Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 99


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Harsa menatap lekat wajah manis itu, begitu pula Widya yang menatap lekat wajah tampan milik Harsa. Senyum manis nan tulus ia berikan untuk Harsa. Orang yang pernah menjadi cinta pertamanya.


Harsa adalah sosok yang mengenalkan Widya pada cinta. Tentang kasih sayang, luka, serta pengorbanan. Tak berapa lama, Widya melepas genggaman tangannya pada Harsa. “Sekali lagi makasih, karena selalu ada buat gue.” Usai mengucapkan itu, Widya beranjak, ia melangkah menuju gulungan ombak yang menyerbu tepian pantai.


“Wid!” Sesaat Harsa khawatir akan tindakan Widya. Ia pun beranjak hendak mengejar Widya. Harsa takut Widya nekat bunuh diri lagi, tetapi ia salah. Widya berbalik, menatapnya dengan tersenyum cerah.


“Jangan khawatir! Gue cuma pengin main air aja,” terangnya yang membuat Harsa bernapas lega.


Harsa mengikuti setiap langkah Widya. Ia tak ingin kecolongan. Hatinya masih merasa was-was jika Widya tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia pandang punggung Widya yang berlarian kecil mengejar ombak. Widya tampak begitu bahagia. Sudah lama sekali ia tak melihat Widya tertawa selepas ini. Tawa Widya pun menular padanya.


“Teruslah bahagia, meski bukan aku alasan yang membuatmu bahagia! Tapi setidaknya aku jauh lebih bahagia jika kamu bahagia dan aku akan merasa jauh lebih sakit saat kamu merasakan sakit,” batin Harsa. Langkahnya terus mengekori ke mana Widya pergi. Ia biarkan Widya melakukan hal yang membuat Widya bahagia. Ia pun menjaga jarak aman agar tidak mengganggu kesenangan Widyanya.


Ah, bolehkah sekarang ia menyebut Widya sebagai miliknya? karena cintanya untuk Widya tak pernah pudar sedikit pun. “Jika dulu Nathan yang menyembuhkan lukamu karena aku, sekarang izinkan aku untuk membuatmu kembali bahagia setelah kepergian Nathan dari hidupmu, Wid.” Kali ini Harsa bertekad untuk kembali meraih cintanya. Cinta yang pernah ia sia-siakan ketulusannya.


“Sa, sini. Ayo main air!” ajaknya saat melihat Harsa hanya tersenyum padanya. “Ish ... ayo sini, kita seru-seruan,” lanjutnya saat Harsa hanya diam mematung di tempatnya.


“Lo aja. Gue nggak suka basah-basahan air laut.”


“Masa?” Widya menatap Harsa tak percaya. Sesaat kemudian ide jahil melintas di kepalanya. Widya mendekat ke arah Harsa dengan tersenyum miring.


“Kenapa? Kok, lihatin gue kayak gitu?” Harsa curiga, sedangkan Widya tetap tersenyum aneh padanya. Hingga saat suara ombak semakin dekat, dengan cekatan Widya mendorong Harsa, hingga lelaki itu terjungkal ke belakang dan tersapu ombak.


Widya tertawa puas melihat Harsa yang pias akan ulahnya. “Ck! Lo ya ....” Harsa berdecak sambil berdiri. Kini seluruh tubuhnya telah basah akibat ulah orang yang dicintainya. Sungguh, Harsa tidak marah dengan ulah Widya. Ia justru bahagia jika bisa membuat Widya bahagia.


“Ini baru seru,” ejek Widya.


Widya masih tertawa dengan ulahnya. Tidak habis akal, Harsa segera menarik tangan Widya. Tidak adil bukan jika hanya dirinya yang basah. Widya meronta dalam tawanya. “Sa, lepas. Gue nggak mau basah,” ujarnya saat mengetahui Harsa ingin membalas kelakuannya.


“Nggak adil, dong, kalo cuma gue yang basah.” Harsa menyeringai. Widya masih mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


“Enggak, Sa. Gue minta maaf. Ampun, Sa,” ujarnya dalam tawa yang tidak bisa dihentikan.


Harsa mengabaikan. Widya yang terus meronta membuat Harsa semakin semangat mengerjai gadisnya itu. Secepat kilat ia meraih tubuh Widya dalam rengkuhannya. Dibopongnya tubuh kurus itu ala bridal style, lalu membawanya ke dalam air. Widya menjerit, tetapi tawa itu tak pernah luntur.


“Aw! Harsa ...,” geramnya sambil memukul dada bidang milik Harsa. Sedangkan kini giliran Harsa yang tertawa puas melihat Widya kesal. Mereka berdua terjatuh kembali dalam gulungan ombak saat Harsa beranjak, tetapi Widya menarik tubuh Harsa. Alhasil, Harsa jatuh di atas tubuh Widya. Tidak pernah terpikir dalam benak Harsa hal seperti ini akan terjadi. Situasi ini terlihat begitu intim. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa puas melihat wajah manis milik Widya.


