
...***...
Pagi ini Nathan berencana membuat kejutan buat pujaan hatinya. Dengan mengenakan pakaian casual Nathan terlihat cool dan gagah. Tidak lupa ia membawa oleh-oleh untuk Widya sekeluarga. Termasuk untuk ayah Julio Wibowo dan Bunda Arini Wijaya. Dengan langkah pasti, ia menuju mobil kesayangannya yang ia beri nama 'si mimin' alias si mini copper. Nathan mengendarai si mimin sambil memutar lagu 'kangen' milik grup band Dewa19.
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya .
Menahan rasa ingin jumpa, percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang.
Melepas semua kerinduan, yang terpendam.
Nathan mengikuti lirik lagu yang dia dengar. Senyuman manis selalu terbingkai indah menghiasi bibirnya. Mungkin karena sangat merindu pada Widya Putri Emeralda, hatinya selalu berbunga-bunga. "Aku datang untuk memenuhi semua kerinduan ini, Wid," batin Nathan.
Perjalanan yang lancar membuat ia dan si mimin sampai di halaman rumah sang pujaan hati dengan waktu yang singkat. Dengan tidak sabar Nathan langsung keluar dari mobilnya, langkahnya dibuat panjang agar segera sampai di teras depan.
"Assalamualaikum," ucap Nathan sembari mengetuk pintu. Agak lama menunggu, hingga ia harus mengulangi salam itu barulah terdengar jawaban dari dalam sana.
"Waalaikumsalam." Pintu itu terbuka seiring dengan munculnya sosok Arini dari dalam. "Ya, Allah, Nathan! Kapan tiba dari Singapura?" pekik Arini terkejut.
"Kemarin, Bunda," jawab Nathan sembari tersenyum, kedua matanya melirik ke arah dalam mencari sosok yang ia rindukan. "Widyanya ada, Bunda?" tanyanya kemudian.
Arini tersenyum lucu, sepasang sejoli ini ternyata sama-sama terjangkit virus rindu. "Bentar, ya, bunda panggilkan." Arini hendak pergi, tetapi tiba-tiba tangannya tertahan oleh Nathan. "Ada apa lagi?" tanya Arini heran.
"Bunda bisa bantu Nathan, nggak?" tanya Nathan sedikit ragu sembari melepaskan tangan Arini
"Bantu apa?" tanya balik Arini.
"Jangan bilang ke Widya kalau Nathan yang datang, ya! Nathan mau ngasih kejutan." Bunda menganggukkan kepala sembari mengangkat dua jempolnya sebagai tanggapan, lalu melanjutkan niatnya untuk pergi menuju kamar anak gadisnya.
Dalam waktu lima menit Widya pun turun ke lantai bawah. Kedua matanya menyipit dengan kening berkerut dalam, tengah menerka-nerka seseorang yang duduk membelakanginya di sofa tunggal ruang tamunya. Ia sengaja melangkah pelan, dan ketika sudah dekat Widya pun tercekat. Kedua tangannya spontan membekap mulutnya tanda tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tanpa sadar, cairan bening meluncur begitu saja dari pipi mulusnya.
__ADS_1
"Nathan ...." Widya berkata lirih. Nathan menoleh seraya mengulas senyuman manis.
"Iya, ini gue. Gue datang dengan segala kerinduan gue sama lo. Apa lo ngerasain hal yang sama, Wid?" Dalam beberapa saat kedua pasang mata itu terkunci dalam diam. Nathan dan Widya saling bertatapan penuh kerinduan.
Tanpa bisa dicegah, naluri kerinduan Widya membawa kakinya untuk berlari memeluk Nathan, ketika lelaki itu dengan sengaja merentangkan kedua tangannya ke arah Widya. "Lo jahat, Nath!" geram Widya di sela isak tangisnya.
Ayah dan bunda hanya melihat dari ruang keluarga sambil tersenyum bahagia, karena anaknya sudah menemukan tambatan hatinya.
Setelah beberapa saat, Nathan mengurai pelukan itu. Lalu menyeka butiran bening yang membasahi pipinya Widya.
"Gue emang jahat, tapi gue senang akhirnya ada seseorang yang kangen sama gue."
"Apaan, sih!" Widya memukul dada Nathan pelan. Rona merah di pipinya semakin terlihat jelas.
"Masih mau ngelak?"
