
...***Happy Reading***...
...***...
Malam harinya, Widya, Karin, Kartika, Harsa, Edo, dan Zakir berkumpul di pinggir pantai sambil menyalakan api unggun. Geng ‘sahabat selamanya’ itu sedang menyiapkan makan malam dengan tema laut, yakni seafood. Beraneka menu yang telah disiapkan seperti, lobster bakar, udang saos manis, cumi goreng krispi, sup kepiting, dan tidak ketinggalan menu andalan mereka daging barbeque. Ditemani minuman bersoda sebagai pelengkap acara dinner mereka kali ini.
“Sa, apa dagingnya belum matang?” tanya Zakir mendekat ke tempat pembakaran. Rasanya ia tidak sabaran membayangkan makanan favoritnya itu meledak dan menari-nari di dalam rongga mulutnya.
“Belum. Tinggal sedikit lagi, kok,” jawab Harsa yang sibuk membolak-balik daging di atas pembakaran.
Tidak lama kemudian, semua makanan sudah matang. Waktunya mereka menikmati makan malam. Beralaskan tikar, mereka duduk di atas pasir dan di bawah sinar rembulan yang menjadi penerang dinner mereka di pinggir pantai.
Karin, Widya, dan Kartika juga sudah selesai dengan menu yang mereka buat. Acara ngumpul bersama seperti ini mereka rasakan pas terakhir sebelum perkuliahan dimulai. Di mana saat itu masih ada Nathan yang selalu menggoda Widya saat mempersiapkan bahan makanan.
Perlahan, air mata Widya kembali menetes mengingat ketengilan kekasihnya itu. Tidak ada yang menyadari hal tersebut selain Harsa. Hatinya sakit saat melihat gadis pujaannya kembali bersedih. Andaikan nyawa bisa dibayar dengan uang, ia akan bayar berapa pun agar Nathan bisa kembali. Mengisi hari-hari Widya dengan senyuman yang cerah. Laki-laki itu mengambil selembar tisu dan menghapus jejak air mata yang masih membasahi pipi gadis pujaannya.
“Nih! Kasian, loh, nasi dan dagingnya belum tersentuh sama sekali.” Harsa memberikan potongan daging yang telah ia potong ke atas mangkuk Widya. Gadis itu perlahan tersenyum.
“Terima kasih,” ucapnya kemudian memasukkan satu potongan daging ke dalam mulutnya.
“Gila, daging panggang buatan Harsa enak bener. Gue kira, hanya Nathan yang jago manggangnya. Ternyata lo juga jago, Bro.” Ucapan Edo membuat Kartika dan Karin langsung melotot bersamaan. Apalagi Karin yang duduk di samping Edo. Tangan kecilnya langsung mencubit perut Edo.
"Si Edo ngapain bahas Nathan lagi, sih. Kita, ‘kan, di sini berlibur untuk menghibur Widya yang baru saja kehilangan kekasihnya, dan dia malah nabur garam kembali. Dasar!" cibir Kartika dalam hati.
__ADS_1
Widya hanya diam saja. Melanjutkan kembali makanannya tanpa berkomentar apa-apa. Seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Edo. Melihat hal tersebut, Harsa sedikit lebih tenang, karena Widya sudah bisa mengendalikan perasaannya.
Usai makan malam, mereka kembali berkumpul di tepi pantai. Angin sepoi-sepoi membuat udara malam ini terasa sejuk dengan deburan ombak yang menggulung naik turun. Di bawah sinar rembulan, mereka duduk melingkar dengan api unggun yang terletak di tengah. Zakir dan Harsa pun mulai memainkan gitar. Karin menyumbangkan suaranya yang merdu menyanyikan lagu Peterpan, ‘Semua tentang Kita’
Widya yang tadi bersemangat merasa sesak mendengar lagu yang dinyanyikan sangat menyentuh hatinya. Kenangan bersama Nathan tidak mudah dilupakan begitu saja. Rasanya baru kemarin mereka jadian, bertengkar, putus nyambung, lalu lamaran. Bahkan, tiada hari Widya lalui tanpa ketengilan sang kekasih. Nathan seolah memiliki banyak cara merayu sang Pujaan Hati, sehingga membuat Widya merasa tersentuh akan pengorbanan cinta kekasihnya itu. Begitu besar perjuangan cinta Nathan kepadanya, membuat Widya tersenyum dan sulit melupakan perjalanan kisah asmara mereka.
