
...***...
“Berada di sisinya dapat membuatku menjadi diri sendiri. Dia bisa mengobati rasa sakit yang pernah bersemayam di hati ini, sehingga aku merasa nyaman akan keberadaannya. Dia adalah orang yang membuat aku sadar, kalau diri ini berhak untuk bahagia, Sa,” gumam Widya dalam hati setelah membaca pesan dari Harsa.
“Aku harap, kamu juga akan segera menemukan pengobat hati kamu, Sa. Seperti aku yang menemukan Nathan dalam hidupku,” lanjutnya seraya tersenyum memandangi pesan dari Harsa tanpa membalasnya. Membuat Karin dan Kartika mengedikkan bahunya karena melihat keanehan sahabatnya.
“Tahu gue. Yang habis dilamar, jadi bawaannya happy mulu, sampai senyum-senyum sendiri." Kartika mencoba menggoda Widya yang berada di seberang mejanya, membuat Karin jadi terkekeh geli melihatnya.
Widya tidak mampu menutupi kebahagiaan yang membuncah dalam dirinya, sehingga senyum merona terus terpancar di wajah ayunya. Membuat kedua sahabatnya—Karin dan Kartika pun turut merasakan hal yang sama.
“Apakah rasanya sebahagia itu, Wid?” tanya Karin pada Widya, membuat fokus Kartika terhenti saat ingin melahap sosisnya.
Widya mengangguk pasti. “Gue benar-benar bahagia, Rin, Tik. Saat Nathan melamar gue, gue sampai nangis. Gue nggak nyangka akhirnya saat ini pun tiba.” Widya dengan penuh rona bahagia menceritakan moment lamaran romantis ala kekasihnya—Nathan, yang membuat kedua sahabatnya merasakan kebahagiaan yang Widya rasakan. Tanpa terasa, mereka bercerita sampai membuat pelayan kafe menghampiri mereka.
“Maaf, Kakak. Kafe kami sudah mau tutup. Silakan berkunjung esok hari lagi,” ucap sopan pelayan kafe tersebut, kemudian pelayan tersebut mengangguk dan meninggalkan ketiga wanita yang sedang terpaku menatap pelayan itu.
Sepeninggal pelayan wanita itu Widya, Karin dan Kartika bukannya merasa kesal, melainkan malah tertawa terbahak karena tidak menyadari waktu saking asyiknya bercerita.
...***...
Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Tepatnya tiga bulan setelah acara lamaran romantis yang Nathan berikan. Dengan sisa waktu yang ada karena permintaan Nathan yang ingin segera menikahi Widya, membuat keluarga Widya dan Nathan harus bekerja keras guna menyiapkan semuanya secara sempurna.
Beruntung Liana memiliki banyak teman sosialita di Jakarta hingga memudahkan semua urusannya. Mulai dari WO, hotel tempat diadakan acara pernikahan, butik untuk baju pengantin, dan lain sebagainya, semua atas bantuan teman-teman sosialita Liana.
Kini, dua bulan sudah berlalu. Bulan depan pasangan sejoli yang sedang dimabuk asmara itu akan segera menjadi suami-istri. Semua itu membuat Nathan dan Widya bahagia. Meski di balik rasa bahagia juga ada debat yang semakin menggila.
...***...
Pagi yang cerah di hari minggu adalah waktu yang sempurna untuk meneruskan tidur setelah menjalankan ibadah salat subuh. Seperti halnya para pekerja lain yang memanfaatkan hari liburnya untuk bermalas-malasan, Nathan pun melakukan hal yang sama. Ia juga bermalas-malasan hingga melupakan janji temunya dengan Widya.
Membuat Widya merengut kesal di tempat yang berbeda. Pasalnya, Widya sudah bersiap dan menunggu Nathan dari satu jam yang lalu di teras rumah, tetapi pria tampan itu malah tidak terlihat batang hidungnya.
Widya yang kesal sontak mengambil handphone-nya dan mulai menghubungi Nathan. Berulang kali Widya menelepon Nathan, tetapi tetap tidak diangkat. Hingga di panggilan ke lima, telepon dari Widya diangkat oleh pria bersuara serak khas bangun tidur.
“Halo." Nathan menjawab pelan.
__ADS_1
"Nathan kamu gimana, sih? Aku udah nunggu kamu lebih dari satu jam, nih, tapi kamunya gak datang juga,” cecar Widya membuat seseorang di seberang sana terlonjak kaget.
