
...***...
“Yang, kamu, kok, kurus gitu, sih? Jelek tau,” Nathan menowel hidung Widya ketika mereka menikmati indahnya senja di tepi telaga biru.
“Apaan, sih?” Widya menepis tangan Nathan yang memainkan hidung mancungnya.
“Senyum, dong! Aku, tuh, paling seneng lihat senyum kamu. Yang, maafin semua salah aku, ya! Aku harap kamu akan selalu bahagia. Aku mohon dengan sangat, tersenyumlah!” Nathan menatap mata sendu wanita yang ada di sampingnya. “Kamu tahu, senyummu itu adalah bahagiaku. Jadi, sepahit apa pun kenyataan hidup yang kamu lalui, kamu harus tetap tersenyum. Kuatlah, meski ada aku atau tanpa aku! Kamu boleh bersedih, tapi sesudah itu kamu harus bangkit. Kamu gadis yang kuat. Aku yakin kamu bisa menjalani hidup dengan baik. Ingatlah, jika api cintaku tak pernah mati. Jadikan itu semangat dalam mengarungi bahtera hidup. Aku tetap di sampingmu meski jiwaku tak lagi ada di sisimu, tapi aku akan selalu hidup di hatimu.”
Widya tidak mampu membalas ucapan Nathan, ia terdiam. Ditatapnya mata sang kekasih yang selama ini mengusik kesepian. Menuntunnya menuju ruang bahagia, meskipun jalan untuk mencapai tempat itu harus melalui kerikil-kerikil tajam yang membuatnya terluka.
Sayup-sayup terdengar alunan ayat suci menggema. Bait-baitnya terangkum indah menenangkan hatinya yang gundah. Perlahan tetapi pasti, bayangan Nathan yang duduk di sampingnya mulai memudar. Jiwa Widya mulai kembali dari alam mimpi yang sedari tadi ia datangi. Suara bunda yang sedang mengaji dalam ruangan itu semakin nyata. Lirih, tetapi terdengar jelas di indera pendengaran Widya. Langit-langit kamar yang berbeda dari beberapa waktu lalu semakin menarik Widya menuju alam nyata. Widya menoleh ke samping kiri dan melihat tetesan demi tetesan cairan bening dalam botol infus yang mengalir lambat melalui pipa lentur menuju ke tangannya.
“Sayang, kamu sudah bangun.” Suara Arini mengalihkan atensi Widya dari tangannya yang tertusuk jarum infus.
Widya menatap Arini yang masih berbalut mukena, sorot matanya meminta penjelasan atas apa yang terjadi hingga Widya berada di tempat ini. Senyum teduh Arini terpancar, mencoba menenangkan putrinya yang masih terpukul akan kepergian Nathan.
“Kita di rumah sakit, Sayang. Kamu pingsan waktu kita di makam. Harsa segera bawa kamu ke sini, dan melihat kondisimu yang lemah. Dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa hari. Kamu istirahat, ya! Mau minum?” tawar Arini.
Widya mengangguk pelan, ia merasa tenggorokannya kering, sekering jiwanya yang seolah terdampar di sebuah gurun pasir yang gersang. Arini segera mengambilkan air dan membantu Widya untuk minum.
“Jam berapa, Bun?” tanya Widya dengan suara lemahnya.
“Setengah delapan,” jawab Arini sembari membuka mukenanya.
“Aku tidur selama ini?” tanya Widya hampir tidak percaya. Ingatannya kembali berputar, ia tadi menghadiri pemakaman Nathan, dan baru saja Nathan hadir dalam mimpinya. Mimpi indah yang hanya sesaat.
“Kamu perlu istirahat biar kondisimu cepet pulih, Sayang. Mau makan? Bunda suapin, ya?” tawar Arini setelah melipat mukena dan meletakkan di sofa yang berada di samping ranjang Widya. Widya menggeleng pelan. “Kamu harus makan, Sayang! Kamu nggak mau lama-lama di sini, ’kan?” tanya Arini lembut.
