Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 19


__ADS_3


...***...


“Dari pagi nggak ada kabar. Lo itu bikin gue khawatir tahu, nggak?” lirih Widya. Wajahnya kini terlihat menunduk. Butiran kristal itu sudah memupuk di sudut matanya. Entah apa yang Widya rasakan saat ini. Rasanya, berjuta kesedihan tengah menghampirinya ketika jauh dari Nathan. Ada rasa rindu yang menggebu di dada, tetapi sulit untuk ia utarakan. Sesak, seakan rindu itu begitu mengimpit dan ingin segera dituntaskan, tetapi ia tetap harus bersabar menunggu kepulangan sang pemilik rindu.


Kartika yang menyadari sahabatnya mulai murung, mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya. Dielusnya lembut lengan Widya, hingga atensinya beralih pada Kartika. Butiran bening itu lolos begitu saja.


“Iya, iya, maaf.” Suara di seberang sana masih terdengar jelas di telinga Widya. “Gue sibuk banget hari ini. Banyak yang mesti gue selesein,” lanjut suara itu lagi.


“Terus sekarang udah selesai?” Binar di mata Widya terlihat penuh harap. Ia ingin Nathannya segera kembali. Terlepas rasa apa yang kini tengah ia miliki untuk Nathan. Yang ia tahu, ia merindukan sosok yang selalu ada untuknya.


“Belum, Sayang ... Kenapa, sih, udah kangen berat, ya?” goda Nathan di seberang sana.


“Siapa juga yang kangen sama, lo!” Widya menggigit bibir bawahnya. Sadar jika apa yang ia ucapkan tidak selaras dengan hatinya.


Kartika yang melihat itu hanya mendengus kesal. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri, tanda tidak mengerti akan pemikiran sahabatnya. Sudah jelas terpancar di wajah Widya jika ia memiliki cinta untuk Nathan, tetapi begitu sulit bagi Widya untuk memahami perasaannya sendiri.


“Beneran, nggak kangen sama gue?”


“Nggaklah!”


“Serius?”


“Udah gue bilang enggak, ya, enggak!” kesal Widya karena Nathan tidak berhenti menggodanya.


“Uluh-uluh ... gitu aja ngambek,” goda Nathan lagi. Terdengar jelas di indra pendengaran Widya jika Nathan tengah menertawakannya.


“Nathan!” Widya sedikit membentak Nathan. Ada rasa cemas di hatinya jika Nathan mengetahui apa yang kini tengah ia rasakan.


“Tapi, Wid, kok gue ngrasanya lo tuh kangen banget, ya, sama gue. Udah jujur aja napa, sih! Gue ikhlas lahir batin dikangenin sama lo.” Nathan masih belum puas menggoda pujaan hatinya, mendengar Widya kesal, seolah menjadi hiburan untuknya. Semua rasa lelah karena permasalahan di kantor tadi seakan lenyap begitu saja.


“Nath, lo bisa diem, nggak?” Widya sudah mulai emosi akan ketengilan Nathan di seberang sana. Bukannya marah, Nathan justru terdengar tertawa terbahak di sana.


“Maaf, maaf. Gue tuh kangen banget sama lo. Denger lo marah-marah kayak gini sedikit ngobatin rasa kangen gue.”


“Seneng, ya, bikin orang emosi?” Widya pura-pura kesal hanya untuk menutupi rasa yang tiba-tiba membuncah di hatinya saat mendengar pengakuan Nathan yang merindukannya.


“Udah, jangan ngambek! Ntar tambah cantik, loh. Gimana, seharian ini, ngapain aja? Ada yang gangguin lo, nggak?”


Akhirnya mereka berdua berhenti berdebat dan mulai menceritakan kegiatan masing-masing. Kartika pun ikut nimbrung saat panggilan di loudspeaker. Mereka bertiga asyik bercerita dan bercanda. Tanpa terasa hampir dua jam waktu yang mereka habiskan hanya untuk membahas hal yang unfaedah.


“Jadi, kapan lo bisa balik?” tanya Widya dengan air muka sendu.


“Gue nggak bisa pastiin, Sayang. Tapi gue harap, lo bisa sabar nunggu gue, ya!” Widya hanya diam mencerna kata-kata Nathan. “Wid, jujur. Sebenernya gue trauma ninggalin lo sendiri di sana. Sepulang gue nanti, jangan ada kabar yang bikin gue patah hati, ya!” pinta Nathan.

__ADS_1


“Hem ... gue nggak bisa jamin, sih!” goda Widya.


“Wid,” mohon Nathan.


“Makanya, jangan terlalu lama di sana!” Mendengar suara Widya yang sedikit meninggi membuat Nathan yang tadi murung menjadi terkekeh geli.


“Lo itu nggak usah kemakan gengsi napa? Bilang aja kalo lo nggak mau lama-lama gue tinggal. Tinggal jujur aja, repot amat, sih.” Di seberang sana, Nathan tersenyum penuh kemenangan.


“Narsis amat jadi orang,” sangkal Widya.


“Tik, gue titip Widya, ya!”


“Beres! Asal lo pulang nanti bawain oleh-oleh istimewa buat gue.”


“Enak aja! Dikira gue barang, pakek dititipin segala?” sewot Widya.


Kartika dan Nathan serempak tertawa mendengar celotehan Widya. Tepat pukul sebelas malam, panggilan itu pun berakhir.


