Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 21


__ADS_3


...***...


Berada di kawasan elit Downtown Core, terdapat tiga gedung pencakar langit yang merupakan bangunan tertinggi di Singapura. Salah satunya adalah Lesmana Company Bank Center. LCBC merupakan perusahaan perbankan terbesar ketiga di Singapura yang merupakan salah satu perusahaan besar milik keluarga Nathan. Keluarga Nathan termasuk dalam jajaran orang terkaya di Singapura yang merupakan pendiri dan pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.


LCBC ini adalah perusahaan turun temurun yang didirikan oleh kakek buyut Nathan yang seorang keturunan chinese.


Saat ini Nathan sedang bersama ayahnya berada di lantai enam puluh, yang merupakan lantai tertinggi di gedung pencakar langit ini, karena ingin mengungkap kebusukan Yuda yang tidak lain dan tidak bukan adalah pamannya sendiri. Yuda dengan tega melakukan konspirasi kecurangan investasi atau deposito senilai 111 miliar dolar Singapura untuk kepentingan pribadi.


Busuk memang sikap Yuda saat ini, padahal keuntungan dari bisnis ini membuatnya cukup bergelimang harta, karena selain keuntungan dari saham yang ia miliki, Yuda juga mendapatkan gaji dari jabatannya sebagai direktur keuangan.


“Gimana, Nak, sudah kamu audit semua berkas-berkas keuangan selama satu tahun ke belakang?” tanya Daniel pada putranya.


“Ini baru dapat setengahnya, Pa.” Nathan menjawab sambil membolak-balik berkas yang ada di hadapannya. Memeriksa secara rinci, takut kalau ada satu poin saja yang terlewat.


“Papa tidak habis pikir, Nath, sama kelakuan om kamu. Bisa-bisanya dia bertindak sepicik itu pada perusahaan kita sendiri,” ucap Daniel sambil meraup wajahnya frustrasi. “Padahal papa selalu membagi keuntungan saham secara adil,” tegasnya lagi.


“Udah, ya, Pa! Papa tenang dulu! Sekarang, 'kan, sudah ada Nathan di sini. Nathan akan membantu Papa semampu Nathan.” Nathan beranjak dari kursi duduknya menghampiri papanya, mengusap bahu sang papa guna memberi kekuatan.


Setelah merasa cukup mentransfer kekuatan melalui kata-kata. Nathan pun mengajak papanya untuk pulang. Nathan merasa kasihan melihat Daniel yang selalu lembur setiap malam.


Saat ini waktu di Singapura telah menunjukan pukul delapan malam yang artinya di Jakarta saat ini sedang menunjukan pukul tujuh malam.


...****...


Sementara di Indonesia, di waktu yang sama. Bertempat di kediaman Widya Esmeralda.


“Masuk, yuk! Udah mau Magrib!” ajak Arini pada putri semata wayangnya, dan dengan gontai Widya mengikuti langkah bundanya.


“Ada apa, nih? Kok, muka anak kesayangan ayah cemberut gini?” ledek Bowo, karena semakin hari ia melihat kondisi Widya seperti tidak memiliki gairah hidup.


“Pasti lagi mikirin abang Nath-Nath, ya?” Bowo yang melihat wajah murung putrinya berusaha untuk menghiburnya, tetapi alih-alih merasa terhibur Widya malah memberengut kesal pada sang ayah.


“Ish, Ayah! Udah, ah, Widya mau ngambil air wudhu dulu, entar keburu Magribnya habis.” Widya dengan wajah masih ditekuk berlalu meninggalkan ayah dan bundanya menuju keran air guna mengambil air wudhu.

__ADS_1


Sementara Arini malah memukul lengan Bowo dan berkata, “Ayah kurang kerjaan banget, sih. Udah tau anaknya lagi galau malah diledekin terus!”


Pun ayah hanya terkekeh melihat istri dan putri kesayangannya merajuk meninggalkannya guna mengambil air wudhu. Sementara ia pergi ke mushola yang berada di antara ruang tamu dan ruang tengah untuk mengumandangkan adzan dan iqamah.


Setelah melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, Widya dengan tergesa menaiki tangga menuju kamarnya. Hal itu membuat Arini dan Bowo menghela napas berat.


“Widya, makan malam dulu, Nak! Bunda sudah masakin ayam goreng mentega kesukaan kamu, nih.” Arini memanggil putrinya dari tangga paling bawah.


“Nanti aja, Bun. Widya belum lapar,” sahut Widya dari lantai atas.


“Ya sudah, kalau kamu sudah merasa lapar, langsung makan, ya!” titah sang bunda pada putrinya.


“Oke, Bun,” sahutnya lagi.


Hal pertama yang dilakukan Widya setelah sampai di dalam kamar adalah mengecek ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Berharap kalau hari ini Nathan akan memberinya kabar lebih awal. Namun, hasilnya nihil karena hingga tiga puluh menit ia menunggu, tidak ada satu pun notifikasi yang muncul pada layar utama ponselnya. Pertanda tidak ada satu orang pun yang menghubunginya ataupun sekadar mengirimkan pesan. Hal itu membuat Widya kecewa berat. Di situlah ia mulai berpikir dan mendalami rasa di hatinya. Ia menutup kedua matanya sejenak, lantas tiba-tiba terbelalak karena wajah Nathan yang terpampang dalam angannya. Bibirnya membentuk senyuman simpul, kini Widya merasa yakin kalau ia juga mencintai Nathan.


