seakan aliran darah tak lagi mengaliri tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat, hingga rasanya sesak. Hanya air mata yang jatuh membasahi pipi sebagai wujud dari rasanya. Edo menangkup pipi Karin dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri masih setia menggenggam jemari Karin.
“Kasih kesempatan untuk kita, Rin. Please!”
“Yes, i will,” ucap Karin pada akhirnya.
Edo segera meraih Karin dalam dekapannya. Karin terisak dalam rengkuhan Edo. “Makasih, Rin. Aku janji nggak akan bikin kamu kecewa.”
...***...
...To be continued...
__ADS_1
...***...
...Wah, Bang Bokir dah sah sama Kartika, nih. Berarti besok enaknya bahas apaan, Readers 😁...