
...***Happy Reading***...
...***...
Acara pertunangan antara Widya dan Harsa membuat banyak pihak turut bahagia. Mulai dari sahabat, keluarga, bahkan karyawan kantor yang dipimpin oleh Harsa pun turut mendukung hubungan mereka berdua.
Satu minggu setelah dilangsungkannya pertunangan tersebut, keluarga dari pihak Arini-Bowo, Evi-Rangga, sepakat menentukan tanggal pernikahan anak mereka. Yakni satu bulan kemudian. Oleh sebab itu, kini Widya dan Harsa disibukkan dengan fitting gaun pengantin yang akan mereka berdua kenakan saat akad dan resepsi nanti.
“Yang, aku nggak suka, loh, kamu pake kebaya yang atasannya lebar,” protes Harsa, saat Widya mencoba kebaya berwarna putih tulang rancangan Inne Ivantie. Di mana bagian atasan kebaya tersebut menampilkan leher jenjang nan putih yang terekspos hingga dada. Hal ini menimbulkan reaksi Harsa. Ia risih jika calon istrinya memakai pakaian yang terlalu terbuka.
“Ih, kamu kok gitu, Yang. Kan, awalnya kamu nggak protes saat didesain. Kenapa sekarang baru protes?” kesal Widya. Ia yang memakai kebaya tersebut merasa puas dengan hasil rancangan designer ternama tanah air yang sangat pas melekat di tubuhnya.
Harsa menghampiri Widya, yang saat ini berdiri memperhatikan penampilan di depan cermin. “Aku, nggak setuju jika bagian ini terlalu terbuka, Sayang,” tunjuk Harsa pada bagian dada. “Bukannya aku nggak setuju sama kebayanya. Hasilnya cantik, cuman alangkah bagusnya jika bagian ini dipermak kembali. Aku nggak mau, semua orang menikmati tubuh indahmu. Kamu tahu, 'kan, maksud aku, Yang?” peluk Harsa dari belakang punggung Widya.
“I-iya, udah,” sahut Widya. Ia pun menurut dengan kemauan Harsa, walaupun agak sedikit kecewa. Karena ia berharap bisa tampil maksimal di hari pernikahannya nanti.
Setelah berdiskusi singkat dengan Mbak Inne Ivantie, calon pasangan pengantin tersebut pun pamit undur diri. Karena sebelum berdiskusi, Harsa sudah terlebih dahulu mencoba jas yang akan dikenakan pada saat akad dan resepsi nanti.
Arini dan Evi pun tidak kalah antusias. Sebagai calon besan mereka juga sibuk menyiapkan baju seragam untuk dipakai pada hari pernikahan anak mereka. Seolah sudah menjadi tradisi masyarakat kita di acara perhelatan pernikahan. “Jeng Arini, jangan lupa kain untuk Jeng Liana dan anak-anaknya!” Mama Evi mulai menghitung berapa orang kerabat yang akan mereka bagikan selain keluarga inti.
“Iya, Jeng. Sudah, kok. Keluarga mereka sudah masuk dalam list nomor satu aku.”
“Oh, syukurlah.” Evi berujar lega.
...***...
Hari yang ditunggu pun tiba. Acara pernikahan antara Harsa dan Widya berlangsung mewah. Bertempat di salah satu hotel bintang lima yang ada di ibu kota–D’ Riz Dalton, menjadi pilihan kedua mempelai. Ballroom yang mampu menampung 5000 tamu undangan itu disulap menjadi tema princess. Untuk masalah dekorasi, Harsa menyerahkan sepenuhnya kepada jasa wedding organizer dengan persetujuan Widya. Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka sepakat mengangkat tema modern internasional. Di mana banyak sekali dijumpai bunga sakura yang ditata dengan sangat cantik. Lampu kristal menggantung sempurna dengan mewah di langit-langit ballroom menambah kesan modern.
Sementara itu, Widya yang berada di dalam kamarnya di hotel tersebut merasa gugup. Sejak tadi, ia digoda terus oleh ocehan, Karin dan Kartika yang ngelantur.
“Liat, wajah pengantin kita hari ini, Tik. Tegang banget, ckckck,” cibir Karin menggelengkan kepala.
“Kalian berdua sejak semalam resek banget, tahu,” gerutu Widya mengingat kejahilan kedua sahabatnya yang tidak berhenti meledek dirinya tentang pembahasan malam pertama. Ketiga sahabat itu berkumpul di kamar hotel Widya sengaja memberikan bridal shower.
“Pengantin, kok cemberut. Sayang loh, make up-nya nanti luntur. Bisa-bisa babang Harsa nanti nggak ngenalin istrinya lagi,” timpal Kartika cengengesan yang senang sekali menggoda sahabatnya. Ucapan Kartika membuat ketiganya tertawa. Namun, pintu kamar terbuka membuat mereka semua menghentikan tawanya.
Ceklek.