“Gue kenapa, sih? Kenapa gue selalu mikirin Nathan?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.


“Gue jadi kayak orang bego tau, nggak, gara-gara nungguin kabar dari dia,” sungutnya pada layar HP yang menunjukan wajah tampan Nathan.


“Ah, tapi entar tu anak kegeeran lagi kalau gue yang nelpon duluan.” Gadis itu mulai frustrasi. Masih saja dia menahan gengsi.


“Tapi gue kangen.” Widya berucap sendu, tanpa sadar ia mengucapkan hal itu.


Saat tengah asyik bermonolog dengan dirinya sendiri. Widya dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar dan nada dering yang terdengar, tanda ada panggilan masuk di sana. Dengan tergesa dan tanpa melihat si penelpon Widya pun menggeser tombol hijau tanda bahwa ia menerima panggilan itu.


“Hallo,” jawab Widya cepat.


“Hallo, Wid. Lo lagi ngapain? Tumben cepet amat lu ngangkat telpon dari gue,” jawab seseorang di seberang sana.


Yang seketika membuat rasa kecewa di hati Widya, dan membuat wajah ceria Widya mendadak berubah mendung, karena ternyata telepon yang ia terima bukanlah dari Nathan, melainkan dari Karin—sahabatnya.


“Eh, elo Rin, ada apa?” tanyanya dengan nada kecewa.


“Kenapa lo, Wid? Kok, tiba-tiba langsung lemes gitu? Nggak suka gue telepon lo?” cecar Karin, padahal ia tahu kalau saat ini sahabatnya itu sedang menunggu kabar dari Nathan. Karin hanya berniat menggoda Widya.

__ADS_1


“Eh, bukan gitu. Gu-gue nggak kenapa-napa, kok. Mana mungkin gue nggak suka lo telepon!” jawabnya gugup. Karin hanya mencebikkan bibir tanpa menyanggah apa-apa. Hingga Widya kembali bersuara, “Ada apa lo nelpon gue?” Widya bertanya seraya berusaha menormalkan ucapannya agar terlihat tidak gugup.


“Anak-anak ngajak hang out, tuh. Katanya udah lama kita nggak keluar bareng. Gimana, mau, nggak?” tanya Karin lagi.


“Sorry, deh, Rin. Gue nggak bisa ikut. Lo pergi aja bareng yang lain! Gue lagi mager, nih.” Widya menolak secara halus ajakan dari Karin.


“Yah ... kok, lo gitu, sih, Wid? Sebenarnya lo lagi mager atau lagi nunggu telepon dari Nathan?” Ada rasa kecewa karena Widya menolak ajakannya, kemudian Karin kembali terkekeh mengingat kepolosan hati Widya yang belum menyadari perasaannya.


“Enggak, siapa yang lagi nungguin telepon dari Nathan? Orang gue beneran lagi mager.” Widya masih berusaha mengelak. Ia masih belum siap kalau perasaannya terungkap.


“Saran gue nih, ya Wid. Daripada lo nunggu sesuatu yang nggak pasti, mending lo coba, deh, menghubungi dia duluan! Daripada kaya gini, lo H2C (Harap-Harap Cemas).” Karin yang berada di seberang sana berusaha memberi saran kepada Widya, karena ia tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ini pada Nathan, tetapi ia malu untuk mengakuinya.


“Ish, gaje banget, sih! Orang dibilang gue nggak kangen sama dia juga. Udah, deh, Rin. Gue matiin, ya, telpon dari lo. Gue ngantuk.” Tanpa menunggu jawaban dari Karin, Widya mematikan sambungan telepon sambil memberengut.


Namun, berbeda dengan Karin yang justru tertawa terbahak-bahak di tempatnya berada, karena memikirkan Widya yang belum menyadari isi hatinya sendiri.


“Entar kalau giliran Nathan udah disabet orang, lo pasti bakalan nangis bombai, Wid,” kekehnya sambil melihat layar ponselnya yang telah mati.


Setelah memutus sepihak panggilan dari Karin, Widya terpekur seorang diri di balkon kamarnya. Memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan terhadap perasaannya ini. Apakah ia harus diam dan menahan perasaannya? Atau mulai jujur pada dirinya dan Nathan, jika sebenarnya ia memang merindukan pria itu?


“Nathan, gue rindu sama lo,” gumam Widya lirih dengan mata yang mulai berembun dan dada yang mulai melesak sakit karena rasa rindunya.


...***...


Sedangkan di Singapura, Nathan yang baru sampai di dalam kamarnya sepulang dari kantor, kemudian beranjak menuju balkon dan mengaktifkan ponselnya yang seharian ia nonaktifkan. Sesaat setelah menyala ponsel itu menampilkan wajah ceria gadis pujaan hatinya. Dengan rasa tidak sabar Nathan mulai men-dial nomor Widya.


Sebelum panggilan teleponnya diangkat oleh Widya, Nathan sempat bergumam lirih, “Widya, gue rindu sama lo.”


Rindu dua insan tersebut terhalang oleh dua negara. Namun, tetap di bawah langit yang sama-sama gelap.



...***...


Cepet pulang, Nath! Kamu nggak kangen sama othornya, gitu? Eh... 🤭

__ADS_1


Mohon dukungannya, ya. Klik like, favorite, sama tinggalkan komentar kalian. 🥰


__ADS_2