
...***...
Setelah pertemuan singkat di kafe antara Nathan dan Exel, yang membuat Exel menceritakan semua kelicikan Vina. Tidak lantas membuat Nathan percaya dengan semua perkataan Exel. Laki-laki yang pernah merebut kekasih dan cinta pertamanya dulu.
Walau tidak memercayai semua perkataan Exel, tetapi Nathan tetap memikirkan semua perkataan Exel. Apalagi dalam pembahasan mereka kemarin Exel sempat menyinggung tentang kejadian di pesta ulang tahun Vina.
Saat ini di dalam kamarnya, Nathan Putra Lesmana sedang berpikir keras. Mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Exel. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Exel itu salah. Namun, jika dipikir-pikir, Widya memang bukanlah gadis yang jahat. Yang akan dengan sengaja menyakiti orang lain termasuk Vina. Bahkan kepada Cindy yang jelas-jelas pernah mempermalukannya di masa SMA saja, Widya masih bisa bersikap baik dan memaafkan gadis itu.
Ia juga mencoba menggali ingatannya kembali. Setelah ia berpikir jernih, pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara ia dan Widya memang terjadi semenjak kehadiran Vina. Namun, bodohnya ia tak pernah menyadari hal itu.
“Apa benar kamu seperti apa yang dikatakan Exel, Vin? Apa benar kamu adalah penyebab hancurnya hubunganku sama Widya? Kamu nggak sejahat itu, 'kan, Vin?” gumam Nathan. Rasa sesak kembali menyeruak di relung hati Nathan. Ia benar-benar ketakutan jika apa yang dikatakan oleh Exel benar adanya.
“Apa yang harus aku lakukan jika itu benar terjadi? Kamu orang yang begitu aku percaya, kamu sahabat kecilku. Bahkan aku lebih percaya sama kamu daripada pacarku sendiri. Aku yakin, ada kesalahpahaman di sini.” Nathan kembali menolak fakta yang sudah dibeberkan Exel. “Ta-tapi, jika itu benar. Argh ...,” teriak Nathan frustrasi. Ia mencengkeram rambutnya. Tak bisa ia bayangkan betapa kecewanya ia pada Vina jika itu benar terjadi.
Saat cintanya dikhianati dulu, rasanya memang sakit, tetapi rasa sakit yang sekarang ia rasakan begitu menyiksanya. Jauh melebihi rasa sakit yang dulu. “Susah payah aku maafin kamu dan kasih kesempatan kedua buat kamu untuk menjadi sahabatku lagi, apa ini balasan yang kamu berikan buat aku, Vin. Apa kamu memang senang melihat kehancuranku? Jika itu benar terjadi, sungguh aku tidak ingin mengenalmu lagi, Vin,” geram Nathan membayangkan kenyataan yang akan ia hadapi.
Setelah menguatkan hatinya untuk menerima semua kenyataan dan melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada. Akhirnya Nathan memikirkan suatu cara untuk membuktikan semua perkataan Exel. Pun cara awal yang akan Nathan lakukan adalah dengan cara mendekati dan meminta kejujuran dari Vina secara langsung.
Nathan akan berusaha membuktikannya sendiri agar dirinya merasa yakin dan tidak membuat kesalahan yang sama. Menyakiti hati orang lain seperti dirinya yang dengan gamblangnya menyakiti hati Widya. Dengan gemuruh di dalam hatinya, Nathan mengambil handphone miliknya yang ia simpan di atas nakas. Kemudian mulai menghubungi Vina.
Tidak butuh waktu lama untuk menghubungi gadis itu, karena di dering ke tiga gadis itu sudah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Halo, Nath. Ada apa kamu telpon aku malam-malam gini?” tanya Vina dengan nada bahagia karena Nathanlah yang menghubunginya lebih dulu, setelah sekian lama nomornya diblokir oleh Nathan.
“Aku mau ketemu sama kamu, sekarang kamu lagi sibuk, nggak?” tanya Nathan dingin. Namun, bukan masalah untuk Vina. Nathan mau mengajaknya bertemu saja itu sudah merupakan suatu yang membahagiakan.
“Enggak. Aku nggak lagi sibuk, kok. Aku cuman lagi santai aja di apartemen.” Vina menjawab dengan senyum terkembang. Kapan lagi coba Nathan akan mengajaknya jalan.