Menampilkan sosok perempuan paruh baya yang sudah dianggap seperti orang tua kandungnya sendiri. Widya berdiri dari posisinya menyambut kedatangan Liana dan juga si kembar.
“Mama Liana,” kata Widya tersenyum senang.
__ADS_1
“Sayang, kamu cantik sekali.” Liana mendekat memeluk Widya. Ia senang sekaligus terharu karena bisa menghadiri acara pernikahan Widya.
“Mama ucapkan selamat, ya. Semoga kamu bahagia bersama Harsa,” kata Liana tulus setelah pelukan mereka terlepas.
“Kak Widya cantik banget. Aku jadi pangling, loh,” ujar si kembar bersamaan.
Widya beralih memeluk kedua adik Nathan. Ia merasa bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadanya.
Sementara itu di kamar Harsa, ia pun berhasil menjadi ejekan dua sejoli sahabatnya, Zakir dan Edo. “Tenang aja, Bro. Akad mah gampang, yang penting praktik sesudah akad yang bikin deg deg ser. Tuh, muka udah kayak kanebo kering. Kaku banget, ya, elah. Padahal ini mah cuma akad doang. Bentaran, kok. Ga sampai semenitan. Beda halnya kalo ngapalin undang-undang bisa sampai sepuluh menitan,” ledek Zakir, seraya tertawa bareng Edo.
“Sa ... Sa … santai aja, Bro. Rileks. Kayak ngadepin client. Bentar lagi akad lo. Bayangkan lo ketemu klien dan memenangkan sebuah tender. Nah, anggap aja gitu pas di akad, lo bentar lagi dapatin Widya sepenuhnya,” saran Edo. Harsa masih diam saja. Degub jantungnya masih bergendang ria.
...***...
Ruangan ballroom tempat berlangsungnya akad nikah kini sudah mulai dipadati sejumlah keluarga dan kerabat. Harsa duduk di depan papa Bowo dengan tangan yang berkeringat dingin. “Santai, Sa. Bentar lagi, kamu jadi mantu Papa, kok,” ujar Bowo tersenyum melihat ekspresi calon menantunya yang tegang.
“Baiklah, saudara Harsa apakah Anda siap?” tanya penghulu.
“Siap, Pak.”
“Baik. Dengarkan baik-baik ucapan dari wali nikah saudari Widya. Yakni ayah kandungnya–Bapak Bowo Suharsono."
Harsa dan Bowo berjabat tangan. Bowo tersenyum saat menggenggam telapak tangan sang calon menantu.
Sejenak Harsa menarik napas dan dengan lantang mengucapkan “Saya terima nikah dan kawinnya Widya Putri Esmeralda binti Bowo Suharsono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
“SAHHHH,” ucap para saksi serentak.
"Alhamdulillah," ucap serentak semua orang yang mendengar kata tersebut. Terutama Harsa sudah bisa bernapas lega
“Alhamdulillah, Jeng. Sebentar lagi kita akan gendong cucu,” ujar Liana yang mengundang tawa Bunda Arini dan Mama Evi. Walaupun Widya tidak menikah dengan anaknya, Liana tetap menganggap anak Widya nanti adalah calon cucunya.
“Sepertinya pengantin laki-laki sudah nggak sabar pengin ketemu sama istrinya, lalu masuk kamar." Penghulu meledek Harsa yang celingukan seperti mencari sesuatu. Widya yang belum juga datang ke tempat akad setelah kata 'sah' terdengar, membuatnya merasa khawatir. "Nanti sebelum mulai, jangan langsung seruduk, ya!Ingat adab dan doanya!” nasehat Pak Penghulu.
Harsa tersenyum mendengar penuturan Pak Penghulu. Tentu saja ia tahu dengan maksud dari perkataan penghulu itu.
“Sabar, Sa. Masih siang,” bisik Zakir meledek.
Sementara itu, Widya berjalan menuju tempat akad dengan diapit oleh kedua sahabatnya, Kartika dan Karin. Dengan mengenakan kebaya dari designer ternama Inne Ivantie, Widya tampil sempurna dengan gaun kebaya putih tulang yang sudah dimodifikasi. Melihat sang istri datang, Harsa berdiri dari tempat duduknya. Perempuan yang dia rindukan walau cuma beberapa menit tidak berjumpa, kini sudah berada di hadapannya. Senyuman Harsa tidak surut bahkan ketika keduanya sudah duduk di depan penghulu.
__ADS_1
“Kamu cantik banget, Sayang,” bisik Harsa saat penghulu menyuruh Harsa mencium kening Widya sesaat sebelum penandatanganan buku nikah kedua mempelai. Widya tersenyum mendengar pujian dari laki-laki yang menjadi cinta pertama dan kini menjadi suaminya.
...***...
Malam harinya resepsi diadakan dengan mengundang sejumlah tamu dari kalangan keluarga besar, kerabat serta kolega baik pejabat maupun artis. Harsa dan Widya masuk ke dalam ballroom diiringi nyanyian dari artis ibu kota yang turut hadir meramaikan.
