Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 43


__ADS_3


...***...


Dalam menjalin suatu hubungan, kepercayaan menjadi landasan paling penting. Rasa cinta yang begitu besar tidak menjamin suatu hubungan bisa langgeng, apalagi tanpa adanya rasa saling percaya di antara keduanya.


Widya yang merasa terkhianati dengan sikap Nathan yang selalu peduli dengan mantan kekasihnya, membuatnya melupakan bagaimana cara Nathan yang dulu mencoba mendapatkan cintanya. Begitu pun Nathan, karena rasa cemburunya pada Harsa, membuatnya berpikir jika Widya masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya. Bahkan, ia terprovokasi oleh ancaman yang pernah diucapkan Harsa padanya.


Beberapa hari tidak bertegur sapa dan tidak berhubungan lewat ponsel. Membuat suasana hati Widya menjadi buruk. Jujur saja, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa rindu di hatinya yang begitu besar untuk Nathan. Widya rindu dengan tingkah tengil Nathan, sikap manis dan perhatiannya. Namun, kali ini dia merasa tidak boleh menjadi wanita lemah.


Saat Widya tengah meresapi rasa gundahnya, tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya, itu dari Karin.


Karin: Wid, kita jemput sekarang, ya? Kartika sudah di rumah gue.


^^^Widya: Oke, gue tunggu.^^^


Karin: Nunggunya di depan aja, ya!


^^^Widya: Emang kenapa kalau di dalam?^^^


Karin: Males ketemu bunda 🀣🀣✌


Widya mengernyitkan keningnya, sebelum ia mengetik balasan.


^^^Widya: Loh, kok gitu???πŸ₯Ί^^^


Karin: Canda Wid πŸ€­πŸ™, habis kalau ketemu Bunda pasti di bawain kue terus. Keenakan dong gue.


^^^Widya: Bisa aja, lo. ^^^


Widya mengulas senyuman tipis. Ia sudah berencana menghabiskan waktu weekend-nya bersama kedua sahabatnya, untuk menghilangkan sejenak masalahnya bersama Nathan dan mengistirahatkan otaknya, agar tidak berpikir tentang hal yang berat. 'Kasihan otak kamu'. dia ingat pesan itu dari Harsa.


Sejenak Widya teringat kejadian di taman saat dia dipeluk Harsa, karena saat itu Nathan memergokinya. "Apa itu yang membuat Nathan kemarin cuek?" pikir Widya, "ah, tapi dia juga pelukan sama Vina." Widya berubah geram ketika mengingat foto itu. Ia segera menepis segala pemikiran tentang Nathan, dan tidak lagi mau memikirkan hal yang membuatnya kembali bersedih. Ia pun segera mencari keberadaan Arini.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Arini, Widya menunggu Karin di depan pagar rumahnya sesuai dengan perintah sahabatnya itu. Setelah beberapa menit menunggu, ia melihat mobil SUV merah menghampirinya. Itu bukan mobil milik Karin, melainkan Harsa.


"Mau kemana, Wid?" tanya Harsa setelah menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum manis.


"Mau ke Mall, Sa," jawab Widya asal. Dia tidak berbohong, memang tujuan awal dia dan sahabatnya adalah pergi ke Mall, tetapi entah mau ke mana nanti Karin membawanya, Widya hanya mengikuti saja. Tidak peduli apa pun yang akan mereka lakukan di sana.


"Butuh tumpangan? Kursi penumpangku nganggur, tuh!" tawar Harsa sambil menengok ke bangku di sampingnya.


"Nggak usah, Sa. Gue mau dijemput sama Karin. Lo sendiri mau kemana? Rapi amat, mau ngapel, ya?" selidik Widya sambil bercanda.


"Ngapelin orang yang lagi jomlo, katanya dia mau minta ditemani nge-gym."


"Zakir, ya?" tebak Widya.


"Iya, sama Edo juga. Kata Zakir, Nathan nggak bisa ikut, karena ada urusan. Gue pikir lagi jalan sama lo?"


Seketika wajah Widya berubah sendu, saat nama Nathan disebut. Harsa yang menyadari perubahan wajah Widya, merasa bersalah atas pertanyaannya.


Harsa mencoba menasihati Widya. Ia yakin, jika di antara Widya dan Nathan memang memiliki perasaaan yang sama, rasa saling mencintai. Sehingga tidak pantas baginya untuk merusak hubungan itu. Semua yang pernah ia ucapkan pada Nathan memang berasal dari hatinya. Akan tetapi, pantang baginya merebut pacar orang. Mungkin, jika nanti Widya dan Nathan benar-benar putus, baru dia akan maju untuk menggapai cintanya.


Belum sempat Widya menanggapi Harsa, terdengar bunyi klakson mobil dari arah belakang mobil Harsa. Itu mobil Karin.


