Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 38


__ADS_3


...***...


Hingga kelas berakhir, Widya masih berusaha menghindari Nathan. Gadis itu tiba-tiba menghampiri dosennya. Berpura-pura sibuk dan banyak bertanya mengenai tugas yang diberikan oleh dosen tersebut.


Nathan ingin mengganggu, tetapi ia merasa tidak enak karena dinilai tidak sopan terhadap dosennya. Ia pun memilih keluar kelas lebih dulu. Nathan menunggu Widya sembari duduk di kursi panjang yang terletak di koridor dekat pintu keluar gedung kampus.


Cukup lama Nathan menunggu, akhirnya Widya melewati tempat itu bersama dengan kedua sahabatnya—Karin dan Kartika.


"Yang, kita perlu bicara." Nathan menahan lengan Widya yang membuat langkah gadis itu pun terhenti.


Widya menatap tangan Nathan yang melingkar di lengannya, sebelum pandangan itu beralih ke wajah si pemilik tangan itu. "Aku lagi buru-buru, nanti aja ngomongnya," tolak Widya.


"Kamu kenapa, sih? Tiba-tiba cuekin aku?" tanya Nathan bingung. Tangannya masih betah mencengkram lengan Widya.


Widya melepaskan tangan Nathan dari lengannya dengan lembut, "Aku nggak apa-apa. Lagi pengin sendiri aja," sanggah Widya.


"Bohong! Kalau kamu nggak apa-apa, kenapa sikap kamu sama aku berbeda? Padahal kemarin kita udah baikan, 'kan?"


Widya menatap Nathan dengan tatapan dingin, "Hati kamu terbuat dari apa, sih, Nath? Bisa-bisanya kamu bersikap manis sama aku, tapi di belakang ada main sama perempuan lain." Widya membatin.


"Kenapa? Apa aku bikin salah lagi?" Pertanyaan Nathan membuat Widya tercekat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba menahan desakan cairan bening yang hampir luruh dari kelopak matanya.


"Wid, ayo! Katanya mau ke rumah gue?" Seolah paham akan posisi Widya, Karin menarik tangan sahabatnya tersebut. Namun, dengan cepat Nathan meraih tangan Widya yang sebelahnya lagi.


"Yang, tunggu dulu!" pinta Nathan dengan nada sendu.


"Heh, lo ngerti nggak, sih? Widya lagi nggak mau ngomong sama lo!" Kartika yang tidak sabar menghardik Nathan.


"Maksud lo apa, Tik? Jelas-jelas lo tahu Widya, tuh, pacar gue. Kenapa dia nggak mau ngomong sama gue? Kalian tahu sesuatu, 'kan?" cecar Nathan.


"Pacar macam ap—"


"Tik, stop! Gue nggak mau bahas ini sekarang." Widya menyela perkataan Kartika. Lalu menepis tangan Nathan sekali lagi. Kali ini agak sedikit kasar, lalu berkata, "Please, Nath! Kasih aku waktu buat sendiri, dan untuk sementara jangan hubungin aku dulu!"


"Iya, tapi kenapa?" Nathan semakin kebingungan.


"Lo budek, ya?"


"Tika ... udah, ah!" Karin meredam amarah Kartika dengan mengusap bahu gadis itu. Kartika memang lebih gampang tersulut emosi. Apalagi sudah berulang kali ia melihat sahabatnya disakiti oleh laki-laki.

__ADS_1


"Nath, gue ngerti perasaan lo, tapi mending lo introspeksi diri dulu, deh! Lo sayang sama Widya, 'kan? Jadi, tolong dengerin perkataannya!"


"Tapi—"


"Ayo, Wid! Susah kalau ngomong sama tukang selingkuh." Kartika akhirnya habis kesabaran. Dia dengan tegas menarik kedua sahabatnya agar menjauh dari Nathan.


