Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 23


__ADS_3


...***...


'Pucuk di cinta ulam pun tiba'. Seperti makna dari peribahasa lama, begitulah suasana hati Nathan setelah selesai melakukan video call dengan Widya. Niat hati melakukannya tidak lain adalah untuk melepas rasa rindu yang beberapa hari menumpuk, akibat kesibukannya membantu permasalahan perusahaan keluarganya. Walaupun tidak sepenuhnya rindu itu terobati, tetapi apa yang didapat sebelumnya sungguh membuat senyum di wajahnya mengembang, matanya yang sipit menjadikan iris pupilnya hampir tidak terlihat.


Membayangkan wajah Widya yang bersemu merah memang sudah biasa. Namun, sikap yang ditunjukan oleh Widya membuatnya ingin segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya, seandainya gadis pujaannya itu di depannya. Kata- kata yang keluar dari mulut gadis itu menambah rasa di dalam dadanya kian memuncak saja.


Kini Nathan sudah berbaring di atas kasur dan bersiap menuju ke alam mimpi. Namun, belum juga alam mimpi itu ditemui, bayangan wajah Widya sudah memenuhi seluruh pikirannya.


"Benar, kan, tadi Widya bilang rindu dan sayang sama gue?" gumamnya sambil menatap kosong ke atas langit kamar. Apa yang dikatakan Widya memang cukup jelas bagi Nathan, tetapi rasanya dia masih kurang puas mendengarnya.


"Tadi kenapa malah ditutup, sih, telponnya? Padahal gue belum selesai ngomong. Apa gue telpon lagi aja, ya?" Nathan mengusap wajahnya gusar. Hatinya gelisah, antara ingin menelepon Widya takut menggangu, karena sudah terlalu malam. Namun, jika menunggu sampai besok, mampukah dia melewati malam ini dengan rasa penasaran? Akhirnya ia putuskan menelepon Widya besok saja dan membiarkan dirinya gelisah sepanjang malam. Entah jam berapa dia mulai memejamkan matanya, mungkin sudah hampir menjelang subuh.


***


Sang fajar sudah menampakkan wujudnya, diiringi tetesan embun pagi di setiap dedaunan yang berada di permukaan bumi. Suara-suara bising kendaraan yang lalu lalang di jalanan mulai terdengar semakin nyaring di telinga setiap manusia yang akan memulai aktivitas harinya, tetapi seorang gadis manis masih betah bergulung di atas kasur selepas melaksanakan kewajibannya menghadap Sang Pencipta.


Alasan hari libur mungkin itu yang akan diutarakannya pada bundanya jika ditanya mengapa ia masih betah berada di dalam kamar. Walaupun kenyataan sebenarnya adalah karena ia tidak bisa melupakan pernyataan rasa rindunya yang semalam. Jika mengingat itu pasti membuat wajahnya kembali bersemu merah.


Bagaimana reaksi Nathan? Apakah dia akan terharu atau justru akan menertawakannya? Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Widya sehingga dia tidak berani melihat HP-nya. Dia sengaja menon-aktifkan HP-nya, karena merasa belum siap berbicara dengan Nathan lagi.


"Wid, bangun. Sarapan, Nak!" Terdengar suara bunda Arini membangunkan Widya di depan pintu kamarnya. Widya yang mendengarnya hanya menyahut dari dalam dengan posisi masih di atas kasur.


"Iya, Bun, sebentar lagi aku keluar." Merasa tidak enak dengan bundanya, akhirnya dia pun bangun terlebih dahulu, lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.


Setelah selesai melakukan ritual bangun tidur, dengan diliputi rasa penasaran, Widya membuka ponselnya. Ia mengecek apakah ada nama Nathan di salah satu notifikasi di layar gadgetnya. Berharap tentu saja, Widya berharap Nathan selalu menghubunginya agar dia selalu merasa diperhatikan. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa dia masih bingung dan malu jika harus berhadapan dengan Nathan.


Widya kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas, tetapi sedetik kemudian Widya mendapati layar ponselnya menyala terang karena ada panggilan video masuk. Betapa kagetnya dia, nama Nathan yang terpampang di layar ponselnya itu. Tubuhnya mendadak tegang dan ia merasa panas dingin. "Angkat atau tidak, ya?" Widya sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga panggilan itu berakhir tanpa ia angkat. Tak lama terdengar bunyi notifikasi pesan WhatsApp.


