Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 15


__ADS_3


...***...


Widya berangkat ke kampus menggunakan ojol, padahal Harsa sudah menawarinya tumpangan. Entah mengapa, ia perlu menjaga perasaan Nathan. "Kenapa aku memikirkan apakah Nathan suka atau tidak?" Widya mengembuskan napasnya kasar. "Ah, tak taulah!" kesal Widya pada dirinya sendiri.


Sesampainya di kampus, Widya segera masuk ke kelasnya. Hari ini, hanya ada dua mata kuliah yang harus ia ikuti, jadi dia bisa secepatnya pulang. Rencananya, Widya akan pergi ke rumah Nathan untuk menjenguknya. Dia sengaja tidak memberitahu Nathan, agar kedatangannya menjadi kejutan untuk sahabatnya itu.


Pukul dua belas siang, semua mata kuliah Widya sudah selesai, Widya segera berjalan ke luar kampus. Karin yang mengetahui Widya berjalan dengan tergesa-gesa segera memanggilnya. "Wid!"


Widya menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari sumber suara. Melihat Karin yang berlari menghampirinya, Widya lantas melambaikan tangannya.


"Lo mau kemana?" tanya Karin begitu sampai di depan Widya.


"G-gue ...." Widya menahan ucapannya. "Gue ada urusan, makanya mau cepet-cepet pulang," kilah Widya. Jangan sampai Karin mengetahui bahwa dia akan menjenguk Nathan, bisa-bisa itu akan jadi bahan ghibahan.


"Kelas lo udah selesai?" Karin celingukan ke arah sekitar seperti mencari sesuatu. "Nathan di mana? Tumben nggak ngintilin lo."


"Em ... dia sakit, makanya nggak ikut kelas hari ini." Widya menjawab dengan memperlihatkan senyumnya.


Dilihat dari gelagat Widya, Karin pun curiga. Ia memicingkan matanya memperhatikan Widya. Ia mulai berpikir tentang sesuatu. Karin mendekatkan wajahnya ke arah telinga Widya. "Lo mau jenguk Nathan sendirian, ya?" bisik Karin menggoda Widya.


Widya segera menjauhkan tubuhnya, wajahnya pun memerah seketika. "Hahaha ... muka lo merah banget, Wid. Sumpah! Ketahuan banget tahu, nggak.” Karin mencebik.


"Apaan, sih, Karin?" gerutu Widya. "Udah, ah! Gue duluan, ya."


Widya meninggalkan Karin yang masih tertawa melihat tingkahnya. Widya pun mengutuki dirinya karena salah tingkah di depan Karin yang membahas tentang Nathan. Dia segera menghampiri ojol yang sudah menunggunya.


***


Widya sudah duduk di ruang tamu, ia sempat ditemani mama Nathan sebentar sebelum akhirnya Liana memanggil putranya. Beberapa saat kemudian, Liana kembali tanpa Nathan. Widya berpikir, apa Nathan tidak mau menemuinya?

__ADS_1


Liana mendekat ke arah Widya. "Nathan lagi istirahat, Wid. Mungkin karena habis minum obat. Tapi tante sudah sampaikan pesan, kalau ada kamu di sini."


Widya terdiam sesaat. "Masih lemes banget, ya, Tan?" tanya Widya, ia sangat khawatir dengan keadaan Nathan.


"Tadi, sih, masih lemes. Atau Widya ke sini lagi besok? Sepertinya Nathan belum bisa dijenguk hari ini," terang Liana penuh penyesalan.


"Wid? Lo beneran ke sini?" Terdengar suara yang sedikit serak, membuat kedua wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Nathan menuruni tangga dengan perlahan, menghampiri Widya dan Liana.


Nathan duduk di samping Widya, kemudian menyandarkan tubuhnya. "Kenapa maksa turun? Udah tau masih lemes." Itu suara Liana yang tengah menegur Nathan.


"Udah mendingan, Ma. Lagian, Nathan nggak tega liat cewek cantik sia-sia ke rumah Nathan. Jadi harus Nathan temuin dulu, biar rindunya terobati." Dalam keadaan seperti ini, Nathan masih sempat bercanda. Hal itu sontak membuat Widya menepuk bahu Nathan. "Aduh!"


"Eh! Maaf, Nath. Lupa kalo lo lagi sakit. Lo, juga sih, udah sakit masih sempat bercanda.” Mendengar perkataan Widya, Nathan pun terkekeh.


Liana meninggalkan mereka berdua, menyiapkan minuman untuk Widya. Hal itu digunakan Widya untuk bertanya kepada Nathan. "Lo beneran sakit, Nath?"


