Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 85


__ADS_3


...***...


“Pulang sama siapa, Wid?” tanya Bowo begitu melihat putrinya menutup pintu depan.


Widya segera menghampiri Bowo yang duduk santai di depan televisi. “Diantar Harsa, Yah. Tadi kebetulan ketemu.” Widya segera merengkuh lengan Bowo.


Bowo melirik Widya yang berada di sampingnya. “Kamu kenapa?” tanya Bowo heran. “Oh, ya. Nathan udah berangkat?”


“Udah, Yah. Makanya tadi aku berangkat pagi,” jelas Widya. “Belum juga sehari, aku udah kangen sama Nathan, Yah.”


Bowo mencebik. “Dasar anak muda. Baru juga ditinggal sehari. Seperti ditinggal tiga kali lebaran nggak pulang-pulang.”


“Ayah ... dia Bang Nathan, bukan Bang Toyib!” gerutu Widya kesal saat kekasihnya disamakan dengan Bang Toyib yang tidak pernah pulang selama dua kali puasa dan dua kali lebaran.


“Lagi ngobrolin apa?” Itu suara Arini yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa minuman.


“Biasa, anak muda dilanda rindu. Aduh!” Seketika Bowo mendapat pukulan ringan dari Widya.


“Ayah, jangan diulangi lagi, dong! Malu, aku.” Tanpa pikir panjang, Widya pun beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar. Membuat kedua orang tua yang masih setia di depan televisi tergelak karena tingkah putrinya.


Setibanya di kamar, Widya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Mengambil benda pipih yang berada di dalam tasnya. Tidak ada notifikasi pesan masuk dari Nathan. Beberapa pesan yang sudah ia kirimkan pun hanya terlihat centang dua berwarna abu-abu.


Sampai jam menunjukan pukul sembilan malam, tidak ada pesan masuk di ponselnya selain dari grup ‘Sahabat Selamanya’ dan grup di kantornya. Hingga rasa kantuk menyerang dan membawanya ke alam mimpi.


...*** ...


Widya pikir, dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan bisa membuat Widya mampu melupakan Nathan barang sejenak. Ternyata tidak. Justru ia semakin merindukan lelaki yang kini sedang berada di Surabaya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Widya pun mendesah pasrah. Sejak Nathan berangkat kemarin hingga siang ini, Nathan belum memberi kabar. Tidak ada telepon dan pesan dari Nathan. Pesan yang sejak kemarin ia kirimkan pun masih belum dibacanya. Padahal, beberapa kali Widya menemukan kontak Nathan tertulis sedang online.


Di saat jam istirahat seperti sekarang, ingin sekali Widya menghubunginya dahulu, tetapi ia takut jika itu mengganggu pekerjaan Nathan. Ia ingin Nathan segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke Jakarta, jadi ia mengurungkan kembali niatnya.

__ADS_1


Baru saja ia selesai memikirkan lelaki itu, kini ponselnya berdering menampilkan nama Nathan di sana. Tidak menunggu lama, Widya pun langsung mengangkatnya hingga menampilkan wajah Nathan.


“Kamu ke mana aja? Pesanku sama sekali nggak kamu baca. Katanya kamu bakal telepon aku. Mana? Ditungguin dari kemarin nggak ada telepon masuk. Paling tidak, balas pesan aku walaupun cuma sekedar berkata ‘iya’ atau ‘tidak’. Memangnya kamu nggak kangen sama aku? Apa aku udah nggak penting lagi buat kamu? Atau udah ada cewek lain di sana, yang lebih sexy dan lebih cantik dari aku? Iya?” Tanpa jeda, Widya mengomel melalui sambungan telepon. Meluapkan kekesalannya pada lelaki yang kini hanya diam tersenyum tanpa ada bantahan saat mendengar ocehannya. “Kamu, kok, diem aja, sih, Nath?” Widya kembali mengomel.


Nathan terkekeh. “Assalamualaikum, Cantik,” sapa Nathan kemudian.


“Waalaikumsalam, Ganteng!” ketus Widya.


Terdengar Nathan semakin tergelak. “Jawabnya, kok, gitu?”


Widya berdecak. “Terus gimana?”


“Sayang ... sayang. Andai aku di sana, udah aku cium bibir kamu. Dari tadi ngomel mulu. Gimana aku nggak makin cinta, coba?”


“Nath, aku serius, ya.”


“Oke, aku serius. Bagaimana kabar Adek Widya hari ini?”


“Beneran, mau tutup teleponnya? Katanya kangen?” Widya bergeming. “Aku hanya punya waktu istirahat setengah jam sebelum aku balik kerja lagi. Mungkin habis ini udah nggak bisa dihubungi lagi karena memang harus fokus sama kerjaan. Apa hari ini aku nggak bisa dapat senyuman kamu?”


“Iya, maaf,” ucap Widya tertunduk, kemudian menatap kembali layar ponselnya. “Jangan tutup teleponnya, Sayang! Aku kangen. Dua hari kamu nggak bisa dihubungi, aku bingung.”