Nathan : Wid, angkat telponnya, ya!


Belum sempat Widya membuka pesan itu terdengar suara bunda Arini memanggil. "Sayang, kamu sakit?"


Dengan tergesa-gesa, Widya keluar dari kamar. Saat membuka pintu, ternyata sudah ada bunda Arini berdiri di sana.

__ADS_1


"Nggak, Bun.Widya nggak sakit, kok." Sambil cengengesan, Widya menjawab pertanyaan bundanya yang sempat terjeda.


"Lalu kenapa belum sarapan? Masih galau?" Pertanyaan Bunda Arini tak ayal membuat Widya jadi salah tingkah.


"Nggak, Bun. Siapa, sih, yang galau? Bunda ini bisa saja. Widya cuma lagi males-malesan, Bun. Lagian ini hari libur." Dengan menampilkan wajah memohonya seraya menaikkan kedua alisnya Widya mencoba memberi alasan agar bundanya tidak terus menerus menggodanya.


"Emang kalau hari libur harus malas-malasan makan? Nggak boleh begitu, makan itu kebutuhan. Kalau kita nggak makan tepat waktu hanya karena malas makan, nggak ada waktu makan itu bisa merugikan tubuh kita yang akhirnya kita bisa sakit. Itu namanya kita dzolim sama diri kita sendiri," tutur Arini memberikan petuah.


"Iya, Bunda. Maafin Widya, ya! Widya akan berusaha makan tepat waktu. Makasih, ya, Bun, sudah mengingatkan Widya." Widya jadi merasa bersalah dengan dirinya dan bundanya, karena sibuk memikirkan perasaan yang sudah jelas kepada Nathan dia jadi melupakan waktu sarapan. Dalam hati dia juga berpikir harus berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan Nathan. Tidak perlu lagi berpikir rasa malu. Bukankah selama ini Nathan selalu bersikap manis padanya. Selalu memperhatikannya, bahkan setelah dia tolak sekalipun sikap Nathan tetap sama.


"Sama-sama, Sayang. Kok, malah ngelamun, ayo sarapan!" Teguran dari bunda membuyarkan lamunan Widya.


"Iya, Bunda!" Sambil merangkul bundanya Widya menuju lantai bawah untuk sarapan, dia berniat akan membalas pesan Nathan setelah selesai makan atau mungkin dia akan menelepon cowok itu.


\*\*\*\*\*


Kini Nathan sedang berada di gedung perkantoran LCBC. Sorot matanya tertuju pada layar komputer yang ada di hadapannya, dia berusaha berkonsentrasi untuk bisa menganalisis laporan keuangan dari perusahaan cabang yang dipegang pamannya –Yuda, tetapi sepertinya konsentrasinya terganggu dengan keberadaan ponsel di samping komputernya. Menanti balasan pesan dari gadis yang semalam bilang kangen dan sayang yang membuatnya ingin segera kembali ke Jakarta.


Notifikasi yang ditunggu akhirnya berbunyi. Namun, sayangnya itu bukan dari Widya, tetapi dari adiknya—Evan yang meminta oleh-oleh. Nathan pun menghela napas melanjutkan lagi kegiatan sebelumnya. Sampai dering telpon berbunyi dan nama Widya yang terpampang di layar HP-nya, dengan cepat Nathan menerima panggilan masuk itu.


"Apaan, sih, lo, Nat? Orang telepon itu salam dulu bukannya nanya yang aneh-aneh,” sahut Widya di seberang sana terdengar menahan tawa namun bernada ketus seperti biasa.


"Kan, yang telepon lo dulu, Sayang, bukan gue. Gue cuma khawatir dari tadi subuh telepon lo mati. Gue coba telepon berapa kali nggak nyambung. Yang terakhir nyambung, eh malah nggak diangkat. Gue kirim pesan, nggak lo buka"


"Baterai gue habis," bohong Widya, dia tidak mungkin mengatakan sengaja mematikan HP, karena malu padanya.