Harsa memperhatikan Widya yang sedang melamun. Ia menebak kalau saat ini Widya memikirkan Nathan. Menurut Harsa, itu adalah hal yang wajar. Siapa pun perempuan yang sudah dilamar oleh kekasih, hatinya pasti sangat gembira. Apalagi pernikahan yang sudah ada di depan mata. Namun, semua itu sirna saat mendapatkan kabar duka yang begitu tiba-tiba. Hati siapa yang tidak teriris mendengar kabar duka tersebut. Sebagai sahabat, ia pun sedih sangat kehilangan sosok Nathan yang beberapa tahun terakhir mengisi hati Widya setelah penghianatan dirinya kepada gadis pujaannya tersebut.
Untuk mencairkan suasana agar Widya tidak bersedih hati, Harsa mengusulkan sebuah permainan truth or dare. “Guys, gimana kalau kita main truth or dare saja. Kalian bisa memilih untuk menjawab jujur atau memilih tantangan,” saran Harsa.
“Yup. Aku setuju!” kata Karin semangat.
“Ya, udah. Kita mulai aja. Gimana yang lain? Setuju, nggak?” tanya Harsa meminta pendapat para sahabatnya.
Zakir, Edo, dan Kartika kompak menjawab, “Ya.” Sementara Widya mengangguk setuju dengan pilihan Harsa.
“Ya, sudah. Cepat mulai! Gue udah nggak sabar," seru Zakir antusias.
“Nggak sabar banget sih lo, Kir,” celetuk Kartika.
“Oh, jelas. Lo nggak tau aja, sejak tadi gue menantikan permainan ini.” Zakir tersenyum sembari mengedipkan salah satu matanya genit ke arah Kartika.
Kartika langsung merotasikan matanya kesal melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Lain halnya dengan Edo, laki-laki berkaos navy itu bertos ria dengan Zakir, seolah mendukung keduanya.
__ADS_1
Harsa pun mulai memutar botol. Semua mata fokus pada ujung botol yang berhenti tepat di depan Zakir.
“Siapa yang mau ngajuin pertanyaan?” tanya Harsa melirik sahabatnya satu per satu.
Tanpa menunggu lama, Karin mengangkat jarinya. “Oke. Untuk Zakir, lo memilih jujur atau tantangan, nih?” tanya Karin menawarkan pilihan.
“Karena gue cowok sejati jadi, gue berani memilih truth,” ucapnya dengan penuh percaya diri sembari menepuk dada bidangnya.
“Oke. Sekarang jawab dengan benar. Kapan lo firstkiss sama lawan jenis?” tanya Karin yang membuat Zakir melototkan matanya. Sebab selama ini Zakir tidak pernah sekali pun dekat dengan perempuan lain, kecuali para sahabatnya. Nah, sekarang ia harus menjawab pertanyaan Karin yang membuatnya tidak kehilangan akal. Karena di sini harga dirinya dipertaruhkan karena ke’pedean’nya yang setinggi gunung Himalaya.
Tingkah Zakir yang tengil membuat para sahabatnya tertawa dengan ekspresinya. “Ayo, jawab yang katanya ‘Pede’ banget!” timpal Edo.
“Mungkin, sekitar beberapa tahun yang lalu," jawab Zakir tenang. Para sahabatnya mengira kalau selama ini Zakir memiliki kekasih yang mereka tidak ketahui. Namun, kenyataannya jawaban dari laki-laki itu adalah sejak dirinya masih kanak-kanak sering dicium oleh papa dan mamanya saat mendapatkan juara di sekolah.
“Gue udah jujur, ‘kan. Nah, sekarang giliran gue." Zakir pun memutar botol minuman tersebut. Dan berhenti tepat di depan Edo. “Nah, sekarang giliran lo, Bro. Pilih tantangan atau kejujuran?” tanya Zakir tersenyum meledek.
Tingkah zakir membuat para sahabatnya tertawa lucu, melihat ekspresi laki-laki itu.
“Gue, pilih tantangan!” jawab Edo dengan cepat.
...***...
To be continued....
__ADS_1
Kira-kira Edo dapat tantangan apa, ya?
Author minta dukungan lewat like, favorite, dan giftnya. Biar tambah semangat kasih komentar juga, ya 🙏