__ADS_1
Widya memalingkan wajah tanpa menjawab pertanyaan Arini. Matanya kembali terpejam enggan menanggapi pertanyaan Arini. Tak lama kemudian, suara dengkuran halus dan napas teratur mulai terdengar. Arini tersenyum miris melihat kondisi putrinya. Akibat obat penenang yang terpaksa dokter berikan tadi siang, membuat Widya tidur kembali.
Seminggu lebih sejak kabar kecelakaan pesawat yang menimpa Nathan, Widya benar-benar kehilangan nafsu makan. Semakin lama tubuhnya semakin lemah, jiwanya semakin terguncang setelah pemakaman Nathan. Dengan berat hati, keluarga membawa gadis itu ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Dengan harapan agar Widya bener-benar bisa mengistirahatkan tubuh dan jiwanya.
Selama di rumah sakit, air matanya tidak pernah lagi mengalir. Namun, ia lebih banyak diam dan melamun. Widya sibuk dengan dunianya sendiri. Hal ini tentu membuat Arini semakin sedih. Tidak berhenti Arini berdoa untuk putrinya. Setiap saat ia selalu mengajak Widya berbicara dan bercanda meskipun tidak satu pun bahan pembicaraannya ditanggapi oleh Widya.
Tok tok tok!
“Assalamualaikum.” Terdengar suara lembut dari balik pintu, suara yang Widya kenal.
“Waalaikumsalam,” jawab Arini. Tidak lama kemudian pintu berderit. Muncul wajah cantik dengan senyum teduh, disusul wajah seorang gadis manis di belakangnya.
“Apa kabar, Widya?” Liana berjalan mendekat bersama Ellen menebar senyum hangat. Widya hanya menoleh sesaat tanpa membalas sapaan Liana.
“Widya semakin baik, Jeng. Tadi pagi sudah mau makan bubur,” jawab Arini seolah berhadapan dengan anak balitanya.
“Kak, cepet sembuh, ya. Nanti pulang ke rumah Ellen. Biar rame kayak dulu,” ucap Ellen dengan mata berbinar. Mendengar kata ‘rumah’ atensi Widya teralihkan. Ia tatap wajah Ellen lekat.
“Pulang?” Kata pertama hari ini yang keluar dari bibir Widya. Ellen mengangguk pasti dengan senyum manisnya.
“Iya, kita pulang. Kakak cepet sehat, ya. Makan yang banyak. Oh ya, Kakak sudah makan siang?” tanya Ellen melirik makanan di nakas yang masih utuh. Paham jika Widya belum menyentuh jatah makan siangnya. Widya menggeleng pelan. “Ellen suapin, ya,” tawar Ellen mengambil makanan tersebut.
“Nggak usah. Kakak makan sendiri saja.” Jawaban Widya membuat Arini dan Liana tersenyum bahagia. Ellen meletakkan tempat makan tersebut di pangkuan Widya.
“Eh, Mama bawa makanan dari rumah, Kakak mau makan juga? Bentar, Ellen ambilkan.” Dengan cekatan Ellen mengambil masakan Liana. Meletakkan beberapa lauk dalam wadah makan Widya.
“Ayo kita makan bersama, Tan. Meski nggak di meja makan nggak apa kan, Ma?” suara berisik Ellen memenuhi ruangan itu membuat Arini dan Liana tersenyum. Ini adalah kali pertama Widya mau makan sendiri.
Tiga hari Widya dirawat di rumah sakit. Sahabat dan keluarganya bergantian datang untuk menemani dan mengajaknya ngobrol. Kondisi fisik Widya sudah membaik hingga hari ini Widya diperbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
...*** ...
Widya memilih untuk pulang ke rumahnya, kembali ke kamarnya sendiri yang sudah lama ia tinggalkan. Meskipun berat, Liana harus mengizinkan Widya untuk pulang ke rumahnya. Berat untuk Liana melepas Widya. Baginya Widya adalah pengganti sosok putranya yang telah tiada. Separuh jiwa Nathan ada bersama Widya. Namun, Liana bukanlah sosok egois. Ia lebih mengutamakan kesehatan Widya.