Sedangkan Nathan hanya bisa tercenung sendirian. Ia tidak mengerti dengan sikap ketiga gadis itu. Apalagi mendengar perkataan Kartika yang menuduhnya sebagai tukang selingkuh. Dan apakah dia harus membiarkan Widya untuk sendiri, lalu kenapa harus instrospeksi diri? Sedangkan dirinya tidak tahu letak kesalahannya saat ini.


"Ada apalagi, sih?" geram Nathan sembari mengacak rambutnya frustrasi.


***


Waktu pun berlalu, sudah dua hari Nathan tidak ada pergerakan untuk meminta penjelasan Widya lagi. Lelaki itu benar-benar mendengarkan perkataan kekasihnya agar tidak menemuinya untuk sementara waktu. Nathan hanya mengirimkan pesan singkat yang berisi perhatian-perhatian kecil sebagai seorang pacar, dan tentunya Widya pun mengabaikan.


Namun, justru hal tersebut malah membuat Widya semakin kesal. Nathan seperti tidak sungguh-sungguh untuk mendapatkan hatinya kembali. Bahkan di kampus pun lelaki itu seolah menjauhi. Ya, begitulah perempuan. Ketika dirinya meminta untuk dibiarkan sendiri, setelah dituruti dirinya malah sakit hati. "Kamu itu benar-benar jahat, Nath! Cuma segitu perjuangan kamu buat minta maaf sama aku? Apa jangan-jangan sekarang kamu lagi sibuk sama Vina? Aaaargh ... dasar nyebelin!" Widya menghempaskan bantalnya ke lantai.


Berbarengan dengan itu, Arini tiba-tiba masuk ke dalam kamar Widya, "Hei, anak bunda kenapa?" tanyanya heran. Langkah kakinya tertuju pada bantal yang menjadi korban pelampiasan anaknya, lantas meraihnya untuk dia bawa mendekati Widya.


"Kamu kenapa?" tanya Arini lagi. Ia duduk di tepi tempat tidur tempat anaknya berada, dan menyimpan bantal tadi ke tempatnya semula.


Widya merengut kesal, ia melipat kedua lututnya di depan dada untuk dia peluk. Lalu menopang dagu pada kedua lutut tersebut. "Aku lagi kesel sama Nathan, Bun," cicit Widya kemudian.


"Masih belum selesai masalah kalian?" tanya Arini. Widya menggeleng sebagai jawaban.


"Itu dia, Bun. Widya bilang sama dia lagi pengin sendiri. Eh, dia malah beneran nggak datang lagi. Nyebelin banget, 'kan?"


Mendengar itu Arini malah tertawa. Tangannya terulur untuk mengacak rambut Widya. "Kamu ini ada-ada saja. Jelas saja Nathan tidak mau ke sini, kamu sendiri yang melarang dia," tutur Arini merasa gemas dengan sikap anaknya sendiri.


Widya tidak memberikan tanggapan apa-apa, ia masih bergeming dengan posisinya sekarang. Pikirannya berputar memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Nathan.


"Kalau menurut bunda, lebih baik kamu yang lebih dulu menemui Nathan. Bicarakan baik-baik masalah kalian! Bunda lihat, kamu juga udah kangen sama dia."


Kepala Widya mendongak seketika, keningnya berkerut diiringi kedua alisnya yang bertaut. "Bunda sok tahu, deh. Kata siapa aku kangen sama Nathan?" Widya berkelit, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rona merah yang terpancar dari pipinya. Ia tersipu karena Arini menggodanya.


"Iya, kamu nggak kangen, tapi nggak usah merah gitu pipinya."


"Bunda ...." Widya merengek manja. Berharap sang bunda tidak lagi meledeknya.


Arini tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia merasa senang telah menggoda anaknya. "Iya, iya. Bunda minta maaf. Kamu nggak kuliah? Udah jam delapan, loh," seru Arini.


"Ini hari Minggu, Bun. Kuliah juga libur," cicit Widya.

