Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 104


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Pagi yang cerah pun hadir seiring matahari yang muncul memperlihatkan sinar hangatnya. Sehangat senyum pemuda ganteng yang sedang jatuh cinta, tetapi takut untuk menunjukkan dan mengungkapkan. Ia khawatir sang pujaan hati merasa tak nyaman bersamanya jika mengetahui perasaannya.


Harsa Mandala, pemuda tampan pemimpin perusahan Mandala Kencana. Perlahan tetapi pasti, ia menunjukan performanya di dunia tata ruang bangun dan kontruksi bangunan. Berkat kerja keras dan usaha yang tak main-main, bisnisnya kini sudah memperlihatkan hasil yang memuaskan.


Harsa berprinsip usaha tak pernah membohongi hasil. Ia dedikasikan seluruh kemampuannya untuk perusahaan yang baru saja ia rintis. Tekad, semangat, dan ilmu yang ia dapatkan selama di bangku kuliah, serta pengalaman saat ia magang dulu, ia terapkan agar perusahaannya semakin berkembang.


... ***...


Widya memulai aktivitas dengan penuh semangat hari ini. Ia sangat bersyukur semua sahabat tidak pernah meninggalkannya di saat ia terpuruk. Apalagi setelah kepergian Nathan yang begitu menyakitkan.


Widya beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik. Entah perbuatan baik apa yang membuat ia selalu saja diperlakukan baik oleh semua orang di sekitarnya. Karin dan Kartika tidak pernah absen untuk selalu berada di sisi Widya. Walau kadang ada kerikil-kerikil tajam yang menjadi penghalang dalam perjalanan mengarungi bahtera persahabatan yang mereka jalani.


Widya bersyukur itu semua mampu mereka lewati. Ia berharap kelak 'sahabat selamanya' akan tetap menjadi sahabat hingga maut memisahkan. Seperti Nathan yang telah pergi lebih dulu dalam perjalanan ini. Hanya maut. Ya, hanya maut yang bisa memisahkan mereka. Persahabatan tidak perlu saling mengerti, karena sahabat akan saling menerima hal yang tak bisa dimengerti.


“Aku merindukanmu, Yang. Kamu sedang apa di sana?” Sesaat Widya termenung saat melihat bingkai fotonya bersama Nathan. Wajah tengil yang begitu ia rindukan setiap malam, serta canda tawanya yang mampu memberikan energi positif bagi setiap orang. Kini, Widya lebih bisa mengontrol setiap emosinya yang berkaitan dengan Nathan, demi orang-orang yang begitu peduli padanya.


“Aku merelakan kamu pergi dari hidupku, tapi tidak dari hatiku, karena kamu begitu berarti. Aku janji akan menjadi kaktus buat kamu. Kamu damai di sana, ya,” ucapnya lembut sembari mengusap wajah Nathan dalam bingkai foto itu. Senyumnya kembali terbit saat melihat senyum Nathan yang begitu tulus dalam foto itu, hingga panggilan Arini membuatnya harus beranjak dari kamarnya.


...***...


Jum'at sore, Widya dan Harsa seperti biasa akan pulang bersama setelah beberapa jam berkutat dengan file dan dokumen. Hari ini hari terakhir mereka bekerja dalam pekan ini. Lima hari dalam seminggu disibukkan dengan segala macam urusan kantor dan material, cukup menguras energi mereka.


Harsa hanya diam membisu di dalam mobil hitam metalic-nya sebab sang gadis impiannya pun hanya terdiam saja. Dapat dipastikan Widya lelah dengan segala rutinitas pekerjaan di kantor barunya. Harsa mencoba membuka percakapan.


"Kamu sakit, Wid?”


Widya menoleh ke arah Harsa. Dengan senyumnya yang manis ia menggelengkan kepala.


“Kok, diam aja? Apa pekerjaan selama sepekan ini terlalu berat, ya?" tanya Harsa dengan hati-hati.


"Sedikit, Sa. Tapi ke depannya akan terbiasa, mungkin masih penyesuaian aja.” Senyum manis kembali ia sematkan di bibir indahnya.

__ADS_1


Melihat senyum indah itu, membuat cara kerja jantung Harsa menggila. Seakan detaknya begitu memburu, membuat hatinya berdebar kencang seperti panglima perang hendak maju ke medan laga. Sekarang senyum itu sering terbit walau belum secerah sebelumnya. Semoga perlahan tetapi pasti, senyum itu akan terbit secerah dan hangat seperti matahari di pagi hari.


"Gimana kalau besok kita hangout rame-rame? Nonton, makan, belanja, atau mungkin kamu punya ide lain, Wid?”


"Boleh, Sa. Ide bagus, tuh. Coba aku chat di grub aja, ya. Siapa tau ada yang punya ide lain,” jawab Widya cepat.


^^^Widya: Hai semuanya, soreeeeee. Widya hadir di sini, mau kasih info, nih. Gimana kalau besok kita hangout kuy? Tapi masih bingung, nih, mau ke mana? Siapa tau ada yang punya rencana ke mana gitu?^^^


Widya mengetik kalimat sapaan di grub 'sahabat selamanya' dengan senyum ceria. Lama tak ada balasan dari penghuni grup, mungkin mereka juga terjebak macet seperti halnya Harsa dan Widya. Setelah beberapa menit akhirnya si Zakir–Bokir pun hadir.