Penampilan keduanya cukup menarik perhatian semua tamu undangan yang hadir. Harsa memakai jas hitam dipadukan kemeja putih tampil gagah bak pangeran berkuda putih. Sementara, Widya sangat cantik seperti putri dongeng dengan hiasan mahkota yang bertengger di atas kepala. Rambut panjangnya dikeriting dan dijalin membuat penampilannya elegan, dengan mengenakan gaun organza putih tulang. Sejumlah payet tersebar di seluruh gaun menambah kesan ratu semalam layak disematkan pada dirinya.
Harsa menggandeng tangan Widya menuju pelaminan. Para tamu undangan berlomba-lomba mengabadikan gambar mereka melalui ponsel. Ucapan dan pujian tak henti-henti terucap dari para tamu yang memberikan restu kepada mereka berdua di atas pelaminan. Dari sekian banyaknya tamu yang ada di ballroom, Widya seperti melihat sosok bayangan Nathan yang turut tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua. Tak lama setelah itu, Widya kembali meneteskan air mata haru, karena di hari pernikahannya, Nathan hadir dan turut memberikan restu kepadanya.
Menyadari istrinya menangis, Harsa pun bertanya, “Ada apa, sayang?” tanya Harsa cemas.
Widya menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya terharu karena bisa bersanding denganmu di pelaminan,” ucapnya dusta. Padahal, Widya tidak ingin mengatakan apa yang baru saja dilihatnya. Ia tidak ingin merusak suasana hati Harsa, yang saat ini tersenyum bahagia menyambut setiap para tamu yang datang memberikan doa dan restu untuk mereka berdua.
Acara selanjutnya sesi dansa. Di mana setiap pasangan yang hadir wajib berdansa bersama guna merayakan kebahagiaan sang pengantin.
“Sayang, dansa yuk!” ajak Zakir menarik tangan Kartika. Kedua sejoli itu pun ikut bergabung bersama pasangan yang lain di lantai dansa.
Sementara itu, Karin yang tengah duduk bersama si kembar, tiba-tiba dikagetkan suara Hasbi yang datang tiba-tiba memintanya untuk berdansa. Edo yang melihat pun merasa panas seketika saat pujaan hatinya didekati oleh laki-laki lain. Tanpa pikir panjang ia meninggalkan rekan bisnisnya yang masih bercerita tadi.
“Sayang, dari tadi gue cari. Ternyata lo di sini.” Edo langsung menarik tangan Karin. Sebelum berlalu, ia memberikan tatapan sinis pada Hasbi yang mendekati gadis pujaannya.
“Lepasin, Edo! Apa-apaan, sih! Siapa juga yang mau dansa,” omel Karin. Sebenarnya ia tidak marah dengan Edo. Hanya karena, ia gagal meminum minuman yang hampir saja ia masukkan ke dalam mulutnya, minuman yang sudah dipesan oleh si kembar pada pelayan, tidak jadi ia minum akhirnya ia sebal. Dan merasa bersalah pada kedua adik Nathan.
“Ya, Maaf. Gue nggak tahu. Saat ini, kan, semua orang berdansa termasuk Harsa dan Widya. Masa kita nggak dansa? Dansa, yuk!” ajak Edo lagi.
“Udah, deh. Gue mau balik ke meja si kembar. Gue nggak enak sama mereka berdua, udah mesenin minuman terus gue nggak minum gara-gara elo!” Tanpa menunggu tanggapan Edo, Karin langsung meninggalkan area dansa dan bergabung kembali bersama si kembar. Edo bergeming dengan perasaan sedih. Ia tidak tahu sampai kapan rasa cintanya itu akan tersimpan rapi.
Acara pernikahan malam ini sangat meriah. Satu per satu tamu undangan pulang setelah memberikan ucapan kepada kedua mempelai. Tersisa keluarga dan sahabat yang tinggal. Harsa sengaja mem-booking beberapa kamar hotel ini untuk acara pernikahannya.
“Kelihatannya Widya sudah lelah. Sebaiknya kalian kembali ke kamar saja,” ujar mama Evi ketika semuanya berbincang-bincang sejenak usai berfoto.
“Kamu sudah capek, Yang? Kita istirahat, yuk!” ajak Harsa menggandeng tangan istri tercintanya menuju kamar pengantin mereka yang berada di lantai atas.
Tanpa berkata, Widya menurut ucapan suaminya. Karena sejak pagi tadi sampai sekarang ia mengenakan sendal hels yang tingginya mencapai 15cm membuat kakinya pegal.
Keluarga dan sahabat pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing yang sudah di-booking oleh Harsa.
...***...
...To be continued...
__ADS_1
Yeayy.... Selamat.
Besok episode yang ditunggu-tunggu, nih. Bab Malam Pertama. Ada yang nungguin, nggak? Hayo ngaku 😅