“Astaga! Sayang, maaf ... aku baru bangun." Nathan terlonjak dari tempat tidurnya ketika mendengar suara Widya.
Ia mengusap wajahnya kasar, merasa kesal dengan ulahnya sendiri. "Semalam aku lembur sampai jam dua pagi di rumah, karena harus menyelesaikan desain proyek yang di Surabaya.” Nathan berusaha menjelaskan sebelum Widya menuntut penjelasan darinya.
Widya yang berniat ingin merajuk diurungkannya karena kasihan mendengar suara Nathan yang terdengar lelah.
“Kamu pasti lelah, ya, Yang? Tapi kamu, ‘kan, sudah janji kalau hari ini kamu mau nganterin aku fitting baju pengantin dan ke toko perhiasan. Mumpung kamu lagi di Jakarta," rajuk Widya manja, membuat Nathan yang berada di seberang sana merasa gemas.
“Tenang aja, Sayang! Tunggu sebentar lagi, ya. Kasih aku waktu tiga puluh menit! Setelah selesai membersihkan diri aku pasti akan langsung pergi ke rumah kamu.” Nathan masih berusaha membujuk Widya, Widya malah merasa tidak tega jika membuat Nathan-nya harus pergi terburu-buru karena dirinya.
“Nath, kamu nggak usah buru-buru, deh, ke rumah aku. Enggak apa, kok, aku nunggu kamu agak lama, yang penting kamu datang ke rumah aku dalam keadaan selamat. Pokoknya kamu jangan ngebut!” tegas Widya. Widya tahu tabiat Nathan yang suka ngebut di jalan demi menepati waktu temu dengannya.
“Wah, pengertian sekali calon istri abang ini, rasanya pengen cepat-cepat abang bawa ke KUA.” Nathan berusaha menggoda Widya. Dalam hati Nathan membayangkan, pasti pipi gadis pujaannya itu sedang bersemu merah. Ia pun merasa senang.
“Apaan sih, Nath? Gombal banget. Udah, buruan mandi sana! Nanti kita ditungguin desainernya, loh.” Setelah mengatakan itu, Widya memutus sambungan telepon secara sepihak, dan beranjak masuk ke dalam rumah. Menunggu di dalam sambil menemani bunda yang membuat kue pesanan pelanggan.
“Loh, anak bunda, kok, nggak jadi jalan?” tanya bunda Arini yang terkejut melihat putrinya ternyata belum pergi.
“Ya, sudah. Kalau gitu kamu nunggunya sambil nonton TV aja, ya, Sayang,” usul Arini seraya mengelus kepala putrinya. “Bunda mau lanjut bikin kue pesenannya Bu RT dulu.” Setelah mengucapkan itu Arini beranjak meninggalkan Widya seorang diri di ruang tengah dan melanjutkan kegiatan membuat kue di dapur.
Sesuai perjanjian, Nathan sampai di rumah Widya tiga puluh menit setelahnya. Sesampainya Nathan di depan rumah, pria itu langsung mengetuk pintu rumah. Baru dua kali ketukan pintu sudah terbuka. Menampilkan wajah kesal yang menggemaskan dari Widya. Melihat raut wajah kesal calon istrinya Nathan segera menyodorkan satu ikat mawar putih kesukaan Widya, yang seketika membuat wajah kesalnya berubah menjadi begitu sangat bahagia.
“Kesayangan abang masih marah, nggak, nih?” tanya Nathan menggoda.
“Ish, apaan, sih, Nath. Pakai abang-abang segala. Memangnya abang tukang bakso, tukang siomay yang di pertigaan komplek depan.” Widya terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
“Wah, kalau udah senyum-senyum begini berarti kesayangan abang udah nggak marah lagi, dong?” Nathan mengerling dan menaik turunkan alis tebalnya. Mengabaikan protes calon istrinya.
Widya mendengus, “Mana bisa aku marah sama kamu, Yang. Tingkah kamu manis kayak gini. Apalagi cuman gara-gara kamu telat bangun karena kecapean, mana mungkin akunya ngambek.” Widya terkekeh melihat tingkah Nathan, "Kamu ini aneh-aneh aja," lanjutnya lagi.
“Ini baru kesayangan abang.” Nathan mencubit gemas pipi Widya. Tatapannya tertuju pada bibir Widya yang merah jambu. Jakunnya tiba-tiba naik turun menahan sesuatu. Sebenarnya Nathan ingin sekali mencium bibir ranum itu. Namun, ia tahan karena belum waktunya ia melakukannya.