“Maaf, aku di sini harus bener-bener fokus sama kerjaan, biar cepet selesai dan cepet juga ketemu kamu. Iya, nggak?” ucap Nathan sambil mengangkat kedua alisnya.


Selama lima belas menit, mereka hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Saling memandangi wajah yang semakin hari semakin menambah rasa rindu di antara jarak yang memisahkan. Rasanya, tidak ada lagi kata yang perlu mereka ungkapkan. Cukup saling melempar senyum lewat video call seperti yang mereka lakukan saat ini.


Apakah Nathan tahu betapa Widya sangat merindukannya? Jika Nathan mengetahuinya, akankah Nathan menemui Widya sekarang juga?


Andaikan benar Nathan akan langsung menemuinya, Widya akan mengungkapkan betapa ia sangat merindukan sosok lelaki yang wajahnya kini sudah memenuhi layar ponselnya. Lelaki yang kini tersenyum sangat tulus, walaupun gurat kelelahan masih tersisa di balik senyumnya. Lalu, ia akan langsung memeluk tubuh lelaki bertubuh tinggi itu dengan erat dan tak ingin lagi melepaskan.


Sedangkan Nathan hanya berharap kebahagiaan selalu menyertai wajah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Perempuan yang sudah begitu banyak menyita perhatiannya sejak ia pertama kali bertemu di SMA. Bagaimana mungkin, ia dulu pernah menyakiti hati perempuan setulus dan sebaik Widya?


Bahkan rasa sesal itu pun masih tersemat di ujung hatinya. Entah sampai kapan rasa sesal itu hilang, berganti dengan rasa bahagia karena sudah membuat kekasihnya menjadi perempuan beruntung di dunia. Menjadikan perempuan itu bangga karena telah terlahir di dunia dengan dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya.

__ADS_1


“Nath....” Widya kembali memanggil Nathan.


“Hmm?”


“Kapan kamu pulang?”


Nathan tersenyum. “Nunggu rindu kamu numpuk dulu. Biar nanti waktu aku pulang kamu udah nggak perlu rindu sama aku.”


Widya menggabungkan jari telunjuk dan ibu jarinya hingga membentuk lambang saranghae, lalu menunjukannya pada Nathan. Membuat Nathan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


Sejenak, Nathan menghentikan tawanya. Menatap lekat layar ponselnya, seakan Widya benar-benar ada di depannya. “Sayang ... aku rindu, sangat rindu. Andai jarak kita dekat, aku akan langsung memelukmu. Kamu jaga diri dan jaga hati di sana! Seberapa pun jauh jarak kita, aku harap kamu akan selalu ingat dan percaya, bahwa aku di sini selalu cinta sama kamu. Aku di sini nggak bisa jaga kamu sepenuhnya, aku harap semoga kamu selalu dalam keadaan baik, ada atau tanpa aku di sana. Cukup sekali aku kehilangan kamu, cukup sekali.” Ucapan Nathan barusan membuat Widya semakin bingung apa yang ingin ia katakan. Hampir semua yang ingin ia ungkapkan pada Nathan sudah diwakilkan oleh lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan sendu.


Widya berusaha menahan air matanya agar tidak sampai jatuh membasahi pipinya, tetapi semakin melihat gurat kesedihan di wajah Nathan, ia justru tidak bisa lagi mengendalikannya. Ia menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.


“Sayang, kenapa nangis?” tanya Nathan saat menyadari Widya yang tertunduk dengan pundak yang bergetar.


Widya menggeleng pelan. Ia tidak ingin terlihat lemah saat ini. Justru ia harus memberikan semangat pada Nathan agar lelaki itu bisa fokus menyelesaikan projeknya. Ia tidak ingin menjadi beban bagi Nathan.


Akhirnya, Widya menutup layar kamera menggunakan tangannya. Sejenak ia menghapus air matanya lalu kembali menatap wajah Nathan. “Enggak. Jangan pikirkan aku, Nath! Aku tidak ingin menjadi beban untuk kamu meraih impian. Kamu selesaikan semua pekerjaan kamu dan aku akan menunggu di sini. Kamu juga baik-baik di sana!"


“Pasti, Sayang,” jawab Nathan mantap. Ia pun melirik jam di pergelangan tangannya. Tidak terasa setengah jam berlalu dan kini ia harus kembali bekerja.


“Sayang, aku kerja dulu. Maaf, setelah ini mungkin aku akan susah untuk dihubungi. Sampaikan salamku pada Ayah Bowo dan Bunda Arini. Sayang kamu, Cantik,” ucap Nathan, lalu ia mencium layar ponselnya dengan membayangkan Widya berada di depannya. Sedangkan Widya memejamkan matanya, merasakan bibir Nathan yang mendarat di keningnya.


Setelah sesi ciuman virtual selesai, mereka pun kembali terdiam dan saling menatap. Tak lama wajah mereka pun menghilang dari layar ponsel. “Hati-hati, Nath! Love you,” lirih Widya.


...***...




Yang mau hadir di acara pernikahan mereka, aku kasih surat undangannya, ya. Jangan lupa kadonya! 😍

__ADS_1


__ADS_2