__ADS_1


"Oh, iya. Bunda lupa. Kalau gitu cepet mandi, abis itu sarapan! Libur kuliah juga nggak harus libur segalanya, kan?" Setelah berkata seperti itu Arini beranjak berdiri lalu pergi dari kamar Widya.


Widya kembali termenung sepeninggal bundanya. Otaknya mencerna setiap kata yang terucap dari sang bunda. Mungkin benar, Nathan tidak sepenuhnya salah, karena selama ini Nathan tidak pernah absen untuk mengirimkan pesan romantis kepadanya. Widya yakin, Nathan juga merasa tersiksa.


***


Senyum ceria menyertai langkah gontai Widya. Setelah berpikir lama, gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumahnya Nathan. Ia hendak memberikan kejutan, sekaligus meminta penjelasan tentang kebenaran foto kemesraan antara Nathan dan Vina yang dikirim kepadanya tempo itu.


Suara ketukan pintu menyertai ucapan salam yang dilontarkan oleh Widya. Lalu terhenti ketika pintu rumah itu terbuka. Kening Widya sontak berkerut, ketika ia melihat yang keluar dari rumah Nathan adalah Vina.


"Ngapain kamu di sini?" Pertanyaan itu tanpa sadar keluar dari mulut Widya. Ingatannya tentang wajah Vina di foto itu membuat hatinya tiba-tiba jadi panas.


"Kok, kamu nanya gitu? Di Indonesia aku cuma kenal keluarganya Nathan. Tentu saja aku bisa ada di sini," jawab Vina dengan santai.


Widya menghela napasnya, ia tidak boleh gegabah sebelum ia bertemu dengan Nathan. "Nathannya mana?" tanya Widya lagi.


"Kata Ellen Nathan nggak ada, dia lagi pergi nganterin tante Liana ke rumah temannya. Aku juga belum sempat ketemu dia. Kalau kamu mau, tunggu aja dulu! Kayaknya bentar lagi pulang." Vina bersikap sopan. Senyum palsunya benar-benar terlihat natural.


Widya terdiam sejenak, sebelum ia memutuskan untuk menunggu Nathan dengan duduk di kursi yang berada di teras depan rumah itu.


"Nunggunya di dalam aja!" ajak Vina basa-basi.


"Nggak usah, di sini aja," tolak Widya. Vina pun terpaksa menemani Widya untuk duduk di sana.


Tidak ada perbincangan di antara mereka setelah beberapa menit kemudian. Keduanya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sampai tiba-tiba Vina beranjak berdiri, sembari melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. "Eh, Wid. Aku pergi dulu, deh. Aku lupa mau beli sesuatu di mini market," pamit Vina.


"Oh, iya. Silakan!" Widya menoleh ke arah Vina. Ia sedikit bingung. Tumben sekali Vina tidak menunggu Nathan, lalu meminta pacarnya itu untuk mengantar.


"Oh, iya. Nanti kalau Nathan datang, aku nitip pesan, ya! Bilangin sama dia nggak usah minta maaf tentang kejadian itu. Aku tahu dia khilaf, walaupun kita sama-sama sadar saat ngelakuinnya."


"Kejadian apa?" Widya tersentak mendengar perkataan Vina. Pernyataan itu terdengar ambigu di telinganya.


"Nanti kamu juga tahu, tanya aja sama Nathan! Aku pergi dulu, ya."


Widya menatap punggung Vina yang menjauh dari pandangannya dengan perasaan takut. Tubuhnya seolah kaku, otaknya pun jadi buntu. Ia takut jika kejadian itu berkaitan dengan foto yang diterimanya dua hari yang lalu. Jika itu benar, berarti Nathan memang sudah mengkhianatinya. Ketakutan itu membuat lelehan air matanya tumpah seketika. Ia tidak bisa menahan gejolak rasa kecewa yang membludak dalam hatinya.



...***...


Hei, itu mulutnya Vina! Kok, aku juga kesel 🙄

__ADS_1


Gimana sama kalian?


__ADS_2