Setelah berpamitan kepada Bowo dan Arini, Nathan dan Widya segera pergi menuju butik pakaian pengantin yang dikelola oleh desainer terkenal Ammy Avantie. Menurut Ammy Avantie, hari ini adalah fitting ketiga Widya dan Nathan untuk mencoba gaun dan toxedo milik mereka. Namun, selama tiga kali fitting baju pengantin, baru kali ini mempelai prianya hadir. Hal itu dikarenakan kesibukan Nathan yang sering bolak-balik Jakarta-Surabaya demi urusan pekerjaan.
Widya dan Nathan memasuki ruangan yang berbeda saat mencoba baju pengantinnya. Nathan mencoba dan memakai sendiri toxedo-nya sedangkan Widya harus dibantu oleh dua orang karyawan butik. Hampir tiga puluh menit Nathan menunggu Widya yang mencoba gaun dan sedikit merias diri untuk menyesuaikan rambut demi penyesuaian gaun. Namun, Nathan harus tetap sabar demi hasil yang maksimal.
__ADS_1
Saat tirai pembatas itu dibuka dan menampilkan sosok Widya yang begitu anggun memakai gaun pengantin putih dengan seikat mawar putih di tangannya. Mawar yang diberikan oleh Nathan sewaktu di rumah tadi, membuat Widya terlihat sangat cantik paripurna, sehingga netra Nathan tak berkedip. Ia begitu terpesona oleh kecantikan gadis pujaan hatinya.
“Mas Nathan.” Tepukan di bahu menyadarkan fokus Nathan dari hadapan Widya. Ammy sang desainer terkekeh geli melihatnya.
“Bagaimana, Mas? Mbak Widyanya cantik, ‘kan?” tanya sang desainer.
“Ah, maaf,” ujar Nathan yang baru tersadar. Ia tersenyum kikuk karena ketahuan begitu terpesona akan penampilan Widya.
“Cantik, sangat cantik!" gumam Nathan sambil kembali menatap Widya penuh kekaguman.
Setelah berputar dan menunjukkan penampilannya kepada Nathan. Widya pun bertanya, “Yang, gimana menurut kamu? Aku cantik, nggak?”
Nathan yang tak mampu berkata-kata lagi karena terpesona, hanya mampu mengangguk pasti. Hal itu membuat Widya terkekeh, karena melihat wajah Nathan yang begitu menggemaskan.
Setelah acara fitting baju selesai, Nathan melajukan mini cooper kesayangannya menuju toko perhiasan ternama di sebuah mall terkenal di kota Jakarta. Nathan sengaja memilih mall lain karena tidak ingin mengingatkan Widya tentang toko perhiasan yang pernah ia kunjungi dengan Vina tempo itu bersama Widya.
Setelah sampai di toko perhiasan tersebut, Widya dan Nathan disambut dengan ramah oleh karyawan toko. “Selamat datang, Kakak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya karyawan toko tersebut.
“Saya sedang mencari cincin untuk saya dan calon istri saya," jawab Nathan.
“Kalau boleh saya tahu, cincinnya untuk acara pertunangan atau pernikahan?” tanya sang karyawan lagi.
“Oh, beda, ya, Mbak?” tanya Widya bingung.
“Biasanya berbeda, Kakak. Kalau untuk pertunangan biasanya para pasangan suka yang lebih minimalis sedangkan untuk pernikahan biasanya banyak costumer yang memilih cincin yang elegan dengan taburan berlian,” jelas si karyawan. “Untuk warna cincin itu sendiri, toko kami memiliki empat pilihan warna, Kakak. Warna gold, rose gold, black gold, dan silver,” tambah si karyawan.
“Sayang kamu mau pilih yang mana?” tanya Widya pada Nathan.
“Aku terserah kamu aja, Sayang.” Nathan hanya jadi tim pengikut, sedangkan Widya masih bingung dengan berbagai macam pilihan.
Akhirnya setelah sekian lama melihat dan membandingkan, pilihan pun tertuju pada sepasang cincin dengan aksen minimalis berwarna silver. Dengan terpilihnya cincin tersebut, persiapan pernikahan mereka pun sudah mencapai delapan puluh persen sampai menunggu hari pernikahan tiba.
...***...
Asyik persiapan pernikahan. Aku diundang nggak, ya? 😌
__ADS_1