Matanya yang bulat, bulu mata lentik, hidung yang begitu pas di wajahnya, pipi yang terlihat begitu mulus, dan jangan lupakan bibir ranum yang terlihat begitu menggoda. Ingin sekali merasai manis bibir itu jika kesadaran Harsa tidak segera kembali. Widya pun terpaku. Ia seakan terhipnotis oleh netra lembut milik Harsa. Sorot mata yang terlihat begitu meneduhkan. Hingga suara Zakir membuyarkan semuanya.


“Kalo mau mesum di kamar, woi! Bikin iri aja.”


Harsa dan Widya bergegas bangkit. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Edo hanya tersenyum penuh arti, sedangkan Kartika dan Karin tertawa melihat tingkah sepasang insan yang dilanda malu.


“Gu-gue ke kamar dulu, mau ganti baju.” Widya segera pergi meninggalkan teman-temannya tanpa menunggu jawaban mereka.


“Gue juga.” Harsa pun pamit setelah Widya pergi meninggalkan mereka. Sedangkan teman-teman laknat mereka tertawa puas.


“Gue seneng kalo semisal mereka berdua rujuk,” oceh Zakir.


“Rujuk pala lo? Emang kapan mereka nikah?” sergah Edo.


Karin dan Kartika tertawa mendengar pertengkaran Zakir dan Edo.


“Lo gimana, Yang? Setuju, nggak, kalo Widya balik sama Harsa?” tanya Zakir pada Kartika.


“Sejak kapan gue jadi ayang lo?” Kartika melotot ke arah Zakir.


“Kalo lo mau, sejak hari ini kita jadian, gimana?” Zakir berucap santai sambil menarik turunkan kedua alisnya membuat Kartika memutar bola matanya.


“Ogah!” Kartika berlalu meninggalkan Zakir, Edo, dan Karin. Zakir pun segera menyusul sang Pujaan Hati. Begitu juga Karin dan Edo yang mengekori mereka berdua.


“Jangan gitu, ntar jodoh tahu rasa lo.” Zakir menghadang langkah Kartika.


“Minggir, Bokir!” kesal Kartika.

__ADS_1


“Mau, ya, jadi ayangnya abang Zakir?” Zakir masih mencoba peruntungannya.


Karin dan Edo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Zakir.


“Usaha yang bener! Jangan bikin orang ilfil!” ketus Kartika lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Zakir yang mematung. Apa itu artinya Kartika sudah memberi lampu hijau? Apa ia boleh melangkah lebih jauh? Apa ada harapan untuknya bersanding dengan gadis yang sudah lama ia cintai? Begitu banyak pertanyaan dalam benak Zakir, hingga tepukan di bahu menyadarkannya. “Usaha yang bener, Boss! Biar Kartika klepek-klepek sama lo,” ujar Edo dengan cengirannya.


Zakir mengerjap, lalu sebuah senyuman mengembang sempurna di wajahnya. “Gue pasti lakukan yang terbaik buat ngedapetin lo, Ayang Kartika,” serunya sambil berjingkrak kegirangan.


...***...


Zakir, Edo, Karin, dan Kartika tengah menikmati es kelapa muda di saung bawah pohon kelapa. Mereka melihat deburan ombak yang tak ada habisnya. View yang begitu memanjakan mata. Langit pun cerah seakan mendukung acara liburan yang tengah mereka lakukan.


“Gue setuju kalo Harsa memperjuangkan cintanya kembali pada Widya,” celetuk Edo.


“Hem, gue juga setuju. Kita semua tahu bagaimana Harsa mencintai Widya dalam diam. Mungkin sekarang waktunya Harsa kembali meraih cintanya,” timpal Zakir.


“Kalo kalian?” tanya Edo pada Kartika dan Karin.


“Gue nggak masalah, asal Harsa bikin Widya bahagia dan nggak nyakitin Widya lagi,” ujar Kartika sambil menyeruput es kelapanya.


“Lo, Rin?” tanya Zakir hati-hati. Ia takut jika Karin masih menyimpan rasa untuk Harsa.


Karin tersenyum simpul, “Gue, sih, setuju aja.”


“Lo udah nggak cinta sama Harsa, kan?” Lagi, Zakir bertanya dengan hati-hati.


“Lo bego apa Pe'Ak, sih? Rasa gue buat Harsa udah hilang sejak dulu kala. Tepatnya sejak kita memutuskan untuk memilih persahabatan kita dibanding cinta. Love Or Friends? Dan gue pilih 'friends'. Sahabat bagi gue sekarang adalah segalanya,” tutur Karin dengan senyum manisnya.


“Kalo gitu, kenapa lo nggak nyoba balikan sama Edo?”


Seketika pertanyaan dari Zakir membuat Karin dan Edo salah tingkah. Sedangkan Kartika memicingkan tajam matanya.


...***...

__ADS_1


To be continued ....


Cieeee.... Zakir sama Edo udah mulai menunjukkan wajah aslinya 😅


__ADS_2