"Wid, gue mau denger secara langsung dari mulut lo sendiri, di hadapan gue. Katakan kalau lo rindu sama gue! Katakan kalau lo sayang sama gue! Seperti apa yang lo katakan di telepon waktu itu." Melihat Widya masih terdiam dan tertunduk, Nathan melanjutkan kalimatnya, "Ikuti kata hati lo! Kalau emang lo sayang dan cinta sama gue. Gue bakal bahagia banget, dan janji bakal ngebahagiain lo juga. Lo mau, 'kan, jadi pacar gue?"
Mendengar itu, Widya pun mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Nathan dengan lekat. Setelah menarik napas panjang Widya pun berkata, "Gue mau, Nath. Gue mau jadi pacar lo. Gue sayang dan cinta sama lo. Gue kangen sama lo. Kangen banget!" Tangis haru kembali terdengar, tubuh Widya kembali masuk dalam pelukan Nathan. Lelaki itu sungguh berbahagia, kini cintanya telah diterima.
***
Jika beberapa hari yang lalu Widya diliputi rasa gelisah, maka mulai hari ini hari-harinya akan diliputi rasa bahagia. Tidak bisa dipungkiri, kejutan atas kepulangan Nathan begitu membuatnya bersemangat.
Mereka sudah duduk di teras rumah dengan ditemani teh hangat dan sepiring kue lapis. Tatapan Nathan hanya terpaku pada Widya, sedangkan yang ditatap, justru hanya melihat ke arah jalanan depan rumah. Nathan menggenggam tangan Widya dengan posesif, seakan tidak ingin Widya terlepas darinya.
“Lepasin tangan gue, Nath!” pinta Widya dengan lirih. Ia merasa takut, kalau tiba-tiba ayah dan bundanya menghampiri mereka di teras.Nathan menggeleng sebagai jawaban.
“Nggak enak sama ayah sama bunda kalau lihat kita kayak gini,” rengek Widya.
__ADS_1
“Gue masih kangen, Wid.” Nathan menghiba. Wajahnya terlihat memelas hingga Widya tidak kuasa untuk menolak. Widya hanya mengembuskan napasnya kasar melihat kelakuan Nathan. Jika ia boleh jujur pada hatinya. Sungguh, ia pun ingin selalu bermesraan dengan Nathan untuk menuntaskan rindu yang masih bergelayut manja di hatinya.
Kini, rasa rindu yang sejak beberapa hari lalu dirasakannya sudah sedikit terobati. Rindu akan tingkah jahilnya, perhatiannya, apa pun yang dilakukan oleh lelaki itu. Semua tingkahnya selalu mampu membuat Widya tersenyum, tertawa, bahkan marah. Selintas peristiwa saat kebersamaan dengan Nathan mampir dalam ingatan dan itu membuat Widya tersenyum sendiri.
"Lo kesambet, Wid?" tanya Nathan saat melihat Widya yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum.
Widya menoleh ke arah Nathan. "Iya, kesambet. Lo, sih, bikin gue kayak gini. Tanggung jawab!"
Nathan tergelak. "Gue bakal tanggung jawab, buktinya sekarang lo jadi pacar gue. Apa mau langsung jadi istri?" Nathan mengerlingkan matanya menggoda Widya.
"Baru pacar, Nath! Lo pede banget, gue bakal jadi istri lo," tukas Widya.
"Semua ucapan itu do'a, Wid. Lo nggak mau jadi istri gue?"
Widya nampak berpikir. "Nggak!" Nathan memberenggut. Namun, sedetik kemudian mereka pun tergelak bersama.
"Jalan, yuk!" ajak Nathan yang mulai merasa bosan. "Nggak ada jam kuliah, 'kan?"
Widya menggeleng. "Sebentar, gue pamit dulu sama ayah sama bunda."
Setelah berpamitan, Nathan segera mengajak Widya menuju mobilnya. Membelah jalanan kota yang lumayan padat lalu lintas.
Seharian Widya menghabiskan waktu berdua bersama Nathan. Mulai dari pergi ke mall, taman bermain, bahkan mereka kembali ke tempat di mana dulu Bowo mengajak Nathan dan Harsa memancing.
...***...
Udah ketemu, dong, mereka. Jadi pengen ketemuan juga, tapi sama siapa, ya? 🤭
Yuk, tinggalkan jempolnya buat part ini. Kalau nggak, aku balikin Nathan ke Singapura. Kali-kali maksa 😅
__ADS_1