
...***...
Setibanya di rumah, Nathan langsung masuk ke kamarnya. Ia begitu marah kepada dirinya sendiri. Mengapa begitu percaya dengan tipu daya yang Vina lakukan kepadanya, serta begitu saja menelan mentah-mentah apa apa yang dikatakan sahabat kecilnya tentang kejadian di kolam renang.
Nathan begitu menyesali bila mengingat semua perkataan dan perlakuannya kepada kekasih hatinya saat itu, yang sudah pasti menyakiti dan menggoreskan luka yang teramat dalam. Nathan adalah kekasihnya, tetapi mengapa ia tidak percaya dengan apa yang Widya katakan. Ia lebih percaya kepada Vina— sang mantan di masa lalu. Beruntung dia masih diberikan kesempatan untuk mengetahui kebusukan Vina dari Exel. Sehingga ia tidak tenggelam dalam kebodohannya lebih lama lagi.
Nathan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Mengusap wajahnya dengan kasar. Ia bingung harus bagaimana menghadapi Widya. Kini, hanya penyesalan yang menghimpit dada Nathan, karena ia telah banyak melakukan kesalahan terhadap Widya dari hal kecil sampai hal yang terbesar. Ketika bom waktu itu pun meledak, pada saat Widya memutuskan tali kasih bersamanya hingga mereka berpisah. Sakit ... sudah pasti. Namun, setelah mengetahui kebenarannya, memang inilah balasan yang pantas dia terima. Bagaimana memulai untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini kepada Widya? Apakah ia mau menerimanya?
***
Sore hari rinai hujan membasahi bumi yang kering, seakan semesta pun ikut merasakan kehampaan hati Nathan. Keegoisannya melebihi rasa cintanya kepada sang kekasih saat itu. Lelah dengan pikirannya yang resah, ia pun berniat untuk menghubungi Widya untuk mengurai benang kusut dalam hubungan mereka. Nathan mengambil handphone di atas nakas. Ia memberanikan diri untuk menghubungi Widya, dan ingin membuat janji temu dengannya. Cukup lama dering panggilan itu terdengar. Hingga beberapa kali Nathan melakukan panggilan, tetapi sepertinya diabaikan. Nathan terus berusaha, sampai akhirnya suara Widya pun terdengar di seberang sana.
"Halo, Nath. Ada apa?"
Tiba-tiba rasa gugup menyerang Nathan. Debaran jantungnya pun menjadi begitu kencang.
"Yang ... ehm ... kita bisa bertemu nanti malam di tempat biasa?" tanya Nathan perlahan. Berharap Widya mau menerimanya.
"Mau apa lagi, Nath? Kan, semuanya sudah jelas. Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi sejak beberapa waktu yang lalu. Untuk apa lagi kita bertemu?" Widya terdengar kesal.
"Ada yang mau aku jelaskan," seru Nathan berharap cemas.
"Apa lagi yang harus dijelaskan, Nathan? Aku udah capek, ya, dengan semua penjelasan kamu. Pasti ujungnya aku juga yang disalahkan. Iya, kan? Tolong pahami aku sedikit saja! Aku sudah capek sakit hati terus," ujar Widya, memohon kepada Nathan untuk memberi dia ruang untuk sendiri dan tenang.
"Aku janji ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Setelah aku jelaskan semuanya nanti, terserah kamu menilai apa tentang diriku," mohon Nathan.
__ADS_1
Hening. Tidak ada suara di balik ponselnya Nathan. Mungkin Widya tengah mempertimbangkan permintaan Nathan. Hingga beberapa detik kemudian suara Widya kembali memecah keheningan.
"Maaf, aku nggak bisa." Setelah berkata seperti itu Widya langsung memutuskan panggilan telepon mereka. Rasa kecewa pun menguar begitu saja dengan penolakan Widya, tetapi Nathan tidak bisa berbuat apa-apa.
...***...
Jarum jam pun bergerak maju mengitari hari. Kini langit Jakarta sudah terlihat gelap sebab datangnya malam. Penolakan Widya membuat Nathan semakin terpuruk. Ia yang telah kecewa oleh sahabat kecilnya, merasa tidak punya sandaran hidup. Nathan seolah tidak punya jati diri. Andai waktu bisa diputar kembali, tetapi hal itu hanyalah mimpi.
Tidak bisa berdiam diri saja, Nathan memutuskan untuk bertemu dengan teman-temannya. Mereka membuat janji temu di kafe favorit mereka—kafe Hamber. Nathan ingin berkumpul dengan sahabatnya untuk sekadar berbicara ringan saja. Berbagi keluh kesahnya, sekaligus meminta maaf kepada mereka.
Harsa, Zakir, dan Edo datang secara bersamaan. Harsa yang dipaksa datang oleh Zakir selalu menunjukkan wajah masam. Tak lama kemudian Kartika dan Karin pun datang dengan berboncengan motor matic milik Kartika.
"Tumben pake motor?" tanya Zakir pada Kartika dan Karin saat mereka bertemu di parkiran kafe.
"Biar romantis," jawab Kartika sekenanya. Lalu menggandeng tangan Karin dan berjalan masuk menuju kafe.
Sesampai di dalam, Nathan sudah standby di tempat yang biasa mereka pesan.
"Ada apaan, nih, Nath?" seru Zakir sambil meraih segelas es sirup rasa coco pandan milik Nathan, lalu meminumnya. Semuanya sudah berkumpul, dan duduk mengitari meja dengan perasaan bingung. Sebenarnya apa yang mau dibicarakan oleh Nathan? Pertanyaan itu mungkin terlintas di benak mereka sekarang.