Nathan menegakkan tubuhnya. "Astaga, Wid. Lo pikir, gue bohong sama lo? Lo nggak percayaan banget sama gue. Bahkan, rasa cinta gu—" Widya memberi kode kepada Nathan dengan menempelkan jari telunjuk di bibir Nathan, agar lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Liana mendekat ke arah mereka. Nathan sempat mematung sejenak, merasakan sentuhan jari Widya yang begitu sejuk di bibirnya. Sebelum gadis itu kembali menariknya.


Selepas Liana pergi, Widya kembali memperhatikan Nathan. Wajah lelaki itu terlihat pucat, bibirnya pun pecah-pecah. Bahkan, saat ini Nathan kembali memejamkan matanya, mungkin karena lelaki itu memang benar-benar butuh istirahat. Namun, mengapa ia memaksakan diri untuk menemuinya?


"Lo, tuh, masih sakit, tapi kenapa maksain diri buat turun nemuin gue?" tanya Widya. Ia merasa kasian melihat Nathan menghampiri demi dirinya, dan harus mengurangi jam istirahatnya.


"Ck! Lo tuh, ya, udah dibilangin kalo gue nggak bisa ngebiarin calon pacar gue datang ke sini tanpa mengobati rasa rindunya sama gue." Nathan berbicara sambil memejamkan matanya.


"Ya, tapi lihat kondisi juga, Nath. Ya udah, gue pulang aja, ya. Lo istirahat aja, gih! Muka lo masih keliatan pucet banget."


Nathan membuka matanya, duduk tegak menghadap Widya. "Jadi lo sekarang udah ngaku kalo gue calon pacar lo?"


"Hah? Gue nggak ada ngomong gitu, ya?"


"Jujur aja deh, Wid. Lo, tuh, sebenernya ada rasa nggak, sih, sama gue?

__ADS_1


"Nath ... harus, ya, gue jelasin sekarang? Gue pergi aja, deh!"


Widya yang hendak beranjak dari duduknya, seketika dicegah oleh Nathan. "Jangan, Wid! Lo di sini aja, nemenin gue! Sorry, gue bahas ini lagi."


Widya menghela napasnya, menatap Nathan dengan wajah serius, "Makanya, gue udah berapa kali bilang ke elo? Gue sayang sama lo, tapi sebagai sahabat, nggak lebih. Gue nggak mau kehilangan elo kayak gue kehilangan sahabat gue dulu. Selain Karin dan Kartika, lo itu sahabat terbaik gue, Nath! Cukup kebodohan gue waktu SMA sebagai pengalaman terakhir gue." Penjelasan Widya membuat Nathan cukup mengerti. Ya, karena saat itu Nathan mengetahui kejadian itu semua.


Suasana menjadi hening. Kali ini Widya duduk agak bergeser menjauhi Nathan, memberikan ruang untuk Nathan berbaring di sofa. Keduanya sama-sama canggung.


"Hm ... tadi naik apa ke kampus?" tanya Nathan memecah keheningan.


"Naik ojol. Tadi ke sini juga naik ojol," jawab Widya.


"Nggak minta jemput Harsa?" Widya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Nathan lagi.


Widya terdiam. Ia bingung harus beralasan seperti apa. "Tadi Harsa nggak ada kelas, jadi kasian juga kalo cuma nganter gue ke kampus."


"Ck! Kalo cuma itu, Harsa bakal tetep mau, Wid. Secara dia juga masih cari-cari kesempatan gitu buat deketin lo." Nathan berdecak kesal, dia cemburu karena Widya seolah mengasihani Harsa.


"Tapi nggak ada salahnya juga, kan, kalo gue lebih milih naik ojol?" bantah Widya. Nathan masih cemberut, pura-pura merajuk. Namun, Widya tidak terpengaruh, ia tetap melanjutkan kalimatnya, "Oh, iya, tadi ada tugas dari dosen buat cari artikel, nanti gue share tugasnya ke elo. Atau nggak, gue bantuin deh, nanti. Lo istirahat aja!"


Nathan pun mengangguk. Selain menurut ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baginya, mendapatkan perhatian Widya cukup membuatnya bahagia. "Makasih, Sayang. Kamu perhatian banget!" Widya memutar bola matanya kesal mendengar ucapan Nathan. Percuma berbicara dengan Nathan, dia tetap akan bersikap seperti itu. Jadi Widyalah yang harus menambah kesabarannya.



...***...


Nathannya masih sakit, gengs. Ada yang mau ikut aku jengukin dia? Kalau ada yang mau ikut, aku tunggu di perempatan. 😅


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bab ini, ya. Makasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2