Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 27


__ADS_3


...***...


Semenjak tersebarnya kabar Nathan dan Widya yang resmi pacaran, banyak mahasiswi yang merasa kehilangan sosok idola. Sebagian dari mereka merasa kecewa karena idola mereka sudah melepas predikat jomlonya membuat mereka tidak punya harapan untuk mendekat. Namun, tidak sedikit yang merasa bahagia karena perjuangan sang idola dalam memperjuangkan cintanya telah berhasil.


Nathan adalah sosok sempurna di mata mahasiswi di kampusnya. Orangnya baik, wajahnya sudah tidak diragukan lagi, dan kekayaan yang terlihat dari segala barang yang ia pakai membuat para gadis berlomba untuk mendapatkan hatinya. Memberikan perhatian-perhatian yang kadang membuat Nathan muak. Bagi Nathan, semua itu hanya kepalsuan. Trauma akan cintanya yang dahulu membuat ia lebih berhati-hati terhadap wanita. Hingga ia menemukan Widya, gadis sederhana yang tidak pernah memandang kekayaannya.


Sore ini, Nathan mengajak Widya melihat pameran desain yang diadakan di kampusnya. Pameran tersebut merupakan ajang untuk menunjukkan hasil karya mahasiswa jurusan desain interior.


“Silakan masuk, Sayang!” ujar Nathan setelah membuka pintu mobil sisi kiri untuk Widya. Tanpa membalas ucapan Nathan, Widya masuk dan berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Nathan berjalan mengitari mobil dan masuk melalui pintu kanan. Perlahan, ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


“Sabuk pengaman sudah dipakai, Sayang?” tanya Nathan.


“Sudah,” jawab Widya singkat.


“Kok, diam saja. Kenapa?” tanya Nathan.


“Gue lagi mikir aja. Semenjak kita jadian gue sering mendapati tatapan aneh dari sebagian orang di kampus. Gue merasa minder aja, sepertinya gue nggak pantes gitu buat jadi pacar lo,” lirih Widya.


“Hei, lo ngomong apa, sih? Lo nggak usah mikirin orang lain, yang perlu lo pikirin itu cuma gue. Biarin aja mereka mau mikir gimana. Yang penting gue udah memilih lo, itu artinya lo beda dari mereka. Lo istimewa,” ucapan Nathan seketika mengurangi kecemasan di hati Widya.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di area kampus. Nathan memasuki pelataran parkir, di sana ia melihat mobil Harsa sudah terparkir dengan cantiknya. Setelah menemukan posisi parkir, Nathan turun duluan dan membukakan pintu untuk Widya.


“Cie … cie … yang lagi bucin mah romantis abis,” ledek Kartika yang berdiri di samping mobil Zakir.


“Loh, lo datang bareng Zakir? Wah, sepertinya lo udah masuk perangkapnya,” ujar Nathan pura-pura terkejut.


“Eh, sialan, lo. Emang gue pemburu pakai perangkap segala. Tanpa perangkap pun Tika udah masuk ke mobil gue,” ucap Zakir membuat Kartika cemberut, sedangkan yang lain terbahak-bahak melihat tingkah Kartika dan Zakir yang seperti maling ketahuan.


“Tik, kalau lo suka bilang aja! Jangan sampai Zakir diambil nenek lampir.” Widya menambah suasana semakin panas.


Harsa sedari tadi diam saja, hanya tersenyum menimpali obrolan mereka. Setelah Karin bergabung, mereka segera menuju ke lokasi pameran. Sepanjang perjalanan, Nathan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Widya. Hal tersebut tidak lepas dari pandangan Harsa.


“Woy, inget jomlo yang ada di sini, dong!” teriak Zakir.


“Sorry, deh. Habisnya gue takut Ayang Beb hilang digandeng orang,” balas Nathan tidak mau kalah.


Mereka berkeliling masuk dari satu stan ke stan yang lain. Bagi Nathan pribadi, pameran ini sangat bermanfaat untuk memunculkan ide kreatifnya. Selain hal itu juga karena Nathan bisa berlama-lama menggandeng tangan sang pujaan hati.


Tanpa terasa waktu magrib telah tiba. Mereka bergegas menuju musala kampus untuk menunaikan kewajiban. Tiga puluh menit kemudian mereka berkumpul di depan musala.


“Gue lapar. Cari makan, yuk!” ajak Karin.

__ADS_1


“Ayo! Kita mau makan di mana?” timpal Widya.


“Lo mau makan apa, Sayang?” tanya Nathan.


“Apa aja, deh!” jawab Widya yang mulai terbiasa dengan panggilan Nathan.


“Ke Kafe Hamber kejauhan nggak, ya?” tanya Edo.


“Lo masih bisa nahan, 'kan, Rin?” tanya Harsa ke Karin.


“Masih, lah. Ya udah, kita ke Kafe Hamber saja. Gue ikut lo, Zak. Takut jika tiba-tiba lo jadi ganas, entar sahabat gue nggak ada yang nolongin,” canda Karin membuat mereka tertawa.


“Ya ampun, lo tega amat, Rin. Gue manusia normal, bukan serigala yang mendadak buas saat bulan purnama,” kalimat Zakir memelas. Sontak semua memandang langit dan ternyata memang saat itu bulan menampakkan bentuk sempurnanya.


...*** ...