"Eh, Widya nggak datang, ya? Lo undang dia juga, nggak?" tanya Zakir lagi. Seketika suasana menjadi hening. Jika sudah menyangkut Widya, pasti bayangan kejadian di kolam akan teringat lagi. Terutama Harsa, dia yang paling benci dengan sikap Nathan yang membuat Widya sakit hati. Namun, ia berusaha untuk menahan diri. Harsa ikut datang pun karena paksaan dari Zakir. Jika bukan karena Zakir ia begitu malas bertemu dengan Nathan.
"Gue udah ajak Widya, tapi dia menolak untuk datang," jawab Nathan memecah keheningan. "Gue sengaja ngajak kalian ngumpul di sini, ada yang gue mau obrolin sama kalian," tambah Nathan sambil tertunduk lesu.
"Widya pasti masih marah sama lo, Nath. Makanya dia menolak ajakan lo itu. Tapi—"
"Lo bisa diem, nggak? Dengerin Nathan mau ngomong apa!" sentak Edo yang memotong perkataan Zakir. Ia merasa kesal dengan suara Zakir yang dari tadi banyak bicara.
__ADS_1
Kedua mata Zakir memutar malas, lalu mencebikkan bibirnya meledek perkataan Edo.
Setelah dirasa semuanya tenang, Nathan kembali meneruskan kata-katanya, "Gue mau minta maaf sama kalian semua atas sikap gue yang tidak berkenan di hati lo-lo pada. Soal kejadian di pesta Vina waktu itu. Gue salah, gue udah kejebak hasutannya Vina," tutur Nathan.
Para sahabatnya pun saling berpandangan penuh tanda tanya.
"Maksud, lo?" Harsa akhirnya membuka suara. Tatapan matanya tajam seakan mampu menusuk ulu hati Nathan. Hatinya masih tidak bisa menerima semua perlakuan Nathan terhadap Widya.
"Pokoknya gue menyesal karena udah membuat kalian kecewa. Sebelum terlambat gue mau minta maaf."
“Lo udah sangat terlambat. Karena pada akhirnya Widya memilih pergi dari sisi lo. Gue nggak nyangka, lo bisa lebih jahat dari gue padahal sejak SMA lo yang paling ngerti Widya,” sarkas Harsa.
Nathan terdiam. Apa yang dikatakan Harsa benar adanya. Ia juga tidak mau membantah Harsa lagi. Sekarang ia merasa jauh lebih buruk dari Harsa. “Iya, gue tahu. Tapi setidaknya gue udah menyadari semuanya dan meminta maaf dengan tulus pada kalian semua. Gue benar-benar nyesel udah mengabaikan kalian, terutama buat Karin dan Kartika. Maaf, gue udah bikin sahabat terbaik kalian terpuruk. Maaf, gue udah bikin dia nangis dan bersedih hati. Maaf, karena gue nggak bisa jaga dia dengan baik. Seandainya gue nggak bisa bikin dia bahagia lagi, gue berharap dia bisa jauh lebih bahagia dengan orang lain,” ucap Nathan dengan wajah tertunduk. Perih hatinya mengatakan itu semua karena nyatanya cintanya untuk Widya masih teramat besar.
Karin dan Kartika hanya terdiam mendengar penuturan Nathan panjang lebar. Mereka akui, perlakuan Nathan pada Widya memang sangat keterlaluan, tetapi mereka juga bisa melihat Nathan yang terluka. Karin dan Kartika juga bisa lihat seberapa besar cinta Nathan untuk Widya, hanya saja karena ulah Vina membuat kacau semuanya.
"Nath, jangan-jangan lo bilang ini buat salam perpisahan, ya? Lo mau balik ke Singapura?" ujar Zakir sambil mulutnya penuh dengan cemilan kacang sukro.
"Zakirrrrrrrrrr!!" Semua sahabatnya berteriak ke arah Zakir.
Zakir menyengir kuda sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Sorry, deh," ucapnya menyesal.
***
Nathan merasa lega karena sahabatnya ternyata mau memaafkan dirinya. Tinggallah Widya yang masih membencinya. Suasana hati Nathan masih dibalut awan hitam. Sehingga teman-temannya merasa canggung untuk memulai obrolan lainnya. Mereka pun memilih untuk membiarkan Nathan sendirian, dan Harsa-lah yang pertama pamit duluan. Diikuti oleh Edo dan Zakir yang menumpang di mobilnya Harsa. Lalu giliran Karin dan Kartika, mereka pun ikutan pamit juga.
Kini, Nathan tinggal sendiri, tidak ada teman yang menemani. Sejenak Nathan merasa ini lebih baik. Nathan yang begitu kecewa dengan Vina, merasa jika sahabat itu tidak ada artinya. Dulu ia begitu percaya pada Vina. Seseorang yang ia anggap sebagai sahabat sedari kecil, tetapi membawa luka di masa sekarang. Namun, pendapat itu segera ia tepis dari pikirannya. Semua orang tidaklah sama. Dia tidak boleh menyamakan semua sahabatnya dengan Vina. Nathan harus lebih fokus untuk mendapatkan hati Widya kembali. Walaupun tidak ada harapan untuk kembali merajuk kasih dengan Widya lagi, dan hanya kekecewaan yang ia dapatkan saat ini.
__ADS_1