"Jadi kemarin sambungan telpon lo langsung mati, karena habis baterai?" tebak Nathan dengan kejadian tadi malam. Namun Widya diam tidak merespons, karena sang empu mendadak salah tingkah. Untung saja mereka tidak saling berhadapan secara langsung.


"Wid, lo, kok, diem aja, sih? Pertanyaan gue nggak dijawab. Lo dengerin gue nggak, sih?" protes Nathan yang merasa gemas dengan sikap Widya, mungkin kalau di hadapannya sudah dia cubit pipinya.


"Eh, iya, gue denger kok, Nath. I-iya, kemarin itu baterai HP gue habis." Lagi-lagi Widya berbohong sambil memukul keningnya secara pelan dan mengutuk kebohongannya. "Lo nggak lagi sibuk, ya, Nath?" Widya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lumayan, lo sendiri lagi ngapain? Nggak jalan sama yang lain?"


"Nggak, lagi mager di rumah."

__ADS_1


"Wid, lo beneran kangen dan sayang sama gue?”


Secara spontan, Nathan bertanya tentang keraguan yang ada di pikirannya. Widya jadi bingung menjawabnya, rasa nyaman yang muncul di saat mendengar suara Nathan berubah menjadi salah tingkah, karena pertanyaan Nathan yang absurd bagi Widya.


"Nggak! Nggak ada siarang ulang. Kenapa harus ditanya lagi? Emang kalimatnya kurang jelas?" Widya menjawab dengan ketus untuk menyamarkan nada suaranya yang bergetar akibat menahan tangis. Rasa rindu membuatnya ingin menangis.


"Lo nangis, ya, Wid? Maaf! Gue cuma nanya, beneran lo kangen gue? Beneran lo sayang gue? Saking bahagianya gue sampai merasa ini hanya mimpi, Wid." Suara Nathan terdengar sendu, merasa bersalah telah membuat gadis pujaannya menangis. "Maafin gue kalau bikin lo sedih. Lo tahu, Wid? Rasanya sakit membiarkan air mata lo jatuh tanpa bisa gue hapus."


Terdengar gelak tawa dari seberang, Widya merasa gemas dengan apa yang dibicarakan Nathan, apalagi dengan nada bicaranya. Mungkin kalau di depannya, mimik wajahnya akan terlihat lucu.


"Lo kapan pulang?" Hening sejenak, 'Apakah itu pertanyaan yang tepat,' pikir Widya. Terlihat sekali kalau dia sangat merindukan cowok yang suka usilin dia. "Maksud gue ... belum selesai, ya, permasalahan perusahaan keluarga lo?"


Gemas rasanya Nathan dengan sikap Widya yang masih malu-malu dengan perasaannya. Seandainya gadis itu di hadapannya, mungkin dia tidak bisa menahan diri memeluknya. “Belum, tapi gue akan berusaha cepat menyelesaikannya agar cepat bisa pulang dan bertemu dengan kesayangan gue yang katanya sedang kangen."


"Adik lo, ya, yang kangen?" spontan Widya memotong ucapan Nathan.


"Ciee malah ngelak, lagi. Tadi malam yang bilang kangen dan sayang siapa?"


"Nathan! Gue matiin, ya?" Widya jadi emosi, karena Nathan terus menggodanya.


"Gimana, Nak?" Terdengar suara Papa Daniel, seketika sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Widya.


Nathan pun kaget dengan kedatangan papanya yang tak terduga, sekaligus sambungan telepon yang tiba-tiba terputus.


"Iya, Pa, Nathan belum bisa menemukannya. Nathan akan periksa lagi laporan keuangannya, Pa. Nathan janji akan secepatnya, karena Nathan ingin segera pulang ke Jakarta," ungkap Nathan dengan nada serius. Pernyataan perasaan dari Widya membuat semangat dan rasa rindunya pada gadis itu semakin memuncak saja.



...***...


Yeaaay, besok Nathan pulang. Tungguin, ya!


See you .... 🤗


Jangan lupa dukungannya, like sama komentarnya. Masih ingat, kan, sama giveaway eska'er. Yuk, komentar! Ngga usah tanggung-tanggung, bikin othornya terharu 🥺

__ADS_1


__ADS_2