"Gue jalan, Sa. Itu Karin dan Tika sudah sampai. Makasih nasehatnya," ucap Widya meninggalkan Harsa yang masih memandangnya.


"Aku bukan tak mampu untuk merebutmu dari dia, Wid. Hanya saja, rasa bersalahku di masa lalu membuatku takut, jika suatu saat aku membuatmu terluka kembali. Meski aku sekarang sadar, rasa cintaku buat kamu mengalahkan segalanya. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Untuk sekarang, biarkan aku mencintaimu dalam diam dan menghiburmu di kala duka. Aku percaya, jika takdirmu adalah aku, seberapa jauh kamu melangkah, kamu akan tetap kembali padaku."


...***...


Seharian Widya menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya. Dari jalan-jalan di pusat perbelanjaan, bermain-main ke timezone, mampir ke toko buku, hingga berakhir di kafe untuk mengisi perut. Para cacing sudah mulai memberontak untuk diberi makanan.


"Malam ini nginep di rumah gue, ya, Wid, Tik!" ajak Karin pada kedua sahabatnya.


"Setuju, udah lama nggak nginep di tempat lo!" jawab Kartika dengan semangat.

__ADS_1


"Tapi gue belum izin bunda," jawab Widya dengan wajah sendu.


"Wid, ini bukan tahun 90-an yang kalau mau minta izin harus cari amplop dan prangko. Tinggal lo telepon aja bunda Arini," celoteh Kartika.


"Emang kalau bikin surat izin harus pake prangko, ya?" tanya Karin polos.


"Yeelah, Rin, biar lebih dramatis." Sambil terkekeh Kartika menjawab ditanggapi dengan gelengan kepala kedua temannya.


"Takutnya bunda nggak izinin kalau gue izinnya lewat telepon." Widya merasa ragu, karena ayah dan bundanya selalu memberi wejangan buat dia untuk tidak terlalu sering beraktifitas di luar saat malam hari.


"Pasti bunda bakal izinin lo nginep di rumah gue. 'Kan, bukan di rumah Zakir."


"Loh, kenapa jadi rumah Zakir, sih, Rin?" protes Kartika dan Widya hanya terkekeh mendengarnya.


Sedang Karin sambil menutup mulut dengan ragu-ragu dia berucap, "Maksud gue tadi rumah Nathan." Mendengar nama Nathan disebut seketika itu membuat wajah Widya kembali menjadi sendu. Baik Kartika maupun Karin merasa bersalah telah membawa nama Nathan pada obrolan mereka, padahal rencana awal mereka ingin bersenang- senang-senang dan melupakan sejenak masalah yang ada.


"Menurut kalian gue harus bagaimana?" Widya mencoba bertanya pada temannya, karena dia tahu untuk memperbaiki diri kita butuh pendapat orang lain. Terkadang keegoisan menjadikan diri kita selalu merasa benar dan lupa dengan kesalahan yang kita lakukan.


"Kenapa akhir-akhir ini gue lihat Nathan seperti cuek sama lo, Wid?" Kartika mencoba bertanya karena penasaran. Namun, sesaat ia sadar lalu berusaha meralat pertanyaannya agar tidak menyingung perasaan sahabatnya. "Eh, sorry. Maksud gue, bukannya kemarin-kemarin Nathan ngejar-ngejar lo terus, tuh. Kenapa akhir-akhir ini justru kalian saling cuek." Sambil menghela napas Kartika mengakhiri ucapannya.


Widya menghela napas kasar, sebelum ia menceritakan peristiwa yang terjadi ketika dia ke rumah Nathan dan bertemu Vina. Sampai akhirnya Nathan melihat dia dipeluk Harsa. Kedua sahabatnya merasa kaget dengan ceritanya, hingga kening mereka berkerut bersamaan.


"Sepertinya kalian harus bicara dari hati ke hati, Wid," ucap Karin, "Lo masih percaya sama Nathan, β€˜kan?” Pertanyaan itu membuat Widya sejenak terdiam. Ia sedikit ragu, sebelum akhirnya ia mengangguk sebagai tanggapan.


"Kayaknya ada seseorang yang sedang bermain-main dengan hubungan kalian berdua, deh, Wid," tukas Kartika yang merasa curiga.


"Maka dari itu jangan buat orang yang menginginkan kehancuran hubungan kalian merasa menang. Lo harus lebih bersabar dan nggak boleh lemah. Kalau perlu kita lawan orangnya dengan cara elegan," balas Karin dengan gaya sok pongah mencoba memberi semangat buat Widya.


...***...



Yok, lawan, yok! Aku mendukungmu dari samping, Wid 😊

__ADS_1


__ADS_2