Zakir: Hai juga Widya cantik jelita yang harum mewangi sepanjang hari.


Harsa: Woy, jangan ngegombal aja lo, Bokir. Kerjaan dah beres belum?


Harsa dengan kesal membalas pesan itu, sebab si Bokir memuji gadisnya. Sambil bermacet ria Harsa, membalas chat-nya Zakir. Jalanan padat itu memungkinkan dirinya untuk membuka ponsel walaupun hanya sejenak saja.


Zakir: Dah beres kali, Bos. Nih, lagi di jalan mau jemput ayang Tika.


Harsa: Ngaku-ngaku ayang. Emang dah diterima apa?


Zakir: Dasar Bos nggak ada akhlak, tega banget ama anak buah.


Zakir: Ayangku @Kartika. Akhirnya kamu muncul juga, Yang. Aku padamu 😘😘😘


Kartika: Eh, Bokir. Apaan, sih, lo. Geli banget gue liat tuh emot 😒


Edo: Ciyeee ... @Bokir usaha terus, dah. Moga aja si Tika nggak kejedot dan langsung terima lo 🤪🤪🤪🤪


Karin: Edo, kok, gitu, ngomongnya? Nggak banget, deh. Ntar kalau si Bokir ama Kartika jalan berdua, pasti si Zakir bawanya Sukro yang ada gambar kelincinya 🤣🤣🤣


^^^Widya: Eh, kok, pada main ledek-ledekan sih 😎😎😎. Udah, ah, jadinya besok kita kemana, nih?^^^


Zakir: Nontonnnnnnn.


Kartika: Nontonnnnnnn.

__ADS_1


Karin: Nonton aja.


Edo: Nonton.


Keempat chat terakhir muncul hampir bersamaan. Widya dan Harsa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd dan kekompakan para sahabatnya.


Harsa: Oke, besok kita nonton di mall yang terdekat aja, sampai jumpa besok semuanya 😘😘😘😘😘


Zakir: Geli gue ama emotnya.


Grub chat pun sepi kembali. Tidak ada yang menanggapi lagi. Mobil Harsa melaju perlahan dan merayap akibat macet melanda ibu kota di sore hari.


...***...


Sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama semalam. Siang ini mereka menuju mall tempat bioskop itu berada. Seperti biasa, Harsa selalu mejadi pengawal buat Widya yang menjadi poros dunianya saat ini.


Karin membawa mobil matic kesayangannya sendiri, begitu pun dengan Zakir dan Edo yang membawa mobilnya masing-masing. Kartika datang terlambat karena ada keperluan bersama mamanya dan ia menyusul dengan mengunakan ojek online saja.


Sesampainya di tempat yang dituju, kelimanya pun langsung menaiki eskalator menuju arah bioskop dan akan melihat film apa yang sedang di putar siang hari ini. Setelah menentukan film yang akan ditonton dan membeli tiket, mereka berlanjut menuju ke tempat cemilan yang berada di area bioskop. Akan tetapi, tidak dengan Zakir yang arah pandang matanya selalu menuju pintu kaca. Ia gelisah sebab Kartika belum datang walaupun ia tahu Kartika akan datang terlambat. Hingga panggilan dari studio tempat film yang akan mereka tonton terdengar menggema di theatre tersebut, Kartika belum datang juga.


"Kalian masuk aja duluan, gue yang nunggu Kartika di sini!" seru Zakir terlihat khawatir.


"Lo yakin?” tanya Edo sambil memegang popcorn rasa coklat kesukaannya.


"Iya. Kalian pada masuk sana!” seru Zakir kembali.


"Oke, deh.” Semuanya berseru sambil mengangkat jempol mereka. Zakir pun mengacungkan jempolnya tanda iya.


Kurang lebih lima belas menit, Kartika datang dengan napas tersengal-sengal. Sorot mata khawatir yang sedari tadi terpancar dari kedua mata Zakir pun seketika lenyap. Ia pun tanpa sadar memeluk Kartika erat sambil berkata di telinga sang gadis, "Lo dari mana aja? gue khawatir tau.”


Kartika hanya diam membisu dan melongo dengan sikap Zakir terhadapnya. Untung saja para sahabatnya tidak ada. Seandainya mereka masih ada di sana, pasti Zakir dan Kartika habis dibully mereka. Perlahan Zakir mengendorkan pelukannya dan Kartika merasa malu atas tingkah Zakir. Tidak dapat dipungkiri kini pipinya semerah cabe, terasa panas. Keduanya langsung salah tingkah dengan keadaan itu.


"Udah, yuk, masuk! Anak-anak pasti udah nungguin kita,” kata Zakir sambil menautkan jemarinya ke jemari Kartika, dan sang empunya mengiyakan saja.


...***...

__ADS_1


**To be continued....


Minta dukungannya buat Zakir sama Kartika, ya. Klik like, kasih komentar sebanyak-banyaknya. Kalian masih minat ikutan giveaway, kan? Yuk, ramaikan 🥰💃**


__ADS_2