
...***...
Jam dinding di rumah Nathan menunjukkan pukul 16.00 WIB, Nathan sudah kembali ke kamarnya dan tertidur dengan pulas. Awalnya ia menolak untuk tidur, seolah tak ingin melewatkan waktu sedetik pun dengan pujaan hatinya. Namun, karena Widya mengancam tidak mau lagi menjenguknya kalau ia tak mau tidur, akhirnya ia terpaksa kembali ke kamar dan beristirahat.
Widya merasa lega setelah tadi sempat berdebat dengan Nathan, karena menolak untuk makan dan minum obat. Dengan berat hati, Nathan mau mengalah dan mau makan, dengan syarat Widya yang menyuapinya.
Meski agak sedikit canggung Widya menurutinya, yang penting baginya, Nathan bisa segera sehat lagi. Ia tidak tega melihat muka pucat Nathan.
"Terima kasih ya, Wid, udah meluangkan waktu untuk jenguk Nathan. Anak itu kalau lagi sakit memang manja sekali, apalagi sama kamu." Liana menghampiri Widya yang sedang duduk di ruang tamu dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kamu tahu, Wid? Nathan kalau udah cerita tentang kamu nggak ada habisnya, dari pagi sampai sore nggak bakal bosen,” tuturnya lagi.
"Eh ... masa, sih, Tan? Nathan cerita apa aja?" Widya tersipu malu, ia jadi salah tingkah mendengar penuturan Liana. "Nathan pasti ngomongin kejelekan Widya, ya, Tan? Duh, jadi malu. Bongkar aib aja, tuh anak," gerutu Widya dengan wajah memerah menahan malu.
Liana tersenyum, wanita itu beralih duduk mendekat ke arah Widya. Ia merangkul bahu Widya. "Widya, tante sangat berterima kasih sekali sama kamu, Nak. Sejak Nathan pindah ke Indonesia dan kenal dengan kamu, banyak perubahan positif yang tante lihat dari Nathan. Dia seperti punya semangat hidup baru, kebahagiaan yang dulu pernah hilang dari Nathan, sekarang seperti hadir kembali di hidupnya."
Widya hanya tersenyum, meskipun ia sering bertemu dan dekat dengan Liana –mamanya Nathan, tetapi baru kali ini Liana terlihat serius saat membahas seputar Nathan. Widya bingung bagaimana harus menanggapi omongan Liana. Karena biasanya mereka hanya bercanda dan mengobrol ringan.
"Iya, Tante, sama-sama. Widya juga seneng bisa berteman dengan Nathan. Nathan baik banget sama Widya." Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan. Tidak bisa dipungkiri, hatinya merasa senang dengan perkataan Liana. Namun, ia juga takut kalau Liana berpikir macam-macam tentang hubungannya dengan Nathan.
"Sudah sore, Tan, kebetulan ojol yang Widya pesan sudah sampai di depan. Widya pamit pulang, ya. Salam buat Nathan!" Widya berkata lagi sambil mencium punggung tangan Liana.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, ya! Nanti tante sampaikan salamnya kalau Nathan sudah bangun." Liana mengusap bahu Widya lembut kemudian mengantarkan Widya sampai depan rumah di mana ojol sudah menunggu.
***
__ADS_1
Pagi ini, lagi-lagi Widya menolak keinginan Harsa untuk mengantarnya. Alasannya masih sama, ia tak mau merepotkan Harsa, karena Harsa tidak ada kelas pagi ini.
Meskipun Harsa memaksa, tetapi Widya tetap menolaknya. Entah mengapa ia begitu menjaga perasaan Nathan akhir-akhir ini. Ia takut kalau Nathan jadi berpikir yang aneh-aneh tentang kedekatannya dengan Harsa.
Saat di perjalanan menuju ke ruang kelas, Widya bertemu Karin dan Kartika. "Wid, tungguin!" Kartika berteriak memanggil Widya. Widya menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap asal suara. Senyum merekah terbit di wajah cantik ketiga sahabat itu.
"Tumben sendirian? Nathan belum sembuh, Wid?" tanya Karin ketika mereka sudah mendekat.
"Belum, tadi bilangnya masih agak demam, tapi udah enggak pusing." Senyum Widya seketika menghilang, wajahnya berubah sendu. Entah apa yang ia pikirkan.
"Cie ... galau,” goda Karin sambil tersenyum senang menggoda sahabatnya itu.
“Nathan sakit apa, Wid? Sakit rindu sama lo, ya?" Kartika juga tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda Widya.
"Apaan, sih, kalian berdua. Nggak lucu, ah!" gerutu Widya. Wajahnya semakin masam karena digoda oleh kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya tergelak tawa, walaupun tidak sampai menggelegar.
Widya, Tika, dan Karin duduk di satu bangku yang menghadap ke kolam ikan di taman. "Rin, Tik, menurut kalian, Nathan gimana?" Widya membuka suara.