“Oke, bersiaplah, satu jam lagi aku bakal jemput kamu di apartemen.” Tanpa menunggu jawaban dari Vina, Nathan sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Namun, berbeda dengan Nathan yang masih bersikap dingin. Vina malah tersenyum sangat bahagia, karena setelah sekian purnama Vina menunggu, akhirnya hari ini pun tiba. Gadis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Hari di mana Nathan dengan sukarela dan dengan keinginan hatinya sendiri mengajak dirinya bertemu. Setelah sambungan telepon mereka terputus Vina segera bergegas menuju walk in closet yang ada di apartemennya untuk memilih baju yang akan ia gunakan untuk bertemu Nathan nanti, dan pilihan bajunya jatuh pada short dress berwarna hitam. Sangat kontras dengan tubuh putih mulus milik Vina, yang juga menampakan paha putih mulus miliknya.
Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk mematri diri di depan cermin, akhirnya bel apartemen Vina pun berbunyi. Vina dengan tergesa membukanya dengan semangat dan senyum sejuta watt yang mengembang sempurna. Ketika Vina membuka pintu hatinya pun berdebar. Benar saja orang yang selama satu jam yang lalu ia tunggu kini berada tepat di hadapannya.
“Duduk dulu, Nath! Kamu mau minum apa? Biar aku buatin,” tawar Vina.
“Apa aja, Vin.” Nathan masih menjawab dengan nada dingin. Namun, Vina tidak memedulikannya. Yang terpenting adalah saat ini ia bahagia karena Nathan kini ada di sisinya.
“Vin, gue mau nanya sesuatu.” Nathan memulai pembicaraannya setelah Vina menyuguhkan minuman kaleng di meja.
“Kamu mau nanya apa, Nath?” Dengan senyum berkembang, Vina merasa kalau Nathan ingin mengungkapkan perasaannya .
“Aku cuman mau nanya, apa benar kamu tidak bisa berenang?“ tanya Nathan.
__ADS_1
“Maksud pertanyaan kamu apa, Nath? Aku benar-benar nggak ngerti.” Vina mulai merasa gugup
“Aku hanya sekedar ingin tahu. Apakah benar kalau kamu masih tidak bisa berenang? Karena seingatku, waktu kamu duduk di kelas sembilan, kamu pernah ikut les berenang.” Nathan mencoba bertanya dengan lembut agar Vina tidak merasa curiga kalau sebenarnya dirinya sedang berusaha menginterogasinya.
“Aku memang pernah ikut kelas berenang. Namun, itu tidak sampai bisa, karena aku takut tenggelam, Nath,” bohong Vina, ia ingin mencari aman agar kelicikannya tidak terungkap. Katanya mau ngajak aku jalan, mau ke mana?” Vina berusaha mengalihkan pembicaraan agar Nathan tidak terus menanyainya.
Nathan mulai merasa aneh dengan sikap Vina. Namun, ia tidak mau ambil pusing. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia akan tetap mengatur rencana agar bisa mendapatkan bukti -bukti bahwa apa yang dikatakan Exel adalah salah.
“Aku mau ngajak kamu ke lounge night club, aku lagi bosen, otakku penat. Malam ini aku pengen bareng sama kamu. Aku pengen ngelupain semua masalah. Kamu mau, ‘kan pergi sama aku?" Ajak Nathan pada Vina yang langsung dianggukinya dengan cepat.
Vina yang mendengar ajakan Nathan tersenyum bahagia, dengan cepat ia menjawab pertanyaan dari Nathan.
“Aku mau, Nath. Mau banget. Malam ini aku milikmu,” ucap Vina dengan nada menggoda .
“Maksud kamu?” Nathan memicing, mencoba memahami maksud ucapan Vina.
“Ehm, maksud aku, malam ini aku akan menemani kamu ke mana pun kamu pergi. Waktuku untuk kamu semuanya.” Vina gelagapan. Ia lupa jika Nathan bukanlah Exel yang mampu ia goda dengan tubuhnya. Buktinya selama mereka berpacaran dulu hanya sebatas bergandengan tangan dan berpelukan jika dibutuhkan, tak pernah lebih dari itu.
...***...
Dukung terus cerita ini, ya. Like, komentar dan giftnya jangan lupa. Makasih 🤗
__ADS_1