
...***...
“Hai,” sapa orang itu setelah jaraknya lebih dekat dengan Nathan. Ia memberikan senyum termanis yang ia punya.
Nathan bergeming tak menanggapi. “Gimana rasanya diacuhkan sama orang yang dicintai? Sakit?” ocehnya dengan tersenyum mengejek, “Sekarang kita impas, Nath. Setidaknya lo merasakan apa yang gue rasakan dulu. Mulai sekarang gue nggak akan ganggu lo lagi. Selamat menikmati rasa sakit, Nath.” Cindy berlalu setelah puas mengejek Nathan.
Kedua tangan Nathan mengepal kuat. Matanya terpejam mencoba menahan amarah. Nathan masih terpaku di tempat hingga Edo tiba-tiba berdiri di sampingnya. “Jangan diambil hati! Lo bukan cewek yang mudah baper, kan? So ... jangan buang waktu buat ngeladenin dia!” ujar Edo.
Nathan beralih menatap Edo, lalu mengangguk. Paham akan maksud ucapan Edo. Setidaknya, ucapan Edo mampu mengurangi emosinya. “Gue cabut dulu, ya. Udah ditunggu Zakir sama Harsa.”
Lagi, Nathan hanya mengangguk, “Thanks, Do,” ucapnya tulus.
Edo hanya tersenyum, lalu meninggalkan Nathan. Sepeninggal Edo, Nathan segera melangkahkan kaki menuju ruangan dosen pembimbingnya.
...***...
Widya yang juga tengah mengerjakan skripsi dengan penuh semangat mendengarkan petunjuk dari dosen pembimbingnya. Setelah tiga puluh menit berlalu, Widya segera menghampiri Karin dan Kartika yang menunggunya di kantin kampus.
“Gimana?” tanya Kartika.
“Hanya sedikit yang perlu direvisi,” jawab Widya antusias.
“Udah gue pesenin batagor kesukaan lo, nih.” Karin menyodorkan sepiring batagor ke depan Widya, sedangkan Kartika memberikan segelas es teh manis.
“Makasih ... baik banget, sih, kalian.” Kedua sudut bibir Widya tertarik sempurna.
“Kita mah, selalu baik,” sahut Kartika.
“Iya. Percaya deh, gue.” Widya menyendok batagor di depannya dan segera memasukkan ke dalam mulut. Semua itu tak luput dari perhatian seseorang yang ikut tersenyum melihat senyum Widya.
“Kemarin Vina ke rumah gue,” ucap Widya usai menandaskan batagornya. Hal itu membuat Karin langsung tersedak. Bagaimana tidak, ia tengah meminum jus melon kesukaannya saat nama Vina disebut. Sedangkan pentol yang hendak masuk ke dalam mulut Kartika langsung jatuh menggelinding.
“Ngapain si ulet keket ke rumah lo?” sentak Kartika.
__ADS_1
Widya langsung menepuk pelan punggung Karin mengacuhkan pertanyaan Kartika. Setelah batuk Karin mereda, Widya baru menanggapi pertanyaan Kartika yang tak lain juga pertanyaan yang sama yang ingin Karin ajukan.
“Dia minta maaf karena udah bikin hubungan gue sama Nathan hancur. Dia menyesali semuanya dan ingin gue kembali sama Nathan. Katanya Nathan marah besar padanya dan nggak mau maafin dia,” tutur Widya.
“Enak aja tuh ulet keket bilang maaf, setelah semuanya hancur berantakan. Apa semuanya bisa kembali seperti dulu, setelah dia bilang maaf?” Marah Kartika mengingat semua yang sudah dilakukan Vina untuk menyakiti Nathan dan Widya, terlebih Widya.
“Terus, lo maafin dia?” Karin ikut bersuara.
“Yah, mau gimana lagi?” jawab Widya santai.
“Ck!” decak Karin. Ia merasa tidak terima Vina dimaafkan begitu saja. “Harusnya lo suruh dia sujud di kaki lo, karena udah fitnah lo,” lanjutnya.
Widya hanya terdiam melihat reaksi sahabat-sahabatnya. Karin menumpahkan segala emosinya dengan memaki Vina. Kartika pun tak kalah bersungut-sungut.
“Gue sumpahi dia dapat balasan yang setimpal, meski nggak dapat balasan dari lo.”
“Iya, itu pasti. Jahat banget, sih, jadi cewek.” Karin tak kalah meradang.
“Ehm ... tapi, Wid, lo nggak mau pertimbangin lagi hubungan lo sama Nathan?” tanya Kartika ragu, setelah puas mengumpat Vina.
“Iya, Wid. Menurutku Nathan nggak sepenuhnya salah. Anggap aja si ulet keket itu cobaan buat menguji cinta lo sama Nathan.” Kartika kembali mengutarakan pendapatnya.