“Sesulit itu, ya, Wid, buat mengakui perasaan lo sendiri?” tanya Kartika sesaat setelah mereka merebahkan tubuhnya di kasur.


Widya termangu mendengar pertanyaan Kartika. Entahlah, jauh di lubuk hatinya ia sadar jika ia begitu menyayangi Nathan. Akan tetapi ia tidak mau terburu-buru mengambil keputusan. Widya ingin memastikan di hatinya tidak ada keraguan sama sekali untuk cintanya pada Nathan.


“Gue nggak mau kecewa untuk kedua kali, Tik,” jawab Widya pada akhirnya.


“Semoga, saat lo sudah menyadari perasaan lo sendiri, Nathan belum hilang diambil orang, ya, Wid.”


“Apa? Itu salah satu kemungkinan yang terjadi kalau lo tetep stuck di sini aja. Secara Nathan itu ganteng, pinter, tajir pula. Cewek mana yang nggak mau sama dia.”


“Lo jangan nakut-nakutin gue, dong, Tik!” mohon Widya.


“Gue nggak nakut-nakutin lo. Gue cuma nggak mau lo nyesel nantinya. Nathan juga butuh kepastian, Wid.” Dua pasang mata itu saling menatap, “Gue sayang sama lo. Gue nggak mau lo sakit hati karena kehilangan cinta, lo,” imbuh Kartika.


“Thanks, ya.”


Akhirnya mata mereka terpejam, mengarungi mimpi nan indah yang mereka miliki sendiri.


***


Hari berlalu tanpa terasa sudah sebulan Nathan berada di negara tetangga. Nathan pun semakin jarang memberikan kabar pada Widya karena kesibukannya. Hal itu tentu mengusik hati dan pikiran Widya. Rasa rindunya semakin besar, hingga terkadang terasa sulit untuk ia bendung. Wajahnya kini tidak lagi seceria saat ada Nathan di sampingnya.


Harsa yang melihat perubahan Widya mencoba menghiburnya. Begitu juga teman-teman yang lain. Kini mereka tengah berkumpul di kantin kampus. Ada Harsa, Zakir, Kartika, dan Karin. Mines Edo.


“Wid, habis ini, nggak ada kelas, 'kan?” Karin yang sedari tadi memperhatikan Widya tengah murung mencoba mengalihkan atensi Widya.


Widya yang merasa terpanggil pun mengalihkan perhatiannya. “Kenapa, Rin?”

__ADS_1


“Ke Mall, yuk! Kita nonton. Udah lama kita nggak nonton,” ajak Karin.


“Kapan-kapan aja, ya, Rin. Gue lagi males ke mana-mana,” tolaknya.


“Lo kenapa, sih? Nathan?” tebak Kartika.


Widya tidak lekas menjawab. Ia hanya menundukkan wajahnya. Dari sini Harsa sadar, kehadiran Nathan begitu berpengaruh dalam kehidupan Widya. Seakan tidak ada lagi kesempatan untuknya mengambil hati Widya kembali.


“Udah, nggak usah terlalu dipikir! Nathan pasti baik-baik saja di sana. Dia pasti sibuk banget sampek nggak sempet ngabarin lo. Jangan sedih, ya!” hibur Karin.


“Iya, Wid. Si sontoloyo Nathan di sana pasti baik-baik aja. Kalau lo mikirin dia terus, yang ada ntar dia di sana nggak bakal tenang. Bisa jadi arwah gentayangan nanti,” oceh Zakir.


“Zakirrrrr!” bentak Widya, Karin, dan Kartika bersamaan. Mata mereka melotot sempurna ke arah tersangka.


“Sekali lagi lo ngomong nggak jelas, gue hajar, lo!” ancam Kartika sembari melempar kentang goreng ke arah Zakir dan tepat mengenai keningnya.


“Haish, jangan lempar-lempar makanan, Tika! Sayang, 'kan, jadi mubadzir,” protes Zakir.


“Iya. Kayak lo. Mubadzir ada di sini,” kesal Kartika.


“Lah, kok jadi gue yang mubadzir? Gue, tuh, orang yang paling banyak manfaatnya tahu, nggak?”


“Enggak!” jawab Karin kesal.


“Udah, lo diem aja. Nggak usah ikut ngomong!” sentak Kartika.


Widya hanya diam menanggapi perdebatan Karin, Zakir, dan Kartika. Sedangkan Harsa perhatiannya tidak pernah lepas dari Widya.


“Atau kita ke book fair aja?” usul Harsa.


Sesaat Widya mengalihkan pandangannya pada Harsa, menatapnya sekilas lalu menggelengkan kepalanya. “Kalian aja, gue pulang duluan, ya,” pamit Widya. Ia segera beranjak dari duduknya.


Harsa tak lekas tinggal diam, ia meraih tangan Widya, “Gue anter pulang.”


Zakir, Karin, dan Kartika hanya bisa terdiam melihat tingkah Harsa.


“Makasih, Sa. Tapi gue bisa pulang sendiri. Setelah ini, lo ada kelas, 'kan? Gue pulang, ya.” Widya melepaskan tangannya dari genggaman Harsa dan berlalu pergi meninggalkan mereka semua.



...***...


Harsa masih cari kesempatan aja, nih.


Gimana pendapat kalian?

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya, ya 🤗


__ADS_2