"Gimana apanya, Wid?" Kartika menoleh ke arah Widya. Pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Widya, meski sebenarnya Kartika sudah bisa menebaknya. Ia hanya ingin memastikan saja.
"Jangan bilang, Nathan nembak lo?" Karin ikut memastikan dengan senyum yang memancar di wajahnya.
Widya perlahan mengangguk, diikuti dengan semburat merah di kedua pipinya. Kartika yang mendengar itu langsung berdiri dan memegang kedua pipi Widya. "Wah, terus lo bilang apa? Lo jawab 'iya', ‘kan?" cecar Kartika penuh semangat.
Widya menggeleng, membuat Karin ikutan gemas dengan sahabatnya ini. "Kenapa? Lo juga suka, 'kan, sama Nathan? Kenapa enggak diterima? Jangan-jangan, lo nolak Nathan karena lo ada gebetan lain, ya?" tanya Karin.
__ADS_1
"Kalian gimana, sih? Malah menebak-nebak enggak jelas." Widya cemberut kesal. "Gue lagi minta saran, ini. Makanya gue nanya ke kalian tadi, gue enggak mau salah ambil keputusan lagi kayak dulu," ucapnya lagi. Ia memejamkan mata sambil mengingat kisah cintanya saat SMA dulu.
"Dulu gue memilih egois, tanpa memedulikan nasehat-nasehat dari kalian. Gue mengabaikan perasaan kalian terutama lo, Rin. Gue egois sama perasaan cinta gue yang bikin persahabatan kita hancur. Gue enggak mau kejadian itu terulang lagi." Tanpa sadar air mata Widya membasahi pipi mulusnya.
"Duh, jangan nangis, dong! Kan, kita udah pernah bahas ini. Yang penting sekarang kita udah baikan lagi, ‘kan?" Karin merasa bersalah lantas merangkul bahu kanan Widya.
"Best friend forever," sahut Kartika yang juga ikut merangkul bahu kiri Widya. Akhirnya mereka berpelukan sesaat. Setelah Widya merasa tenang, mereka kembali duduk.
"Wid, kalau menurut gue, sih, lo sama Nathan itu pasangan serasi. Gue, sih, dari dulu udah yakin kalo Nathan sebenarnya ada rasa sama lo, cuma kalian berdua aja yang kayaknya pada enggak sadar. Mungkin karena saking nyamannya jadi enggak tahu atau mungkin lupa sama apa artinya cinta," ucap Karin.
"Jadi kalau kata gue, sih, enggak ada salahnya kalo lo terima Nathan, Wid. Daripada nanti lo menyesal udah menyia-nyiakan cowok sebaik Nathan. Atau mungkin, nanti Nathan bisa saja diambil orang. Gue lihat itu si Cindy, kayaknya juga suka sama Nathan, Wid." Karin berkata lagi sambil terkekeh karena melihat raut wajah Widya yang tiba-tiba saja berubah panik.
Mendengar nama Cindy disebut, Kartika jadi ingat sesuatu yang dikatakan Nathan padanya. "Eh ... iya, Wid, gue baru ingat, beberapa waktu yang lalu Nathan bilang ke gue kalau ternyata Cindy yang waktu itu nempelin surat lo buat Harsa di mading sekolah."
Widya dan Karin tersentak mendengar pernyataan Kartika. "Serius lo, Tik?" ucap Karin dan Widya bersamaan, mereka seakan tidak percaya Cindy bisa melakukan itu.
"Iya, ngapain juga gue bohong. Selama ini Nathan enggak bilang ke kita karena enggak mau lo sedih, Wid. Nathan bilang karena Cindy suka sama dia, makanya Cindy nempelin surat lo waktu itu di mading, biar Harsa deketin lo dan Cindy berharap Nathan mau menerima cintanya kalau lo udah jadian sama Harsa."
"Nah, ‘kan, apa gue bilang. Soalnya gue merasa gelagat Cindy itu aneh, Wid. Dulu aja waktu Harsa mutusin gue terus jadian sama lo, Cindy juga pernah ngomporin gue, kok," sahut Karin. Widya terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan Karin. Dia tidak menyangka jika Cindy adalah orang seperti itu. Yang tega menusuk temannya dari belakang.
"Eh, udah jam 08.50, nih. Balik ke kelas, yuk! Dosen jam pertama gue killer banget, gue takut kalau sampai telat. Kita bahas lagi nanti di kantin, ya, pas kelasnya udah selesai!" Kartika langsung menarik kedua sahabatnya sambil sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tidak mau kena hukuman kalau harus telat masuk ke kelasnya pagi ini.
...***...
__ADS_1
Kasih sarannya, dong! Widya mesti diapain, nih, biar mau ngakuin perasaannya? Apa perlu diruqyah? 😅
Tinggalkan jejak kalian 🥰