Widya terdiam membisu mendengar serentetan pembelaan Karin dan Kartika pada Nathan. “Seandainya aku bisa berdamai dengan rasa sakit ini, pasti aku akan menerima Nathan kembali, tapi sayangnya luka ini begitu dalam hingga rasa perihnya masih menyiksa diri,” batin Widya.
Tidak semudah itu untuk melupakan semua yang sudah terjadi. Ia mungkin bisa memaafkan Nathan dan Vina, tapi ia masih belum mampu melupakan setiap kesakitan yang ditorehkan Nathan dan Vina. Rasa cinta yang begitu besar, nyatanya juga menorehkan luka yang dalam. “Benar apa yang dikatakan orang, jangan terlalu berharap pada sesama manusia, karena saat mereka tak bisa mewujudkan ekspektasimu maka rasa kecewa akan menghantammu. Inilah yang aku rasakan saat ini. Aku terlalu berharap pada cinta Nathan, hingga saat dia tak bisa mempercayaiku, maka rasa kecewa yang aku dapatkan.” Widya kembali membatin. Pikirannya menerawang jauh, hingga suara Harsa mengembalikan ia dari lamunannya.
“Bikin kaget aja,” protes Widya.
“Makanya, jangan ngelamun mulu!” ejek Harsa, “Mikirin apa, sih? Mikirin gue, ya?” Harsa memberanikan diri menggoda Widya.
“PD banget, lo.” Widya tersenyum mengejek, tetapi itu justru membuat Harsa semakin gemas.
“Wid, jangan kayak gitu!” ucap Harsa.
“Gitu gimana?” Widya dibuat bingung dengan perkataan Harsa.
__ADS_1
“Ah, enggak. Lupain aja!” ucap Harsa kemudian mengalihkan wajahnya ke sembarang arah, berusaha menyembunyikan wajah malunya.
Karin dan Kartika sudah asyik ngobrol bersama Edo dan Zakir, sehingga mengabaikan Harsa yang tengah menggoda Widya.
Nathan yang melihat itu semua dari awal, merasa hatinya sakit. Hingga ia putuskan untuk pulang. Ingin sekali ia bersikap posesif seperti dulu kepada Widya, tetapi ia sudah tidak punya hak untuk melakukannya.
...***...
Di lorong sebuah apartemen, langkah Nathan terhenti saat melihat sosok yang tengah berlari ke arahnya. Nathan berbalik, berniat menjauh dari jangkauan sosok itu.
“Nath, kita perlu bicara, aku mohon!” pintanya dengan napas terengah setelah berhasil mengejar Nathan.
Nathan bergeming, ia tidak ingin mendengarkan apa pun dari mulut gadis itu. Ia benar-benar muak dengan semua yang sudah dilakukan Vina. Ya, sosok itu adalah Vina.
“Aku tahu, kamu sudah mengetahui semuanya saat aku mabuk kemarin, kan? Aku minta maaf, Nath,” ucapnya lirih. Ia berusaha meraih tangan Nathan tetapi Nathan menepisnya dengan kasar. Hati Vina sakit melihat perlakuan Nathan padanya.
“Aku tahu, kamu tidak akan pernah memaafkan aku karena kesalahanku sudah teramat besar. Aku menyesal, Nath.” Sesaat Vina terdiam, ia pun melanjutkan kalimatnya setelah menghela napas.
“Aku juga sudah meminta maaf pada Widya dan menjelaskan semuanya. Aku harap Widya mau kembali padamu. Sekali lagi aku minta maaf, Nath. Aku pamit. Aku akan kembali ke Singapura.”
Tidak ada tanggapan apa pun dari Nathan. Sorot kebencian serta amarah masih terpancar jelas di mata Nathan.
“Aku pergi, Nath. Sekali lagi aku minta maaf.” Vina hendak melangkah pergi, tetapi suara Nathan menggema menghentikan niatnya.
“Pergi yang jauh, jangan pernah muncul lagi di hadapan gue! Apa lo pikir setelah lo minta maaf, Widya dengan lapang dada mau kembali pada gue? Ck! Lo bener-bener brengsek, Vin. Setelah lo hancurin hidup gue, lo dengan entengnya berkata maaf, lalu pergi begitu saja. Maka dari itu, jangan pernah lo muncul lagi di hidup gue. Gue nyesel udah kenal lo.” Nathan beranjak pergi meninggalkan Vina yang sesenggukan.
“Maafin, aku, Nath!” lirihnya sembari menatap punggung Nathan yang menjauh pergi. Ini kali terakhir ia melihat sahabatnya. Setelah ini, Vina tidak akan berani lagi menampakkan wajahnya di hadapan Nathan.
Exel menghampiri Vina, lalu memeluknya erat. Memberikan ketenangan pada gadis itu. Vina menumpahkan tangisnya, mencengkeram erat baju Exel.
“Sudah waktunya kita pergi. Suatu hari nanti, saat kemarahan Nathan mereda, kita temui Nathan lagi untuk minta maaf,” tutur Exel.
Exel dan Vina melangkah pergi meninggalkan apartemen milik Nathan.
...***...
__ADS_1