Mereka menikmati hidangan seperti biasanya. Makan diselingi obrolan ringan dan canda tawa sudah biasa mereka lakukan. Nathan beberapa kali mengambil tisu dan membersihkan bibir Widya dari noda saus tomat.


“Perhatian … perhatian …!” Edo tiba-tiba berdiri membuat yang lain terkejut sekaligus heran dengan tingkahnya.


“Setelah melihat hubungan Nathan dan Widya selama ini, menimbang segala hal yang telah Nathan lakukan, maka dengan ini gue putuskan bahwa Nathan dan Widya berhak menyandang predikat sebagai pasangan romantis di kalangan kita,” terang Edo diiringi riuh tepuk tangan mereka.


“Yaelah, Do! Masak gue enggak, sih!” protes Zakir.


“Lo belum saatnya menyandang perdikat ini,” jawab Edo sekenanya.


...*** ...


“Gue nggak nyangka sekarang gue bahagia bersama Nathan,” ucap Widya dalam hati.


Perlahan senyum yang terukir di bibirnya memudar. Berubah menjadi wajah tenang tanpa beban. Dewi malam yang bertahta di langit menemani senandika yang terucap dari hatinya. Serayu mulai menyentuh atma, membawa ke alam mimpi menyelami rahasia Ilahi.


...*** ...


Sementara di tempat lain, Nathan tidak bisa memejamkan mata dengan cepat. Bayangan Widya selalu mengusik batinnya. Senyumnya, tawa manjanya, perhatiannya, semua tentang Widya selalu indah untuk dibayangkan. Nathan merasa sempurna mendapatkan kebahagiaan ini. Merasa telah menemukan dirinya kembali setelah sekian lama hatinya terkurung dalam sendu.


Nathan melihat binar bahagia sang mama yang selama ini selalu membesarkan hatinya. Bias kelegaan itu membuat Nathan semakin yakin akan langkahnya. Selama ini ia telah membuat gundah wanita yang telah melahirkannya. Bahkan hampir saja membuat wanita tersebut patah semangat. Semua ini berkat Widya. Kehadiran Widya mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan tertata.


Nathan merasa bersyukur dipertemukan dengan Widya. Gadis itu mampu menghadirkan cinta di hatinya. Membasuh dendam dan segala sakit hati. Membawa ia bangkit untuk memulai kehidupan barunya.


...*** ...


Sayup suara azan menjemput arunika, perlahan Widya membuka mata ketika notifikasi ponselnya bergetar.

__ADS_1


“Selamat pagi, Sayang,” sapa Nathan.


“Pagi juga,” jawab Widya singkat.


“Apa semalam lo mimpikan gue?” goda Nathan.


“Udah, ah! Pagi-pagi nggak usah gombal. Ada apa?” tanya Widya cemberut.


“Kangen. Ntar gue ke rumah, ya?” ucap Nathan.


“Boleh, tapi jangan ngerecokin Bunda, ya. Hari ini banyak pesanan. Lo bisa bantuin di sini,” balas Widya.


“Oke, Sayang!” Nathan segera mengakhiri percakapannya.


***


Sekitar pukul sepuluh, Nathan mendatangi rumah Widya. Di sana Widya dan Arini sibuk berkutat di dapur. Widya mengaduk adonan kue yang telah dipersiapkan Arini. Sedangkan Arini sibuk berkreasi dengan krim yang ia bubuhkan di atas kue-kue itu hingga terlihat sangat cantik.


“Nathan bantu apa, Bun?” tanya Nathan setelah bergabung di dapur. Arini berpikir sejenak, sekiranya pekerjaan apa yang mampu Nathan lakukan.


“Kamu gantiin Widya saja, Nath. Biar Widya mengeluarkan kue dari oven,” jawab Arini.


“Siap, Bunda Mertua!” jawab Nathan dengan gaya kocaknya.


“Nathan!” teriak Widya mendaratkan tangannya di bahu kekarnya.


“Auw, sakit, Sayang! Bun, ini loh anak Bunda hobi banget menganiaya Nathan.” Celotehan mereka membuat Arini tersenyum. Arini bahagia melihat senyum Widya yang kembali ceria.


Setelah Nathan berganti posisi dengan Widya, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing sambil berbincang.


“Pesanan segini banyak untuk acara apa, Bun?” tanya Nathan.


“Ini untuk acara ulang tahun putrinya bu Asmi nanti sore,” terang Bunda yang mendapat jawaban “o” dari Nathan.


Tanpa terasa waktu sudah sore. Pekerjaan mereka telah selesai tinggal mengirim ke rumah bu Asmi.


“Nath, yang ini nanti kamu bawa buat Evan dan Ellen, ya.” Arini menyerah satu dus ukuran besar kepada Nathan.


“Loh, kok Bunda jadi repot, sih!” ujar Nathan merasa tidak enak.


“Enggak repot, kok! Yang ini bunda bikin special dengan hiasan yang berbeda,” ucap Arini dengan senyum teduhnya. Nathan merasa bahagia dan bersyukur mendapat perlakuan hangat di keluarga Widya. Keluarga yang penuh kesederhanaan tanpa mengejar kekuasaan seperti yang Nathan hadapi selama ini di perusahaan papanya.


__ADS_1


...***...


Makin mesra aja mereka. Sabar, ya, para jomloan dan jomlowati 😅


__ADS_2