“Sering-sering main ke rumah, ya! Pintu rumah tante selalu terbuka untukmu. Tante selalu menunggumu,” ucap Liana sebelum ia beranjak dari rumah Widya sore itu.
“Iya, Tan,” jawab Widya dengan anggukan pelan. Widya dan Arini mengantar Liana, Evan, Ellen di teras rumahnya hingga mobil mereka tidak terlihat lagi.
“Widya ke kamar, ya, Bun. Mau istirahat.” Widya berlalu setelah mendapat anggukan dari Arini.
Memasuki kamarnya kembali setelah kepergian Nathan tentu saja membuat hati Widya terasa perih. Perlahan ia mendekati meja belajarnya. Menatap gambaran dirinya bersama Nathan tersenyum manis, menandakan betapa bahagianya mereka saat itu. Widya mengambil album kenangan yang berjejer di rak buku. Ia usap perlahan sembari menarik napas dalam sebelum ia membukanya.
“Sanggupkah aku melaluinya, Nath?” Air matanya kembali menetes. Ia buka satu per satu lembar kenangan dalam hidupnya. Awal ia bertemu Nathan ketika Nathan menjadi siswa baru di sekolahnya. Kebaikan Nathan yang selalu menjaga Widya dalam sikap diamnya. Bagaimana Nathan dulu menjaga hatinya dari konflik cinta remaja bersama Harsa dan Karin. Bagaimana Nathan dulu berkelahi dengan Harsa hanya untuk membelanya. Ah, semua kenangan itu begitu manis meskipun kembali membawa luka.
Widya mengingat kembali bagaimana dulu ia tidak mempunyai rasa yang bisa menggetarkan benang cintanya pada seorang Nathan. Hingga akhirnya Widya menjatuhkan pilihannya untuk bersandar pada sosok jangkung seorang Nathan Putra Lesmana. Kesabarannya mendampingi Widya saat berbalut duka yang teramat dalam akibat cintanya terhadap Harsa, perlahan mampu menggeser nama Harsa dari hati Widya.
Malam semakin larut. Dengan baju tidurnya ia duduk di lantai bersandar pada tempat tidur. Widya tidak pernah menyangka jika video call sehari sebelum kepergian Nathan merupakan saat terakhir ia bisa menatap wajah kekasihnya, calon imamnya. Widya menghapus air matanya dengan kasar. Mengingat kembali semua pesan Nathan sebelum kabar buruk itu sampai padanya. Widya tidak ingin memercayainya jika semua itu adalah pesan terakhir Nathan. Kembali ia menangis, memeluk lututnya dan menatap kosong. Semua kenangan tentang Nathan menari indah dalam benaknya. Pandangannya tertuju pada sebuah boneka teddy di pojok rak bukunya. Boneka itu pemberian Nathan ketika SMA dulu.
“Aku kangen kamu, Yang. Berat rasanya tanpa ada kamu di sisiku. Aku lebih memilih kamu menikah dengan wanita lain asal aku bisa melihatmu setiap hari, daripada aku tak bisa melihatmu sama sekali. Bagaimana aku menuntaskan kerinduanku ini, Yang? Kamu adalah warna dalam hidupku. Tanpamu hidupku menjadi abu-abu. Samar, tak ada gurat indah di dalamnya. Kini, rasa rinduku tak akan pernah menemukan tepinya. Ini menyiksaku, Nath. Aku tak sekuat itu, Sayang. Aku butuh kamu untuk selalu menguatkan aku,” batinnya meronta menahan sesak dalam dada. Ia kembali mengingat pesan dari Nathan beberapa hari yang lalu lewat mimpinya.
...***...
...***...
Readers: Jahat banget, thor! Nathanku kenapa dimatiin 🤧🤧
Aku: Aku nggak jahat, tapi mau nyalahin sutradaranya takut dipecat. Aslinya, aku mewek juga 😭😭
__ADS_1